Monday, 4 December 2006

UJUNG PELANGI*

1 Message received. Read.
“Tunggu aku diujung pelangi. Diakhir mimpi. Dalam seribu satu mewangi senja. Pls terakhir” Itulah pesan terakhir darimu. Kuterima pesan itu diakhir senja ketika matahari telah beranjak turun dan perlahan menarik tirai siangnya dari semesta.
Aku tak tahu maksudmu. Diujung pelangi mana harus kutemui, dalam mimpi yang mana harus kutunggu. Sayangnya kau tidak menjelaskan dengan rinci.
Aku ingin membalas dan menanyakan perihal pesan singkatmu. Tapi kau pasti tahu, sudah sebulan aku tak bisa membalas semua pesanmu. Aku telah menyatakannya dalam pesan terakhirku. Ketika itu angkaku tak lagi menyanggupi untuk membawa sekerat pesanpun. Kaupun menerima keadaanku saat itu.
Terus terang, saat ini aku ingin menemuimu. Aku ingin menatapmu langsung, membelai dan mendengarkan seluruh kisahmu. Aku tidak ingin hubungan kita hanya sebatas pulsa, sinyal dan sebatas kata-kata indah dalam pesan singkat.
“Aku pasti menemuimu”
Dan benar kiranya. Pada pada sekerat senja diakhir bulan, aku melangkahkan kaki dengan satu tekad untuk menemuimu, membelai bahkan meyandingmu.
Tapi kebingungan melanda, dimana ujung pelangi? Bagaimana aku mengenalmu karena selama ini kita belum pernah bertemu. Atau mungkinkah aku mengenalmu hanya dari suara yang baru sekali kudengar melalui udara ketika kau mengabarkan rindumu.
Kusingkirkan semua kebingungan dan aku tetapkan hati melanjutkan perjalanan. Pasti ada yang tahu dimana ujung pelangi, pikirku. Aku terus melangkah.
Kini dihadapanku tersaji persimpangan tiga arah. Kemana harus kulanjutkan, semuanya membingungkan. Jauh disetiap ujung jalan itu hanya dapat kuatangkap bayangan matahari. Lalu kuputuskan untuk bertanya pada seorang renta.
“Dimana ujung pelangi ?”
“Tidak ada” kata kata situa singkat.
“Tapi…” Orang tua itu terus berjalan. Ia bahkan tidak menoleh sedikitpun padaku. Hanya beberapa lembar ubannya yang sempat menyentuh dan menyapa kulitku. Kusam.
Lalu entah dari ujung persimpangan jalan yang mana seorang gadis tiba-tiba muncul melenggang indah dengan pesonanya.
“Dik, dimana ujung pelangi”
“Cukup tuakah kau memanggilku adik?”
“Ma..maaf, tapi tahukah kau…”
“Tidak, aku tak tahu. Dulu aku juga ingin kesana tapi kubatalkan”
“Kenapa?”
“Karena tempat itu terlalu indah, hingga mampu melenakan. Aku takut kalau aku tak bisa lagi kembali ke dunia ini” Si gadis berlalu. Kemudian hilang ditelan persimpangan lain. Ia dengan gemulainya perlahan lenyap dari sudut-sudut mata.
Aku semakin bingung dan penasaran, ada apa kiranya di ujung pelangi. Aku tidak tahu kepada siapa lagi harus bertanya. Disekelilingku tidak ada lagi rasanya yang tahu tempat itu. Karena di persimpangan ini tinggallah anak-anak saja. Dan aku yakin mereka tidak tahu bahkan keindahan pelangipun mereka mungkin belum mengerti.
Haruskah kulanjutkan perjalanan ini? Perlahan semangatku mulai menurun. Biarlah janji tinggal janji. Toh...aku juga belum melihat wajahmu.
Tapi sejujurnya jauh dari jiwaku yang paling dalam aku masih ingin bertemu denganmu, menatap dan meyanding segala keindahan dan memaknai suara lembut serta menikmati segala anugerah yang Ia titipkan atas dirimu.
Tapi harus bagaimana lagi, aku tak bisa menemukan tempat yang kau janjikan. Tiba-tiba secercah harapanku kembali muncul, setelah diujung jalan sana kusaksikan seorang bapak yang sedang melangkah menuju arahku. Wajahnya kelihatan bijaksana dan tenang. Hatiku berbisik, ia tahu. Kalaupun ia tidak bisa menunjukkannya aku berharap ia akan memberi sedikit penjelasan.
“Maaf..” sapaku. Lelaki separuh baya itu tersenyum dan memandangku dengan ramah.
“Dimana ujung pelangi?”
mendengar pertanyaanku laki-laki separuh baya itu tidak lagi tersenyum. Kini ia menatapku tajam, heran dan penuh selidik.
“Kenapa kau tanyakan itu?”
“Aku ada janji disana…”
“Pasti dengan perempuan”
“Ya…kenapa bapak tahu?”
“Semuanya sama denganmu.menanyakan ujung pelangi untuk bertemu dengan pujaan hati. Tapi yakinkah kau akan kesana?”
Aku hanya diam. Jutaan bimbang menyerang. Apakah benar ujung pelangi itu ada? Atau apakah aku yang hanya terlalu bimbang atas keyakinanku.
“Jika kau yakin, akan kutunjukkan. Tapi kau harus ingat, ini bukan sembarangan tempat. Banyak anak muda yang kesana dan mereka banyak yang gagal. Mereka pulang dengan tangis bahkan ada yang hanya berpulang nama”
“Kenapa?”
“Yah… karena tujuan kesana adalah menepati perasaan. Bukankah kau kesana juga karena hatimu? Dan jika disana kelak kau kecewa maka hatimu niscaya akan hancur. Siapkah kau hidup tanpa hati? Namun itu hanya sebagian fenomena. Masih ada kejadian lain, mereka yang datang kesana dikarenakan oleh keindahan. Keindahan tiada tara yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang mencinta dan dicinta. Apakah kamu masih yakin akan kesana?”
Ia mengulang pertanyaannya. Tampaknya ia ingin meyakinkan keputusanku. Aku semakin bimbang. Seberat itukah? Tapi kalau bukan sekarang kapan lagi aku akan bertemu denganmu.
“Ya”
Kemudian ia menghela nafas, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“Ujung pelangi adalah surga para pecinta. Ia berada dalam negeri mimpi dan hanya bisa dicapai oleh orang yang benar-benar yakin akan keberadaan mimpi itu sendiri” Bapak itu berhenti bercerita. Ia seakan menanggung beban besar saat mengeluarkan kata demi kata.
“Bagaimana aku bisa kesana?”
“Sebentar lagi dipersimpangan ini akan lewat sebuah kereta mimpi, ditarik oleh tiga ekor kuda putih. Tapi hanya mereka yang memiliki niat suci yang dapat melihat kereta itu. Dan aku tidak dapat menjamin apakah kau bisa melhatnya. Berhati-hatilah karena tidak semua keindahan itu akan membahagiakan.”
Lalu bapak itu pergi meninggalkanku dalam kesendirian dan bimbang. Kini aku tahu dimana ujung pelangi dan sesaat lagi aku kan menemuimu. Tapi apakah aku bisa melihat kereta mimpi? Entahlah, aku sendiripun ragu apakah niatku suci atau sebaliknya.
Benar saja, kereta datang. Bahagia terasa saat dapat melihat kereta tersebut. Perjalanan ini indah dan dipenuhi keindahan. Pantas dinamakan kereta mimpi karena diatas sini semuanya terasa mengagumkan.
Akhirnya ujung pelangi. Negeri mimpi. Indah tak terkata. Terbentang dihadapanku. Tapi dimanakh kau? Aku belum menemukanmu. Apakah masih ada ujung pelangi yang lain, atau kau luapa akan janjimu. Tidak, aku yakin hanya ada satu ujung pelangi dan itu disini. Dan aku juga yakin kau bukanlah orang yang suka mengingkari janji, apalagi janji itu adalah untuk menemuiku, belahan hati katamu, seperti yang pernah engkau ungkapkan dalam pesanmu. Aku yakin sesaat lagi aku akan menemukanmu.
Lalu mataku menangkap sebuah bayangan seorang wanita yang duduk diatas batu karang. Memandang laut lepas yang beriak kecil. Mendengar suara burung yang sahut-menyahut melintasi penampakan matahari senja. Sementara rambut perempuan itu melambai indah disapa angin sepoi yang berbisik lembut pada lembaran daun kelapa.
“Kaukah itu..?”
“Ya…”
Kulihat wajah cantikmu, kunikmati setiap keagungan Tuhan yamg Ia persembahkan atas dirimu.
“Kenapa terlambat?” katamu sembari tetap memandang ke keindahan laut. Aku diam. Terpaku.
“Aku sulit menemukan ujung pelangimu, aku juga susah memasukkanmu kedalam mimpiku. Tapi yakinlah aku menyayangimu”
“Seperti yang kau tulis dalam pesanmu sebulan yang lalu?” tanyamu. Lalu sejenak kutangkap sebuah senyum terukir dibibirmu. Indah, walau itu terlihat dari samping. Tapi kau tetap tidak menatapku. Malukah?
“Aku harus pergi, mimpiku akan segera berakhir”
“Hanya seperti ini?”
“Iya, bukankah aku telah menepati janjiku menemuimu dinegeri mimpi ini, diujung pelangi”
“Benar, tapi kau belum mengucapkan selamat datang bahkan menatapku pun kau belum”
“Berartikah…”
“Tentu…”
“Baik…”
Perlahan kau kau gerakkan tubuhmu berpaling kearahku. Dan saat kau menatapku, ada perasaan aneh yang menjalari seluruh tubuhku. Kau begitu cantik, anggun. Bagiku kau terlalu sempurna.
Tetapi kau…perlahan senyum manis hilang dari bibirmu. Rona merah wajahmu menguap hingga jadilah kau pucat. Lalu matamu memancarkan ketidakpercayaan. Senyummu berubah menganga.
“Aku harus pergi” katamu dingin.
“Dan takkan ada lagi mimpi, apalagi ujung pelangi” Suaramu semakin dingin.
Aku sendiri.

***

”Kasih, sudah sebulan kau tidak membalas pesanku. Habiskah pulsamu? Adakah sinyal? Pulsa terakhir. BLS”
Send. Delivered.
“Aku rindu…”


***Diterbitkan di Harian Umum Singgalang,
Minggu, 26 juni 2005

No comments: