Ujung senja berangin.
Kukira perjalananku telah usai sesaat setelah aku pulang dari rantau. Menyelesaikan pelajaran hidup dan mengumpulkan berbagai pengalaman. Tak pernah kupilah, baik dan buruk kukantongi. Kujadikan bukti bahwa aku benar-benar telah merasakan hidup dengan segala parasaiannya. Kata Bapak, itulah syarat untuk menjadi lelaki sejati. Kalau perlu, tambahnya, aku harus mengarungi samudera, membelah gurun dan menaklukkan kehidupan liar. Tapi tak usah, bantahnya pula, toh di negeri ini tak terlalu banyak ditemukan ombak tinggi, tak ada padang pasir serupa negeri lain dan alamnya pun hanya pantas untuk sekedar dinikmati. Lagi pula, ini zaman bukan nomaden.
Kubawa bekalku dalam sebuah buntalan kecil, tersandang di pundakku. Sementara pengalaman kukemas apik dalam hati, sebagian kusimpan di otak sebagai bahan pemikiran. Aneh, justru beban yang kubawa kurasa tak seberapa. Hati dan otakku lebih berat. Kalaulah ada perkakas untuk mengukur, kuperkirakan berat keduanya sama atau lebih dari berat badanku secara keseluruhan. Memang berat.
Dalam perjalanan tak pernah jiwaku benar-benar istirahat. Mataku boleh terlihat terpejam. Mereka pasti menyangka aku sedang lelap. Bermain dengan mimpi. Bahkan jika mereka sekali-kali melihat senyumku dalam lelap itu, mereka pasti ingin bergabung. Tapi tidak, senyumku waktu itu adalah wujud kebodohan diri. Dalam tidur yang tak benar-benar lelap, aku menertawakan diriku sendiri. Menertawakan keluguan, kepicikan dan kepatuhan pada apa yang tertulis dan dituliskan untukku.
Sesampai dirumah, dihadapan Bapak, kukeluarkan seluruh bekal yang selama dalam perjalanan setia di pundakku. Tak satupun tersisa. Disana tampak pakaian usang. Mereka telah terlalu lama menemaniku dengan ukuran setia yang tak terbaca. Putih telah mengusam, tak jarang orang lain menyangka warna aslinya coklat muda. Bapak diam. Ah, pastilah dia sudah tahu cerita dibalik bekal yang kini ada di hadapannya. Tentang bekalku, Bapak tak banyak suara. Tak kata. Tak tanya.
Beberapa jenak, Bapak bersuara. Menanyakan tentang langkahku selanjutnya. Aku diam. Bukankah kepergianku selama ini adalah kehendak Bapak? Dalam pikiranku, ia pastilah telah mempunyai jalan yang ia rintis untukku. Lalu, untuk apa ia bertanya tentang langkahku? Toh selama ini, bukankah ia juga yang dengan sadar atau tidak menata langkahku?
Tak menemukan jawaban, Bapak mulai bertanya tentang apa yang aku simpan dalam hati dan sebagian lagi di otak. Kukeluarkan juga semuanya. Kuceritakan segalanya. Dari alur yang paling kotor hingga pada idealisme yang aku peroleh. Bapak hanya mendengar. Diam, kadang mengangguk. Setelah itu, Bapak beranjak. Aku sendiri.
Dan taukah kau, ada satu cerita yang kuputuskan takkan pernah kuceritakan pada Bapak atau orang lain; cerita tentang dirimu, Nda. Sebab bagiku, cerita dirimu adalah kisah suci. Alur yang kubangun sendiri atas dasar kemauan sendiri pula. Pilihanku telah jatuh atas dirimu, dan akulah yang akan bertanggung atas pilihan tersebut. Makanya setiap ada kata rindu, biarlah aku sendiri yang tahu seberapa dalam rindu itu. Padamu biarlah senyap. Barangkali angin yang berbaik hati akan menyampaikannya padamu.
***
Kuputuskan untuk melangkah. Pergi meninggalkan kampung ini. Aku bermaksud mencari sendiri setiap arti hidup yang kata Bapak terbentang luas dipermukaan bumi. Bedanya, jika dahulu aku pergi karena sedikit keterpaksaan, sekarang aku berjalan dengan kemauan sendiri. Keterpaksaan manut yang aku jalani selama ini ternyata telah membentukku. Aku yang dulu patuh disuruh untuk merantau, kini selalu saja melangkah menjauhi kampung. Hidup di negeri orang bukan lagi sebuah penerapan kehendak orang lain terhadapku, tetapi telah merupakan suatu kebutuhan –mungkin.
Mata. Penyebab lain kepergianku kali ini. Ya, mata para penghuni kampung ini, yang dalam artian sederhana ranahku juga, menusuk terlalu dalam. Mereka seakan mempunyai daya magis yang disalurkan melalui indera penglihatan. Sorot mereka setajam samurai. Mata mereka tak hanya melirik tapi juga meluka. Barangkali jika aku tak salah mengartikan, mereka berkata;
“ah, ini dia si anak bejat, yang karena dia, Bapaknya rela mencuri kotak infaq di masjid”
Cerita yang sampai padaku mengisahkan bahwa Bapak dituduh mencuri kotak infaq dengan alasan untuk kepentinganku di rantau. Itu menurut mereka.
Sementara, Bapak kepadaku tak pernah bercerita. Ia hanya berkata sederhana, katanya penduduk kampung mengucilkannya. Pengucilan, sebuah hukum-moral purba yang masih efektif jika diterapkan sepenuh hati. Aku tak ingin mengungkit, lagi pula, entah dari bisikan mana, aku merasa Bapak tidak bersalah.
Semakin hari, mata itu semakin garang. Apalagi mendapati kepulanganku dari rantau tak berbekas apa-apa. Aku tak membawa karya. Yang ada hanya, sesampai dikampung aku menemani Bapak duduk didepan rumah menikmati kucilan penduduk sembari menyeruput teh yang dibeli dari hasil ladang musim kemarin –semuanya dikerjakan sendiri oleh Bapak.
Kepergianku diselimuti subuh, diiringi rintik sisa hujan semalam. Bapak masih lelap. Tapi aku yakin ia tahu aku akan pergi. Ah, egoku bermain. Bukankah pada saat seperti ini seharusnya aku menguatkan Bapak? Menemaninya dari keterasingan kucil. Namun, batinku berkata lain, ia ingin bebas. Aku tak lagi ingin dipetakan. Jika dulu aku disuruh merantau karena kemauan Bapak, maka sekarang aku ingin pergi atas kemauanku. Aku dan bebas. Tak ada mata. Ya, tanpa mata itu, yang telah dengan kejam menebas rasaku atas sebuah kampung milikku sendiri. Aku ingin hidup tenang.
***
Berbagai negeri telah kusaksikan kini. Telah kusinggahi dan kugagahi sebagai seorang muda yang mencari hidup. Anehnya, tak pernah aku merasa tentram. Setelah beberapa hari –barangkali juga bulan- hidup di satu negeri, batinku memberontak. Jiwaku menuntut beranjak. Satu negeri tidak baik dan tidak cukup. Dalam hatiku, aku masih merasa mata itu selalu mengikuti. Mata setajam samurai mengikutiku dengan dua kata menyakitkan; anak pencuri.
Rindu ternyata masih terisisa di hatiku. Betapapun aku menyibukkan diri dengan berpindah atau sekedar mempertahankan hidup, rasa itu selalu datang. Jauh di dalam hatiku, terbersit sebuah keinginan untuk menikmati hijau kampungku, menyaksikan bangau-bangau terbang seperti kapas dengan latar langit biru. Menghirup bau tanah, menikmati aroma malam dengan segala kesederhanaan kampung. Namun akhirnya, keinginan itu buyar sesaat setelah aku ingat sorot tajam dari mata yang suka menghakimi. Menatap menelanjangi.
Tapi tahukah kau? Jauh disana, disudut yang tak pernah terkena cahaya di hatiku, rinduku telah berkarat atas namamu. Perjalananku yang mungkin takkan berakhir tak mampu menghapus namamu. Kerinduanku padamu melebihi perasaanku ingin kembali ke kampung atau pun bertemu Bapak. Rindu dan namamu berkarat sejadi-jadinya.
Epilog
Bukankah sudah pernah kukatakan bahwa aku menyayangimu? Dan saat itu, kau hanya tertunduk dengan senyum yang sangat sederhana. Bukankah sudah kukatakan juga bahwa aku tak bisa membaca tanda? Makanya, sampai saat ini aku tak pernah bisa mengartikan diammu.
Kepulanganku dari rantau hanya menyisakan satu pelajaran yang paling berharga tentang hati. Aku belajar cara menyayangi seorang makhluk indah dengan nama perempuan. Kerinduanku pada perempuan terobati sesaat setelah mengenalmu.
Padamu kutemukan kesejukan. Padamu kudapatkan ketenangan. Bagiku segala tingkahmu telah menghidupkan sebuah paradigma tentang seorang ibu. Ah, pernahkah kuceritakan padamu bahwa ibuku rela menukar nafasnya untuk hidupku? Aku merenggut nyawanya ketika ia memberikan aku hidup. Pertemuan itu antara ada dan tiada.
Kepergianku untuk merantau lagi bukan untuk menemuimu karena bagaimanapun aku masih tak bisa mengartikan diammu nan sederhana itu. Mata yang selalu menatapku, benar, memang menyakitkan. Mengulitiku hidup-hidup. Seandainya aku tak pernah mengenal mata seindah dan sesejuk matamu, barangkali aku akan tahan jika disorot sedemikian. Namun, aku tahu, ada mata paling indah yang pernah menatapku, oleh karenanya aku tak tahan dengan sedikitpun sorotan aneh.
Matamu memberi kedamaian. Matamu menawarkan kenyamanan. Matamu menyajikan kesejukan. Alasanku pergi meninggalkan Bapak karena mata orang kampung hanya sebuah kamuflase. Aku pergi untuk menemukan mata yang paling indah milikmu, namun sayangnya aku masih tak bisa menangkap arti disebaliknya. Ah, biarlah, cukup saja kerinduanku pada matamu hanya sebatas di lamunan. Yang pasti, aku pergi untukmu saja, Nda.
YasminAkbar||Padang, 190208
Tuesday, 26 February 2008
Monday, 25 February 2008
pesan rindu
Semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bersahutan dalam temaram kamarku. Berbincang tentang sesuatu yang resah. Sesuatu yang menggelisah teramat dalam. Ada sebersit kuasa yang hilang; kekuatan untuk bermimpi dan berharap. Ia memudar, dariku hingga kamar ini. Makanya lelap tak ada. Jaga senyum sumringah.
Aku tahu, di sudut sana, seorang gadis sedang lelap dengan damai. Dengan senyum yang ia simpan entah dimana, barangkali dibalik bantal. Ia tentunya sedang bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Rambutnya menawanku. Dalam sebuah sketsa, kusaksikan beberapa lembaran hitam itu jatuh ringan. Membelintang dari kiri atas dahi hingga pipi kanannnya. Putih wajahnya jelas tergambar.
Geraknya tak pernah patah. Gemulai. Layak rambutnya yang selalu menari riang jika disapa angin. Ah, itu saja sudah cukup untuk memenuhi kamarku.
Sapa pertama kulakukan empat tahun yang lalu. Saat itu ia tersenyum. Sebuah hadiah terindah yang pernah kuterima dari seorang perempuan. Langsung melesak dalam. Kusimpan di dada. Sesampai di rumah, kupajang di dinding bagian barat, agar setiap pagi ia cerah memantulkan fajar yang tanpa pernah enggan menyelinap melalui celah jendela.
Setahun berikutnya, kudapati ia menyapa, lagi. Duduk disampingku. Bertanya ini-itu. Selalu saja dengan iringan senyum dan tunduk malu. Ia memintal cerita, aku menggulungnya. Saat itu, ia memanggilku sahabat. Dan, cerita indah purnama, gemintang, serta taman berbunga belum termaktub. Seperti biasa, semuanya kupajang dibagian lain dinding kamar. Kamarku makin hidup.
Tahun ketiga, ia cerita. Katanya ada lain hati yang datang seperti pangeran berkuda putih. Meminang dan mengajaknya ke negeri mimpi. Ia silau, aku galau. Nyatanya ia turutkan kehendak. Ia bermain dengan taman seribu bunga bersama pangeran yang datang entah dari mana, katanya dari negeri mimpi. Adakah negeri itu di zaman ini?
Kamarku tak lagi kemilau. Dinding ketiga dari kamar persegiku membawa buram. Sejak saat itu, aku tidur dalam temaram.
Empat tahun kebersamaan. Ia kini datang. Setiap hari mengajakku berbagi cerita. Ia tawarkan suka, ia paparkan duka. Tertawa ia tunjukkan, menangispun ia tak segan. Katanya, pangerannya tak sempurna. Sang pangeran hanya ingin hatinya untuk dia. Sementara ia; ingin mengarungi samudera, membelah gurun, menjelajahi semesta. Ia ingin bebas. Dan, semuanya ia curahkan, hanya padaku. Kepingan-kepingan ceritanya ku pajang di setiap petak jendela kacaku. Hingga tiap pagi, cerita-cerita itu bersinar oleh mentari, kemudian dipantulkan oleh dinding dimana senyum saat sapa pertamaku empat tahun lalu masih terpajang indah. Namun, setiap malam aku selalu lelap dengan temaram.
Sampai detik ini, semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bergemuruh melantunkan lirik ingin bertemu dengan ia yang mewarnai kamarku.tak ada yang tahu. Semua diam. Semua tak peduli.
Hingga kuputuskan untuk menjangkau sebuah benda kemasa-kinian milikku. Sebuah ponsel, sekedar menyampaikan pesan rindu atau isyaratkan cinta. Kurangkai kata. Kutulis. Sebuah kata terbaca; resah.
II
Wahai lelaki. Semalaman kau bersama temaram. Lagumu tak lain dari irama jam dan jantung. Memikirkan ia yang tak pasti memikirkanmu juga. Bisa jadi tidak. Hidupmu tak hanya di kamar. Duniamu tak hanya ia. Maka ia macam apakah yang merisaukanmu?
Cerita yang kau rangkai bersamanya selama empat tahun kebersamaan tak ada yang tahu. Kau hanya menyimpan sendiri berupa hadiah yang terpajang disetiap sisi kamarmu. Lalu, kapankah cerita itu akan sampai padanya?
Jangan harap ia datang kepadamu terlalu dekat, memasuki kamarmu dan menyaksikan koleksi pajanganmu. Kalaupun benar terjadi, bahagiakah ia kau kira? Ia bisa saja menamparmu karena tanpa izin kau masukkan ia dalam daerah pribadimu semaunya. Atau bisa juga ia berlari dan menangis karena ia menganggapmu gila.
Aku bisa saja mengerti tentang semua rasa yang kau alamatkan padanya. Risaumu akan namanya. Gelisahmu akan wujudnya. Galaumu akan ceritanya. Usah kau simpan, sebab segalanya berkarat termasuk rasa.
Tak ada yang akan pernah mengerti seutuhnya akan dirimu, wahai lelaki. Kau pernah ungkapkan bahwa maumu hanya ingin melihatnya bahagia. Kau pun pernah menjanjikan akan selalu ada untuknya dalam wujud apapun. Tapi, pernahkah kau sadar, itu hanya ungkapan penarik hati. Sekedar merayu. Sekedar pencari simpati. Tanpa kau ceritakan pun aku tahu bahwa kau terluka terlalu parah, tergores terlalu dalam saat seorang pangeran mendekatinya.
Lain waktu kau pun berkilah, wahai lelaki. Kau ingin ia bebas. Kau ingin ia lepas, karena itu membuatnya bahagia, ujarmu. Benarkah itu kenyataannya? Tanpa kau ungkapkan pun aku sudah paham, kau berujar itu untuk mengurangi luka. Kau obati hati dengan caramu sendiri.
Ia datang lagi setelah empat tahun kebersamaan. Ia membagimu segalanya. Apakah kau kira ia membutuhkanmu? Baiknya tak usah berbahagia dulu. Ia bisa saja memang memerlukan. Bisa juga menganggapmu tong sampah, tempat pembuangan segala yang buruk. Untuk kemudian ia melangkah dengan segala yang bersih.
Dan, aku mengerti, hingga detik ini kau tetap mendengarkan detak jam dan jantung. Melayangkan pikiranmu pada ia yang mungkin terlelap dengan damai. Dengan senyum yang ia simpan entah dimana, barangkali dibalik bantal. Mungkin juga ia sedang bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Jika kini kau putuskan untuk menyampaikan pesan rindu atau isyaratkan cinta, barangkali memang sudah waktunya. Sebelum masa berlalu terlalu jauh dan sebelum semuanya pudar. Kuatkan maumu. Salurkan getarmu. Meski hanya lewat sebuah pesan pendek. Usah kau tuliskan kata lain. Jangan cuma kau tuliskan resah. Kirimkan saja rindu.
III
Aku tahu, di sudut sana, seorang laki-laki sedang memikirkanku. Barangkali semalaman ia seperti itu. Mungkin setiap malam ia selalu mendengarkan detak jam dan jantung yang selalu bergemuruh. Mungkin juga ia mengartikan itu sebagai lantunan lirik tentang keinginan bertemu aku.
Aku tahu itu setelah empat tahun menjalin kebersamaan dengannya. Ia selalu ada untukku. Dan aku yakin, setiap bersamaku ia selalu menyimpan cerita entah dimana. Barangkali di bawah bantal atau ia pajang di setiap sisi dinding kamarnya.
Keberadaanya tak pernah dapat kuartikan dengan pasti. Ia ada, tapi aku takut mencinta. Ia datang tapi aku bimbang untuk menyayang. Ia pergi, terkadang aku sepi. Makanya kuperlakukan ia tak lebih dari sekedar tempat berbagi, paling tidak hingga kini.
Barangkali ia mengira setiap malam aku terlelap dalam damai. Mungkin juga ia menyangka aku selalu bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Anggapannya benar. Tapi mungkin saja ia tak pernah memikirkan aku sebelum lelap. Langit-langit kamarku sering menjadi layar pikiran. Melihatnya yang selalu berusaha membuatku bahagia. Aku pun menyaksikan lukanya saat melihat aku melangkah bersama si pangeran tahun ketiga kebersamaan kami. Dan ketika aku datang, ia menyambutku dengan sebungkus kacang sebagai teman dalam percakapan. Saat itu, kuuraikan semuanya.
Kebersamaanku dengannya adalah sebuah kenyamanan. Aku tentram berurai kata. Meski aku sadar barangkali sebagian ceritaku melukainya terlalu parah, menggoresnya terlalu dalam. Dan aku tahu semuanya, sesaat setelah ia mengisahkan bekas torehan lukanya. Darah masih mengalir, sedikit.
Dan hingga detik ini, sebelum tidur pikiranku selalu tersesat padanya. Barangkali jika ia mengirimkan sebuah pesan, mimpiku akan semakin indah. Pesan tak bergambar, karena aku tak bisa membaca tanda. Aku berharap akan membaca kata indah di ponselku. Bukan resah, barangkali rindu. Mudah-mudahan tertulis; cinta.
IV
Semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bersahutan dalam temaram kamarku. Aku semakin hilang dalam rasa yang tak menentu. Jika boleh berkehendak, maka aku ingin seluruh hari adalah siang, agar kesendirian malam tak lagi memapahku padanya. Ia bagiku berarti keindahan sekaligus penyiksaan. Darinya aku sejuk. Dan darinya aku tahu, aku lapuk. Tak kuasa. Tak suara.
Telah ratusan malam aku berlaku seperti ini. Klimaksnya telah kucapai. Hingga tanpa sadar, satu persatu rasa itu telah memudar, barangkali mulai mengkarat. Terbersit dalam pikiranku untuk melangkah. Menjauh. Meski kusadari pergi adalah bunuh diri. Makanya, malam ini, kutuntaskan pesanku. Kurangkai huruf per huruf hingga terbaca; sayang.
V
Wahai lelaki, kepergian adalah wujud lain kelemahan. Pergimu adalah nodamu. Kau melangkah, kau terbaca. Pikiran picikmu langsung tertulis. Bukankah dulu kau pernah berkata bahwa ia hanya seorang perempuan? Dan justru karena ke-perempuan-an itulah kau lemah, aku mengerti. Aku tak lagi mengenalmu, wahai lelaki.
Adakah jaminan kau tak akan seperti ini di belahan bumi lain seandainya kau pergi? Jika kau yakin, aku salutkan kepergianmu. Namun, apakah arti rindumu selama ini?
VI
“ha..ha..ha..”
Padang, Feb ‘08
Aku tahu, di sudut sana, seorang gadis sedang lelap dengan damai. Dengan senyum yang ia simpan entah dimana, barangkali dibalik bantal. Ia tentunya sedang bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Rambutnya menawanku. Dalam sebuah sketsa, kusaksikan beberapa lembaran hitam itu jatuh ringan. Membelintang dari kiri atas dahi hingga pipi kanannnya. Putih wajahnya jelas tergambar.
Geraknya tak pernah patah. Gemulai. Layak rambutnya yang selalu menari riang jika disapa angin. Ah, itu saja sudah cukup untuk memenuhi kamarku.
Sapa pertama kulakukan empat tahun yang lalu. Saat itu ia tersenyum. Sebuah hadiah terindah yang pernah kuterima dari seorang perempuan. Langsung melesak dalam. Kusimpan di dada. Sesampai di rumah, kupajang di dinding bagian barat, agar setiap pagi ia cerah memantulkan fajar yang tanpa pernah enggan menyelinap melalui celah jendela.
Setahun berikutnya, kudapati ia menyapa, lagi. Duduk disampingku. Bertanya ini-itu. Selalu saja dengan iringan senyum dan tunduk malu. Ia memintal cerita, aku menggulungnya. Saat itu, ia memanggilku sahabat. Dan, cerita indah purnama, gemintang, serta taman berbunga belum termaktub. Seperti biasa, semuanya kupajang dibagian lain dinding kamar. Kamarku makin hidup.
Tahun ketiga, ia cerita. Katanya ada lain hati yang datang seperti pangeran berkuda putih. Meminang dan mengajaknya ke negeri mimpi. Ia silau, aku galau. Nyatanya ia turutkan kehendak. Ia bermain dengan taman seribu bunga bersama pangeran yang datang entah dari mana, katanya dari negeri mimpi. Adakah negeri itu di zaman ini?
Kamarku tak lagi kemilau. Dinding ketiga dari kamar persegiku membawa buram. Sejak saat itu, aku tidur dalam temaram.
Empat tahun kebersamaan. Ia kini datang. Setiap hari mengajakku berbagi cerita. Ia tawarkan suka, ia paparkan duka. Tertawa ia tunjukkan, menangispun ia tak segan. Katanya, pangerannya tak sempurna. Sang pangeran hanya ingin hatinya untuk dia. Sementara ia; ingin mengarungi samudera, membelah gurun, menjelajahi semesta. Ia ingin bebas. Dan, semuanya ia curahkan, hanya padaku. Kepingan-kepingan ceritanya ku pajang di setiap petak jendela kacaku. Hingga tiap pagi, cerita-cerita itu bersinar oleh mentari, kemudian dipantulkan oleh dinding dimana senyum saat sapa pertamaku empat tahun lalu masih terpajang indah. Namun, setiap malam aku selalu lelap dengan temaram.
Sampai detik ini, semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bergemuruh melantunkan lirik ingin bertemu dengan ia yang mewarnai kamarku.tak ada yang tahu. Semua diam. Semua tak peduli.
Hingga kuputuskan untuk menjangkau sebuah benda kemasa-kinian milikku. Sebuah ponsel, sekedar menyampaikan pesan rindu atau isyaratkan cinta. Kurangkai kata. Kutulis. Sebuah kata terbaca; resah.
II
Wahai lelaki. Semalaman kau bersama temaram. Lagumu tak lain dari irama jam dan jantung. Memikirkan ia yang tak pasti memikirkanmu juga. Bisa jadi tidak. Hidupmu tak hanya di kamar. Duniamu tak hanya ia. Maka ia macam apakah yang merisaukanmu?
Cerita yang kau rangkai bersamanya selama empat tahun kebersamaan tak ada yang tahu. Kau hanya menyimpan sendiri berupa hadiah yang terpajang disetiap sisi kamarmu. Lalu, kapankah cerita itu akan sampai padanya?
Jangan harap ia datang kepadamu terlalu dekat, memasuki kamarmu dan menyaksikan koleksi pajanganmu. Kalaupun benar terjadi, bahagiakah ia kau kira? Ia bisa saja menamparmu karena tanpa izin kau masukkan ia dalam daerah pribadimu semaunya. Atau bisa juga ia berlari dan menangis karena ia menganggapmu gila.
Aku bisa saja mengerti tentang semua rasa yang kau alamatkan padanya. Risaumu akan namanya. Gelisahmu akan wujudnya. Galaumu akan ceritanya. Usah kau simpan, sebab segalanya berkarat termasuk rasa.
Tak ada yang akan pernah mengerti seutuhnya akan dirimu, wahai lelaki. Kau pernah ungkapkan bahwa maumu hanya ingin melihatnya bahagia. Kau pun pernah menjanjikan akan selalu ada untuknya dalam wujud apapun. Tapi, pernahkah kau sadar, itu hanya ungkapan penarik hati. Sekedar merayu. Sekedar pencari simpati. Tanpa kau ceritakan pun aku tahu bahwa kau terluka terlalu parah, tergores terlalu dalam saat seorang pangeran mendekatinya.
Lain waktu kau pun berkilah, wahai lelaki. Kau ingin ia bebas. Kau ingin ia lepas, karena itu membuatnya bahagia, ujarmu. Benarkah itu kenyataannya? Tanpa kau ungkapkan pun aku sudah paham, kau berujar itu untuk mengurangi luka. Kau obati hati dengan caramu sendiri.
Ia datang lagi setelah empat tahun kebersamaan. Ia membagimu segalanya. Apakah kau kira ia membutuhkanmu? Baiknya tak usah berbahagia dulu. Ia bisa saja memang memerlukan. Bisa juga menganggapmu tong sampah, tempat pembuangan segala yang buruk. Untuk kemudian ia melangkah dengan segala yang bersih.
Dan, aku mengerti, hingga detik ini kau tetap mendengarkan detak jam dan jantung. Melayangkan pikiranmu pada ia yang mungkin terlelap dengan damai. Dengan senyum yang ia simpan entah dimana, barangkali dibalik bantal. Mungkin juga ia sedang bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Jika kini kau putuskan untuk menyampaikan pesan rindu atau isyaratkan cinta, barangkali memang sudah waktunya. Sebelum masa berlalu terlalu jauh dan sebelum semuanya pudar. Kuatkan maumu. Salurkan getarmu. Meski hanya lewat sebuah pesan pendek. Usah kau tuliskan kata lain. Jangan cuma kau tuliskan resah. Kirimkan saja rindu.
III
Aku tahu, di sudut sana, seorang laki-laki sedang memikirkanku. Barangkali semalaman ia seperti itu. Mungkin setiap malam ia selalu mendengarkan detak jam dan jantung yang selalu bergemuruh. Mungkin juga ia mengartikan itu sebagai lantunan lirik tentang keinginan bertemu aku.
Aku tahu itu setelah empat tahun menjalin kebersamaan dengannya. Ia selalu ada untukku. Dan aku yakin, setiap bersamaku ia selalu menyimpan cerita entah dimana. Barangkali di bawah bantal atau ia pajang di setiap sisi dinding kamarnya.
Keberadaanya tak pernah dapat kuartikan dengan pasti. Ia ada, tapi aku takut mencinta. Ia datang tapi aku bimbang untuk menyayang. Ia pergi, terkadang aku sepi. Makanya kuperlakukan ia tak lebih dari sekedar tempat berbagi, paling tidak hingga kini.
Barangkali ia mengira setiap malam aku terlelap dalam damai. Mungkin juga ia menyangka aku selalu bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Anggapannya benar. Tapi mungkin saja ia tak pernah memikirkan aku sebelum lelap. Langit-langit kamarku sering menjadi layar pikiran. Melihatnya yang selalu berusaha membuatku bahagia. Aku pun menyaksikan lukanya saat melihat aku melangkah bersama si pangeran tahun ketiga kebersamaan kami. Dan ketika aku datang, ia menyambutku dengan sebungkus kacang sebagai teman dalam percakapan. Saat itu, kuuraikan semuanya.
Kebersamaanku dengannya adalah sebuah kenyamanan. Aku tentram berurai kata. Meski aku sadar barangkali sebagian ceritaku melukainya terlalu parah, menggoresnya terlalu dalam. Dan aku tahu semuanya, sesaat setelah ia mengisahkan bekas torehan lukanya. Darah masih mengalir, sedikit.
Dan hingga detik ini, sebelum tidur pikiranku selalu tersesat padanya. Barangkali jika ia mengirimkan sebuah pesan, mimpiku akan semakin indah. Pesan tak bergambar, karena aku tak bisa membaca tanda. Aku berharap akan membaca kata indah di ponselku. Bukan resah, barangkali rindu. Mudah-mudahan tertulis; cinta.
IV
Semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bersahutan dalam temaram kamarku. Aku semakin hilang dalam rasa yang tak menentu. Jika boleh berkehendak, maka aku ingin seluruh hari adalah siang, agar kesendirian malam tak lagi memapahku padanya. Ia bagiku berarti keindahan sekaligus penyiksaan. Darinya aku sejuk. Dan darinya aku tahu, aku lapuk. Tak kuasa. Tak suara.
Telah ratusan malam aku berlaku seperti ini. Klimaksnya telah kucapai. Hingga tanpa sadar, satu persatu rasa itu telah memudar, barangkali mulai mengkarat. Terbersit dalam pikiranku untuk melangkah. Menjauh. Meski kusadari pergi adalah bunuh diri. Makanya, malam ini, kutuntaskan pesanku. Kurangkai huruf per huruf hingga terbaca; sayang.
V
Wahai lelaki, kepergian adalah wujud lain kelemahan. Pergimu adalah nodamu. Kau melangkah, kau terbaca. Pikiran picikmu langsung tertulis. Bukankah dulu kau pernah berkata bahwa ia hanya seorang perempuan? Dan justru karena ke-perempuan-an itulah kau lemah, aku mengerti. Aku tak lagi mengenalmu, wahai lelaki.
Adakah jaminan kau tak akan seperti ini di belahan bumi lain seandainya kau pergi? Jika kau yakin, aku salutkan kepergianmu. Namun, apakah arti rindumu selama ini?
VI
“ha..ha..ha..”
Padang, Feb ‘08
Subscribe to:
Posts (Atom)