Matahari memuncak. Kilauan sinarnya pecah dalam keramaian pasar, mengiringi kesemrawutan yang semakin hari semakin menjadi. Seperti biasa –layaknya pasar keseluruhan- selalu menawarkan berbagai macam pola kehidupan dan memajang takdir-takdir yang makin memperkaya keragaman pasar. Wajah-wajah lelah, rambut-rambut kusut dan tetesan keringat menyatu dalam kasak-kusuk perniagaan.
Suara-suara pedagang simpang siur. Ramai mewarnai hari, ribut membelah siang. Tapi begitulah kenyataannya. Lalu pada akhirnya timbullah transaksi.
“Jambret..jambret..”
Suara itu mulanya lemah. Berasal dari seorang ibu setengah baya.
“Jambreeeet…jambreet…”
Semakin ramai. Semua mata kemudian tertuju pada satu titik –lebih tepatnya satu orang-. Lalu tanpa ada perintah, satu,dua, tiga orang berlari mengejar seseorang. Yang lainpun tidak mau ketinggalan, turut menyatu dalam kejar-kejaran. Akhirnya, jadilah sekelompok besar pengunjung pasar mengejar seorang pemuda gondrong.
Wajah pemuda itu kasar dan teramat sangar. Sinar matanya tajam dan kelam serta melambangkan keteguhan yang luar biasa. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah lari dan lari. Rambut gondrong tak menghalangi penglihatannya. Ia terus saja menerobos manusia yang ada di tempat itu, saat itu. Tak ada yang dapat menghalanginya. Mungkin karena kepanikannyalah ia bisa lari sebegitu cepat. Atau mungkin itulah satu-satunya keahlian yang ia miliki. Ia terus berlari hingga mencapai satu persimpangan jalan dan tepat dipersimpangan itu pula terdapat sebuah toko. Lalu pada emperannya seorang bocah sedang duduk bermenung diri meratapi nasib. Tanpa pikir panjang pemuda –penjambret- itu melemparkan tas yang tadi ia jambret kepangkuan si bocah. Sementara itu ia tetap berlari meninggalkan si bocah sendiri termangu dalam kesendirian. Bocah itu bingung luar biasa ketika menerima tas kulit berwarna hitam yang ia tak tahu milik siapa.
“Ini rezeki….” pikir si bocah.
Lama. Bocah itu memperhatikan tas yang baru saja ada ditangannya. Warnanya hitam mengkilat. Tebal. Tampaknya ia kepunyaan kaum kalangan atas. Hati bocah itu tergerak, kemudian secara perlahan tangan mungil kumuhnya memegang reseleting tas tersebut. Jantungnya berdebar kencang. Akhirnya tas terbuka dan ujung-ujung kertas berharga tersembul dari dalamnya. Uang.
Bocah itu baru saja akan tersenyum saat mendengar keributan dari kejauhan. Ramai meneriakkan kata jambret. Sesaat ia mendongakkan kepala dan tiba-tiba saja gerombolan itu sudah berada di hadapannya. Mereka langsung merebut tas hitam yang tetap ia pegang erat. Untuk selanjutnya kemaraham memuncak. Mereka memukul si bocah bertubi-tubi. Terus tiada ampun dan tak ayal lagi beberapa potong kayu sempat mendarat di tubuh si bocah.
Si bocah, sekecil itu, menerima hantaman demi hantaman. Tak ada yang dapat diperbuatnya. Ia hanya diam memagut diri menahan perih untuk tubuhnya dan untuk kehidupannya. Ia tidak menangis.
***
Seorang bocah tampak berlari kecil menyusuri jalan setapak berbatu. Raut mukanya menyiratkan sedikit ketergesaan. Ia terus saja melangkah walaupun terkadang derap kakinya melambat, karena saat itu pastilah kaki kecilnya menginjak bongkahan batu yang tajam –paling tidak bisa menimbulkan suatu perih yang tiba-tiba-
Kedua tangan bocah itu memegang saku celananya,kiri dan kanan, karena disana tersimpan beberapa puluh kelereng yang baru saja ia menangkan. Baginya setiap butir kelereng adalah wujud lain kebahagiaan. Entah kenapa, setiap bunyi yang dihasilkan oleh masing-masing kelereng itu dirasanya sebagai suatu kebebasan, yang juga berarti tertawa. Ia dapat merasakan kepuasan saat kelereng-kelereng itu ia mainkan dengan jemari tangannya yang kumuh, melemparkan dan akhirnya memenangkannya. Hanya pada saat itulah ia merasa sebagai seorang bocah yang dunianya penuh dengan kesukaan, ceria dan tawa. Maka dari itu, ia harus bisa menikmati semuanya, sebelum matahari beranjak, pertanda bumi berputar dan –itupun pertanda- waktu terus berjalan.
Lalu untuk penggalan waktu berikutnya ia pun harus bisa menyesuaikan diri lagi terhadap dunia nyatanya, kembali kepada keluarganya. Mau tidak mau dia harus melakukannya. Ia harus kembali kerumahnya dengan segala ketiadaan dan kenistaan yang orang-orang lemparkan padanya dan keluaragnya. Memang tak bisa dipungkiri, layaknya orang-orang terdahulu yang memberi nilai kepada orang lain hanya berdasarkan pada satu kata; ekonomi. Jika seseorang mempunyai ekonomi yang baik, atau bisa dikatakan “ber-uang” maka secara alami kedudukannya berada pada “cabang atas”. Sementara mereka yang tidak “ber-uang” harus rela berlapang dada menerima semua hujatan dan cercaan yang datang bagaikan tetes hujan yang jatuh ke bumi. Begitu juga halnya dengan bocah tersebut yang baru berumur semuda itu harus bisa menelan pahit getirnya cercaan terhadap keluarganya. Dan iapun tidak memungkiri, bahkan kalau boleh ia bercerita, ia akan mengatakan keluarganya jauh lebih parah dari yang diperbincangkan dari mulut ke mulut.
Nama bocah yang berlari itu adalah Tulin. Entah darimana datangnya nama itu, yang pasti panggilan itu aneh dan terlalu singkat. Tidak ada embel-embel didepan maupun dibelakangnya. Ia tidak tahu kenapa kedua orang tuanya memberi nama itu. Barangkali saja mereka memiliki alasan khusus. Pernah juga ia berpikir; mungkin saja dahulu –hingga kini- harga sebuah nama berbanding lurus dengan panjang nama itu sendiri. Hingga semakin panjang sebuah nama semakin mahal jualah biaya yang harus dikeluarkan untuk upacara pemberian nama itu, pun sebaliknya. Sedangkan ia tahu keadaan keluarganya. Bahkan sekarang ia pun mulai bimbang apakah dahulu ada sedikit jamuan untuk upacara memberi namaya atau tidak. Besar kemungkinannya tidak.
Tulin terus berlari tanpa sedikitpun merasa risih terhadap batu-batu yang membentang sepanjang jalan. Yang ditujunya adalah sebuah rumah sangat sederhana yang ada diujung jalan. Rumahnya.
Dinding rumah tersebut terbuat dari anyaman bambu yang sudah teramat tua. Sebagiannya telah nampak menghitam menandakan kelanjutan usianya. Demikian jua halnya dengan tonggak rumah tersebut, juga telah tua. Di beberapa bagian tonggak itu tampak dihiasi oleh lobang-lobang kecil buatan kumbang. Mereka seakan tidak mengerti –dan memang tidak mengerti- dengan kondisi rumah tersebut. Jangankan untuk mengganti sebuah tonggak, untuk sesuap nasipun terkadang mereka tidak bisa mendapatkannya, hingga –tidak jarang- dalam sehari perut mereka hanya dialas air.
Bukan hanya masalah dinding dan tonggak, kedudukan rumah itu juga memprihatinkan. Rumah itu telah condong, sehingga terpaksa harus ditopang oleh beberapa ruas pohon bambu yang ditancapkan ke tanah.
“Krang…krang…”
Bunyi itu menggema sesaat setelah Tulin masuk kerumahnya. Ia baru saja memasukkan “hartanya” kedalam kaleng tua berkarat yang ia dapat dari jalanan berbatu yang tiap hari ia lalui. Satu, dua, lima, sepuluh buah kelereng bergantian masuk, bahkan lebih.
“Tulin….kemarilah sebentar nak….” Sebuah suara yang sudah teramat ia kenal memanggilnya dari dapur. Itu adalah suara amaknya.
“Tulin….tolong amak, belikan sebungkus kopi ke warung”
Suara itu sangat jelas ia dengar, karena memang saat itu ia telah berdiri dihadapan amaknya. Namun walaupun demikian ia masih saja berdiri mematung di tempat itu, dapur. Jika memang harus membeli kenapa amaknya tidak memberi uang? Namun untuk meminta langsungpun ia tidak berani, tepatnya tidak tega. Karena ia tahu amaknya sudah tiga hari tidak bekerja sebagai buruh tani di sawah mereka yang “ber-uang”. Atau mungkin untuk kesekian kali ia harus…
“Utang dulu….” Sambung amaknya sembari terus mencoba menghidupkan api di tungku. Sesaat setelah itu Tulin baru melangkah, tetapi baru beberapa langkah ia berbalik.
“Mak…Tulin mau membantu…” Suaranya lembut dan lugu. Jauh berbeda dengan raut mukanya yang kelihatan keras.
“Bisa ndak ditukar dengan kelereng…” Suaranya semakin lembut, seakan membelai langsung hati amaknya yang untuk sesaat terdiam seribu bahasa. Perlahan amaknya menggeleng, seiring dengan itu beberapa tetes air mata jatuh dari kelopak matanya, turun mengikuti raut mukanya dan jatuh akhirnya, setelah sempat bergelayut di ujung dagunya yang tua. Air matanya merembes mengikuti iba hati terhadap anaknya, yang sekecil itu harus sudah tahu akan sulit hidup.
Tulin melangkah lagi, kembali menapaki jalan berbatu. Ia tahu kopi itu adalah untuk bapaknya, oleh karena itu ia harus sesegera mungkin. Ia harus segera pulang sebelum bapaknya kembali entah darimana. Namun biasanya, bapaknya baru pulang setelah malam teramat jauh. Ia sendiri tidak tahu apakah ia bahagia dengan kepulangan bapaknya atau malah sebaliknya. Sebab setiap kepulangannya selalu saja diiringi oleh keributan yang tak berawal tak berakhir. Dan tidak jarang pula sasaran kemarahan itu adalah Tulin, dirinya sendiri.
Tulin terus melangkah dibawah sinar matahari senja yang mulai meredup sebab sebagiannya telah hilang, tenggelam dibalik gunung yang menjulang tinggi. Yang tinggal kini hanyalah sebagian cahaya yang masih memberikan sedikit sinar walaupun sayangnya hanya menyentuh pucuk-pucuk pohon. Seiring dengan itu sepoi angin jua menyapa seakan menyambut kehadiran tirai malam yang melambangkan damai, tenang dan lelap, sebab saat itu semua telah kembali. Alam kembali kebentuknya, sunyi. Anak-anak burung kembali hangat oleh induknya. Lelah akan kembali hilang seiring kelam.
Untuk beberapa saat jalan itu sepi sesepi-sepinya. Tak ada seorang manusiapun yang berjalan diujung senja dikala detik-detik pergantian siang dan malam. Semuanya seakan hilang teriring lenyapnya mentari. Namun sejenak, kesunyian itu tercabik oleh bayang mungil seorang bocah. Ia-lah Tulin, yang kembali pulang dengan sebungkus kopi tergenggam di tangannya. Ia –seperti semula- melangkah secepat mungkin. Jika saja ia seperti anak lain, barangkali ia telah merengek atau bahkan menangis karena lelah. Namun apa daya inilah hidupnya.
Tentang menangis; Ia –Tulin- jarang menangis bahkan bisa dikatakan tidak pernah. Bukan karena apa-apa, ia takut menangis. Menurut cerita amaknya, anak-anak yang suka menangis akan dijemput oleh segerombolan penghuni batang aia* yang ada dibelakang rumahnya. Mereka akan memasukkan anak tersebut kedalam karung, membawanya ke sarang mereka dan menjadikannya budak. Itulah alasan terbesar kenapa Tulin takut menangis. Bahkan pada saat ikat pinggang bapaknya mendarat kasar di punggungnya pun ia tetap tegar. Ia hanya memejamkan mata sedalam-dalamnya sembari meringis menahan perih. Tak ada jeritan, tak ada air mata. Lalu setelah itu dipunggungnya akan terbentuk garis-garis merah yang melintang tak karuan. Perih. Bahkan tidak jarang dari garis-garis itu akan merembes cairan tubuh berwarna merah, darah.
Biasanya melihat kejadian itu amak hanya bisa menjerit histeris tanpa bisa mencegah dengan perbuatan, karena kalau itu beliau lakukan bisa-bisa yang menjadi sasaran kemarahan berikutnya adalah beliau sendiri dan ia –Tulin- tidak tega menyaksikan itu semua.
Tulin hampir tiba –kembali- dirumahnya. Tinggal hitungan langkah saja. Namun matanya menangkap pintu rumahnya , yang biasanya tertutup, kini sedikit terbuka. Cahaya lampu minyakpun menerobos keluar. Tidak biasanya pada waktu seperti itu pintu rumahnya terbuka. Ia terus melangkah semakin mendekat, namun seiring dengan itu ia mendengar sedikit keributan. Mulanya suara itu tidak terlalu ribut, namun semakin lama semakin ricuh. Lalu beberapa saat kemudian suara barang-barang yang di lempar ikut mengiringi. Gelas-gelas pecah, loyang melayang.
Dari sela-sela keributan itu, telinga Tulin dapat menangkap suara tangis seorang wanita, amaknya. Suara itu melengking tinggi seiring tangis yang semakin berderai. Tangisan itu juga diselingi oleh bentakan yang kuat dari seorang laki-laki.
Kejadian itu memberikan suatu kepastian pada Tulin, bahwa bapaknya telah pulang. Entah angin apa yang membawa bapaknya pulang secepat itu –paling tidak lebih cepat dari hari biasa, yaitu larut malam-.
Tulin semakin mendekat. Sejenak ia mencoba menempelkan tubuhnya kedinding yang tua. Keributan itu semakin jelas ia dengar. Suara-suara itu sangat memilukan, terutama erangan dan isak tangis amaknya yang tiada terputus. Tulin sepenuhnya yakin dan sadar bahwa keributan kali ini disebabkan oleh segelas kopi yang tak kunjung tiba di meja, tempat dimana bapaknya selalu duduk saat pulang kerumah. Saat ini kopi yang ditunggu bapaknya masih ada ditangannya., tergenggam erat seiring rasa geram, takut, hiba, sedih dan segala perasaan yang ia tak tahu namanya. Untuk kejadian kali ini Tulin tetap tidak menangis.
Telah hitungan menit ia disana, berdiri mematung merapatkan tubuh kedinding tua, namun keributan dan luapan emosi yang sedang terjadi belum jua mereda. Lalu rasa ingin tahunya mendorong Tulin untuk mengintip kejadian yang sebenarnya sedang terjadi dalam naungan ketuaan rumah itu. Dan ia melakukannya.
Tepat ketika ia melongokkan kepala ke pintu yang sedikit terbuka, ia menyaksikan amaknya sedang terhuyung-huyung. Sementara tangisan tetap mengiringi. Lalu pada detik berikutnya, huyungan amak terhenti tepat ketika kepalanya membentur tonggak –tua-. Selanjutnya darah.
Tulin masih diam dibalik dinding luar rumah. Tatapan matanya menjadi kosong menyaksikan kejadian buruk yang selalu saja menjadi santapan keluarganya.
“Mak…ini kopinya…”
Suaranya lembut, lirih. Tak ada yang dapat mendengar suaranya kala itu. Bahkan desiran anginpun telah melumatnya dan membawa terbang ke kesunyian seiring luka yang semakin mendalam di hati seorang bocah, Tulin.
Sebungkus kopi jatuh ke tanah.
“Tulin pergi mak….”
Tanpa menoleh Tulin melangkah lagi di jalan berbatu. Mungkin untuk terakhir kalinya. Saat itu matahari telah benar-benar hilang dari semesta dan menarik tirai siangnya dari alam, untuk esok kembali lagi dengan sinar dan persaksian hidup yang baru. Yang tinggal kini hanya berupa bayang samar yang selalu tersaji ketika malam tiada berbulan. Pun bayang Tulin yang bergerak lembut mengikuti lajur jalan yang ujungnya entah dimana. Namun satu kepastian saat itu adalah ia tidak menangis.
Hitungan detik telah ia lalui, sejumlah jam sudah ia tempuhi, dentingan detik habis ia jalani, Tulin tetap melangkah dalam ketiadaan arah. Rumahnya kini paling luas yakni berlantai bumi beratap langit. Dimanapun ia berada ia tidak lagi takut. Dan kini jalan hidup telah membawanya disini, disebuah emperan toko di suatu kawasan pasar, tepat berada di depan persimpangan. Ia baru saja mendudukkan tubuh mungilnya sembari melepas sedikit lelah setelah melakukan pengembaraan tak berujung. Saat itu kenangan keluarganya (amak dan bapak) kembali terlintas di benaknya.
Mengenai amak dan bapaknya; -menurut kabar terakhir yang sempat ia dengar- saat hari pertengkaran itu amak akhirnya lari, membawa sesobek luka dikepalanya, dan tak ayal lagi, darah berserakan sepanjang jalan yang amaknya lalui. Seterusnya tak ada lagi yang tahu dimana rimba amaknya.
Sementara ayahnya ditemukan oleh penduduk kampung di batang aia yang ada di belakang rumahnya tanpa nyawa. Ia tewas saat dikeroyok oleh rekan sepermainan dalam sebuah perjudian beberapa hari setelah amaknya pergi.
Tulin masih tetap tidak menangis.
Tiba-tiba seseorang berambut gondrong, berwajah kasar dan sangar berlari kencang melewatinya. Dan tiba-tiba pula ia melemparkan sebuah tas kulit hitam mengkilat kepangkuannya.
“Ini rezeki…” pikir Tulin.
Lama. Tulin memperhatikan tas yang baru saja ada ditangannya. Warnanya hitam mengkilat. Tebal. Tampaknya ia kepunyaan kaum kalangan atas. Hati Tulin tergerak, tangan mungil kumuhnya segera memegang reseleting tas tersebut dan membukanya dengan perlahan. Jantungnya berdebar kencang. Tas terbuka, dan ujung-ujung kertas berharga tersembul. Uang.
Tulin baru saja akan tersenyum saat mendengar keributan dari kejauhan. Ramai, meneriakkan kata jambret. Ia mendongakkan kepala dan tiba-tiba saja gerombolan itu sudah ada dihadapannya. Mereka merebut tas hitam yang ada ditangan Tulin. Untuk selanjutnya kemarahan memuncak. Mereka memukul Tulin bertubi-tubi. Terus tiada ampun. Beberapa potong kayu sempat mendarat di tubuh Tulin.
Tulin, sekecil itu, menerima hantaman demi hantaman. Ia hanya diam memagut diri menahan perih, untuk tubuhnya dan untuk kehidupannya.
Ia tidak menangis.
Tulin, bocah itu, terbujur kaku. Umurnya baru sebelas tahun.
No comments:
Post a Comment