Monday, 4 December 2006

HATI PERSEMBAHAN*

Aku tahu hidup ini terlalu pedih bagimu kini. Terlalu menyakitkan jIka di inyafi. Aku bahkan bisa merasakan sakit yang kau sembunyikan dari dunia. Aku tahu itu ketika tatapan kita saling beradu di pasar. Lalu bertepatan dengan itu kau sodorkan sebuah pisau ke perutku.
“Serahkan seluruh uang dan perhiasanmu…” katamu dengan ancaman. Aku tengadahkan kepalaku memandang wajahmu. Mencoba mengenali muka yang aku rasa pernah akrab dengan hari-hariku dulu. Sesaat, setelah aku selami matamu, aku menemukan kesejukan dan tambatan rindu yang telah lama aku pendam. Aku mengenalmu.
Kaupun mungkin begitu, karena saat aku menatapmu kaupun mengernyitkan keningmu. Untuk kemudian aku menangkap kegugupan dibalik wajah dan pakaian premanmu.
“Ma…maaf…” kau lari dalam keramaian pasar. Melewati wajah-wajah lelah.
Pikiranku berkecamuk, heran, marah, kecewa membaur jadi satu. Aku ingin menangis, tapi aku tak bisa karena hatiku terlanjur kuserahkan padamu. Akhirnya aku lanjutkan langkahku lagi dipasar itu, menatap wajah-wajah asing dan meresapi sinar matahari yang selalu saja menyapaku.
Aku sadar kau telah berubah, begitupun aku. Memang, tidak ada yang abadi didunia ini selain perubahan itu sendiri. Sepenuhnya aku juga sadari bahwa perubahan yang terjadi padamu adalah karena tantangan hidup dan juga karena kehendak-Nya.
Mungkin kehendak yang Ia jelmakan terlalu berat bagimu, hingga akhirnya kau memilih jalanmu yang sekarang. Aku tahu bencana itu telah merenggut seluruh keluargamu. Hanya kau yang tersisa. Dan untuk itu kau harus berjuang untuk dirimu sendiri. Selamatkan perutmu dari lapar dan cari atap dikala gerimis melanda.
Tak ada yang dapat kulakukan karena saat itupun aku lunglai, takut, lemah menyaksikan kejadian yang dahsyat itu. Aku mati rasa ketika air itu datang dan hanya dapat berdoa agar kau selamat. Tapi apalah arti doa bagimu dulu –dan kini- karena itu bukanlah wujud suatu pertolongan.
Dan jalan hidup telah mempertemukan kita kembali, dikota ini. Tiada sangkaan kita ‘kan bersua lagi setelah sekian waktu kita terpisah, setelah sekian lama aku tak tahu dimana rimbamu. Aku juga tak tahu sudah berapa jauh kau tempuhi jalan hingga akhirnya kau berada disini. Atau kau mungkin memiliki alasan lain untuk kota ini.
Kau orang yang telah membawa hatiku, barangkali juga separuh nyawaku. Walaupu –sayangnya- kau telah berubah, tapi aku yakin kau masih menyimpan hatiku. Aku yakin hanya penampilan jasad dan gayamu yang berubah. Entah kenapa keyakinanku begitu kuat.
***
Terang bulan tak lagi bersinar, cahaya bintangpun memudar. Entah kenapa mataku tak terpejam. Aku masih ingat pada sebilah pisau yang kau todongkan padaku. Bukan pisau itu yang menakutkan atau menyakitkan, bahkan mungkin aku akan rela jika kau menginginkan nyawaku, asalkan itu berasal dari hati terdalammu. Yang paling menyakitkan adalah perlakuanmu yang berani menodongkan pisau. Tak terbayang bagiku sudah berapa korban yang kau dapatkan.
Siang tadi hampir saja aku tak mengenalmu dari balik pakaian preman dan sedikit tato yang menghiasi lenganmu. Terlalu menyakitkan bagiku untuk membayangkanmu –orang yang dulu kukenal paling baik, paling sopan- berubah menjadi orang yang liar. Seorang -yang hanya- dengan menatap matamu maka orang lain akan merasa takut.
Perlahan kukeluarkan seberkas amplop dari dalam laci mejaku. Dengan perasaan yang tak menentu kubuka amplop yang berwarna merah jambu itu. Aku tak ingat sudah berapa kali aku membaca surat ini, hingga hampir tiap katanya sudah melekat dalam pikiranku.
“kasih…ini bukan sekedar cerita cinta. Ini adalah tentang separuh nafas yang aku gantungkan di senyum manismu. Ini adalah sebagian nyawa yang aku persembahkan dalam mata beningmu. Sekiranya kelak waktu kan memihak…”
Aku tak sanggup melanjutkan. Kata-katanya begitu membuatku melayang. Namun pedih akhirnya, kala ku ingat wajah tadi siang.
Aku begitu terenyuh ketika teringat pertemuan kita terakhir kali. Malam itu kau ada, duduk disampingku, menatap alam yang sekan balas menatap. Entah berapa lama kita duduk disana saat itu.
“Aku butuh pembuktian” katamu singkat. Saat itu aku baru saja akan melangkahkan kaki meninggalkan galau.
“Lalu apa yang dapat aku berikan? Bukankah semua telah kupersaksikan padamu”
“Sesuatu yang dapat kupegang jika kau jauh. Sesuatu yang juga bisa menenangkan karena dari itu aku bisa mengetahui perasaanmu”
“Apa itu ?”
“Hatimu…”
“Lalu…?”
“Begitulah, aku ingin hatimu…” Aku sangat terkejut dengan permintaanmu. Bagaimana mungkin aku memberikan hatiku padamu, walaupun engkau orang yang paling kusayangi.
Lalu perdebatan antara kita sedikit terjadi walaupun akhirnya kau meyakinkan aku untuk menyerahkan hatiku padamu. Aku tak tahu apakah argumenmu yang menarik atau tatapan matamu yang melumpuhkanku, atau karena aku terlalu bodoh…
Akhirnya semua terjadi. Kuserahkan hatiku padamu.
“Aku akan menjaganya layaknya hatiku. Takkan kubiarkan hatimu terluka atau berdarah” Lalu pada ujung pertemuan malam itu, kau genggam tanganku, dan dari itu aku merasa yakin bahwa aku telah memberikan keputusan yang tepat.
“Jagalah hatiku…”
Kemudian disana, dihadapanku, kau satukan hatiku dan hatimu.
Hingga keesokan hari bencana itu datang. Kita terpisah. Kau bawa hatiku entah kemana hingga aku tak bisa menangis untuk semua kejadian itu. Semua terasa hampa, tiada rasa sedih, hiba, takut ataupun perasaan lain. Hanya otakku yang masih berpikir.
“Aku harus menemukanmu…”
***
Siang ini aku datang lagi kepasar. Bukan untuk apa-apa, aku datang untuk mencarimu. Aku berharap kau ada disini, walaupun sekali lagi kau todongkan pisau kepadaku. Bagiku sekedar bertemu denganmu adalah sebuah harapan. Dan, aku akan menanyakan perihal hatiku yang aku persembahkan padamu dulu. Aku yakin kau pasti menepati janjimu untuk menjaganya. Aku akan memintanya kembali, karena hidup selama ini terasa hambar. Aku tak bisa merasakan bahagia lagi, aku juga tak bisa merasakan sedih. Semuanya hampa. Dan jika kemaren aku tersenyum, aku hanya meniru orang lain. Aneh rasanya jika mereka tersenyum sedangkan aku hanya diam. Sama sekali aku tak tahu kenapa harus tersenyum, perasaan apa yang mendorongku untuk melakukannya.
Dan jika nanti kau tidak memberikannya maka aku akan memintamu mengajakku karena aku begitu butuh hati dan terutama, aku merindukanmu.
“Jambreeet…jambreet…”
Kudengar teriakan dari dalam keramaian pasar. Aku sadar zaman ini terlalu keras hingga mendorong seseorang untuk berani berbuat apa saja. Aku tak takut mendengar teriakan itu, aku diam, tak ada rasa was-was.
Lalu seorang pemuda melewati wajahku, ia berlari kencang menghindari kejaran masa. Pemuda itu adalah kau.
Aku masih diam.
Tiba-tiba seorang polisi berpakaian preman yang berdiri tak jauh dariku mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kulitnya. Dan sebuah ledakan…
Kau jatuh, darah tersembul dari sebuah lobang yang terbentuk didadamu. Lobang itu tepat dihatimu, dan juga pasti hatiku. Lalu masa yang mengejar mengerubungimu. Kau dipukul, ditendang, diinjak,…
Akhirnya kau pergi meninggalkanku. Membiarkan aku hidup tanpa hati. Aku ingin menangis. Tak bisa. Tak ada perasaan itu. Perasaanku hilang bersama hancurnya hatiku dan hatimu. Aku sadar aku harus tetap hidup walau hanya dengan mengandalkan otakku. Aku telah membuktikan bisa hidup tanpa perasaan, paling tidak selama kita terpisah. Aku juga yakin masih banyak orang yang –walaupun- memiliki perasaan tetapi tidak menggunakannya. Seperti juga mereka yang tanpa perasaan terus mengeroyok tubuh kakumu…



* juara II Lomba Menulis Cerpen UKJ Yasmin Akbar Se- Sumatera Barat

No comments: