Taksi itu terus melaju namun tidak semulus sebelumnya, karena kini ia harus melewati jalan desa yang cukup sempit. Hanya pas untuk mobil yang berselisih, itupun harus hati-hati. Tidak jarang salah satu mobil yang sedang berselisih itu harus berhenti untuk menghindari terjadinya kecelakaan kecil. Atau malah mempertahankan keegoan si sopir yang tidak mau ban mobilnya menghalau tanah berdebu.
Didalam taksi itu tampak seorang pemuda. Wajahnya lumayan tampan, ditambah dengan setelan pakaian yang rapi, rambut di sisir klimis dan tidak lupa memkai sepatu kulit yang mengkilat. Walaupun dengan pakaian yang terkesan mewah dan mahal, namun hal itu tidak daoat menyembunyikan perasaan si pemuda. Dari wajahnya ia kelihatan sedikit gelisah dan agak cemas. Matanya yang tajam terus menatap kearah depan takasi. Ia tak sabar lagi ingin segera sampai di tujuan.
“yah…..kiri da.” Kata pemuda itu memecah kesunyian yang sudah berlangsung selama tiga jam, tepatnya selama perjalanan dari bandara ke desa tersebut. Segera ia turun dari taksi dan lang sung mersakan sengatan mentari di senja itu. Hal ini sangat berbeda ketika ia masih di dalam taksi yang di lengkapi dengan AC.
“ini… da. Terima kasih…” ia menyodorkan beberapa lembar uang kertas. Baginya, kini, benda itu bukanlah suatu hal yang keramat lagi. Karena setiap hari ia selalu bergelut dengan angka-angka yang jumlahnya tidak sedikit. Di matanya benda itu han ya sebagai bbarang koleksian, dihamburkan atau diganti dengan keegoannya akan sesuatu. Ah, itu bukan dia, peredaran waktulah yang telah mengajarkannya dan mengganti paradigmanya tentang arti kehidupa.
Taksi itu segera melaju. Kini, beberapa meter dihadapan pemuda, berdirilah sebuah rumah gadang tua. Dinding dan tonggaknya serta anyaman kandangnya masih seperti dulu. Hanya saja ada lobang-lobang kecil yang menghiasi rumah tersebut. Maklum rumah gadang itu sudah sangat tua, sehingga tidak heran apa bila rayap dan kumbang menggerogotinya.
Dengan langkah pasti dan berwibawa, pemuda itu melangkah menuju rumah gadang nya. Bukankah rumah itu masih miliknya? Karena di sanalah ia lahir tumbuh berkembang dan mengenal hidup untuk pertama kali, hingga kini ia menjadi orang sukses di ibu kota. Ada perasaan angkuh tersirat di hatinya.
“bak…abak…!!” panggil si pemuda di depan pintu yang sudah dimakan usia. Perlahan pintu terbuka, di iringi bunyi reotnya yang khas. Ah, sudah berkarat dan tua kenapa tidak di buang dan di ganti saja? Berpa sih harga sehelai daun pintu? Pikir pemuda itu. Daqri balik pintu muncul wajah tua yang kelihatan agak lemas. Namun sinar matanya tetap terang, jernih dan tajam. Segera menusuk relung hati terdalam si pemuda, dan tanpa sadar setetes air bening jatuh dari matanya. Begitupun dengan si tua yang di panggila abak itu. Mereka berpelukan dengan sejuta rasa yang tak terkata.
“ yuang…. Kapan sampainya yuang.” Pertanyaan abaknya terlontar setelah melepas pelukan dari anaknya. Ada sedikit rasa yang telah terobati.
Buyuang,…buyuang,…kembali kata sapaan itu di dengarnya. Kenapa abaknya selalu memanggil butuang ? bukankah di zaman modern ini nama itu sudah terlalu usang ? dan kenapa tidak memanggil Amat, nama yang dulu di berikan abak kepadanya, atau Roni, nama yang kini tertulis di kartu namanya untuk di berikan kepada relasi atau mitra bisnisnya. Rasa congkak kini terbersit di hatinya.
“ baru sampai bak,…..amak mana bak ?”
“ amakmu pergi ke batang aia dibelakang ..” kata abak. Lagi perasaan angkuh timbul di hati Amat. Sudah sejak lama ia menyuruh orang tuanya membuat sumur bahkan rumah baru. Tapi semua sia-sia. Abak dan amaknya malah memilih tinggal di rumah gadang yang reot dan mandi di batang aia yang airnya tidak bersih dan kadang keruh. Dan selama tiga tahun ia di Jakarta ternyata pola pikir kedua orang tuanya tidak berubah.
***
Malam telah menampakkan dirinya, dilangit sana tidak terlihat sebuah bintangpun. Udarapun terasa sangat dingin bagi si Amat yang telah terbiasa dengan cuaca di kota metropolitan. Sementara di rumah gadang itu hanya di lengkapi dengan penerangan yang primitif. Hal ini sangat tidak disenangi Amat yang terbiasa dengan kerlap-kerlip lampu jalanan.
“ bak…saya pulang hari ini karena saya mendapat kabar bahwa bapak dalam keadaan sakit, apa benar bak ?”suara Amat memecah kesunyian malam itu. Kini ia sedang duduk bersila di ruang tengah bersama kedua orang tuanya.
“ Benar….. yuang” jawab abaknya singkat.
“Iya….abakmu sakit setelah bermain saluang di kampung sebelah. Kebetulan mereka mengadakan acara kampung. Lumayan menambah pemasukan…”amak menjelaskannya kepada Amat yang kini kelihatan cukup jengkel.
“Itulah abak…. Sudah berapa kali saya katakan, abak jangan lagi meniup saluang itu karena abak sudah tua. Lagian, penghasilan dari saluang itu hanya sedikit. Lebih baik abak ikut saya ke kota. Disana saya akan menjamin hidup abak dan amak. Daripada disini….abak hanya meniup, meniup dan terus meniup buluah yang tidak berguna itu !!!”
Semua diam. Hanya suara jengkrik dan bisikan angin malam yang terdengar. Siapa yang berkata tadi ?pikir abak sebab Amat yang dulu tidak mungkin berkata demikian. Ia dulu menyukai saluang bahkan dari mulutnya dulu sempat terucap bahwa ia akan meneruskan kepandaian abaknya. Sebagai peniup saluang. Itu dulu… ketika Amat masih bersih, lugu dan belum mengenal dunia luar.
“ Yuang ….kenapa kau berkata demikian !”suara abak sedikit meninggi. Mungkin karena merasa tersinggung atau karena malam yang begitu sepi.
“ Karena saluanglah kita masih bisa berkumpul saat ini. Karena saluanglah abakmu ini bisa menghirup udara hingga detik ini. Ingat ….bukankah buluah yang kau katakan tidak berguna ini yang telah mengantarkanmu hingga menjadi orang besar saat ini.”
“Iya…. Tapi karena saluanglah akhir-akhir ini abak sering sakit. Setiap abak memainkannya, abak selalu sakit. Lagi pula, pada zaman modern ini siapa lagi yang ingin mendengar ratok saluang itu. Itu hanyalah kebudayaan primitif.”
Benar dugaan abak. Anaknya kini bukanlah anaknya yang dulu. Ia telah jauh berubah bahkan kini ia telah berani mencemooh pekerjaan abaknya sendiri.
“Biaralah ndak ada orang yang akan mendengarnya, abak akan terus memainkan saluang. Bukan karena siapa atau berapa orang akan membayar abak, tapi abak ingin anak cucu abak bisa mendengarkan saluang. Kalu bukan abak siapa lagi yang akan sudi mempertahankan kebudayaan kita. Kebudayaan ranah minang.”
Kembali kesunyian menyelimuti rumah gadang itu.ada berjuta perasaan yang kini di rasakan penghuninya. Amak yang sewdari tadi diam hanya bisa menghela nafas.
“Sudahlah bak…. Besok saya akan kembali ke Jakarta, tidak ada lagi yang dapat saya lakukan disini. Abak mau ikut ?”
“ ndak …” jawab abak singkat, datar, menyembunyikan perasaan yang tidak menentu. Berjuta perasaan kini menusuk dadanya.
***
Taksi itu terus melaju, namun kini lebih kencang dari sebelumnya, karena kini taksi itu telah memasuki jalan raya. Bukan lagi jalan desa yang kecil yang hanya pas untuk dua mobil jika berselisih. Di dalam taksi nitu tampak seorang pemuda, Amat, yang sedang menatap jauh ke depan dengan tatapan kosong.
Tiba tangan si sopir taksi menjangkau tape yang ada di sebelah kirinya, maka tak lama kemudian terdengarlah alunan saluang, seakan menggema dalam taksi tersebut.
“Da… tolong matikan tapenya, saya tidak suka…”kata Amat pendek, datar.
Taksi itu terus meluncur hening, sunyi, sepi. Hanya suara mesain yang terdengar. Tak ada lagi saluang, seakan telah dimakan oleh klakson dan mesin-mesin panas, seiring dengan meluncurnya sang waktu dalam kehidupan Amat.
No comments:
Post a Comment