Monday, 4 December 2006

SISA BULDOZER

Bulan tua memerah di pucuk pohon jambu. Saat itu hening. Hanya bulan dan bayang kelam. Menyatu mengalirkan aura tenang tak menentu.
Seorang wanita anggun duduk tersentak dari tidurnya. Ia gelisah. Beberapa bulir peluh tampak mengkilat disapa cahaya lampu. Wajahnya putih, tapi entahlah, mungkin pucat. Ia kemudian menyeka keringat yang sekan ingin menganak sungai. Perlahan ia melangkah gontai, membuka pintu sebuah kamar. Hilang.
Bulan tua memerah, masih disana. Menaungi seluruh alam dan kejadian saat itu.
“Ning, masih keluar?? Inikan sudah terlalu malam...”
”Terlalu malam? Malamku tak berarti, bulanku musnah, hariku hancur, bahkan untuk menentukan hidupku sendiri, aku tak lagi kuat”
”Tapi bukankah sebaiknya malam ini kamu istirahat?”
”Justru itu, istirahatku adalah matiku. Kalau tidak begini dengan apa harus kuisi lambungku...apakah mereka bersedia menangguangku? Tidak mungkin...mereka hanyalah kumpulan anjing. Yang tertawa, menyalak, di atas reruntuhan yang bukan hak mereka.”
Ning. Bicara tenang dihadapan cermin hias. Jari lentiknya lincah memainkan dan meratakan gincu. Seketika bibir tipisnya merah. Sementara si lawan bicara terdiam. Terpaku menatap Ning, temannya. Ah,Ning, hidup terlalu berat untukmu....
Beberapa jenak berlalu. Seorang wanita cantik, berkisar antara usia dua puluh-an, berjalan anggun dibawah bulan tua yang memerah. Ia melangkah membelah sunyi. Menebas kelam. Melewati gang, got, lanyah.
Mata indahnya menatap jalanana dengan pandangan kosong. Tak seorangpun tahu apa yang ada dalam pikirannya. Yang pasti, setiap malam, setiap kegelapan, ia selalu berjalan dengan cara yang sama. Dingin malam menjadi temannya. Menjamah dengan seribu satu perasaan sakit.
Ning berjalan, terus. Merombak sunyi. Inilah hidupnya bertaruh jiwa raga saat orang lain di buai mimpi indah, tentang bidadari syurga, tentang kaya dan tentang segalanya. Tapi Ning, dia harus merelakan mimpinya bias, hilang menguap dalam kebekuan angin malam. Baginya, mimpi indah membuka luka lama. Luka lama yang belum juga tersembuhi mesti telah di balut sang waktu.
Dulu ia pernah bermimpi menjadi kaya, dokter misalnya, atau apalah. Yang penting dia pernah punya impian. Ia pun telah berusaha untuk itu. Namun tiba-tiba sebuah musim buatan manusia datang. Membuyarkan mimpi dan merubah segalanya bagi Ning.
Semenjak itu, hingga kini, ia tak lagi berani bermimpi untuk hal yang tak pasti. Untuk hal yang saat ini tak mungkin ia dapati.
Malam semakin larut. Bulan, pohon jambu, dan bayang malam masih saling setia. Ning sampai di ujung gang.
”Ojek...?”
”Ya....”
”Kemana? Tempat biasa?”
”Ya....”
Ning, masih dengan gerakan anggun, menaiki sepeda motor. Hampir setiap malam, ketika selarut ini, Ning selalu berojek. Ketempat biasa, katanya.
Halte tua di remang malam, tampak kedinginan meski di temani lampu jalan. Beberapa juga ada disana, mungkin menunggu. Menunggu pagi, menunggua pujaan hati atau menunggu sesuatu yang tak pasti. Dengan mimik yang tak menentu mereka terus menanti.
Sebuah sepeda motor berhenti. Tepat di halte tua. Seorang perempuan, dengan gemulainya, menginjak bebatuan yang menjadi lantai tempat pemberhentian bus itu. Tangan indah, jemari lentik, menyodorkan beberapa lembar uang ke si pengemudi motor.
Lalu percakapan singkat terjadi sebelum akhirnya kedua insan itu berpisah.
Ning, di halte tua, tempat dimana ia berdiri untuk menyulam malam menjadi jembatan hidup. Tak ada yang dapat dilakukannya selain ini. Ya, selain ini. Berdiri di remang malam. Menanti moral-moral bejat yang katanya suci. Ning hanya menurut. Ia tak lagi takut dosa. Tak lagi memikirkan halal, atau baik buruk.
Baginya dosa adalah dongeng lama. Cerita kuno yang dipaparkan nenek sebelum tidur. Ia hanyalah rangakaian huruf, sekedar pembuai mata sebelum terlelap. Lalu setelah itu semuanya hilang. Tak ada yang berkesan. Dosa bagi Ning, kini, hanyalah kata yang digunakan untuk menakuti mereka yang bersalah. Itupun jika mereka takut.
Lalu, jika ia berdosa, apakah yang didapat oleh mereka yang datang padany –Ning-. Mereka yang bejat, mereka yang munafik. Mengaku suci padahal tahi, mengaku setia padahal dusta. Ah, Ning segera melupakannya. Tugasnya hanya menyambung hidup. Berusaha agar tidak mati dan, esok, bisa menyenyumi mentari. Lagi.
Malam semakin larut. Lalu lintas jalanan beraspal sedikit memadat. Sayup-sayup selingan suara terompet mulai menggema membongkar kebekuan hati Ning. Beberapa saat kemudian, sebuah kembang api melesat tinggi lalu pecah diangkasa. Jauh.
Ning masih disana. Mencoba berdiri tegar. Matanya menerawang jauh menerobos kelam yang meraja di angkasa. Sesaat, dalam kelam itu, pikirannya melayang.
***
”Ayo...kejar aku...” Ning kecil berlari menapaki jalanan kecil berbatu. Bajunya putih berlengan panjang. Tangan mungilnya memagut sebuah bungkusan plastik di dada. Rapat.
Menyusul Ning, sekelompok anak juga berlari dengan pakaian yang berwarna sama. Putih. Mereka berlari mengikuti Ning. Ning terkejar.
”Ning, kamu sudah menyelesaikan PR?”
”Belum. Nanti sampai dirumah aku akan langsung mengerjakannya dan mengulang pelajaran...”
”Oo...”
”Ya, biar aku pintar. Menjadi dokter dan akhirnya bisa membantu orang tua”
Percakapan usai di persimpangan. Kini Ning kecil berjalan sendirian -masih memagut bingkisan plastik- menuju rumahnya. Semi permanen.
***
”Ning, sekarang apa yang akan kau lakukan?” seorang lelaki muda -berusia kira-kira tamatan sekolah menengah atas- merombak sunyi.
”Entahlah...yang pasti aku harus mengakali agar tetap bisa makan, hidup.” Ning berujar sembari menatap awan senja yang berombak tak menentu. Mimpinya hilang, masa bermainnya telah terlewati.
Ning tak memperhatikan lawan bicaranya yang sedang duduk, juga, menatap awan. Lelaki itu temannya sejak kecil, berlari, tertawa dan menari. Hingga kini mereka beranjak remaja.
”Kamu bisa saja melanjutkan sekolahmu dan mencapai semua cita-citamu...”
”Menjadi dokter? Tidak, itu adalah impian bodoh si anak kecil yang belum tahu akan sulit hidup. Sekarang, untuk bisa makan saja, aku dan keluargaku sudah cukup bersyukur...”
Ning masih menatap tinggi, mengarah ke awan yang sedikit bergerak. Sedikit sekali.
”Nes, terimakasih atas semuanya...kau adalah teman terbaikku selama ini...”
Lelaki yang dipanggil Nes itu hanya diam. Tenggelam dalam pikirannya. Entah di imaji yang mana. Selang beberapa saat, hening kembali meraja. Membekukan lingkaran antara dua anak manusia yang mencoba bertahan hidup dalam gamang.
Kebekuan belum juga rombak. Hingga akhirnya Ning dan Nes beranjak. Mereka melangkah gontai dalam lamunan masing-masing. Pulang.
Senja beranjak kelam. Secara perlahan malam merambat, menunjukkan keberadaannya. Menaungi seluruh semesta dan menyelimuti manusia dengan harapan untuk esok. Termasuk Ning.
Baru beberapa saat setelah fajar menyingsing, sebuah suara gaduh terdengar. Ning, yang saat itu baru bangun, tersentak. Keributan luar biasa telah terjadi. Sura jerit. Tangis. Raungan, dan cacian. Semua menyatu. Ning juga sempat mendengar deru mesin. Tanpa menunggu lama, Ning berlari keluar.
”Bangunan ini liar...harus dimusnahkan. Kalian tidak punya hak disini!!!” Seorang pria kekar berpakaian Pamong Praja lantang.
Ning, gadis cantik berwajah halus, terduduk lemas. Dihadapannya tampak gerombolan penduduk menghadang para penjagal. Tak ketinggalan seorang perempuan, ia hampir setengah telanjang, bajunya koyak. Ditarik, kasar.
Tak ada yang dapat dilakukan Ning. Musim Buldozer ternyata bukan hanya cerita dibalik layar kaca. Ia kini hadir dihadapan Ning. Meluluh lantakkan segalanya. Rumah, perabot, dan harapan Ning. Suara robohan dan tangis menyatu. Haru.
Ning masih lemas. Semuanya kosong. Yang ada dalam benaknya kini hanya bertahan hidup, meski harus menggunakan seluruh kemolekan tubuhnya. Perih.
***
Halte tua menggigil. Hampir tengah malam. Suara malam semakin semakin hening. Ning masih berdiri mematung. Memperhatikan pergerakan hidup malam.
Sebuah sepeda motor melambat dan kemudian berhenti. Tepat dihadapan Ning.
”Ning...apa yang kau lakukan disini?”
”Nes...”
”Kamu mau ikut denganku?“
„Tapi aku harus...“
Nes, lelaki yang datang ditengah malam. Mengajak Ning menikmati hidup. Membawa Ning berkeliling. Entah untuk apa...


”Ning, kau cantik, masih sama seperti dulu. Jika boleh aku jujur, dulu, mungkin juga hingga hari ini, aku mencintaimu. Tapi tidak bisa hanya dengan cinta. Tuntutan zaman memaksa seseorang untuk bertindak garang. Ning, maafkan aku...kini kau modalku. Disana banyak lelaki bejat menunggumu. Sekali lagi, maafkan aku. Aku melakukan ini karena anak istriku butuh makan. Mengertialh...”

No comments: