Kulangkahkan kakiku mengikuti alur jalan setapak yang dulu sangat akrab dengan hari-hariku. Pikiranku berkecamuk hebat seiring dengan rasa bersalah dan rasa menyesal yang selalu mendesak di dada. Aku tak tahu apakah disana masih tumbuh sebatang pohon yang pernah menjadi tempat terindah bagiku. Dulu. Tempat dimana aku biasa tertawa dan berbagi rasa bersama seseorang yang selama ini menghantui pikiranku.
Hatiku sedikit lega ketika disana kumasih melihat sebatang pohon . Ia masih berdiri kokoh, menampakkan rindang daunnya dan menawarkan kesejukan alami di tengah teriknya sinar matahari. Kulihat ada sedikit yang berubah dari pohon itu, terutama pada sebuah tulisan yang tergores di batangnya. Kulihat pohon itu semakin subur dan tulisannya semakin indah. Seakan dibuat dengan penuh rasa dan konsentrasi tinggi. Mungkin edaran waktulah yang telah menyebabkan itu semua.
Segera kududukkan tubuhku diatas sebongkah batu yang ada tepat di bawah pohon itu. Sehelai daun kering melayang. Indah, seiring sepoinya angin. Seketika pikiranku terbang jauh ke masa silam. Masa yang sangat indah, yang telah memberikan suatu warna kehidupan tersendiri. Bagiku. Aku merasa teramat rindu dan ingin mengulang kembali hari-hari itu. Namun apalah dayaku. Aku hanya manusia biasa, bagian dari kebanyakan yang tak punya kuasa barang secuilpun.
Hatiku semakin kalut. Gelisah, rindu kala kusadar ku telah melewatkan hari-hariku dengan tawa dan sorakan ceria. Sedangkan disini, di pohon ini, ku yakin ada seseorang yang sangat mengharapkan kehadiran seorang pecundang ini. Sosok indah yang pernah memberikan kebahagiaan bagiku dan memberikan kesejukan saat hatiku dilanda kegersangan.
Sesekali kuarahkan mata ke ujung jalan setapak ini. Berharap ku kan melihatmu, melangkah mendekatiku dengan lambaian rambut indahmu. Aku masih ingat sebersit senyum di bibir indahmu yang sangat mempesona. Aku masih ingat akan rona merah yang menghiasi wajahmu. Dan aku masih ingat semua keindahan yang melekat pada dirimu.
***
“Di…” suara itu terdengar serak memecah kesunyian sore itu. Kulihat kau menunduk. Menahan segala rasa yang aku tak mengerti.
“Kenapa harus selalu ada perpisahan….” Suaramu semakin serak dan terhenti mendadak. Kembali kulihat kau tertunduk. Kali ini kau mengeluarkan sehelai sapu tangan merah jambu dan menghapus air mata yang jatuh menelusuri wajah indahmu. Aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun karena memang aku tak bisa menjelaskannya. Atau mungkin juga aku terlalu terbawa keadaan hingga tak dapat mengingat sepatah katapun.
“Kenapa harus selalu ada perpisahan jika pertemuan itu membahagiakan…”
Kau mengulang pertanyaanmu, lebih lengkap. Kaupun menegakkan kepala, mencoba manahan jatuhan ait mata berikutnya. Kulihat sepasang mata indahmu memerah. Rambut halusmu yang sepunggung tetap melambai seiring hembusan angin sore.
“Entahlah…” hening kembali menyelimuti, menggoreskan sebuah rasa mendesak yang tak mungkin bisa kuungkap walau menggunakan seluruh kosakata yang ada dalam kamus milikku.
“Inilah kodratnya hukum alam. Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan” Hening.
“Kita tak mungkin bisa mengingkarinya”
Kucoba merangkai kata itu di tengah kekalutan hati. Kau kemudian menatapku, dalam. Seolah ingin menyelami hatiku dan mencari tahu segalanya. Aku tak bisa membalas tatapanmu yang begitu tajam, hingga akhirnya ku dongakkan kepalaku menatap segumpalan awan yang seakan terus menyaksikan dan ikut merasakan segala kegalauanku. Di atas sana matahari mulai condong, namun tetap memancarkan sinar terangnya.
“Vi…” kini giliranku memecah kesunyian nan indah ini.
“Jangan kau tangisi keadaan ini. Bukan kau atau aku yang salah. Mungkin ini adalah jalan terbaik yang telah di gariskan-Nya bagi kita.”
Kau mulai tenang, walau matamu masih terlihat basah. Di genangi oleh tetesan air yang tak kunjung jatuh.
“Di…maukah kau berjanji padaku?” pertanyaan itu terdengar amat lembut di telingaku, namun mengandung suatu makna pengharapan yang cukup besar. Kau kembali menatapku, dalam. Menunggu jawaban untuk menyanggupi pertanyaanmu. Aku mengangguk. Pelan.
“Janjilah kepadaku…tepat setahun lagi kau akan disini, di bawah pohon ini. Untukku…”
“Baiklah…aku janji”
Kau berdiri perlahan, sesaat setelah mendengar perkataanku. Kau mengambil sekerat pecahan batu. Kulihat matamu masih merah. Aku hanya diam menyaksikan apa yang kau lakukan, karena aku begitu hanyut terbawa suasana hati yang tak menentu. Aku memperhatikan setiap gerakanmu yang semuanya terasa sangat mempesona. Perlahan kau melangkah menuju pohon yang aku jadikan sandaran. Kemudian menggoresnya dengan bongkahan batu yang tadi kau ambil. Kau menulis sebuah nama. Namaku.
Matahari makin tergelincir, mencoba menyembunyikan terangnya di balik gunung. Anginpun semakin sepoi, membawa aura dingin yang segar. Kamipun melangkah pergi menjauhi tempat itu, kembali menelusuri jalan setapak yang terasa kian menyempit. Nyanyian burung yang kembali kesarangnya mengiringi langkahku dan langkahmu. Perlahan tirai malampun menampakkan wujudnya.
***
Gemerisik daun yang di belai angin terasa indah di telingaku, memberikan suatu melodi tersendiri yang semakin menghanyutkan pikirankku. Aku masih duduk disini. Mencoba lagi merangkai bayangan indah yang terus mengisi imajiku.
Aku sadar, empat tahun sudah aku bergelut dengan ganasnya gelombang kehidupan, dan sudah empat tahun pula aku tak pernah menatap dan menerima kabar darimu. Aku masih ingat akan janji yang dulu pernah aku ucapkan. Disini. Namun apa daya, aku tak bisa menepatinya. Aku merasa tak punya keberanian untuk menemuimu tiga tahun yang lalu. Aku tak sanggup menemuimu dengan keadaanku yang belum matang dan aku tak siap menghadapi segala perubahan, terutama pada dirimu.
Namun jauh di lubuk hatiku, aku yakin kau pasti menunggu pecundang ini. Firasatku mengatakan kau masih menyempatkan datang ketempat indah ini. Mengenang sebuah nama.
“Sudahlah…jangan kau pikirkan lagi masa yang sudah menghilang di bawa gelombang kehidupan” suara itu membangunkanku dari lamunan panjang. Tanpa kusadari, disampingku telah berdiri sesosok tubuh yang sudah termakan usia. Ia terlihat sangat bijaksana. Aku masih sedikit kaget saat ia mulai mengambil tempat duduk di sampingku.
“Maaf kek…siapakah kakek ini?” aku memberanikan diri untuk bertanya karena akan terasa aneh jika berbicara dengan orang yang tidak kita kenal.
“Apakah kau yang bernama Fardi?” kakek itu balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaanku sebelumnya.
“Ya”
“Hidup ini memiliki banyak rahasia. Mungkin rahasia itu adalah jalan terbaik yang telah diaturNya”
Suaranya semakin berwibawa dan mengandung arti yang sulit kumengerti.
“Begitu juga dengan pohon ini, juga memiliki rahasia. Nak, sebenarnya aku telah tahu siapa kamu dan tahu sedikit kisah hidupmu.”
“Bagaimana kakek bisa tahu?”
“Tiga tahun yang lalu, seorang gadis cantik sering datang kesini dan duduk di bawah pohon ini dalam kesendirian. Aku selalu memperhatikan. Dan suatu hari aku mendekatinya. Mulai saat itu ia menceritakan kisah hidupnya setiap ia duduk disini” Aku mulai tertarik dengan ceritanya yang sangat menyentuh. Aku juga merasa cerita itu ada kaitannya denganku.
“Coba kau perhatikan, apakah pohon ini masih sama dengan pohon yang terakhir kau lihat..?”
Akupun memperhatikan pohon ini dengan seksama. Daunnya masih segar begitu juga dengan sebuah tulisan yang masih ada pada batangnya, namun sedikit berubah. Lebih indah.
“Aku tak yakin….namun pohon ini memang sedikit berubah”
“Enam bulan setelah kalian berpisah, sebuah petir menghantam pohon ini dan menyebabkannya mati. Kemudian gadis itu kembali menanam pohon yang baru, tepat disini. Ia kemudian merawatnya dengan telaten. Ia mengatakan bahwa ada seseorang yang akan sedih jika pohon ini mati” Hatiku bergetar dan mataku terasa berat, seakan ingin mengeluarkan beberapa tetes airnya.
“Kemudian kira-kira tiga tahun yang lalu, ia datang lagi. Menunggumu dengan penuh harapan. Ia mengatakan bahwa hari itu adalah hari yang kau janjikan untuk menemuinya. Ia menunggumu sambil mengukir ulang namamu di pohon baru ini. Kulihat ia begitu kecewa. Akhirnya ia pulang sambil menyapu air matanya”
Tanpa sadar setetes air bening jatuh dari pelupuk mataku. Aku tahu ia pasti merasa terpukul saat itu karena telah dikecewakan oleh seseorang yang sangat di dambanya. Aku.
“Tiga bulan yang lalu ia datang lagi, namun hanya sebentar. Ia menitipkan sebuah surat kepadaku. Ini…” kemudian ia segera melangkah pergi. Meninggalkanku yang masih saja duduk dengan segala rasa yang semakin tak menentu.
Apa yang akan kukatakan nanti jika esok takdir mempertemukanku denganmu. Entahlah. Namun yang pasti ketidakhadiranku saat itu semta-mata karena kelemahan dan ketakutanku.
***
Angin berhembus sedikit kencang melambai pada setiap benda yamg dilaluinya. Diatas awan cukup berat dengan warna yang menghitam. Sesekali terdengar suara petir yang membahana seakan ingin menunjukkan keberadaannya. Sesosok tubuh tampak melangkah tergesa, mencoba sampai dirumah sebelum tetes demi tetes hujan menyentuh kulitnya. Ia baru saja kembali dari suatu tempat yang baginya sangat berarti. Setiap hari ia selalu kesana, ke sebuah pohon, dan selalu melakukan hal yang sama. Duduk bermenung.
Sesampainya di persimpangan, ia mengambil arah yang sangat jarang ia lewati. Jalan itu adalah jalan terdekat menuju rumahnya, namun disana ia harus melewati sebuah pemakaman.
Sekilas ia melirik kesebuah pusara yang terlihat baru. Tiba-tiba ia berhenti. Seluruh tubuhnya lemas, hingga ia harus berlutut di pusara itu. Rintik hujan menjelma lebat, turun membasahi dedaunan dan seluruh yang ada di tempat itu, termasuk ia. Namun ia tak peduli, ia tetap berlutut disana, walau ditengah gemuruh petir yang menyambar.
Sosok tubuh itu menangis, memanggil lirih sebuah nama, Vira. Sosok tubuh itu adalah…aku.
No comments:
Post a Comment