:Medi Adioska
Diammu nan sederhana
Melukaiku dengan sempurna
“ah…”
Monday, 4 December 2006
F.2.1
:Medi Adioska
I
Setia menunggu kata
Bergelut melawan rasa;
kau!
II
Hujan bimbang di senja;
entah dimana basah kan ada,
pada riak yang tersamar suara
atau bicara yang terselubung di dada
Pdg, 011206
I
Setia menunggu kata
Bergelut melawan rasa;
kau!
II
Hujan bimbang di senja;
entah dimana basah kan ada,
pada riak yang tersamar suara
atau bicara yang terselubung di dada
Pdg, 011206
Pesan Ponsel
:Medi Adioska
Apa yang membawa pesan rinduku;
sinyal dari ponsel
ditangkap angin menjadi uap
dibekukan dalam awan
turun melalui hujan
mengalir di cucuran
dan semoga membasahi hatimu
Apa yang membawa pesan rinduku;
sinyal dari ponsel
ditangkap angin menjadi uap
dibekukan dalam awan
turun melalui hujan
mengalir di cucuran
dan semoga membasahi hatimu
Halaman Pustaka
;suatu senja dimusim hujan
:Medi Adioska
memasuki kabut
menebas rintik
mencatat dingin berjejer
pada kabel listrik basah;
tujuh belas burung mengapit sayap
membunuh beku
“bilakah reda…”
:Medi Adioska
memasuki kabut
menebas rintik
mencatat dingin berjejer
pada kabel listrik basah;
tujuh belas burung mengapit sayap
membunuh beku
“bilakah reda…”
T U L I N
Matahari memuncak. Kilauan sinarnya pecah dalam keramaian pasar, mengiringi kesemrawutan yang semakin hari semakin menjadi. Seperti biasa –layaknya pasar keseluruhan- selalu menawarkan berbagai macam pola kehidupan dan memajang takdir-takdir yang makin memperkaya keragaman pasar. Wajah-wajah lelah, rambut-rambut kusut dan tetesan keringat menyatu dalam kasak-kusuk perniagaan.
Suara-suara pedagang simpang siur. Ramai mewarnai hari, ribut membelah siang. Tapi begitulah kenyataannya. Lalu pada akhirnya timbullah transaksi.
“Jambret..jambret..”
Suara itu mulanya lemah. Berasal dari seorang ibu setengah baya.
“Jambreeeet…jambreet…”
Semakin ramai. Semua mata kemudian tertuju pada satu titik –lebih tepatnya satu orang-. Lalu tanpa ada perintah, satu,dua, tiga orang berlari mengejar seseorang. Yang lainpun tidak mau ketinggalan, turut menyatu dalam kejar-kejaran. Akhirnya, jadilah sekelompok besar pengunjung pasar mengejar seorang pemuda gondrong.
Wajah pemuda itu kasar dan teramat sangar. Sinar matanya tajam dan kelam serta melambangkan keteguhan yang luar biasa. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah lari dan lari. Rambut gondrong tak menghalangi penglihatannya. Ia terus saja menerobos manusia yang ada di tempat itu, saat itu. Tak ada yang dapat menghalanginya. Mungkin karena kepanikannyalah ia bisa lari sebegitu cepat. Atau mungkin itulah satu-satunya keahlian yang ia miliki. Ia terus berlari hingga mencapai satu persimpangan jalan dan tepat dipersimpangan itu pula terdapat sebuah toko. Lalu pada emperannya seorang bocah sedang duduk bermenung diri meratapi nasib. Tanpa pikir panjang pemuda –penjambret- itu melemparkan tas yang tadi ia jambret kepangkuan si bocah. Sementara itu ia tetap berlari meninggalkan si bocah sendiri termangu dalam kesendirian. Bocah itu bingung luar biasa ketika menerima tas kulit berwarna hitam yang ia tak tahu milik siapa.
“Ini rezeki….” pikir si bocah.
Lama. Bocah itu memperhatikan tas yang baru saja ada ditangannya. Warnanya hitam mengkilat. Tebal. Tampaknya ia kepunyaan kaum kalangan atas. Hati bocah itu tergerak, kemudian secara perlahan tangan mungil kumuhnya memegang reseleting tas tersebut. Jantungnya berdebar kencang. Akhirnya tas terbuka dan ujung-ujung kertas berharga tersembul dari dalamnya. Uang.
Bocah itu baru saja akan tersenyum saat mendengar keributan dari kejauhan. Ramai meneriakkan kata jambret. Sesaat ia mendongakkan kepala dan tiba-tiba saja gerombolan itu sudah berada di hadapannya. Mereka langsung merebut tas hitam yang tetap ia pegang erat. Untuk selanjutnya kemaraham memuncak. Mereka memukul si bocah bertubi-tubi. Terus tiada ampun dan tak ayal lagi beberapa potong kayu sempat mendarat di tubuh si bocah.
Si bocah, sekecil itu, menerima hantaman demi hantaman. Tak ada yang dapat diperbuatnya. Ia hanya diam memagut diri menahan perih untuk tubuhnya dan untuk kehidupannya. Ia tidak menangis.
***
Seorang bocah tampak berlari kecil menyusuri jalan setapak berbatu. Raut mukanya menyiratkan sedikit ketergesaan. Ia terus saja melangkah walaupun terkadang derap kakinya melambat, karena saat itu pastilah kaki kecilnya menginjak bongkahan batu yang tajam –paling tidak bisa menimbulkan suatu perih yang tiba-tiba-
Kedua tangan bocah itu memegang saku celananya,kiri dan kanan, karena disana tersimpan beberapa puluh kelereng yang baru saja ia menangkan. Baginya setiap butir kelereng adalah wujud lain kebahagiaan. Entah kenapa, setiap bunyi yang dihasilkan oleh masing-masing kelereng itu dirasanya sebagai suatu kebebasan, yang juga berarti tertawa. Ia dapat merasakan kepuasan saat kelereng-kelereng itu ia mainkan dengan jemari tangannya yang kumuh, melemparkan dan akhirnya memenangkannya. Hanya pada saat itulah ia merasa sebagai seorang bocah yang dunianya penuh dengan kesukaan, ceria dan tawa. Maka dari itu, ia harus bisa menikmati semuanya, sebelum matahari beranjak, pertanda bumi berputar dan –itupun pertanda- waktu terus berjalan.
Lalu untuk penggalan waktu berikutnya ia pun harus bisa menyesuaikan diri lagi terhadap dunia nyatanya, kembali kepada keluarganya. Mau tidak mau dia harus melakukannya. Ia harus kembali kerumahnya dengan segala ketiadaan dan kenistaan yang orang-orang lemparkan padanya dan keluaragnya. Memang tak bisa dipungkiri, layaknya orang-orang terdahulu yang memberi nilai kepada orang lain hanya berdasarkan pada satu kata; ekonomi. Jika seseorang mempunyai ekonomi yang baik, atau bisa dikatakan “ber-uang” maka secara alami kedudukannya berada pada “cabang atas”. Sementara mereka yang tidak “ber-uang” harus rela berlapang dada menerima semua hujatan dan cercaan yang datang bagaikan tetes hujan yang jatuh ke bumi. Begitu juga halnya dengan bocah tersebut yang baru berumur semuda itu harus bisa menelan pahit getirnya cercaan terhadap keluarganya. Dan iapun tidak memungkiri, bahkan kalau boleh ia bercerita, ia akan mengatakan keluarganya jauh lebih parah dari yang diperbincangkan dari mulut ke mulut.
Nama bocah yang berlari itu adalah Tulin. Entah darimana datangnya nama itu, yang pasti panggilan itu aneh dan terlalu singkat. Tidak ada embel-embel didepan maupun dibelakangnya. Ia tidak tahu kenapa kedua orang tuanya memberi nama itu. Barangkali saja mereka memiliki alasan khusus. Pernah juga ia berpikir; mungkin saja dahulu –hingga kini- harga sebuah nama berbanding lurus dengan panjang nama itu sendiri. Hingga semakin panjang sebuah nama semakin mahal jualah biaya yang harus dikeluarkan untuk upacara pemberian nama itu, pun sebaliknya. Sedangkan ia tahu keadaan keluarganya. Bahkan sekarang ia pun mulai bimbang apakah dahulu ada sedikit jamuan untuk upacara memberi namaya atau tidak. Besar kemungkinannya tidak.
Tulin terus berlari tanpa sedikitpun merasa risih terhadap batu-batu yang membentang sepanjang jalan. Yang ditujunya adalah sebuah rumah sangat sederhana yang ada diujung jalan. Rumahnya.
Dinding rumah tersebut terbuat dari anyaman bambu yang sudah teramat tua. Sebagiannya telah nampak menghitam menandakan kelanjutan usianya. Demikian jua halnya dengan tonggak rumah tersebut, juga telah tua. Di beberapa bagian tonggak itu tampak dihiasi oleh lobang-lobang kecil buatan kumbang. Mereka seakan tidak mengerti –dan memang tidak mengerti- dengan kondisi rumah tersebut. Jangankan untuk mengganti sebuah tonggak, untuk sesuap nasipun terkadang mereka tidak bisa mendapatkannya, hingga –tidak jarang- dalam sehari perut mereka hanya dialas air.
Bukan hanya masalah dinding dan tonggak, kedudukan rumah itu juga memprihatinkan. Rumah itu telah condong, sehingga terpaksa harus ditopang oleh beberapa ruas pohon bambu yang ditancapkan ke tanah.
“Krang…krang…”
Bunyi itu menggema sesaat setelah Tulin masuk kerumahnya. Ia baru saja memasukkan “hartanya” kedalam kaleng tua berkarat yang ia dapat dari jalanan berbatu yang tiap hari ia lalui. Satu, dua, lima, sepuluh buah kelereng bergantian masuk, bahkan lebih.
“Tulin….kemarilah sebentar nak….” Sebuah suara yang sudah teramat ia kenal memanggilnya dari dapur. Itu adalah suara amaknya.
“Tulin….tolong amak, belikan sebungkus kopi ke warung”
Suara itu sangat jelas ia dengar, karena memang saat itu ia telah berdiri dihadapan amaknya. Namun walaupun demikian ia masih saja berdiri mematung di tempat itu, dapur. Jika memang harus membeli kenapa amaknya tidak memberi uang? Namun untuk meminta langsungpun ia tidak berani, tepatnya tidak tega. Karena ia tahu amaknya sudah tiga hari tidak bekerja sebagai buruh tani di sawah mereka yang “ber-uang”. Atau mungkin untuk kesekian kali ia harus…
“Utang dulu….” Sambung amaknya sembari terus mencoba menghidupkan api di tungku. Sesaat setelah itu Tulin baru melangkah, tetapi baru beberapa langkah ia berbalik.
“Mak…Tulin mau membantu…” Suaranya lembut dan lugu. Jauh berbeda dengan raut mukanya yang kelihatan keras.
“Bisa ndak ditukar dengan kelereng…” Suaranya semakin lembut, seakan membelai langsung hati amaknya yang untuk sesaat terdiam seribu bahasa. Perlahan amaknya menggeleng, seiring dengan itu beberapa tetes air mata jatuh dari kelopak matanya, turun mengikuti raut mukanya dan jatuh akhirnya, setelah sempat bergelayut di ujung dagunya yang tua. Air matanya merembes mengikuti iba hati terhadap anaknya, yang sekecil itu harus sudah tahu akan sulit hidup.
Tulin melangkah lagi, kembali menapaki jalan berbatu. Ia tahu kopi itu adalah untuk bapaknya, oleh karena itu ia harus sesegera mungkin. Ia harus segera pulang sebelum bapaknya kembali entah darimana. Namun biasanya, bapaknya baru pulang setelah malam teramat jauh. Ia sendiri tidak tahu apakah ia bahagia dengan kepulangan bapaknya atau malah sebaliknya. Sebab setiap kepulangannya selalu saja diiringi oleh keributan yang tak berawal tak berakhir. Dan tidak jarang pula sasaran kemarahan itu adalah Tulin, dirinya sendiri.
Tulin terus melangkah dibawah sinar matahari senja yang mulai meredup sebab sebagiannya telah hilang, tenggelam dibalik gunung yang menjulang tinggi. Yang tinggal kini hanyalah sebagian cahaya yang masih memberikan sedikit sinar walaupun sayangnya hanya menyentuh pucuk-pucuk pohon. Seiring dengan itu sepoi angin jua menyapa seakan menyambut kehadiran tirai malam yang melambangkan damai, tenang dan lelap, sebab saat itu semua telah kembali. Alam kembali kebentuknya, sunyi. Anak-anak burung kembali hangat oleh induknya. Lelah akan kembali hilang seiring kelam.
Untuk beberapa saat jalan itu sepi sesepi-sepinya. Tak ada seorang manusiapun yang berjalan diujung senja dikala detik-detik pergantian siang dan malam. Semuanya seakan hilang teriring lenyapnya mentari. Namun sejenak, kesunyian itu tercabik oleh bayang mungil seorang bocah. Ia-lah Tulin, yang kembali pulang dengan sebungkus kopi tergenggam di tangannya. Ia –seperti semula- melangkah secepat mungkin. Jika saja ia seperti anak lain, barangkali ia telah merengek atau bahkan menangis karena lelah. Namun apa daya inilah hidupnya.
Tentang menangis; Ia –Tulin- jarang menangis bahkan bisa dikatakan tidak pernah. Bukan karena apa-apa, ia takut menangis. Menurut cerita amaknya, anak-anak yang suka menangis akan dijemput oleh segerombolan penghuni batang aia* yang ada dibelakang rumahnya. Mereka akan memasukkan anak tersebut kedalam karung, membawanya ke sarang mereka dan menjadikannya budak. Itulah alasan terbesar kenapa Tulin takut menangis. Bahkan pada saat ikat pinggang bapaknya mendarat kasar di punggungnya pun ia tetap tegar. Ia hanya memejamkan mata sedalam-dalamnya sembari meringis menahan perih. Tak ada jeritan, tak ada air mata. Lalu setelah itu dipunggungnya akan terbentuk garis-garis merah yang melintang tak karuan. Perih. Bahkan tidak jarang dari garis-garis itu akan merembes cairan tubuh berwarna merah, darah.
Biasanya melihat kejadian itu amak hanya bisa menjerit histeris tanpa bisa mencegah dengan perbuatan, karena kalau itu beliau lakukan bisa-bisa yang menjadi sasaran kemarahan berikutnya adalah beliau sendiri dan ia –Tulin- tidak tega menyaksikan itu semua.
Tulin hampir tiba –kembali- dirumahnya. Tinggal hitungan langkah saja. Namun matanya menangkap pintu rumahnya , yang biasanya tertutup, kini sedikit terbuka. Cahaya lampu minyakpun menerobos keluar. Tidak biasanya pada waktu seperti itu pintu rumahnya terbuka. Ia terus melangkah semakin mendekat, namun seiring dengan itu ia mendengar sedikit keributan. Mulanya suara itu tidak terlalu ribut, namun semakin lama semakin ricuh. Lalu beberapa saat kemudian suara barang-barang yang di lempar ikut mengiringi. Gelas-gelas pecah, loyang melayang.
Dari sela-sela keributan itu, telinga Tulin dapat menangkap suara tangis seorang wanita, amaknya. Suara itu melengking tinggi seiring tangis yang semakin berderai. Tangisan itu juga diselingi oleh bentakan yang kuat dari seorang laki-laki.
Kejadian itu memberikan suatu kepastian pada Tulin, bahwa bapaknya telah pulang. Entah angin apa yang membawa bapaknya pulang secepat itu –paling tidak lebih cepat dari hari biasa, yaitu larut malam-.
Tulin semakin mendekat. Sejenak ia mencoba menempelkan tubuhnya kedinding yang tua. Keributan itu semakin jelas ia dengar. Suara-suara itu sangat memilukan, terutama erangan dan isak tangis amaknya yang tiada terputus. Tulin sepenuhnya yakin dan sadar bahwa keributan kali ini disebabkan oleh segelas kopi yang tak kunjung tiba di meja, tempat dimana bapaknya selalu duduk saat pulang kerumah. Saat ini kopi yang ditunggu bapaknya masih ada ditangannya., tergenggam erat seiring rasa geram, takut, hiba, sedih dan segala perasaan yang ia tak tahu namanya. Untuk kejadian kali ini Tulin tetap tidak menangis.
Telah hitungan menit ia disana, berdiri mematung merapatkan tubuh kedinding tua, namun keributan dan luapan emosi yang sedang terjadi belum jua mereda. Lalu rasa ingin tahunya mendorong Tulin untuk mengintip kejadian yang sebenarnya sedang terjadi dalam naungan ketuaan rumah itu. Dan ia melakukannya.
Tepat ketika ia melongokkan kepala ke pintu yang sedikit terbuka, ia menyaksikan amaknya sedang terhuyung-huyung. Sementara tangisan tetap mengiringi. Lalu pada detik berikutnya, huyungan amak terhenti tepat ketika kepalanya membentur tonggak –tua-. Selanjutnya darah.
Tulin masih diam dibalik dinding luar rumah. Tatapan matanya menjadi kosong menyaksikan kejadian buruk yang selalu saja menjadi santapan keluarganya.
“Mak…ini kopinya…”
Suaranya lembut, lirih. Tak ada yang dapat mendengar suaranya kala itu. Bahkan desiran anginpun telah melumatnya dan membawa terbang ke kesunyian seiring luka yang semakin mendalam di hati seorang bocah, Tulin.
Sebungkus kopi jatuh ke tanah.
“Tulin pergi mak….”
Tanpa menoleh Tulin melangkah lagi di jalan berbatu. Mungkin untuk terakhir kalinya. Saat itu matahari telah benar-benar hilang dari semesta dan menarik tirai siangnya dari alam, untuk esok kembali lagi dengan sinar dan persaksian hidup yang baru. Yang tinggal kini hanya berupa bayang samar yang selalu tersaji ketika malam tiada berbulan. Pun bayang Tulin yang bergerak lembut mengikuti lajur jalan yang ujungnya entah dimana. Namun satu kepastian saat itu adalah ia tidak menangis.
Hitungan detik telah ia lalui, sejumlah jam sudah ia tempuhi, dentingan detik habis ia jalani, Tulin tetap melangkah dalam ketiadaan arah. Rumahnya kini paling luas yakni berlantai bumi beratap langit. Dimanapun ia berada ia tidak lagi takut. Dan kini jalan hidup telah membawanya disini, disebuah emperan toko di suatu kawasan pasar, tepat berada di depan persimpangan. Ia baru saja mendudukkan tubuh mungilnya sembari melepas sedikit lelah setelah melakukan pengembaraan tak berujung. Saat itu kenangan keluarganya (amak dan bapak) kembali terlintas di benaknya.
Mengenai amak dan bapaknya; -menurut kabar terakhir yang sempat ia dengar- saat hari pertengkaran itu amak akhirnya lari, membawa sesobek luka dikepalanya, dan tak ayal lagi, darah berserakan sepanjang jalan yang amaknya lalui. Seterusnya tak ada lagi yang tahu dimana rimba amaknya.
Sementara ayahnya ditemukan oleh penduduk kampung di batang aia yang ada di belakang rumahnya tanpa nyawa. Ia tewas saat dikeroyok oleh rekan sepermainan dalam sebuah perjudian beberapa hari setelah amaknya pergi.
Tulin masih tetap tidak menangis.
Tiba-tiba seseorang berambut gondrong, berwajah kasar dan sangar berlari kencang melewatinya. Dan tiba-tiba pula ia melemparkan sebuah tas kulit hitam mengkilat kepangkuannya.
“Ini rezeki…” pikir Tulin.
Lama. Tulin memperhatikan tas yang baru saja ada ditangannya. Warnanya hitam mengkilat. Tebal. Tampaknya ia kepunyaan kaum kalangan atas. Hati Tulin tergerak, tangan mungil kumuhnya segera memegang reseleting tas tersebut dan membukanya dengan perlahan. Jantungnya berdebar kencang. Tas terbuka, dan ujung-ujung kertas berharga tersembul. Uang.
Tulin baru saja akan tersenyum saat mendengar keributan dari kejauhan. Ramai, meneriakkan kata jambret. Ia mendongakkan kepala dan tiba-tiba saja gerombolan itu sudah ada dihadapannya. Mereka merebut tas hitam yang ada ditangan Tulin. Untuk selanjutnya kemarahan memuncak. Mereka memukul Tulin bertubi-tubi. Terus tiada ampun. Beberapa potong kayu sempat mendarat di tubuh Tulin.
Tulin, sekecil itu, menerima hantaman demi hantaman. Ia hanya diam memagut diri menahan perih, untuk tubuhnya dan untuk kehidupannya.
Ia tidak menangis.
Tulin, bocah itu, terbujur kaku. Umurnya baru sebelas tahun.
Suara-suara pedagang simpang siur. Ramai mewarnai hari, ribut membelah siang. Tapi begitulah kenyataannya. Lalu pada akhirnya timbullah transaksi.
“Jambret..jambret..”
Suara itu mulanya lemah. Berasal dari seorang ibu setengah baya.
“Jambreeeet…jambreet…”
Semakin ramai. Semua mata kemudian tertuju pada satu titik –lebih tepatnya satu orang-. Lalu tanpa ada perintah, satu,dua, tiga orang berlari mengejar seseorang. Yang lainpun tidak mau ketinggalan, turut menyatu dalam kejar-kejaran. Akhirnya, jadilah sekelompok besar pengunjung pasar mengejar seorang pemuda gondrong.
Wajah pemuda itu kasar dan teramat sangar. Sinar matanya tajam dan kelam serta melambangkan keteguhan yang luar biasa. Yang ia pikirkan sekarang hanyalah lari dan lari. Rambut gondrong tak menghalangi penglihatannya. Ia terus saja menerobos manusia yang ada di tempat itu, saat itu. Tak ada yang dapat menghalanginya. Mungkin karena kepanikannyalah ia bisa lari sebegitu cepat. Atau mungkin itulah satu-satunya keahlian yang ia miliki. Ia terus berlari hingga mencapai satu persimpangan jalan dan tepat dipersimpangan itu pula terdapat sebuah toko. Lalu pada emperannya seorang bocah sedang duduk bermenung diri meratapi nasib. Tanpa pikir panjang pemuda –penjambret- itu melemparkan tas yang tadi ia jambret kepangkuan si bocah. Sementara itu ia tetap berlari meninggalkan si bocah sendiri termangu dalam kesendirian. Bocah itu bingung luar biasa ketika menerima tas kulit berwarna hitam yang ia tak tahu milik siapa.
“Ini rezeki….” pikir si bocah.
Lama. Bocah itu memperhatikan tas yang baru saja ada ditangannya. Warnanya hitam mengkilat. Tebal. Tampaknya ia kepunyaan kaum kalangan atas. Hati bocah itu tergerak, kemudian secara perlahan tangan mungil kumuhnya memegang reseleting tas tersebut. Jantungnya berdebar kencang. Akhirnya tas terbuka dan ujung-ujung kertas berharga tersembul dari dalamnya. Uang.
Bocah itu baru saja akan tersenyum saat mendengar keributan dari kejauhan. Ramai meneriakkan kata jambret. Sesaat ia mendongakkan kepala dan tiba-tiba saja gerombolan itu sudah berada di hadapannya. Mereka langsung merebut tas hitam yang tetap ia pegang erat. Untuk selanjutnya kemaraham memuncak. Mereka memukul si bocah bertubi-tubi. Terus tiada ampun dan tak ayal lagi beberapa potong kayu sempat mendarat di tubuh si bocah.
Si bocah, sekecil itu, menerima hantaman demi hantaman. Tak ada yang dapat diperbuatnya. Ia hanya diam memagut diri menahan perih untuk tubuhnya dan untuk kehidupannya. Ia tidak menangis.
***
Seorang bocah tampak berlari kecil menyusuri jalan setapak berbatu. Raut mukanya menyiratkan sedikit ketergesaan. Ia terus saja melangkah walaupun terkadang derap kakinya melambat, karena saat itu pastilah kaki kecilnya menginjak bongkahan batu yang tajam –paling tidak bisa menimbulkan suatu perih yang tiba-tiba-
Kedua tangan bocah itu memegang saku celananya,kiri dan kanan, karena disana tersimpan beberapa puluh kelereng yang baru saja ia menangkan. Baginya setiap butir kelereng adalah wujud lain kebahagiaan. Entah kenapa, setiap bunyi yang dihasilkan oleh masing-masing kelereng itu dirasanya sebagai suatu kebebasan, yang juga berarti tertawa. Ia dapat merasakan kepuasan saat kelereng-kelereng itu ia mainkan dengan jemari tangannya yang kumuh, melemparkan dan akhirnya memenangkannya. Hanya pada saat itulah ia merasa sebagai seorang bocah yang dunianya penuh dengan kesukaan, ceria dan tawa. Maka dari itu, ia harus bisa menikmati semuanya, sebelum matahari beranjak, pertanda bumi berputar dan –itupun pertanda- waktu terus berjalan.
Lalu untuk penggalan waktu berikutnya ia pun harus bisa menyesuaikan diri lagi terhadap dunia nyatanya, kembali kepada keluarganya. Mau tidak mau dia harus melakukannya. Ia harus kembali kerumahnya dengan segala ketiadaan dan kenistaan yang orang-orang lemparkan padanya dan keluaragnya. Memang tak bisa dipungkiri, layaknya orang-orang terdahulu yang memberi nilai kepada orang lain hanya berdasarkan pada satu kata; ekonomi. Jika seseorang mempunyai ekonomi yang baik, atau bisa dikatakan “ber-uang” maka secara alami kedudukannya berada pada “cabang atas”. Sementara mereka yang tidak “ber-uang” harus rela berlapang dada menerima semua hujatan dan cercaan yang datang bagaikan tetes hujan yang jatuh ke bumi. Begitu juga halnya dengan bocah tersebut yang baru berumur semuda itu harus bisa menelan pahit getirnya cercaan terhadap keluarganya. Dan iapun tidak memungkiri, bahkan kalau boleh ia bercerita, ia akan mengatakan keluarganya jauh lebih parah dari yang diperbincangkan dari mulut ke mulut.
Nama bocah yang berlari itu adalah Tulin. Entah darimana datangnya nama itu, yang pasti panggilan itu aneh dan terlalu singkat. Tidak ada embel-embel didepan maupun dibelakangnya. Ia tidak tahu kenapa kedua orang tuanya memberi nama itu. Barangkali saja mereka memiliki alasan khusus. Pernah juga ia berpikir; mungkin saja dahulu –hingga kini- harga sebuah nama berbanding lurus dengan panjang nama itu sendiri. Hingga semakin panjang sebuah nama semakin mahal jualah biaya yang harus dikeluarkan untuk upacara pemberian nama itu, pun sebaliknya. Sedangkan ia tahu keadaan keluarganya. Bahkan sekarang ia pun mulai bimbang apakah dahulu ada sedikit jamuan untuk upacara memberi namaya atau tidak. Besar kemungkinannya tidak.
Tulin terus berlari tanpa sedikitpun merasa risih terhadap batu-batu yang membentang sepanjang jalan. Yang ditujunya adalah sebuah rumah sangat sederhana yang ada diujung jalan. Rumahnya.
Dinding rumah tersebut terbuat dari anyaman bambu yang sudah teramat tua. Sebagiannya telah nampak menghitam menandakan kelanjutan usianya. Demikian jua halnya dengan tonggak rumah tersebut, juga telah tua. Di beberapa bagian tonggak itu tampak dihiasi oleh lobang-lobang kecil buatan kumbang. Mereka seakan tidak mengerti –dan memang tidak mengerti- dengan kondisi rumah tersebut. Jangankan untuk mengganti sebuah tonggak, untuk sesuap nasipun terkadang mereka tidak bisa mendapatkannya, hingga –tidak jarang- dalam sehari perut mereka hanya dialas air.
Bukan hanya masalah dinding dan tonggak, kedudukan rumah itu juga memprihatinkan. Rumah itu telah condong, sehingga terpaksa harus ditopang oleh beberapa ruas pohon bambu yang ditancapkan ke tanah.
“Krang…krang…”
Bunyi itu menggema sesaat setelah Tulin masuk kerumahnya. Ia baru saja memasukkan “hartanya” kedalam kaleng tua berkarat yang ia dapat dari jalanan berbatu yang tiap hari ia lalui. Satu, dua, lima, sepuluh buah kelereng bergantian masuk, bahkan lebih.
“Tulin….kemarilah sebentar nak….” Sebuah suara yang sudah teramat ia kenal memanggilnya dari dapur. Itu adalah suara amaknya.
“Tulin….tolong amak, belikan sebungkus kopi ke warung”
Suara itu sangat jelas ia dengar, karena memang saat itu ia telah berdiri dihadapan amaknya. Namun walaupun demikian ia masih saja berdiri mematung di tempat itu, dapur. Jika memang harus membeli kenapa amaknya tidak memberi uang? Namun untuk meminta langsungpun ia tidak berani, tepatnya tidak tega. Karena ia tahu amaknya sudah tiga hari tidak bekerja sebagai buruh tani di sawah mereka yang “ber-uang”. Atau mungkin untuk kesekian kali ia harus…
“Utang dulu….” Sambung amaknya sembari terus mencoba menghidupkan api di tungku. Sesaat setelah itu Tulin baru melangkah, tetapi baru beberapa langkah ia berbalik.
“Mak…Tulin mau membantu…” Suaranya lembut dan lugu. Jauh berbeda dengan raut mukanya yang kelihatan keras.
“Bisa ndak ditukar dengan kelereng…” Suaranya semakin lembut, seakan membelai langsung hati amaknya yang untuk sesaat terdiam seribu bahasa. Perlahan amaknya menggeleng, seiring dengan itu beberapa tetes air mata jatuh dari kelopak matanya, turun mengikuti raut mukanya dan jatuh akhirnya, setelah sempat bergelayut di ujung dagunya yang tua. Air matanya merembes mengikuti iba hati terhadap anaknya, yang sekecil itu harus sudah tahu akan sulit hidup.
Tulin melangkah lagi, kembali menapaki jalan berbatu. Ia tahu kopi itu adalah untuk bapaknya, oleh karena itu ia harus sesegera mungkin. Ia harus segera pulang sebelum bapaknya kembali entah darimana. Namun biasanya, bapaknya baru pulang setelah malam teramat jauh. Ia sendiri tidak tahu apakah ia bahagia dengan kepulangan bapaknya atau malah sebaliknya. Sebab setiap kepulangannya selalu saja diiringi oleh keributan yang tak berawal tak berakhir. Dan tidak jarang pula sasaran kemarahan itu adalah Tulin, dirinya sendiri.
Tulin terus melangkah dibawah sinar matahari senja yang mulai meredup sebab sebagiannya telah hilang, tenggelam dibalik gunung yang menjulang tinggi. Yang tinggal kini hanyalah sebagian cahaya yang masih memberikan sedikit sinar walaupun sayangnya hanya menyentuh pucuk-pucuk pohon. Seiring dengan itu sepoi angin jua menyapa seakan menyambut kehadiran tirai malam yang melambangkan damai, tenang dan lelap, sebab saat itu semua telah kembali. Alam kembali kebentuknya, sunyi. Anak-anak burung kembali hangat oleh induknya. Lelah akan kembali hilang seiring kelam.
Untuk beberapa saat jalan itu sepi sesepi-sepinya. Tak ada seorang manusiapun yang berjalan diujung senja dikala detik-detik pergantian siang dan malam. Semuanya seakan hilang teriring lenyapnya mentari. Namun sejenak, kesunyian itu tercabik oleh bayang mungil seorang bocah. Ia-lah Tulin, yang kembali pulang dengan sebungkus kopi tergenggam di tangannya. Ia –seperti semula- melangkah secepat mungkin. Jika saja ia seperti anak lain, barangkali ia telah merengek atau bahkan menangis karena lelah. Namun apa daya inilah hidupnya.
Tentang menangis; Ia –Tulin- jarang menangis bahkan bisa dikatakan tidak pernah. Bukan karena apa-apa, ia takut menangis. Menurut cerita amaknya, anak-anak yang suka menangis akan dijemput oleh segerombolan penghuni batang aia* yang ada dibelakang rumahnya. Mereka akan memasukkan anak tersebut kedalam karung, membawanya ke sarang mereka dan menjadikannya budak. Itulah alasan terbesar kenapa Tulin takut menangis. Bahkan pada saat ikat pinggang bapaknya mendarat kasar di punggungnya pun ia tetap tegar. Ia hanya memejamkan mata sedalam-dalamnya sembari meringis menahan perih. Tak ada jeritan, tak ada air mata. Lalu setelah itu dipunggungnya akan terbentuk garis-garis merah yang melintang tak karuan. Perih. Bahkan tidak jarang dari garis-garis itu akan merembes cairan tubuh berwarna merah, darah.
Biasanya melihat kejadian itu amak hanya bisa menjerit histeris tanpa bisa mencegah dengan perbuatan, karena kalau itu beliau lakukan bisa-bisa yang menjadi sasaran kemarahan berikutnya adalah beliau sendiri dan ia –Tulin- tidak tega menyaksikan itu semua.
Tulin hampir tiba –kembali- dirumahnya. Tinggal hitungan langkah saja. Namun matanya menangkap pintu rumahnya , yang biasanya tertutup, kini sedikit terbuka. Cahaya lampu minyakpun menerobos keluar. Tidak biasanya pada waktu seperti itu pintu rumahnya terbuka. Ia terus melangkah semakin mendekat, namun seiring dengan itu ia mendengar sedikit keributan. Mulanya suara itu tidak terlalu ribut, namun semakin lama semakin ricuh. Lalu beberapa saat kemudian suara barang-barang yang di lempar ikut mengiringi. Gelas-gelas pecah, loyang melayang.
Dari sela-sela keributan itu, telinga Tulin dapat menangkap suara tangis seorang wanita, amaknya. Suara itu melengking tinggi seiring tangis yang semakin berderai. Tangisan itu juga diselingi oleh bentakan yang kuat dari seorang laki-laki.
Kejadian itu memberikan suatu kepastian pada Tulin, bahwa bapaknya telah pulang. Entah angin apa yang membawa bapaknya pulang secepat itu –paling tidak lebih cepat dari hari biasa, yaitu larut malam-.
Tulin semakin mendekat. Sejenak ia mencoba menempelkan tubuhnya kedinding yang tua. Keributan itu semakin jelas ia dengar. Suara-suara itu sangat memilukan, terutama erangan dan isak tangis amaknya yang tiada terputus. Tulin sepenuhnya yakin dan sadar bahwa keributan kali ini disebabkan oleh segelas kopi yang tak kunjung tiba di meja, tempat dimana bapaknya selalu duduk saat pulang kerumah. Saat ini kopi yang ditunggu bapaknya masih ada ditangannya., tergenggam erat seiring rasa geram, takut, hiba, sedih dan segala perasaan yang ia tak tahu namanya. Untuk kejadian kali ini Tulin tetap tidak menangis.
Telah hitungan menit ia disana, berdiri mematung merapatkan tubuh kedinding tua, namun keributan dan luapan emosi yang sedang terjadi belum jua mereda. Lalu rasa ingin tahunya mendorong Tulin untuk mengintip kejadian yang sebenarnya sedang terjadi dalam naungan ketuaan rumah itu. Dan ia melakukannya.
Tepat ketika ia melongokkan kepala ke pintu yang sedikit terbuka, ia menyaksikan amaknya sedang terhuyung-huyung. Sementara tangisan tetap mengiringi. Lalu pada detik berikutnya, huyungan amak terhenti tepat ketika kepalanya membentur tonggak –tua-. Selanjutnya darah.
Tulin masih diam dibalik dinding luar rumah. Tatapan matanya menjadi kosong menyaksikan kejadian buruk yang selalu saja menjadi santapan keluarganya.
“Mak…ini kopinya…”
Suaranya lembut, lirih. Tak ada yang dapat mendengar suaranya kala itu. Bahkan desiran anginpun telah melumatnya dan membawa terbang ke kesunyian seiring luka yang semakin mendalam di hati seorang bocah, Tulin.
Sebungkus kopi jatuh ke tanah.
“Tulin pergi mak….”
Tanpa menoleh Tulin melangkah lagi di jalan berbatu. Mungkin untuk terakhir kalinya. Saat itu matahari telah benar-benar hilang dari semesta dan menarik tirai siangnya dari alam, untuk esok kembali lagi dengan sinar dan persaksian hidup yang baru. Yang tinggal kini hanya berupa bayang samar yang selalu tersaji ketika malam tiada berbulan. Pun bayang Tulin yang bergerak lembut mengikuti lajur jalan yang ujungnya entah dimana. Namun satu kepastian saat itu adalah ia tidak menangis.
Hitungan detik telah ia lalui, sejumlah jam sudah ia tempuhi, dentingan detik habis ia jalani, Tulin tetap melangkah dalam ketiadaan arah. Rumahnya kini paling luas yakni berlantai bumi beratap langit. Dimanapun ia berada ia tidak lagi takut. Dan kini jalan hidup telah membawanya disini, disebuah emperan toko di suatu kawasan pasar, tepat berada di depan persimpangan. Ia baru saja mendudukkan tubuh mungilnya sembari melepas sedikit lelah setelah melakukan pengembaraan tak berujung. Saat itu kenangan keluarganya (amak dan bapak) kembali terlintas di benaknya.
Mengenai amak dan bapaknya; -menurut kabar terakhir yang sempat ia dengar- saat hari pertengkaran itu amak akhirnya lari, membawa sesobek luka dikepalanya, dan tak ayal lagi, darah berserakan sepanjang jalan yang amaknya lalui. Seterusnya tak ada lagi yang tahu dimana rimba amaknya.
Sementara ayahnya ditemukan oleh penduduk kampung di batang aia yang ada di belakang rumahnya tanpa nyawa. Ia tewas saat dikeroyok oleh rekan sepermainan dalam sebuah perjudian beberapa hari setelah amaknya pergi.
Tulin masih tetap tidak menangis.
Tiba-tiba seseorang berambut gondrong, berwajah kasar dan sangar berlari kencang melewatinya. Dan tiba-tiba pula ia melemparkan sebuah tas kulit hitam mengkilat kepangkuannya.
“Ini rezeki…” pikir Tulin.
Lama. Tulin memperhatikan tas yang baru saja ada ditangannya. Warnanya hitam mengkilat. Tebal. Tampaknya ia kepunyaan kaum kalangan atas. Hati Tulin tergerak, tangan mungil kumuhnya segera memegang reseleting tas tersebut dan membukanya dengan perlahan. Jantungnya berdebar kencang. Tas terbuka, dan ujung-ujung kertas berharga tersembul. Uang.
Tulin baru saja akan tersenyum saat mendengar keributan dari kejauhan. Ramai, meneriakkan kata jambret. Ia mendongakkan kepala dan tiba-tiba saja gerombolan itu sudah ada dihadapannya. Mereka merebut tas hitam yang ada ditangan Tulin. Untuk selanjutnya kemarahan memuncak. Mereka memukul Tulin bertubi-tubi. Terus tiada ampun. Beberapa potong kayu sempat mendarat di tubuh Tulin.
Tulin, sekecil itu, menerima hantaman demi hantaman. Ia hanya diam memagut diri menahan perih, untuk tubuhnya dan untuk kehidupannya.
Ia tidak menangis.
Tulin, bocah itu, terbujur kaku. Umurnya baru sebelas tahun.
Syafitri-Syafitri
Nyata:
Syafitri, bayi kembar siam Varian (Dichepalus Parapagus Twins) lahir pada tanggal 7 Agustus 2006 sekitar pukul 23.00. Meninggal pada Selasa (22/11/06) sekitar pukul 13.00 di ruang ICU RS Pelni Petamburan, Jakarta. Tidak mungkin dipisahkan karena kelainan.
Cerita ini hanya bersifat fiktif.
Kenalkan, nama saya Syafitri. Seorang anak manusia yang lahir dalam keadaan kekuranagan atau malah keistimewaan. Bukannya tidak memprotes, tapi begitulah, semua telah dituliskan oleh Yang Di Atas terhadap saya. Kalaupun memprotes apa gunanya? toh saya sudah lahir, sudah mengenal dunia bahkan tanpa diduga sayapun sudah cukup terkenal. Dan dibalik itu semua saya yakin segalanya pasti sudah sangat diperhitungkan.
Sebenarnya tidak banyak yang bisa saya ceritakan karena memang tidak ada yang harus dikisahkan. Pada dasarnya –dan memang- saya hanyalah manusia biasa, bagian dari kebanyakan. Seperti anak-anak lain, saya berharap agar –kalau- besar nanti saya bisa menjadi anak yang baik, berbakti kepada orang tua dan berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Ah, harapan yang terlau naif. Tapi tak apalah, daripada seperti sebagian anak lain yang bahkan untuk berharappun mereka tak bisa. Dibandingkan dengan mereka tentu saya lebih beruntung.
Kembali mengenai cerita, sekali lagi saya katakan, tidak ada yang perlu dikisahkan karena itu tadi, saya hanya manusia biasa. Tambahan lagi, cerita tentang saya sudah sangat berkembang dengan berbagai versi. Ada yang melihat dari sudut religi, dari sudut medis, kemanusiaan dan sudut-sudut lain. Saya mengerti, karena yang namanya manusia pasti mempunyai akal untuk menginterpretasikan sesuatu, dan itu bersifat bebas.
Yang menjadi beban bagi saya adalah kisah sejati tentang diri saya sendiri. Sesungguhnya, dibalik kisah picisan yang dikabarkan orang-orang tentang saya, ada sebuah cerita besar yang hanya saya dan saudara saya yang tahu. Sebuah cerita yang –mungkin- akan mengguncang dada setiap manusia. Sebuah cerita yang akan memberikan kesadaran global tentang siapa manusia itu sendiri. Tapi bagaimana mungkin saya menceritakannya karena organ-organ saya belum sempurna. Kalaupun sempurna, saya juga masih bimbang untuk bercerita karena untuk anak seumuran saya, berbicara adalah sebuah mukjizat. Bayangkan, umur saya baru beberapa hari dan jika saya bicara, saya takut semua orang yang kurang pertimbangan akan berkiblat kepada saya. Sungguh saya tak ingin itu.
Dibalik semua cerita yang telah tersiar luas, sebenarnya jauh di sudut hati saya yang terdalam, saya merasa sangatb sangat sedih. Saya sangat terpukul menyaksikan orang tua, yang semenjak kelahiran saya selalu terlihat murung bahkan tidak jarang menangis. Bukan maksud hati saya membuat mereka seperti sperti itu, tapi apa boleh buat, semuanya kehendak Yang Di Atas.
Saya mngerti benar apa yang membuat mereka terluka. Saya.
Disaat kondisi perekonomian yang lemah, mereka diuji lagi dengan kehadiran saya. Anak yang diharapkan lahir sebagai pelengkap kebahagiaan, kenyataannya malah mendatangkan kekhawatiran baru.
Sekali lagi, andainya saya bisa bicara, tentu saya akan menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini merupakan kehendak yang Di Atas dan dibalik itu semua ada perjanjian besar antara saya dengan-Nya. Perjanjian dimana Dia menciptakan saya seperti ini untuk menunjukkan kebesaran kepada makhlukNya dan imbalannya adalah surga. Saya menerima bukan karena imbalan tapi saya menganggap ini adalah tugas mulia dan merupakan suatu kebanggan karena saya dipilih langsung oleh-Nya. Maka, janganlah kau menangis lagi wahai ayah, bunda…relakan saya seperti ini.
***
Kenalkan, namaku Syafitri. Seorang anak manusia yang lahir dengan keistimewaan yang sangat menawan. Memukau akal pikiran dan menarik perhatian seluruh lapisan masyrakat, mulai dari kalangan atas hingga kaum akar rumput. Apakah itu namanya kalau bukan keistimewaan?
Banyak yang mesti kuceritakan tentang diriku yang masih berselimut misteri. Cerita mengenai perjuangan keberadaan dan cerita tentang usha menggapai dunia dan bahkan cerita tentang kekuatan untuk menyongsong esok.
Bagiku, cerita tersebut, jika dikisahkan dengan alur yang baik, akan menyentuh kalbu. Dan aku yakin rasa salut akan tumpah padaku. Aku suka itu.
Sesungguhnya, ceritaku bermula dari alam yang begitu sederhana. Tentang dua buah sel yang saling menggoda, merayu dan merajuk hingga keduanya benar-benar rindu untuk menyatu. Setelah perjuanagn begitu berat dan menempu perjalanan panjang, akhirnya 2 sel yang ditakdirkan untuk bertemupun menyatu. Maka setelah itu aku tercipta dengan sebuah keistimewaan.
Keterciptaan itu ternyata bukanlah sesederhana perkiraanku, karena setelah semua proses yang ku lalui aku harus menyetujui sebuah perjanjian aneh. Ya, sebuah perjanjian yang memaksaku untuk kembali pulang setelah hanya beberapa hari di dunia. Saat itu aku langsung mengiyakan karena aku sudah tak sabar menyaksikan gemerlapnya dunia. Mengenai perjanjian bisa ku pikir kemudian. Bukankah sebuah janji dapat dilanggar? Dan mengenai kepulanganku, adalah hakku untuk menentukan. Takdirku ada di tanganku!.
Saat ini aku telah didunia. Baru beberapa hari. Dan benar kiranya bahwa dunia ini memukau. Walaupun hanya dari balik dinding sebuah kamar rumah sakit, aku dapat merasakan aura gemerlap dan menyenangkan. Suatu saat aku pasti menikmatinya, bagaimanapun caranya.
Seperti kuceritakan sebelumnya, aku terlahir dengan sebuah keistimewaan memukau yang membuatku sangat terkenal. Ya, aku terlahir dengan memiliki dua kepala. Disamping kepala yang sedang kujadikan berpikir sekarang, masih aad satu kepala lagi yang tergeletak tepat disebelahku. Apakah ia juga berpikir atau tidak, aku tidak tahu. Duan kepala satu badan, menakjubkan.
Aku yakin sepeuhnya bahwa keberadaanku telah menarik perhatian masyarakat banyak. Dan aku tak akan menyia-nyiakan itu. Aku terkenal.
Walaupun memiliki keistimewaan, aku bari saja tersadar bahwa sekiranya aku akan menikmati dunia, tidak mungkin aku melakukannya dengan kondisi seperti ini. Berkeliling dan tertawa ria dengan dua kepala. Tidak mungkin. Sangat merepotkan. Lalu bagaimana? Aku simpulkan, aku akan melakukan segala cara agar dapat hidup di dunia. Akan kulakukan segala cara termasuk, jika terpaksa, menyingkirkan kepala yang satu lagi, yang notabenenya termasuk bagian tubuhku. Benarkah???
***
Saya tilik sejenak keluar jendela kecil kamar rumah sakit ini. Disana saya melihat dua,tiga bintang bersinar redup ditengah kegelapan. Mereka tampak enggan berbagi sinar. Sesaat sebuah daun kering melintas jatuh didepan jendela tersapa cahaya lampu. Duniaselebar daun jendela yang saya lihat benar-benar indah. Pantaslah jika banyak yang terlena akannya.
Disisi lain, ruangan yang saya tempati ini terasa sangat sepi. Tak ada orang lain dimalam sesunyi ini. Ruangan yang sekarang saya tempati adalah ruang perawatan khusus. Berbagai peralatan modern terpasang hampir diseluruh ruangan. Saya mengerti, kondisi saya dengan dua kepala satu badan, memaksa saya dan saudara saya harus ditempatkan diruangan intensif ini. Namun itu bukanlah keinginan saya. Saya sepenuhnya mengerti bahwa bukan untuk dirawat dengan perawatan ekstra intensif kami diutus ke dunia, tetapi untuk melaksanakan sebuah tugas mulia, yakni menyampaikan kebesaran Yang Di Atas.
Disamping kiri, saya melihat saudara saya yang sedang tertidur pulas terbuai mimpi. Wajahnya begktu damai. Sampai detik ini tak sepatah katapun yang terucap antara saya dan dirinya. Hanya tangis yang biasanya kami jadikan untuk menandakan bahwa saya dan dirinya masih sama-sama hidup.
Malam semakin larut. Saya merasa saat-saat terakhir kami sudah semakin dekat. Itu artinya tugas kami akan selesai. Sesaat sebelum memejamkan mata, saya sempatkan untuk sekali lagi menyaksikan bintang diambang jendela. Cahayanya begitu indah.
Beberapa jam berlalu, saya terbangun dari tidur. Saat itu saya merasa hawa sedikit panas. Ketika memandang keluar saya melihat sinar matahari memancar dengan terang. Pantaslah jika saya merasa sedikit gerah. Disampng kiri, saya masih melihat saudara saya tertidur pulas.
Tak begitu lama kemudian, dari jauh saya mendengar sebuah suara sayup-sayup sampai. Suara Azan. Indah nian terdengar. Saya kira itu adalh adzan Zuhur. Seiring dengan itu, entah mengapa saya begitu yakin waktu kami semakin dekat.
***
Sekali lagi, akan kulakukan segala cara agar dapat menikmati gemerlapnya dunia. Walaupun harus menyingkirkan kembaran kepalaku yang satun lagi. Ya, aku kira itulah cara terbaik. Dengan menyingkirkannya, sudah pasti akulah yang akan hidup dan para dokter akan mengangkat kepala tersebut dari tubuhku. Hingga akhirnya aku bebas denagn kepala dan tubuhku sendiri.
Siang ini kukira adalah waktu yang paling tepat untuk menyingkirkan kembaran kepalaku. Kepala yang ada disebelahkananku itu kini sedang tidur setelah tadi kurasakan ia bangun sebentar, lalu setelah mendengar lantunan suara dari jauh ia kembali tertidur sembari tersenyum. Aku tak tahu apa arti senyum itu.
Aku sengaja memilih waktu menyingkirkan kembaran kepalaku siang hari agar kematiannya benar-benar terkesan sangat alami. Jika aku melakukannya malam hari, aku merasa pasti aku yang akan dicurigai mebunuhnya karena dimana ada dia pasti ada aku. Dan jika ia mati, siapa lagi pelakunya kalu bukan aku.
Beberapa jenak, kulakukan niatku. Kugerakkan tanganku sealami mungkin. Kujatuhkan tepat dimana telapak tanganku menutup mulut dan hidungnya. Kutekan sedikit hingga kupastikan ia sulit bernafas. Ku tahan tanganku disana beberapa detik atau mungkin menit. Dan akhirnya kurasakan tak ada lagi nafas. Aku yakin. Namun aneh, mukanya tidak mencerminkan ketersiksaan. Kepergiannya begitu damai. Syukurlah, pikirku.kulepaskan tanganku dari mulut dan hidungnya. Ia benar-benar telah meninggal. Sekarang aku tinggal menunggu para dokter mengangkat kepala mati itu dari tubuhku. Aku tersenyum. Namun beberapa detik kemudian aku merasakan sesak di dadaku. Aku sulit bernafas. Aneh. Semakin lama semakin susah aku menghirup dan mengeluarkan udara untuk bernafas. Apa yang terjadi denganku? Tiba-tiba aku terpikir, adakah organ tubuhnya satu dengan organ tubuhku? Tidak. Jika organ kami satu, berarti kematiannya adalah kematian ku juga!.
Aku semakin sulit bernafas. Semakin semakin susah. Hingga khirnya kurasakan seluruh ruangan menjadi gelap. Gelap sekali. Dan…
***
Di sebuah warung sederhana, seorang laki-laki setengah baya duduk sendiri sembari membaca sebuah surat kabar. Headline surat kabar tersebut sangat menarik perhatiannya. “Syafitri Akhirnya Meninggal”
Sesaat, diam meraja.
“dia telah melaksanakan tugasnya…” ucap laki-laki itu lirih. Suaranya hampir tak terdengar.namun masih sempat dicuri angin, membawa berita itu terbang dan mengabarkannya pada semesta.
Padang, 201106
Syafitri, bayi kembar siam Varian (Dichepalus Parapagus Twins) lahir pada tanggal 7 Agustus 2006 sekitar pukul 23.00. Meninggal pada Selasa (22/11/06) sekitar pukul 13.00 di ruang ICU RS Pelni Petamburan, Jakarta. Tidak mungkin dipisahkan karena kelainan.
Cerita ini hanya bersifat fiktif.
Kenalkan, nama saya Syafitri. Seorang anak manusia yang lahir dalam keadaan kekuranagan atau malah keistimewaan. Bukannya tidak memprotes, tapi begitulah, semua telah dituliskan oleh Yang Di Atas terhadap saya. Kalaupun memprotes apa gunanya? toh saya sudah lahir, sudah mengenal dunia bahkan tanpa diduga sayapun sudah cukup terkenal. Dan dibalik itu semua saya yakin segalanya pasti sudah sangat diperhitungkan.
Sebenarnya tidak banyak yang bisa saya ceritakan karena memang tidak ada yang harus dikisahkan. Pada dasarnya –dan memang- saya hanyalah manusia biasa, bagian dari kebanyakan. Seperti anak-anak lain, saya berharap agar –kalau- besar nanti saya bisa menjadi anak yang baik, berbakti kepada orang tua dan berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Ah, harapan yang terlau naif. Tapi tak apalah, daripada seperti sebagian anak lain yang bahkan untuk berharappun mereka tak bisa. Dibandingkan dengan mereka tentu saya lebih beruntung.
Kembali mengenai cerita, sekali lagi saya katakan, tidak ada yang perlu dikisahkan karena itu tadi, saya hanya manusia biasa. Tambahan lagi, cerita tentang saya sudah sangat berkembang dengan berbagai versi. Ada yang melihat dari sudut religi, dari sudut medis, kemanusiaan dan sudut-sudut lain. Saya mengerti, karena yang namanya manusia pasti mempunyai akal untuk menginterpretasikan sesuatu, dan itu bersifat bebas.
Yang menjadi beban bagi saya adalah kisah sejati tentang diri saya sendiri. Sesungguhnya, dibalik kisah picisan yang dikabarkan orang-orang tentang saya, ada sebuah cerita besar yang hanya saya dan saudara saya yang tahu. Sebuah cerita yang –mungkin- akan mengguncang dada setiap manusia. Sebuah cerita yang akan memberikan kesadaran global tentang siapa manusia itu sendiri. Tapi bagaimana mungkin saya menceritakannya karena organ-organ saya belum sempurna. Kalaupun sempurna, saya juga masih bimbang untuk bercerita karena untuk anak seumuran saya, berbicara adalah sebuah mukjizat. Bayangkan, umur saya baru beberapa hari dan jika saya bicara, saya takut semua orang yang kurang pertimbangan akan berkiblat kepada saya. Sungguh saya tak ingin itu.
Dibalik semua cerita yang telah tersiar luas, sebenarnya jauh di sudut hati saya yang terdalam, saya merasa sangatb sangat sedih. Saya sangat terpukul menyaksikan orang tua, yang semenjak kelahiran saya selalu terlihat murung bahkan tidak jarang menangis. Bukan maksud hati saya membuat mereka seperti sperti itu, tapi apa boleh buat, semuanya kehendak Yang Di Atas.
Saya mngerti benar apa yang membuat mereka terluka. Saya.
Disaat kondisi perekonomian yang lemah, mereka diuji lagi dengan kehadiran saya. Anak yang diharapkan lahir sebagai pelengkap kebahagiaan, kenyataannya malah mendatangkan kekhawatiran baru.
Sekali lagi, andainya saya bisa bicara, tentu saya akan menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini merupakan kehendak yang Di Atas dan dibalik itu semua ada perjanjian besar antara saya dengan-Nya. Perjanjian dimana Dia menciptakan saya seperti ini untuk menunjukkan kebesaran kepada makhlukNya dan imbalannya adalah surga. Saya menerima bukan karena imbalan tapi saya menganggap ini adalah tugas mulia dan merupakan suatu kebanggan karena saya dipilih langsung oleh-Nya. Maka, janganlah kau menangis lagi wahai ayah, bunda…relakan saya seperti ini.
***
Kenalkan, namaku Syafitri. Seorang anak manusia yang lahir dengan keistimewaan yang sangat menawan. Memukau akal pikiran dan menarik perhatian seluruh lapisan masyrakat, mulai dari kalangan atas hingga kaum akar rumput. Apakah itu namanya kalau bukan keistimewaan?
Banyak yang mesti kuceritakan tentang diriku yang masih berselimut misteri. Cerita mengenai perjuangan keberadaan dan cerita tentang usha menggapai dunia dan bahkan cerita tentang kekuatan untuk menyongsong esok.
Bagiku, cerita tersebut, jika dikisahkan dengan alur yang baik, akan menyentuh kalbu. Dan aku yakin rasa salut akan tumpah padaku. Aku suka itu.
Sesungguhnya, ceritaku bermula dari alam yang begitu sederhana. Tentang dua buah sel yang saling menggoda, merayu dan merajuk hingga keduanya benar-benar rindu untuk menyatu. Setelah perjuanagn begitu berat dan menempu perjalanan panjang, akhirnya 2 sel yang ditakdirkan untuk bertemupun menyatu. Maka setelah itu aku tercipta dengan sebuah keistimewaan.
Keterciptaan itu ternyata bukanlah sesederhana perkiraanku, karena setelah semua proses yang ku lalui aku harus menyetujui sebuah perjanjian aneh. Ya, sebuah perjanjian yang memaksaku untuk kembali pulang setelah hanya beberapa hari di dunia. Saat itu aku langsung mengiyakan karena aku sudah tak sabar menyaksikan gemerlapnya dunia. Mengenai perjanjian bisa ku pikir kemudian. Bukankah sebuah janji dapat dilanggar? Dan mengenai kepulanganku, adalah hakku untuk menentukan. Takdirku ada di tanganku!.
Saat ini aku telah didunia. Baru beberapa hari. Dan benar kiranya bahwa dunia ini memukau. Walaupun hanya dari balik dinding sebuah kamar rumah sakit, aku dapat merasakan aura gemerlap dan menyenangkan. Suatu saat aku pasti menikmatinya, bagaimanapun caranya.
Seperti kuceritakan sebelumnya, aku terlahir dengan sebuah keistimewaan memukau yang membuatku sangat terkenal. Ya, aku terlahir dengan memiliki dua kepala. Disamping kepala yang sedang kujadikan berpikir sekarang, masih aad satu kepala lagi yang tergeletak tepat disebelahku. Apakah ia juga berpikir atau tidak, aku tidak tahu. Duan kepala satu badan, menakjubkan.
Aku yakin sepeuhnya bahwa keberadaanku telah menarik perhatian masyarakat banyak. Dan aku tak akan menyia-nyiakan itu. Aku terkenal.
Walaupun memiliki keistimewaan, aku bari saja tersadar bahwa sekiranya aku akan menikmati dunia, tidak mungkin aku melakukannya dengan kondisi seperti ini. Berkeliling dan tertawa ria dengan dua kepala. Tidak mungkin. Sangat merepotkan. Lalu bagaimana? Aku simpulkan, aku akan melakukan segala cara agar dapat hidup di dunia. Akan kulakukan segala cara termasuk, jika terpaksa, menyingkirkan kepala yang satu lagi, yang notabenenya termasuk bagian tubuhku. Benarkah???
***
Saya tilik sejenak keluar jendela kecil kamar rumah sakit ini. Disana saya melihat dua,tiga bintang bersinar redup ditengah kegelapan. Mereka tampak enggan berbagi sinar. Sesaat sebuah daun kering melintas jatuh didepan jendela tersapa cahaya lampu. Duniaselebar daun jendela yang saya lihat benar-benar indah. Pantaslah jika banyak yang terlena akannya.
Disisi lain, ruangan yang saya tempati ini terasa sangat sepi. Tak ada orang lain dimalam sesunyi ini. Ruangan yang sekarang saya tempati adalah ruang perawatan khusus. Berbagai peralatan modern terpasang hampir diseluruh ruangan. Saya mengerti, kondisi saya dengan dua kepala satu badan, memaksa saya dan saudara saya harus ditempatkan diruangan intensif ini. Namun itu bukanlah keinginan saya. Saya sepenuhnya mengerti bahwa bukan untuk dirawat dengan perawatan ekstra intensif kami diutus ke dunia, tetapi untuk melaksanakan sebuah tugas mulia, yakni menyampaikan kebesaran Yang Di Atas.
Disamping kiri, saya melihat saudara saya yang sedang tertidur pulas terbuai mimpi. Wajahnya begktu damai. Sampai detik ini tak sepatah katapun yang terucap antara saya dan dirinya. Hanya tangis yang biasanya kami jadikan untuk menandakan bahwa saya dan dirinya masih sama-sama hidup.
Malam semakin larut. Saya merasa saat-saat terakhir kami sudah semakin dekat. Itu artinya tugas kami akan selesai. Sesaat sebelum memejamkan mata, saya sempatkan untuk sekali lagi menyaksikan bintang diambang jendela. Cahayanya begitu indah.
Beberapa jam berlalu, saya terbangun dari tidur. Saat itu saya merasa hawa sedikit panas. Ketika memandang keluar saya melihat sinar matahari memancar dengan terang. Pantaslah jika saya merasa sedikit gerah. Disampng kiri, saya masih melihat saudara saya tertidur pulas.
Tak begitu lama kemudian, dari jauh saya mendengar sebuah suara sayup-sayup sampai. Suara Azan. Indah nian terdengar. Saya kira itu adalh adzan Zuhur. Seiring dengan itu, entah mengapa saya begitu yakin waktu kami semakin dekat.
***
Sekali lagi, akan kulakukan segala cara agar dapat menikmati gemerlapnya dunia. Walaupun harus menyingkirkan kembaran kepalaku yang satun lagi. Ya, aku kira itulah cara terbaik. Dengan menyingkirkannya, sudah pasti akulah yang akan hidup dan para dokter akan mengangkat kepala tersebut dari tubuhku. Hingga akhirnya aku bebas denagn kepala dan tubuhku sendiri.
Siang ini kukira adalah waktu yang paling tepat untuk menyingkirkan kembaran kepalaku. Kepala yang ada disebelahkananku itu kini sedang tidur setelah tadi kurasakan ia bangun sebentar, lalu setelah mendengar lantunan suara dari jauh ia kembali tertidur sembari tersenyum. Aku tak tahu apa arti senyum itu.
Aku sengaja memilih waktu menyingkirkan kembaran kepalaku siang hari agar kematiannya benar-benar terkesan sangat alami. Jika aku melakukannya malam hari, aku merasa pasti aku yang akan dicurigai mebunuhnya karena dimana ada dia pasti ada aku. Dan jika ia mati, siapa lagi pelakunya kalu bukan aku.
Beberapa jenak, kulakukan niatku. Kugerakkan tanganku sealami mungkin. Kujatuhkan tepat dimana telapak tanganku menutup mulut dan hidungnya. Kutekan sedikit hingga kupastikan ia sulit bernafas. Ku tahan tanganku disana beberapa detik atau mungkin menit. Dan akhirnya kurasakan tak ada lagi nafas. Aku yakin. Namun aneh, mukanya tidak mencerminkan ketersiksaan. Kepergiannya begitu damai. Syukurlah, pikirku.kulepaskan tanganku dari mulut dan hidungnya. Ia benar-benar telah meninggal. Sekarang aku tinggal menunggu para dokter mengangkat kepala mati itu dari tubuhku. Aku tersenyum. Namun beberapa detik kemudian aku merasakan sesak di dadaku. Aku sulit bernafas. Aneh. Semakin lama semakin susah aku menghirup dan mengeluarkan udara untuk bernafas. Apa yang terjadi denganku? Tiba-tiba aku terpikir, adakah organ tubuhnya satu dengan organ tubuhku? Tidak. Jika organ kami satu, berarti kematiannya adalah kematian ku juga!.
Aku semakin sulit bernafas. Semakin semakin susah. Hingga khirnya kurasakan seluruh ruangan menjadi gelap. Gelap sekali. Dan…
***
Di sebuah warung sederhana, seorang laki-laki setengah baya duduk sendiri sembari membaca sebuah surat kabar. Headline surat kabar tersebut sangat menarik perhatiannya. “Syafitri Akhirnya Meninggal”
Sesaat, diam meraja.
“dia telah melaksanakan tugasnya…” ucap laki-laki itu lirih. Suaranya hampir tak terdengar.namun masih sempat dicuri angin, membawa berita itu terbang dan mengabarkannya pada semesta.
Padang, 201106
SISA BULDOZER
Bulan tua memerah di pucuk pohon jambu. Saat itu hening. Hanya bulan dan bayang kelam. Menyatu mengalirkan aura tenang tak menentu.
Seorang wanita anggun duduk tersentak dari tidurnya. Ia gelisah. Beberapa bulir peluh tampak mengkilat disapa cahaya lampu. Wajahnya putih, tapi entahlah, mungkin pucat. Ia kemudian menyeka keringat yang sekan ingin menganak sungai. Perlahan ia melangkah gontai, membuka pintu sebuah kamar. Hilang.
Bulan tua memerah, masih disana. Menaungi seluruh alam dan kejadian saat itu.
“Ning, masih keluar?? Inikan sudah terlalu malam...”
”Terlalu malam? Malamku tak berarti, bulanku musnah, hariku hancur, bahkan untuk menentukan hidupku sendiri, aku tak lagi kuat”
”Tapi bukankah sebaiknya malam ini kamu istirahat?”
”Justru itu, istirahatku adalah matiku. Kalau tidak begini dengan apa harus kuisi lambungku...apakah mereka bersedia menangguangku? Tidak mungkin...mereka hanyalah kumpulan anjing. Yang tertawa, menyalak, di atas reruntuhan yang bukan hak mereka.”
Ning. Bicara tenang dihadapan cermin hias. Jari lentiknya lincah memainkan dan meratakan gincu. Seketika bibir tipisnya merah. Sementara si lawan bicara terdiam. Terpaku menatap Ning, temannya. Ah,Ning, hidup terlalu berat untukmu....
Beberapa jenak berlalu. Seorang wanita cantik, berkisar antara usia dua puluh-an, berjalan anggun dibawah bulan tua yang memerah. Ia melangkah membelah sunyi. Menebas kelam. Melewati gang, got, lanyah.
Mata indahnya menatap jalanana dengan pandangan kosong. Tak seorangpun tahu apa yang ada dalam pikirannya. Yang pasti, setiap malam, setiap kegelapan, ia selalu berjalan dengan cara yang sama. Dingin malam menjadi temannya. Menjamah dengan seribu satu perasaan sakit.
Ning berjalan, terus. Merombak sunyi. Inilah hidupnya bertaruh jiwa raga saat orang lain di buai mimpi indah, tentang bidadari syurga, tentang kaya dan tentang segalanya. Tapi Ning, dia harus merelakan mimpinya bias, hilang menguap dalam kebekuan angin malam. Baginya, mimpi indah membuka luka lama. Luka lama yang belum juga tersembuhi mesti telah di balut sang waktu.
Dulu ia pernah bermimpi menjadi kaya, dokter misalnya, atau apalah. Yang penting dia pernah punya impian. Ia pun telah berusaha untuk itu. Namun tiba-tiba sebuah musim buatan manusia datang. Membuyarkan mimpi dan merubah segalanya bagi Ning.
Semenjak itu, hingga kini, ia tak lagi berani bermimpi untuk hal yang tak pasti. Untuk hal yang saat ini tak mungkin ia dapati.
Malam semakin larut. Bulan, pohon jambu, dan bayang malam masih saling setia. Ning sampai di ujung gang.
”Ojek...?”
”Ya....”
”Kemana? Tempat biasa?”
”Ya....”
Ning, masih dengan gerakan anggun, menaiki sepeda motor. Hampir setiap malam, ketika selarut ini, Ning selalu berojek. Ketempat biasa, katanya.
Halte tua di remang malam, tampak kedinginan meski di temani lampu jalan. Beberapa juga ada disana, mungkin menunggu. Menunggu pagi, menunggua pujaan hati atau menunggu sesuatu yang tak pasti. Dengan mimik yang tak menentu mereka terus menanti.
Sebuah sepeda motor berhenti. Tepat di halte tua. Seorang perempuan, dengan gemulainya, menginjak bebatuan yang menjadi lantai tempat pemberhentian bus itu. Tangan indah, jemari lentik, menyodorkan beberapa lembar uang ke si pengemudi motor.
Lalu percakapan singkat terjadi sebelum akhirnya kedua insan itu berpisah.
Ning, di halte tua, tempat dimana ia berdiri untuk menyulam malam menjadi jembatan hidup. Tak ada yang dapat dilakukannya selain ini. Ya, selain ini. Berdiri di remang malam. Menanti moral-moral bejat yang katanya suci. Ning hanya menurut. Ia tak lagi takut dosa. Tak lagi memikirkan halal, atau baik buruk.
Baginya dosa adalah dongeng lama. Cerita kuno yang dipaparkan nenek sebelum tidur. Ia hanyalah rangakaian huruf, sekedar pembuai mata sebelum terlelap. Lalu setelah itu semuanya hilang. Tak ada yang berkesan. Dosa bagi Ning, kini, hanyalah kata yang digunakan untuk menakuti mereka yang bersalah. Itupun jika mereka takut.
Lalu, jika ia berdosa, apakah yang didapat oleh mereka yang datang padany –Ning-. Mereka yang bejat, mereka yang munafik. Mengaku suci padahal tahi, mengaku setia padahal dusta. Ah, Ning segera melupakannya. Tugasnya hanya menyambung hidup. Berusaha agar tidak mati dan, esok, bisa menyenyumi mentari. Lagi.
Malam semakin larut. Lalu lintas jalanan beraspal sedikit memadat. Sayup-sayup selingan suara terompet mulai menggema membongkar kebekuan hati Ning. Beberapa saat kemudian, sebuah kembang api melesat tinggi lalu pecah diangkasa. Jauh.
Ning masih disana. Mencoba berdiri tegar. Matanya menerawang jauh menerobos kelam yang meraja di angkasa. Sesaat, dalam kelam itu, pikirannya melayang.
***
”Ayo...kejar aku...” Ning kecil berlari menapaki jalanan kecil berbatu. Bajunya putih berlengan panjang. Tangan mungilnya memagut sebuah bungkusan plastik di dada. Rapat.
Menyusul Ning, sekelompok anak juga berlari dengan pakaian yang berwarna sama. Putih. Mereka berlari mengikuti Ning. Ning terkejar.
”Ning, kamu sudah menyelesaikan PR?”
”Belum. Nanti sampai dirumah aku akan langsung mengerjakannya dan mengulang pelajaran...”
”Oo...”
”Ya, biar aku pintar. Menjadi dokter dan akhirnya bisa membantu orang tua”
Percakapan usai di persimpangan. Kini Ning kecil berjalan sendirian -masih memagut bingkisan plastik- menuju rumahnya. Semi permanen.
***
”Ning, sekarang apa yang akan kau lakukan?” seorang lelaki muda -berusia kira-kira tamatan sekolah menengah atas- merombak sunyi.
”Entahlah...yang pasti aku harus mengakali agar tetap bisa makan, hidup.” Ning berujar sembari menatap awan senja yang berombak tak menentu. Mimpinya hilang, masa bermainnya telah terlewati.
Ning tak memperhatikan lawan bicaranya yang sedang duduk, juga, menatap awan. Lelaki itu temannya sejak kecil, berlari, tertawa dan menari. Hingga kini mereka beranjak remaja.
”Kamu bisa saja melanjutkan sekolahmu dan mencapai semua cita-citamu...”
”Menjadi dokter? Tidak, itu adalah impian bodoh si anak kecil yang belum tahu akan sulit hidup. Sekarang, untuk bisa makan saja, aku dan keluargaku sudah cukup bersyukur...”
Ning masih menatap tinggi, mengarah ke awan yang sedikit bergerak. Sedikit sekali.
”Nes, terimakasih atas semuanya...kau adalah teman terbaikku selama ini...”
Lelaki yang dipanggil Nes itu hanya diam. Tenggelam dalam pikirannya. Entah di imaji yang mana. Selang beberapa saat, hening kembali meraja. Membekukan lingkaran antara dua anak manusia yang mencoba bertahan hidup dalam gamang.
Kebekuan belum juga rombak. Hingga akhirnya Ning dan Nes beranjak. Mereka melangkah gontai dalam lamunan masing-masing. Pulang.
Senja beranjak kelam. Secara perlahan malam merambat, menunjukkan keberadaannya. Menaungi seluruh semesta dan menyelimuti manusia dengan harapan untuk esok. Termasuk Ning.
Baru beberapa saat setelah fajar menyingsing, sebuah suara gaduh terdengar. Ning, yang saat itu baru bangun, tersentak. Keributan luar biasa telah terjadi. Sura jerit. Tangis. Raungan, dan cacian. Semua menyatu. Ning juga sempat mendengar deru mesin. Tanpa menunggu lama, Ning berlari keluar.
”Bangunan ini liar...harus dimusnahkan. Kalian tidak punya hak disini!!!” Seorang pria kekar berpakaian Pamong Praja lantang.
Ning, gadis cantik berwajah halus, terduduk lemas. Dihadapannya tampak gerombolan penduduk menghadang para penjagal. Tak ketinggalan seorang perempuan, ia hampir setengah telanjang, bajunya koyak. Ditarik, kasar.
Tak ada yang dapat dilakukan Ning. Musim Buldozer ternyata bukan hanya cerita dibalik layar kaca. Ia kini hadir dihadapan Ning. Meluluh lantakkan segalanya. Rumah, perabot, dan harapan Ning. Suara robohan dan tangis menyatu. Haru.
Ning masih lemas. Semuanya kosong. Yang ada dalam benaknya kini hanya bertahan hidup, meski harus menggunakan seluruh kemolekan tubuhnya. Perih.
***
Halte tua menggigil. Hampir tengah malam. Suara malam semakin semakin hening. Ning masih berdiri mematung. Memperhatikan pergerakan hidup malam.
Sebuah sepeda motor melambat dan kemudian berhenti. Tepat dihadapan Ning.
”Ning...apa yang kau lakukan disini?”
”Nes...”
”Kamu mau ikut denganku?“
„Tapi aku harus...“
Nes, lelaki yang datang ditengah malam. Mengajak Ning menikmati hidup. Membawa Ning berkeliling. Entah untuk apa...
”Ning, kau cantik, masih sama seperti dulu. Jika boleh aku jujur, dulu, mungkin juga hingga hari ini, aku mencintaimu. Tapi tidak bisa hanya dengan cinta. Tuntutan zaman memaksa seseorang untuk bertindak garang. Ning, maafkan aku...kini kau modalku. Disana banyak lelaki bejat menunggumu. Sekali lagi, maafkan aku. Aku melakukan ini karena anak istriku butuh makan. Mengertialh...”
Seorang wanita anggun duduk tersentak dari tidurnya. Ia gelisah. Beberapa bulir peluh tampak mengkilat disapa cahaya lampu. Wajahnya putih, tapi entahlah, mungkin pucat. Ia kemudian menyeka keringat yang sekan ingin menganak sungai. Perlahan ia melangkah gontai, membuka pintu sebuah kamar. Hilang.
Bulan tua memerah, masih disana. Menaungi seluruh alam dan kejadian saat itu.
“Ning, masih keluar?? Inikan sudah terlalu malam...”
”Terlalu malam? Malamku tak berarti, bulanku musnah, hariku hancur, bahkan untuk menentukan hidupku sendiri, aku tak lagi kuat”
”Tapi bukankah sebaiknya malam ini kamu istirahat?”
”Justru itu, istirahatku adalah matiku. Kalau tidak begini dengan apa harus kuisi lambungku...apakah mereka bersedia menangguangku? Tidak mungkin...mereka hanyalah kumpulan anjing. Yang tertawa, menyalak, di atas reruntuhan yang bukan hak mereka.”
Ning. Bicara tenang dihadapan cermin hias. Jari lentiknya lincah memainkan dan meratakan gincu. Seketika bibir tipisnya merah. Sementara si lawan bicara terdiam. Terpaku menatap Ning, temannya. Ah,Ning, hidup terlalu berat untukmu....
Beberapa jenak berlalu. Seorang wanita cantik, berkisar antara usia dua puluh-an, berjalan anggun dibawah bulan tua yang memerah. Ia melangkah membelah sunyi. Menebas kelam. Melewati gang, got, lanyah.
Mata indahnya menatap jalanana dengan pandangan kosong. Tak seorangpun tahu apa yang ada dalam pikirannya. Yang pasti, setiap malam, setiap kegelapan, ia selalu berjalan dengan cara yang sama. Dingin malam menjadi temannya. Menjamah dengan seribu satu perasaan sakit.
Ning berjalan, terus. Merombak sunyi. Inilah hidupnya bertaruh jiwa raga saat orang lain di buai mimpi indah, tentang bidadari syurga, tentang kaya dan tentang segalanya. Tapi Ning, dia harus merelakan mimpinya bias, hilang menguap dalam kebekuan angin malam. Baginya, mimpi indah membuka luka lama. Luka lama yang belum juga tersembuhi mesti telah di balut sang waktu.
Dulu ia pernah bermimpi menjadi kaya, dokter misalnya, atau apalah. Yang penting dia pernah punya impian. Ia pun telah berusaha untuk itu. Namun tiba-tiba sebuah musim buatan manusia datang. Membuyarkan mimpi dan merubah segalanya bagi Ning.
Semenjak itu, hingga kini, ia tak lagi berani bermimpi untuk hal yang tak pasti. Untuk hal yang saat ini tak mungkin ia dapati.
Malam semakin larut. Bulan, pohon jambu, dan bayang malam masih saling setia. Ning sampai di ujung gang.
”Ojek...?”
”Ya....”
”Kemana? Tempat biasa?”
”Ya....”
Ning, masih dengan gerakan anggun, menaiki sepeda motor. Hampir setiap malam, ketika selarut ini, Ning selalu berojek. Ketempat biasa, katanya.
Halte tua di remang malam, tampak kedinginan meski di temani lampu jalan. Beberapa juga ada disana, mungkin menunggu. Menunggu pagi, menunggua pujaan hati atau menunggu sesuatu yang tak pasti. Dengan mimik yang tak menentu mereka terus menanti.
Sebuah sepeda motor berhenti. Tepat di halte tua. Seorang perempuan, dengan gemulainya, menginjak bebatuan yang menjadi lantai tempat pemberhentian bus itu. Tangan indah, jemari lentik, menyodorkan beberapa lembar uang ke si pengemudi motor.
Lalu percakapan singkat terjadi sebelum akhirnya kedua insan itu berpisah.
Ning, di halte tua, tempat dimana ia berdiri untuk menyulam malam menjadi jembatan hidup. Tak ada yang dapat dilakukannya selain ini. Ya, selain ini. Berdiri di remang malam. Menanti moral-moral bejat yang katanya suci. Ning hanya menurut. Ia tak lagi takut dosa. Tak lagi memikirkan halal, atau baik buruk.
Baginya dosa adalah dongeng lama. Cerita kuno yang dipaparkan nenek sebelum tidur. Ia hanyalah rangakaian huruf, sekedar pembuai mata sebelum terlelap. Lalu setelah itu semuanya hilang. Tak ada yang berkesan. Dosa bagi Ning, kini, hanyalah kata yang digunakan untuk menakuti mereka yang bersalah. Itupun jika mereka takut.
Lalu, jika ia berdosa, apakah yang didapat oleh mereka yang datang padany –Ning-. Mereka yang bejat, mereka yang munafik. Mengaku suci padahal tahi, mengaku setia padahal dusta. Ah, Ning segera melupakannya. Tugasnya hanya menyambung hidup. Berusaha agar tidak mati dan, esok, bisa menyenyumi mentari. Lagi.
Malam semakin larut. Lalu lintas jalanan beraspal sedikit memadat. Sayup-sayup selingan suara terompet mulai menggema membongkar kebekuan hati Ning. Beberapa saat kemudian, sebuah kembang api melesat tinggi lalu pecah diangkasa. Jauh.
Ning masih disana. Mencoba berdiri tegar. Matanya menerawang jauh menerobos kelam yang meraja di angkasa. Sesaat, dalam kelam itu, pikirannya melayang.
***
”Ayo...kejar aku...” Ning kecil berlari menapaki jalanan kecil berbatu. Bajunya putih berlengan panjang. Tangan mungilnya memagut sebuah bungkusan plastik di dada. Rapat.
Menyusul Ning, sekelompok anak juga berlari dengan pakaian yang berwarna sama. Putih. Mereka berlari mengikuti Ning. Ning terkejar.
”Ning, kamu sudah menyelesaikan PR?”
”Belum. Nanti sampai dirumah aku akan langsung mengerjakannya dan mengulang pelajaran...”
”Oo...”
”Ya, biar aku pintar. Menjadi dokter dan akhirnya bisa membantu orang tua”
Percakapan usai di persimpangan. Kini Ning kecil berjalan sendirian -masih memagut bingkisan plastik- menuju rumahnya. Semi permanen.
***
”Ning, sekarang apa yang akan kau lakukan?” seorang lelaki muda -berusia kira-kira tamatan sekolah menengah atas- merombak sunyi.
”Entahlah...yang pasti aku harus mengakali agar tetap bisa makan, hidup.” Ning berujar sembari menatap awan senja yang berombak tak menentu. Mimpinya hilang, masa bermainnya telah terlewati.
Ning tak memperhatikan lawan bicaranya yang sedang duduk, juga, menatap awan. Lelaki itu temannya sejak kecil, berlari, tertawa dan menari. Hingga kini mereka beranjak remaja.
”Kamu bisa saja melanjutkan sekolahmu dan mencapai semua cita-citamu...”
”Menjadi dokter? Tidak, itu adalah impian bodoh si anak kecil yang belum tahu akan sulit hidup. Sekarang, untuk bisa makan saja, aku dan keluargaku sudah cukup bersyukur...”
Ning masih menatap tinggi, mengarah ke awan yang sedikit bergerak. Sedikit sekali.
”Nes, terimakasih atas semuanya...kau adalah teman terbaikku selama ini...”
Lelaki yang dipanggil Nes itu hanya diam. Tenggelam dalam pikirannya. Entah di imaji yang mana. Selang beberapa saat, hening kembali meraja. Membekukan lingkaran antara dua anak manusia yang mencoba bertahan hidup dalam gamang.
Kebekuan belum juga rombak. Hingga akhirnya Ning dan Nes beranjak. Mereka melangkah gontai dalam lamunan masing-masing. Pulang.
Senja beranjak kelam. Secara perlahan malam merambat, menunjukkan keberadaannya. Menaungi seluruh semesta dan menyelimuti manusia dengan harapan untuk esok. Termasuk Ning.
Baru beberapa saat setelah fajar menyingsing, sebuah suara gaduh terdengar. Ning, yang saat itu baru bangun, tersentak. Keributan luar biasa telah terjadi. Sura jerit. Tangis. Raungan, dan cacian. Semua menyatu. Ning juga sempat mendengar deru mesin. Tanpa menunggu lama, Ning berlari keluar.
”Bangunan ini liar...harus dimusnahkan. Kalian tidak punya hak disini!!!” Seorang pria kekar berpakaian Pamong Praja lantang.
Ning, gadis cantik berwajah halus, terduduk lemas. Dihadapannya tampak gerombolan penduduk menghadang para penjagal. Tak ketinggalan seorang perempuan, ia hampir setengah telanjang, bajunya koyak. Ditarik, kasar.
Tak ada yang dapat dilakukan Ning. Musim Buldozer ternyata bukan hanya cerita dibalik layar kaca. Ia kini hadir dihadapan Ning. Meluluh lantakkan segalanya. Rumah, perabot, dan harapan Ning. Suara robohan dan tangis menyatu. Haru.
Ning masih lemas. Semuanya kosong. Yang ada dalam benaknya kini hanya bertahan hidup, meski harus menggunakan seluruh kemolekan tubuhnya. Perih.
***
Halte tua menggigil. Hampir tengah malam. Suara malam semakin semakin hening. Ning masih berdiri mematung. Memperhatikan pergerakan hidup malam.
Sebuah sepeda motor melambat dan kemudian berhenti. Tepat dihadapan Ning.
”Ning...apa yang kau lakukan disini?”
”Nes...”
”Kamu mau ikut denganku?“
„Tapi aku harus...“
Nes, lelaki yang datang ditengah malam. Mengajak Ning menikmati hidup. Membawa Ning berkeliling. Entah untuk apa...
”Ning, kau cantik, masih sama seperti dulu. Jika boleh aku jujur, dulu, mungkin juga hingga hari ini, aku mencintaimu. Tapi tidak bisa hanya dengan cinta. Tuntutan zaman memaksa seseorang untuk bertindak garang. Ning, maafkan aku...kini kau modalku. Disana banyak lelaki bejat menunggumu. Sekali lagi, maafkan aku. Aku melakukan ini karena anak istriku butuh makan. Mengertialh...”
RANAH KUTUKAN*
Hujan rintik-rintik. Tiga orang lelaki baru saja menuruni tangga sebuah rumah panggung yang reot. Pada setiap injakan, tangga itu selalu menjerit atau lebih tepat dikatakan rintihan, karena telah termakan usia. Dua diantara laki-laki itu memakai dasi, jas hitam elegan, sepatu kulit mengkilat buatan Itali dan pernak-pernik kemegahan abad dua puluh satu lainnya. Seorang lagi berbadan kekar, rambut panjang berombak, otot tersembul dari kaosnya yang sedikit ketat. Tampangnya sangar, di tambah sedikit hiasan kumis dibibirnya.
Ketiga orang itu kemudian berlari kecil menuju sebuah sedan mengkilat. -Kembali, kemewahan peradaban modern di persembahkan di hadapan rumah panggung yang reot-. Mereka berusaha menghindari tetes demi tetes rintik hujan yang belum juga reda. Pintu sedan terbuka, mereka masuk, kemudian suara halus mesin berteknologi tinggi lamat terdengar dalam rintik. Mobil itu bergerak maju, menyusuri jalan beraspal yang kecil. Kemudian detik berikutnya ia hilang dalam keremangan kabut yang diciptakan rintik.
Sementara, didalam rumah panggung yang baru saja ditinggalkan ketiga orang itu, duduklah seorang wanita tua renta. Ia menyandarkan tubuhnya diatas sebuah kursi rotan yang sama reotnya dengan keseluruhan rumah. Matanya menerawang jauh menembus tirai jendela tua, melampaui kabut rintik bahkan menembus deretan awan yang setia menurunkan hujan. Ia kemudian bangkit dan berjalan menuju jendela dengan perlahan. Dari tempat itu, ia bisa mendengar sedikit deburan ombak yang menyatu dengan tetes air yang turun dari lapisan atap ijuk rumah tersebut.
Tanpa ia sadari, setetes air hangat keluar dari bola matanya yang cekung, menuruni kerutan wajah, lalu terjatuh kelantai setelah sempat bergelayut diujung dagu tuanya. Hatinya terluka dalam kesendirian.
Ia semakin sedih tatkala ingat anak cucunya yang telah pergi, meninggalkan ia berteman duka, berlindungkan rumah tua. Anak cucunya telah terpengaruh oleh gemerlap duniawi dengan alasan takut dikutuk oleh ranah bencana. Mereka kemudian pindah memperturutkan kecemasan yang tidak beralasan dan menyingkirkan rasa iba bahkan terhadap seorang wanita tua.
Ia kembali teringat hari dimana seluruh koper telah terisi dan dijinjing, siap meninggalkan rumah usang.
“Mak, ranah ini telah dikutuk, sebentar lagi jeritan akan menggema dan mayat-mayat akan terlantar. Kami tidak ingin tubuh kami ditemukan ditengah gelimpangan mayat itu nantinya. Sudahlah, amak jangan pertahankan lagi prinsi-prinsip kuno itu, atau paham atau apalah namanya. Jika amak berubah pikiran sekarang, masih ada satu bangku yang kosong. Kita akan pindah ketempat yang aman dan akan saya sediakan sebuah rumah khusus buat amak, yang pasti bukan rumah seperti ini”.
Hati wanita tua itu hancur seiring meluncurnya dua buah mobil dari halaman rumah usang yang sekarang ia diami. Sendiri. Hingga saat ini.
***
Dini hari yang dingin, ketika suara ombak masih menggema dari kejauhan. Orang-orang terpekik, lari, memenuhi jalan raya yang terasa semakin sempit. Wajah-wajah tegang dan takut menyatu dalam kepanikan. Semua histeris dalam goncangan dunia. Tangis-tangis bayi yang terkejut ikut mewarnai kesemrawutan.
Begitu juga di sebuah rumah panggung, seorang wanita tua lari dengan tergesa menuju dapur. Mengambil sebuah piring dan sendok. Lalu pikiran paniknya memandu ia keluar rumah, menuruni tangga tua secepat mungkin.
Bumi masih bergoyang ketika ia sampai di halaman. Pohon, tiang-tiang listrik, pagar-pagar besi ikut meliuk. Tanpa pikir panjang ia memukulkan sendok kepiring yang ia ambil tadi. Lama.
Bunyi-bunyian itu masih terdengar, mengeluarkan irama tak menentu. Yang pasti suaranya keras, bercampur dalam teriakan ketakutan. Terus. Ia terus memukul. Hingga akhirnya goncangan berhenti. Ia masih berdiri mematung, memperlambat pukulan dan memandang berkeliling, akhirnya berhenti. Tak ada lagi bunyi-bunyian, tak ada lagi goncangan. Hanya jerit tangis dan wajah kepanikan. Wanita itu perlahan sujud, mencium tanah, menghamba pada Yang Patut Disembah. Air matanya keluar pertanda syukur.
Menjelang subuh, goncangan, jeritan tangis, terulang. Wanita tua, piring, sendok,bunyi-bunyian, kembali. Tapi laut masih biru, berombak seperti biasa. Melebur dalam seluruh kepanikan.
Sebelum matahari sampai di puncak langit, goncangan masih terasa beberapa kali. Setiap itu pula bunyi-bunyian si wanita tua mengiringi. Sementara dua orang anaknya tidak peduli. Mereka dengan tergesa-gesa mengepak barang-barang, mengumpulkan alat-alat dan tidak lupa, uang.
Esoknya seorang bocah cilik mengahampiri wanita tua itu.
“Nek, kenapa waktu gempa kemaren nenek memukul piring ?”
Wanita tua itu menjangkau si bocah dengan lembut dan memandang penuh kasih sayang. Seutas senyum sederhana terukir di bibir tuanya sebelum ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan si bocah.
“Kata orang-orang tua dahulu, gempa disebabkan oleh seekor kerbau besar. Kerbau itu tinggal jauh di dalam tanah. Sekali-kali ia akan menggerakkan seluruh badannya untuk menggoncang dunia. Katanya, ia ingin memastikan kalau diatas dunia ini masih ada manusia atau tidak. Makanya nenek membunyikan itu supaya kerbau itu tahu bahwa kita masih ada. Katanya juga, jika tidak ada bunyi-bunyian lagi kerbau itu akan menghancurkan dunia. Buktinya setelah mendengar bunyi-bunyian itu sekarang tidak ada lagi gempakan ?” Wanita tua itu menjelaskan dengan gamblang, karena memang semenjak kecil ia sudah mendengar cerita itu. Dan sampai sekarang ia sangat meyakininya.
“Ah…nenek bohong, nenek kuno”
Bocah itu kemudian mencibir dan berlari, kembali bermain dengan boneka yang bisa menangis, alat-alat dokter dan komputer mainan.
Hati wanita tua itu perih. Tak ada seorangpun yang mempercayai ceritanya, bahkan bocah ingusan pun tidak. Tapi ia sangat yakin ; kerbau besar, dunia,goncangan dan bunyi-bunyian.
Selang dua puluh empat jam berlalu, ketika senja mulai membuka tabir keindahannya, sebuah sedan mewah berhenti tepat di halaman rumah panggung. Pintu terbuka, empat laki-laki turun dan salah seorang dari mereka adalah si Buyung, anak sulung dari wanita tua itu. Tampak ia mempersilahkan ketiga temannya –atasannya, relasinya atau apalah namanya- dengan sangat hormat.
Mereka berjalan dengan wibawa yang sangat tinggi. Langkah demi langkah, hingga akhirnya menaiki tangga reot.
“Dia ibuku…” si Buyung bersuara sembari menunjuk wanita tua yang duduk di kursi rotan. Langsung, tanpa basa-basi, ketiga laki-laki itu mendekati wanita yang di panggil Buyung dengan ibu. Lalu salah seorang dari mereka mengeluarkan kertas putih dari jas hitamnya, dan dengan sedikit hempasan meletakkannya diatas meja, yang juga sudah tua.
“Bu, ini surat jual beli. Kedua anak ibu telah sepakat akan menjual tanah dan seluruh yang berdiri dan yang tumbuh diatasnya, termasuk rumah tua ini. Silahkan ditanda tangani”
“Aa..jual ? anakku ? si…siapa kalian ?”
“Kami orang yang akan membeli tanah dan juga rumah yang akan di monumenkan ini untuk dikembangkan menjadi pusat wisata, belanja dan pusat segala-galanya”
Wanita tua itu gusar, kedua bibir pucatnya bergetar. Ia memalingkan wajah pada si Buyung yang berdiri kaku dengan tatapan ketidakmengertian. Buyung diam. Dingin. Tanpa dosa. Lalu tetes air hangat keluar dari mata si wanita tua, segera membentuk anak sungai di kedalaman kerutan wajahnya.
“Aku tidak bisa membaca, aku tidak punya tanda tangan. Aku adalah tanah ini, rumah ini adalah ruhku. Aku dibentuk oleh persakitan dan kesenangan di setiap helai papan rumah ini.”
“Cepat tandatangani, kami tidak punya banyak waktu” si badan kekar angkat suara. “atau…”
“Sabar,…Jika anda belum bisa memutuskan sekarang, besok kami masih punya waktu. Dan saya sarankan malam ini anda belajar membuat tanda tangan” salah seorang laki-laki itu mencoba mendinginkan suasana tapi diiringi oleh sedikit ancaman. Kemudian ia sedikit mengangguk, mengambil langkah, lalu diiringi oleh dua orang lainnya.
Suasana hening, mendung tiba-tiba menghitam di mata wanita tua. Angin membeku. Dalam ruangan itu hanya ada dia dan anak sulungnya, Buyung. Kebisuan meraja. Wanita tua menatap kosong, menembus atmosfer senja. Sebentar lagi malam.
Sementara Buyung menatap wanita yang ia panggil ibu itu dengan tajam. Marah. Kecewa. Heran. Menyatu sejadi-jadinya.
“Memalukan…seharusnya amak menandatangani surat itu, atau paling tidak amak menyetujuinya. Tak ada lagi yang dapat kita harapkan dari tanah ini, karena ia telah dikutuk. Memang, ombak itu masih seperti biasa, tapi esok, malam nanti atau bahkan semenit lagi ia akan mewujudkan keangkaraan, menagih janji kutukan dan melumat seluruh keberadaan. Lalu apa lagi yang amak harapkan….?”
“Itu takdir, sudah ketentuan langit. Tak ada yang bisa lari dari itu semua. Walau engkau sembunyi kepuncak gunung sekalipun, kalau sudah takdir yang bicara, kau tidak akan bisa mengelak, anakku” Suara wanita tua itu bergetar, tubuhnya bergoncang menahan isak. Air matanya kian deras.
“Menjual tanah ini…? Tidak pernah amak pikirkan, bahkan membayangkannya pun amak tak sanngup. Ini tanah warisan turun temurun dari nenek moyang. Sebagai seorang bundo kanduang amak wajib menjaga keberadaan tanah ini. Amak tidak akan menjualnya, terutama pada orang-orang seperti mereka. Amak takut anak cucu amak nantinya di pertontonkan dengan hal yang buruk. Amak bisa membayangkan jika tanah ini dijual. Disini akan di pamerkan tubuh-tubuh setengah telanjang, makanan haram dan hilangnya akal sehat”
“Tapi mak, saya tidak mau mati sia-sia. Saya tidak mau hanyut oleh gelombang dan saya tidak mau tubuh saya tidak dikenali.”
“Siapa yang mengatakan itu padamu ? Tanah ini bukan kutukan. Sejak kecil amak sudah disini, tidak ada yang namanya mayat yang berserakan. Kalau hanya goncangan seperti kemaren-kemaren, itu biasa. Itu hanya ulah seekor kerbau yang ingin memastikan keberadaan manusia”
“Ah…cerita kuno itu lagi. Bosan. Baiklah, jika amak tidak mau menjual tanah usang ini, terpaksa saya harus pergi dan meninggalkan amak sendirian di rumah yang hampir roboh ini. Andai saja amak berpikiran lain, tentu tumpukan uang sudah ada di meja ini sekarang”
Si Buyung segera membalikkan badan. Mukanya merah. Tangan terkepal. Matanya bersinar garang. Kecewa. Marah. Ia melangkah menuju halaman dan kemudian hilang dalam hitungan detik.
Esoknya, lusanya dan hari-hari berikutnya, tiga orang laki-laki itu selalu datang dengan bujukan, bentakan dan ancaman. Sementara si Buyung dan saudaranya telah pergi, hilang tanpa kabar, membawa koper. Padat. Mereka pindah membawa seluruh barang-barang berharga dengan dua buah mobil yang mereka dapatkan entah darimana.
“Tidak”
Tegas. Keluar dari mulut seorang wanita tua yang kolot, yang mempertahankan tanah pusaka, yang di tinggal dan disakiti.
***
Hujan rintik-rintik. Tiga orang laki-laki baru saja menuruni tangga rumah gadang yang reot. Dua diantara laki-laki itu memakai dasi, jas hitam dan sepatu buatan Itali. Seorang lagi berbadan kekar. Mereka berlari kecil menuju sedan mengkilat. Pintu terbuka, mereka masuk dan mobil berteknologi tinggi itu melaju menyusuri jalan beraspal yang kecil.
Di dalam rumah gadang, duduk seorang wanita tua renta. Matanya menerawang, menembus tirai jendela tua, melampaui kabut rintik bahkan menembus awan. Ia berharap ketiga laki-laki itu tidak kembali lagi dan menunggu anak-anaknya pulang. Selamanya.
*Juara Harapan II Lomba Menulis Cerpen Telkomsel
Online se_Sumatera.
Ketiga orang itu kemudian berlari kecil menuju sebuah sedan mengkilat. -Kembali, kemewahan peradaban modern di persembahkan di hadapan rumah panggung yang reot-. Mereka berusaha menghindari tetes demi tetes rintik hujan yang belum juga reda. Pintu sedan terbuka, mereka masuk, kemudian suara halus mesin berteknologi tinggi lamat terdengar dalam rintik. Mobil itu bergerak maju, menyusuri jalan beraspal yang kecil. Kemudian detik berikutnya ia hilang dalam keremangan kabut yang diciptakan rintik.
Sementara, didalam rumah panggung yang baru saja ditinggalkan ketiga orang itu, duduklah seorang wanita tua renta. Ia menyandarkan tubuhnya diatas sebuah kursi rotan yang sama reotnya dengan keseluruhan rumah. Matanya menerawang jauh menembus tirai jendela tua, melampaui kabut rintik bahkan menembus deretan awan yang setia menurunkan hujan. Ia kemudian bangkit dan berjalan menuju jendela dengan perlahan. Dari tempat itu, ia bisa mendengar sedikit deburan ombak yang menyatu dengan tetes air yang turun dari lapisan atap ijuk rumah tersebut.
Tanpa ia sadari, setetes air hangat keluar dari bola matanya yang cekung, menuruni kerutan wajah, lalu terjatuh kelantai setelah sempat bergelayut diujung dagu tuanya. Hatinya terluka dalam kesendirian.
Ia semakin sedih tatkala ingat anak cucunya yang telah pergi, meninggalkan ia berteman duka, berlindungkan rumah tua. Anak cucunya telah terpengaruh oleh gemerlap duniawi dengan alasan takut dikutuk oleh ranah bencana. Mereka kemudian pindah memperturutkan kecemasan yang tidak beralasan dan menyingkirkan rasa iba bahkan terhadap seorang wanita tua.
Ia kembali teringat hari dimana seluruh koper telah terisi dan dijinjing, siap meninggalkan rumah usang.
“Mak, ranah ini telah dikutuk, sebentar lagi jeritan akan menggema dan mayat-mayat akan terlantar. Kami tidak ingin tubuh kami ditemukan ditengah gelimpangan mayat itu nantinya. Sudahlah, amak jangan pertahankan lagi prinsi-prinsip kuno itu, atau paham atau apalah namanya. Jika amak berubah pikiran sekarang, masih ada satu bangku yang kosong. Kita akan pindah ketempat yang aman dan akan saya sediakan sebuah rumah khusus buat amak, yang pasti bukan rumah seperti ini”.
Hati wanita tua itu hancur seiring meluncurnya dua buah mobil dari halaman rumah usang yang sekarang ia diami. Sendiri. Hingga saat ini.
***
Dini hari yang dingin, ketika suara ombak masih menggema dari kejauhan. Orang-orang terpekik, lari, memenuhi jalan raya yang terasa semakin sempit. Wajah-wajah tegang dan takut menyatu dalam kepanikan. Semua histeris dalam goncangan dunia. Tangis-tangis bayi yang terkejut ikut mewarnai kesemrawutan.
Begitu juga di sebuah rumah panggung, seorang wanita tua lari dengan tergesa menuju dapur. Mengambil sebuah piring dan sendok. Lalu pikiran paniknya memandu ia keluar rumah, menuruni tangga tua secepat mungkin.
Bumi masih bergoyang ketika ia sampai di halaman. Pohon, tiang-tiang listrik, pagar-pagar besi ikut meliuk. Tanpa pikir panjang ia memukulkan sendok kepiring yang ia ambil tadi. Lama.
Bunyi-bunyian itu masih terdengar, mengeluarkan irama tak menentu. Yang pasti suaranya keras, bercampur dalam teriakan ketakutan. Terus. Ia terus memukul. Hingga akhirnya goncangan berhenti. Ia masih berdiri mematung, memperlambat pukulan dan memandang berkeliling, akhirnya berhenti. Tak ada lagi bunyi-bunyian, tak ada lagi goncangan. Hanya jerit tangis dan wajah kepanikan. Wanita itu perlahan sujud, mencium tanah, menghamba pada Yang Patut Disembah. Air matanya keluar pertanda syukur.
Menjelang subuh, goncangan, jeritan tangis, terulang. Wanita tua, piring, sendok,bunyi-bunyian, kembali. Tapi laut masih biru, berombak seperti biasa. Melebur dalam seluruh kepanikan.
Sebelum matahari sampai di puncak langit, goncangan masih terasa beberapa kali. Setiap itu pula bunyi-bunyian si wanita tua mengiringi. Sementara dua orang anaknya tidak peduli. Mereka dengan tergesa-gesa mengepak barang-barang, mengumpulkan alat-alat dan tidak lupa, uang.
Esoknya seorang bocah cilik mengahampiri wanita tua itu.
“Nek, kenapa waktu gempa kemaren nenek memukul piring ?”
Wanita tua itu menjangkau si bocah dengan lembut dan memandang penuh kasih sayang. Seutas senyum sederhana terukir di bibir tuanya sebelum ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan si bocah.
“Kata orang-orang tua dahulu, gempa disebabkan oleh seekor kerbau besar. Kerbau itu tinggal jauh di dalam tanah. Sekali-kali ia akan menggerakkan seluruh badannya untuk menggoncang dunia. Katanya, ia ingin memastikan kalau diatas dunia ini masih ada manusia atau tidak. Makanya nenek membunyikan itu supaya kerbau itu tahu bahwa kita masih ada. Katanya juga, jika tidak ada bunyi-bunyian lagi kerbau itu akan menghancurkan dunia. Buktinya setelah mendengar bunyi-bunyian itu sekarang tidak ada lagi gempakan ?” Wanita tua itu menjelaskan dengan gamblang, karena memang semenjak kecil ia sudah mendengar cerita itu. Dan sampai sekarang ia sangat meyakininya.
“Ah…nenek bohong, nenek kuno”
Bocah itu kemudian mencibir dan berlari, kembali bermain dengan boneka yang bisa menangis, alat-alat dokter dan komputer mainan.
Hati wanita tua itu perih. Tak ada seorangpun yang mempercayai ceritanya, bahkan bocah ingusan pun tidak. Tapi ia sangat yakin ; kerbau besar, dunia,goncangan dan bunyi-bunyian.
Selang dua puluh empat jam berlalu, ketika senja mulai membuka tabir keindahannya, sebuah sedan mewah berhenti tepat di halaman rumah panggung. Pintu terbuka, empat laki-laki turun dan salah seorang dari mereka adalah si Buyung, anak sulung dari wanita tua itu. Tampak ia mempersilahkan ketiga temannya –atasannya, relasinya atau apalah namanya- dengan sangat hormat.
Mereka berjalan dengan wibawa yang sangat tinggi. Langkah demi langkah, hingga akhirnya menaiki tangga reot.
“Dia ibuku…” si Buyung bersuara sembari menunjuk wanita tua yang duduk di kursi rotan. Langsung, tanpa basa-basi, ketiga laki-laki itu mendekati wanita yang di panggil Buyung dengan ibu. Lalu salah seorang dari mereka mengeluarkan kertas putih dari jas hitamnya, dan dengan sedikit hempasan meletakkannya diatas meja, yang juga sudah tua.
“Bu, ini surat jual beli. Kedua anak ibu telah sepakat akan menjual tanah dan seluruh yang berdiri dan yang tumbuh diatasnya, termasuk rumah tua ini. Silahkan ditanda tangani”
“Aa..jual ? anakku ? si…siapa kalian ?”
“Kami orang yang akan membeli tanah dan juga rumah yang akan di monumenkan ini untuk dikembangkan menjadi pusat wisata, belanja dan pusat segala-galanya”
Wanita tua itu gusar, kedua bibir pucatnya bergetar. Ia memalingkan wajah pada si Buyung yang berdiri kaku dengan tatapan ketidakmengertian. Buyung diam. Dingin. Tanpa dosa. Lalu tetes air hangat keluar dari mata si wanita tua, segera membentuk anak sungai di kedalaman kerutan wajahnya.
“Aku tidak bisa membaca, aku tidak punya tanda tangan. Aku adalah tanah ini, rumah ini adalah ruhku. Aku dibentuk oleh persakitan dan kesenangan di setiap helai papan rumah ini.”
“Cepat tandatangani, kami tidak punya banyak waktu” si badan kekar angkat suara. “atau…”
“Sabar,…Jika anda belum bisa memutuskan sekarang, besok kami masih punya waktu. Dan saya sarankan malam ini anda belajar membuat tanda tangan” salah seorang laki-laki itu mencoba mendinginkan suasana tapi diiringi oleh sedikit ancaman. Kemudian ia sedikit mengangguk, mengambil langkah, lalu diiringi oleh dua orang lainnya.
Suasana hening, mendung tiba-tiba menghitam di mata wanita tua. Angin membeku. Dalam ruangan itu hanya ada dia dan anak sulungnya, Buyung. Kebisuan meraja. Wanita tua menatap kosong, menembus atmosfer senja. Sebentar lagi malam.
Sementara Buyung menatap wanita yang ia panggil ibu itu dengan tajam. Marah. Kecewa. Heran. Menyatu sejadi-jadinya.
“Memalukan…seharusnya amak menandatangani surat itu, atau paling tidak amak menyetujuinya. Tak ada lagi yang dapat kita harapkan dari tanah ini, karena ia telah dikutuk. Memang, ombak itu masih seperti biasa, tapi esok, malam nanti atau bahkan semenit lagi ia akan mewujudkan keangkaraan, menagih janji kutukan dan melumat seluruh keberadaan. Lalu apa lagi yang amak harapkan….?”
“Itu takdir, sudah ketentuan langit. Tak ada yang bisa lari dari itu semua. Walau engkau sembunyi kepuncak gunung sekalipun, kalau sudah takdir yang bicara, kau tidak akan bisa mengelak, anakku” Suara wanita tua itu bergetar, tubuhnya bergoncang menahan isak. Air matanya kian deras.
“Menjual tanah ini…? Tidak pernah amak pikirkan, bahkan membayangkannya pun amak tak sanngup. Ini tanah warisan turun temurun dari nenek moyang. Sebagai seorang bundo kanduang amak wajib menjaga keberadaan tanah ini. Amak tidak akan menjualnya, terutama pada orang-orang seperti mereka. Amak takut anak cucu amak nantinya di pertontonkan dengan hal yang buruk. Amak bisa membayangkan jika tanah ini dijual. Disini akan di pamerkan tubuh-tubuh setengah telanjang, makanan haram dan hilangnya akal sehat”
“Tapi mak, saya tidak mau mati sia-sia. Saya tidak mau hanyut oleh gelombang dan saya tidak mau tubuh saya tidak dikenali.”
“Siapa yang mengatakan itu padamu ? Tanah ini bukan kutukan. Sejak kecil amak sudah disini, tidak ada yang namanya mayat yang berserakan. Kalau hanya goncangan seperti kemaren-kemaren, itu biasa. Itu hanya ulah seekor kerbau yang ingin memastikan keberadaan manusia”
“Ah…cerita kuno itu lagi. Bosan. Baiklah, jika amak tidak mau menjual tanah usang ini, terpaksa saya harus pergi dan meninggalkan amak sendirian di rumah yang hampir roboh ini. Andai saja amak berpikiran lain, tentu tumpukan uang sudah ada di meja ini sekarang”
Si Buyung segera membalikkan badan. Mukanya merah. Tangan terkepal. Matanya bersinar garang. Kecewa. Marah. Ia melangkah menuju halaman dan kemudian hilang dalam hitungan detik.
Esoknya, lusanya dan hari-hari berikutnya, tiga orang laki-laki itu selalu datang dengan bujukan, bentakan dan ancaman. Sementara si Buyung dan saudaranya telah pergi, hilang tanpa kabar, membawa koper. Padat. Mereka pindah membawa seluruh barang-barang berharga dengan dua buah mobil yang mereka dapatkan entah darimana.
“Tidak”
Tegas. Keluar dari mulut seorang wanita tua yang kolot, yang mempertahankan tanah pusaka, yang di tinggal dan disakiti.
***
Hujan rintik-rintik. Tiga orang laki-laki baru saja menuruni tangga rumah gadang yang reot. Dua diantara laki-laki itu memakai dasi, jas hitam dan sepatu buatan Itali. Seorang lagi berbadan kekar. Mereka berlari kecil menuju sedan mengkilat. Pintu terbuka, mereka masuk dan mobil berteknologi tinggi itu melaju menyusuri jalan beraspal yang kecil.
Di dalam rumah gadang, duduk seorang wanita tua renta. Matanya menerawang, menembus tirai jendela tua, melampaui kabut rintik bahkan menembus awan. Ia berharap ketiga laki-laki itu tidak kembali lagi dan menunggu anak-anaknya pulang. Selamanya.
*Juara Harapan II Lomba Menulis Cerpen Telkomsel
Online se_Sumatera.
P U L A N G
Udara terasa sangat panas meskipun saat ini sang mentari telah sedikit tergelincir. Tapi toh, itu bukan jaminan segarnya senja akan menyapa. Masih aa beberapa jam lagi menjelang sinar mentari akan melembut, dan itu juga berarti –pada saat itu- kata indah untuk sebuah senja akan terlontar dari mulut orang banyak.
Pun pada sebuah kamar, udara seakan memuai oleh sinar mentari. Apalagi jendela-jendela kamar tersebut tepat mengarah ke Barat. Sehingga, sesaat setelah matahari tergelincir, sedikit demi sedikit sinar terang si raja siang akan menerobos masuk. Awalnya Cuma sejengkal, namun semakin sore semakin banyak terobosan sinar panas itu. Bahkan bisa dikatakan hampir sebagian kamar akan terang. Itu kalau cuaca cerah.
Di kamar itu tampak seorang anak muda yang wajahnya menyiratkan keletihan. Sangat. Pono, namanya. Saat itu Toga, atribut kewisudaan, masih melekat di badannya. Hanya topi saja yang sudah terlepas. Tadi, baru saja ia masuk kamar, ia segera membuka topi dan melemparkannya ke dipan. Untuk sesaat topi itu melayang, berputar diudara dan akhirnya jungkir balik diatas kasur.
Pono teramat lelah karena sedari pagi ia telah memulai aktifitas rutinnya –mandi, makan, berangkat-. Pagi sekali. Ditambah lagi hari ini adalah hari wisuda. Saat yang telah ia nanti-nantikan sejak empat tahun lalu. Prosesi wisudapun ia ikuti sepenuhnya, yang berlangsung sekitar dua atau tiga jam. Setelah itu, niatnya langsung pulang, namun ia di tahan temannnya. Ia –setengah- dipaksa untuk membayarkan seluruh makanan yang mereka peasan, atau yang lebih sering disebut traktir.
“Hitung-hitung sambil syukuran. Lagipula, kapan lagi kau mentraktir kami? Besok-besok pasti kau sudah akan sibuk menghadapi dunia pengangguran” kata temannya saat itu, yang diiringi oleh tawa jenaka.
Ada-ada saja yang dikatakan temannya tadi. Sebagian besar, setelah kalimat demi kalimat terlontar, akan diiringi oleh tawa. Lepas. Saat seperti itulah yang disukai Pono, berkumpul dan ber-suka ria. Ia tak tahu bagaimana jadinya jika ia harus jauh dari mereka. Mungkin ia kan merasa sepi, tanpa ada lagi kata ceria. Ya, Pono akan merasa kesepian dan akan selalu merindukan mereka.
Dalam kepala Pono saat ini telah tersusun rencana. Ia akan berusaha mencari kerja disini, di kota ini, agar setiap hari ia bisa berkumpul dengan teman-temannya tadi.
Pono masih duduk di bibir dipan. Panasnya matahari –yang mulai menerebos- membuatnya kehilangan banyak keringat dan menjadikan mukanya merah. Ia lalu ingat sesuatu, dua hari yang lalu ia menerima surat dari kampung, amaknya. Isi surat itu mengabarkan bahwa, secepatnya, setelah wisuda ia harus pulang. Juga dikatakan bahwa saat wisuda nanti –hari ini- amaknya tidak bisa hadir karena harus mengurus sawah mereka yang tinggal satu petak. Kecil.
Pono paham sangat atas isi surat amaknya. Dari itu, ia juga telah berencana. Besok –pagi-pagi sekali- ia akan pulang kampung, paling tidak menemui amaknya. Dan setelah itu beberapa hari –barangkali juga sehari- dikampung, ia akan kembali lagi. Rencana.
Matahari makin tergelincir. Kaki Pono yang terjuntai telah –sedikit- disapa sinar matahari. Panas. Tapi Pono sudah terbiasa.
***
Pono baru saja menjejalkan kakinya dijalan yang beraspal kecil. Ia telah sampai di kampung. Perjalanan yang –lumayan- jauh telah ia tempuhi, sekitar empat jam perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Untuk sampai ke rumah, ia masih harus berjalan melewati jalan berbatu. Maklum, rumahnya berjarak sekitar seratus meter dari jalan –yang katanya- raya.
Ia merasa sangat bangga selama menapaki jalan tersebut. Bagaimana tidak, saat ini, pemuda kampung yang dulu sering diperolok, pulang dengan gelar sarjana dipundaknya. Pun orang-orang yang ditemuinya sepanjang jalan, menyapa dengan garis bibir melebar dan melengkung keatas disertai dengan pandangan mata yang bersinar. Ah, pasti amaknya telah bercerita kepada mereka bahwa anaknya, Pono, telah menjadi seorang sarjana.
Pono akhirnya sampai dirumah. Pintu tertutup. Keadan rumahnya masih sama seperti tiga bulan lalu, saat ia pulang terakhir kali.
Pono mengetuk. Lalu seakan telah direncanakan, pintu terbuka. Lebar. Dibalik pintu Amak sudah berdiri tegak, telah siap menunggu kedatangannya. Lalu tanpa ada kata-kata, Pono dan Amaknya berangkulan dengan erat. Lama.
Tak terasa setetes air bening jatuh dari kelopak –tua- mata Amak. Menuruni kerutan wajahnya dan akhirnya jatuh menyapa bahu Pono.
“Sudahlah, kau capekkan? Istirahatlah dulu.” Amak menghapus air matanya. Sisa isak masih ada.
Pono segera beranjak dari pintu, tanpa harus menunggu Amaknya berkata untuk kedua kali. Ia masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang tak menentu. Ia bahagia sekaligus sedih karena untuk detik-detik seperti ini abaknya tidak ada. Beliau telah terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, menghadapNya.
Namanya perjalanan jauh, saat ini, Pono merasa seluruh badannya pegal. Persendiannya kaku. Mungkin karena selama perjalanan ia hanya bisa duduk dengan sedikit pergerakan karena bangku bus agak kecil. Sehingga bahu para penumpang saling bersenggolan, termasuk ia.
Tak ada yang dilakukan Pono. Ia hanya duduk diatas dipan yang –sejak ia kecil- menjadi wadah pembuangan lelah. Pono disini –dirumahnya- tetapi sebenarnya pikiran melayang. Ia ingat pada kebersamaan dengan temannya, tertawa dan berbagi duka bersama. Tapi harus bagaimana lagi, edaran waktu membawanya ke saat ini, waktu dimana ia menyudahi pendidikan dan menghadapi dunia pengangguran, kata temannya.
Pono perlahan membaringkan tubuh. Matanya masih menatap hampa, kali ini mengarah ke loteng. Pikirannya membawa ia terbang ke ruang imaji. Menatap masa depan. Beberapa jenak, Pono diam dengan mata ditutup rapat. Ia –kemudian- tertidur. Matahari tergelincir, senjapun menjelang.
***
Malam semakin dingin. Lengkap sudah suramnya tanpa cahaya bulan, sebab saat ini adalah pergantian bulan Hijriah. Pantas saja disana, dilangit malam, tidak ada sedikitpun sinaran.
“Pono, apa rencana kamu selanjutnya?” Amak bertanya dengan tatapan serius. Suaranya rendah, membelai lembut langsung ke sisi hati Pono yang paling dalam.
“Yang pasti mencari kerja Mak…”
Kalimat itu keluar setelah Pono menarik nafas panjang.
“Saya akan mencari kerja di kota tempat saya belajar. Disana, disamping lowongan banyak, teman saya juga banyak. Siapa tahu mereka bisa membantu. Ya, daripada dikampung, paling juga hanya bertani, tiap hari berhadapan langsung dengan lumpur”
Ada sesuatu yang berubah dari Pono.
“Kapan kau berangkat?”
“Mungkin besok, Mak. Karena lebih cepat lebih baik”
Suasana hening kemudian menyelimuti mereka. Percakapan tadi tampaknya memberi arti yang tersembunyi. Wajah Amak tampak berubah tanpa sepengetahuan Pono. Seakan ada beban besar.
“Pono, begini…” kesunyian pecah.
“Seminggu lalu Ni Suli, kakak almarhum Abakmu, datang kesini. Ia bermaksud memintamu menjadi menantu. Ia ingin kau menikah dengan anaknya Puti Nilam…” Suara Amaknya berat. Tampak sekali sebuah beban menghinggapi Amak saat merangkai kata menjadi kalimat.
“Puti Nilam? Bukankah ia kemenakan abak?”
“Iya, makanya itu, dia kan bakomu, apa salahnya. Justru orang-orang tua dahulu sangat menganjurkan hal yang seperti itu”. Amak mencoba memperjelas.
“Kamu –baiknya- menerima. Amak sebenarnya bukan ingin mengungkit, tapi Amak harus mengatakannya bahwa…biaya belajarmu selama ini, sebagian besar adalah dari keluarga mereka. Kamu pasti tahu, tak mungkin amak membiayaimu sendiri hanya dengan sepetak sawah…”
Entah apa yang dirasakan Pono. Baginya mendengar penuturan amaknya tadi bukanlah wujud kebahagiaan. Ia tidak menyangka itu semua. Walaupun dalam hatinya ia tahu bahwa Puti Nilam adalah gadis yang lumayan cantik, sekaligus terpandang di negerinya.
“Saya rasa, saya tak bisa. Perasaan tidak bisa dibarter dengan materi. Kalau memang orang-orang tua dulu menganjurkan, suruh saja mereka melakukannya. Lagi pula mereka tidak lagi hidup, kalaupun mereka masih bernyawa saat ini, pasti mereka sudah setengah gila, pikun” Sangat terasa keberubahan Pono. Angkuh.
Sepi kembali menyelimuti Pono dan amaknya. –juga seluruh rumah itu-. Dimata Pono, jelas sekali tersirat gundah yang luar biasa. Tak menyangka ia akan bernasib seperti ini.
“Sudahlah mak…saya letih. Saya belum bisa, bahkan mungkin tidak bisa memutuskannya”. Pono berjalan menuju kamar, meninggalkan Amaknya yang masih terpaku di tengah ruangan. Pono kusut.
Amak diam beribu bahasa, sembari memikirkan apa yang akan terjadi. Tapi biarlah, semua itu pasti sudah diatur Yang Diatas, pikirnya.
Udara semakin dingin, menandakan malam terus beranjak. Beberapa jenak setelah Pono masuk kamar, Amak masih disitu. Lalu Amak mendengar suara tak karuan dari kamar Pono. Samar.
“Yosa….Yosa…”
Pono mengigau. Amak mendengarnya. Malam semakin larut.
Padang, Sept ‘05
Pun pada sebuah kamar, udara seakan memuai oleh sinar mentari. Apalagi jendela-jendela kamar tersebut tepat mengarah ke Barat. Sehingga, sesaat setelah matahari tergelincir, sedikit demi sedikit sinar terang si raja siang akan menerobos masuk. Awalnya Cuma sejengkal, namun semakin sore semakin banyak terobosan sinar panas itu. Bahkan bisa dikatakan hampir sebagian kamar akan terang. Itu kalau cuaca cerah.
Di kamar itu tampak seorang anak muda yang wajahnya menyiratkan keletihan. Sangat. Pono, namanya. Saat itu Toga, atribut kewisudaan, masih melekat di badannya. Hanya topi saja yang sudah terlepas. Tadi, baru saja ia masuk kamar, ia segera membuka topi dan melemparkannya ke dipan. Untuk sesaat topi itu melayang, berputar diudara dan akhirnya jungkir balik diatas kasur.
Pono teramat lelah karena sedari pagi ia telah memulai aktifitas rutinnya –mandi, makan, berangkat-. Pagi sekali. Ditambah lagi hari ini adalah hari wisuda. Saat yang telah ia nanti-nantikan sejak empat tahun lalu. Prosesi wisudapun ia ikuti sepenuhnya, yang berlangsung sekitar dua atau tiga jam. Setelah itu, niatnya langsung pulang, namun ia di tahan temannnya. Ia –setengah- dipaksa untuk membayarkan seluruh makanan yang mereka peasan, atau yang lebih sering disebut traktir.
“Hitung-hitung sambil syukuran. Lagipula, kapan lagi kau mentraktir kami? Besok-besok pasti kau sudah akan sibuk menghadapi dunia pengangguran” kata temannya saat itu, yang diiringi oleh tawa jenaka.
Ada-ada saja yang dikatakan temannya tadi. Sebagian besar, setelah kalimat demi kalimat terlontar, akan diiringi oleh tawa. Lepas. Saat seperti itulah yang disukai Pono, berkumpul dan ber-suka ria. Ia tak tahu bagaimana jadinya jika ia harus jauh dari mereka. Mungkin ia kan merasa sepi, tanpa ada lagi kata ceria. Ya, Pono akan merasa kesepian dan akan selalu merindukan mereka.
Dalam kepala Pono saat ini telah tersusun rencana. Ia akan berusaha mencari kerja disini, di kota ini, agar setiap hari ia bisa berkumpul dengan teman-temannya tadi.
Pono masih duduk di bibir dipan. Panasnya matahari –yang mulai menerebos- membuatnya kehilangan banyak keringat dan menjadikan mukanya merah. Ia lalu ingat sesuatu, dua hari yang lalu ia menerima surat dari kampung, amaknya. Isi surat itu mengabarkan bahwa, secepatnya, setelah wisuda ia harus pulang. Juga dikatakan bahwa saat wisuda nanti –hari ini- amaknya tidak bisa hadir karena harus mengurus sawah mereka yang tinggal satu petak. Kecil.
Pono paham sangat atas isi surat amaknya. Dari itu, ia juga telah berencana. Besok –pagi-pagi sekali- ia akan pulang kampung, paling tidak menemui amaknya. Dan setelah itu beberapa hari –barangkali juga sehari- dikampung, ia akan kembali lagi. Rencana.
Matahari makin tergelincir. Kaki Pono yang terjuntai telah –sedikit- disapa sinar matahari. Panas. Tapi Pono sudah terbiasa.
***
Pono baru saja menjejalkan kakinya dijalan yang beraspal kecil. Ia telah sampai di kampung. Perjalanan yang –lumayan- jauh telah ia tempuhi, sekitar empat jam perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Untuk sampai ke rumah, ia masih harus berjalan melewati jalan berbatu. Maklum, rumahnya berjarak sekitar seratus meter dari jalan –yang katanya- raya.
Ia merasa sangat bangga selama menapaki jalan tersebut. Bagaimana tidak, saat ini, pemuda kampung yang dulu sering diperolok, pulang dengan gelar sarjana dipundaknya. Pun orang-orang yang ditemuinya sepanjang jalan, menyapa dengan garis bibir melebar dan melengkung keatas disertai dengan pandangan mata yang bersinar. Ah, pasti amaknya telah bercerita kepada mereka bahwa anaknya, Pono, telah menjadi seorang sarjana.
Pono akhirnya sampai dirumah. Pintu tertutup. Keadan rumahnya masih sama seperti tiga bulan lalu, saat ia pulang terakhir kali.
Pono mengetuk. Lalu seakan telah direncanakan, pintu terbuka. Lebar. Dibalik pintu Amak sudah berdiri tegak, telah siap menunggu kedatangannya. Lalu tanpa ada kata-kata, Pono dan Amaknya berangkulan dengan erat. Lama.
Tak terasa setetes air bening jatuh dari kelopak –tua- mata Amak. Menuruni kerutan wajahnya dan akhirnya jatuh menyapa bahu Pono.
“Sudahlah, kau capekkan? Istirahatlah dulu.” Amak menghapus air matanya. Sisa isak masih ada.
Pono segera beranjak dari pintu, tanpa harus menunggu Amaknya berkata untuk kedua kali. Ia masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang tak menentu. Ia bahagia sekaligus sedih karena untuk detik-detik seperti ini abaknya tidak ada. Beliau telah terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, menghadapNya.
Namanya perjalanan jauh, saat ini, Pono merasa seluruh badannya pegal. Persendiannya kaku. Mungkin karena selama perjalanan ia hanya bisa duduk dengan sedikit pergerakan karena bangku bus agak kecil. Sehingga bahu para penumpang saling bersenggolan, termasuk ia.
Tak ada yang dilakukan Pono. Ia hanya duduk diatas dipan yang –sejak ia kecil- menjadi wadah pembuangan lelah. Pono disini –dirumahnya- tetapi sebenarnya pikiran melayang. Ia ingat pada kebersamaan dengan temannya, tertawa dan berbagi duka bersama. Tapi harus bagaimana lagi, edaran waktu membawanya ke saat ini, waktu dimana ia menyudahi pendidikan dan menghadapi dunia pengangguran, kata temannya.
Pono perlahan membaringkan tubuh. Matanya masih menatap hampa, kali ini mengarah ke loteng. Pikirannya membawa ia terbang ke ruang imaji. Menatap masa depan. Beberapa jenak, Pono diam dengan mata ditutup rapat. Ia –kemudian- tertidur. Matahari tergelincir, senjapun menjelang.
***
Malam semakin dingin. Lengkap sudah suramnya tanpa cahaya bulan, sebab saat ini adalah pergantian bulan Hijriah. Pantas saja disana, dilangit malam, tidak ada sedikitpun sinaran.
“Pono, apa rencana kamu selanjutnya?” Amak bertanya dengan tatapan serius. Suaranya rendah, membelai lembut langsung ke sisi hati Pono yang paling dalam.
“Yang pasti mencari kerja Mak…”
Kalimat itu keluar setelah Pono menarik nafas panjang.
“Saya akan mencari kerja di kota tempat saya belajar. Disana, disamping lowongan banyak, teman saya juga banyak. Siapa tahu mereka bisa membantu. Ya, daripada dikampung, paling juga hanya bertani, tiap hari berhadapan langsung dengan lumpur”
Ada sesuatu yang berubah dari Pono.
“Kapan kau berangkat?”
“Mungkin besok, Mak. Karena lebih cepat lebih baik”
Suasana hening kemudian menyelimuti mereka. Percakapan tadi tampaknya memberi arti yang tersembunyi. Wajah Amak tampak berubah tanpa sepengetahuan Pono. Seakan ada beban besar.
“Pono, begini…” kesunyian pecah.
“Seminggu lalu Ni Suli, kakak almarhum Abakmu, datang kesini. Ia bermaksud memintamu menjadi menantu. Ia ingin kau menikah dengan anaknya Puti Nilam…” Suara Amaknya berat. Tampak sekali sebuah beban menghinggapi Amak saat merangkai kata menjadi kalimat.
“Puti Nilam? Bukankah ia kemenakan abak?”
“Iya, makanya itu, dia kan bakomu, apa salahnya. Justru orang-orang tua dahulu sangat menganjurkan hal yang seperti itu”. Amak mencoba memperjelas.
“Kamu –baiknya- menerima. Amak sebenarnya bukan ingin mengungkit, tapi Amak harus mengatakannya bahwa…biaya belajarmu selama ini, sebagian besar adalah dari keluarga mereka. Kamu pasti tahu, tak mungkin amak membiayaimu sendiri hanya dengan sepetak sawah…”
Entah apa yang dirasakan Pono. Baginya mendengar penuturan amaknya tadi bukanlah wujud kebahagiaan. Ia tidak menyangka itu semua. Walaupun dalam hatinya ia tahu bahwa Puti Nilam adalah gadis yang lumayan cantik, sekaligus terpandang di negerinya.
“Saya rasa, saya tak bisa. Perasaan tidak bisa dibarter dengan materi. Kalau memang orang-orang tua dulu menganjurkan, suruh saja mereka melakukannya. Lagi pula mereka tidak lagi hidup, kalaupun mereka masih bernyawa saat ini, pasti mereka sudah setengah gila, pikun” Sangat terasa keberubahan Pono. Angkuh.
Sepi kembali menyelimuti Pono dan amaknya. –juga seluruh rumah itu-. Dimata Pono, jelas sekali tersirat gundah yang luar biasa. Tak menyangka ia akan bernasib seperti ini.
“Sudahlah mak…saya letih. Saya belum bisa, bahkan mungkin tidak bisa memutuskannya”. Pono berjalan menuju kamar, meninggalkan Amaknya yang masih terpaku di tengah ruangan. Pono kusut.
Amak diam beribu bahasa, sembari memikirkan apa yang akan terjadi. Tapi biarlah, semua itu pasti sudah diatur Yang Diatas, pikirnya.
Udara semakin dingin, menandakan malam terus beranjak. Beberapa jenak setelah Pono masuk kamar, Amak masih disitu. Lalu Amak mendengar suara tak karuan dari kamar Pono. Samar.
“Yosa….Yosa…”
Pono mengigau. Amak mendengarnya. Malam semakin larut.
Padang, Sept ‘05
PRASASTI BERDAUN
Kulangkahkan kakiku mengikuti alur jalan setapak yang dulu sangat akrab dengan hari-hariku. Pikiranku berkecamuk hebat seiring dengan rasa bersalah dan rasa menyesal yang selalu mendesak di dada. Aku tak tahu apakah disana masih tumbuh sebatang pohon yang pernah menjadi tempat terindah bagiku. Dulu. Tempat dimana aku biasa tertawa dan berbagi rasa bersama seseorang yang selama ini menghantui pikiranku.
Hatiku sedikit lega ketika disana kumasih melihat sebatang pohon . Ia masih berdiri kokoh, menampakkan rindang daunnya dan menawarkan kesejukan alami di tengah teriknya sinar matahari. Kulihat ada sedikit yang berubah dari pohon itu, terutama pada sebuah tulisan yang tergores di batangnya. Kulihat pohon itu semakin subur dan tulisannya semakin indah. Seakan dibuat dengan penuh rasa dan konsentrasi tinggi. Mungkin edaran waktulah yang telah menyebabkan itu semua.
Segera kududukkan tubuhku diatas sebongkah batu yang ada tepat di bawah pohon itu. Sehelai daun kering melayang. Indah, seiring sepoinya angin. Seketika pikiranku terbang jauh ke masa silam. Masa yang sangat indah, yang telah memberikan suatu warna kehidupan tersendiri. Bagiku. Aku merasa teramat rindu dan ingin mengulang kembali hari-hari itu. Namun apalah dayaku. Aku hanya manusia biasa, bagian dari kebanyakan yang tak punya kuasa barang secuilpun.
Hatiku semakin kalut. Gelisah, rindu kala kusadar ku telah melewatkan hari-hariku dengan tawa dan sorakan ceria. Sedangkan disini, di pohon ini, ku yakin ada seseorang yang sangat mengharapkan kehadiran seorang pecundang ini. Sosok indah yang pernah memberikan kebahagiaan bagiku dan memberikan kesejukan saat hatiku dilanda kegersangan.
Sesekali kuarahkan mata ke ujung jalan setapak ini. Berharap ku kan melihatmu, melangkah mendekatiku dengan lambaian rambut indahmu. Aku masih ingat sebersit senyum di bibir indahmu yang sangat mempesona. Aku masih ingat akan rona merah yang menghiasi wajahmu. Dan aku masih ingat semua keindahan yang melekat pada dirimu.
***
“Di…” suara itu terdengar serak memecah kesunyian sore itu. Kulihat kau menunduk. Menahan segala rasa yang aku tak mengerti.
“Kenapa harus selalu ada perpisahan….” Suaramu semakin serak dan terhenti mendadak. Kembali kulihat kau tertunduk. Kali ini kau mengeluarkan sehelai sapu tangan merah jambu dan menghapus air mata yang jatuh menelusuri wajah indahmu. Aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun karena memang aku tak bisa menjelaskannya. Atau mungkin juga aku terlalu terbawa keadaan hingga tak dapat mengingat sepatah katapun.
“Kenapa harus selalu ada perpisahan jika pertemuan itu membahagiakan…”
Kau mengulang pertanyaanmu, lebih lengkap. Kaupun menegakkan kepala, mencoba manahan jatuhan ait mata berikutnya. Kulihat sepasang mata indahmu memerah. Rambut halusmu yang sepunggung tetap melambai seiring hembusan angin sore.
“Entahlah…” hening kembali menyelimuti, menggoreskan sebuah rasa mendesak yang tak mungkin bisa kuungkap walau menggunakan seluruh kosakata yang ada dalam kamus milikku.
“Inilah kodratnya hukum alam. Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan” Hening.
“Kita tak mungkin bisa mengingkarinya”
Kucoba merangkai kata itu di tengah kekalutan hati. Kau kemudian menatapku, dalam. Seolah ingin menyelami hatiku dan mencari tahu segalanya. Aku tak bisa membalas tatapanmu yang begitu tajam, hingga akhirnya ku dongakkan kepalaku menatap segumpalan awan yang seakan terus menyaksikan dan ikut merasakan segala kegalauanku. Di atas sana matahari mulai condong, namun tetap memancarkan sinar terangnya.
“Vi…” kini giliranku memecah kesunyian nan indah ini.
“Jangan kau tangisi keadaan ini. Bukan kau atau aku yang salah. Mungkin ini adalah jalan terbaik yang telah di gariskan-Nya bagi kita.”
Kau mulai tenang, walau matamu masih terlihat basah. Di genangi oleh tetesan air yang tak kunjung jatuh.
“Di…maukah kau berjanji padaku?” pertanyaan itu terdengar amat lembut di telingaku, namun mengandung suatu makna pengharapan yang cukup besar. Kau kembali menatapku, dalam. Menunggu jawaban untuk menyanggupi pertanyaanmu. Aku mengangguk. Pelan.
“Janjilah kepadaku…tepat setahun lagi kau akan disini, di bawah pohon ini. Untukku…”
“Baiklah…aku janji”
Kau berdiri perlahan, sesaat setelah mendengar perkataanku. Kau mengambil sekerat pecahan batu. Kulihat matamu masih merah. Aku hanya diam menyaksikan apa yang kau lakukan, karena aku begitu hanyut terbawa suasana hati yang tak menentu. Aku memperhatikan setiap gerakanmu yang semuanya terasa sangat mempesona. Perlahan kau melangkah menuju pohon yang aku jadikan sandaran. Kemudian menggoresnya dengan bongkahan batu yang tadi kau ambil. Kau menulis sebuah nama. Namaku.
Matahari makin tergelincir, mencoba menyembunyikan terangnya di balik gunung. Anginpun semakin sepoi, membawa aura dingin yang segar. Kamipun melangkah pergi menjauhi tempat itu, kembali menelusuri jalan setapak yang terasa kian menyempit. Nyanyian burung yang kembali kesarangnya mengiringi langkahku dan langkahmu. Perlahan tirai malampun menampakkan wujudnya.
***
Gemerisik daun yang di belai angin terasa indah di telingaku, memberikan suatu melodi tersendiri yang semakin menghanyutkan pikirankku. Aku masih duduk disini. Mencoba lagi merangkai bayangan indah yang terus mengisi imajiku.
Aku sadar, empat tahun sudah aku bergelut dengan ganasnya gelombang kehidupan, dan sudah empat tahun pula aku tak pernah menatap dan menerima kabar darimu. Aku masih ingat akan janji yang dulu pernah aku ucapkan. Disini. Namun apa daya, aku tak bisa menepatinya. Aku merasa tak punya keberanian untuk menemuimu tiga tahun yang lalu. Aku tak sanggup menemuimu dengan keadaanku yang belum matang dan aku tak siap menghadapi segala perubahan, terutama pada dirimu.
Namun jauh di lubuk hatiku, aku yakin kau pasti menunggu pecundang ini. Firasatku mengatakan kau masih menyempatkan datang ketempat indah ini. Mengenang sebuah nama.
“Sudahlah…jangan kau pikirkan lagi masa yang sudah menghilang di bawa gelombang kehidupan” suara itu membangunkanku dari lamunan panjang. Tanpa kusadari, disampingku telah berdiri sesosok tubuh yang sudah termakan usia. Ia terlihat sangat bijaksana. Aku masih sedikit kaget saat ia mulai mengambil tempat duduk di sampingku.
“Maaf kek…siapakah kakek ini?” aku memberanikan diri untuk bertanya karena akan terasa aneh jika berbicara dengan orang yang tidak kita kenal.
“Apakah kau yang bernama Fardi?” kakek itu balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaanku sebelumnya.
“Ya”
“Hidup ini memiliki banyak rahasia. Mungkin rahasia itu adalah jalan terbaik yang telah diaturNya”
Suaranya semakin berwibawa dan mengandung arti yang sulit kumengerti.
“Begitu juga dengan pohon ini, juga memiliki rahasia. Nak, sebenarnya aku telah tahu siapa kamu dan tahu sedikit kisah hidupmu.”
“Bagaimana kakek bisa tahu?”
“Tiga tahun yang lalu, seorang gadis cantik sering datang kesini dan duduk di bawah pohon ini dalam kesendirian. Aku selalu memperhatikan. Dan suatu hari aku mendekatinya. Mulai saat itu ia menceritakan kisah hidupnya setiap ia duduk disini” Aku mulai tertarik dengan ceritanya yang sangat menyentuh. Aku juga merasa cerita itu ada kaitannya denganku.
“Coba kau perhatikan, apakah pohon ini masih sama dengan pohon yang terakhir kau lihat..?”
Akupun memperhatikan pohon ini dengan seksama. Daunnya masih segar begitu juga dengan sebuah tulisan yang masih ada pada batangnya, namun sedikit berubah. Lebih indah.
“Aku tak yakin….namun pohon ini memang sedikit berubah”
“Enam bulan setelah kalian berpisah, sebuah petir menghantam pohon ini dan menyebabkannya mati. Kemudian gadis itu kembali menanam pohon yang baru, tepat disini. Ia kemudian merawatnya dengan telaten. Ia mengatakan bahwa ada seseorang yang akan sedih jika pohon ini mati” Hatiku bergetar dan mataku terasa berat, seakan ingin mengeluarkan beberapa tetes airnya.
“Kemudian kira-kira tiga tahun yang lalu, ia datang lagi. Menunggumu dengan penuh harapan. Ia mengatakan bahwa hari itu adalah hari yang kau janjikan untuk menemuinya. Ia menunggumu sambil mengukir ulang namamu di pohon baru ini. Kulihat ia begitu kecewa. Akhirnya ia pulang sambil menyapu air matanya”
Tanpa sadar setetes air bening jatuh dari pelupuk mataku. Aku tahu ia pasti merasa terpukul saat itu karena telah dikecewakan oleh seseorang yang sangat di dambanya. Aku.
“Tiga bulan yang lalu ia datang lagi, namun hanya sebentar. Ia menitipkan sebuah surat kepadaku. Ini…” kemudian ia segera melangkah pergi. Meninggalkanku yang masih saja duduk dengan segala rasa yang semakin tak menentu.
Apa yang akan kukatakan nanti jika esok takdir mempertemukanku denganmu. Entahlah. Namun yang pasti ketidakhadiranku saat itu semta-mata karena kelemahan dan ketakutanku.
***
Angin berhembus sedikit kencang melambai pada setiap benda yamg dilaluinya. Diatas awan cukup berat dengan warna yang menghitam. Sesekali terdengar suara petir yang membahana seakan ingin menunjukkan keberadaannya. Sesosok tubuh tampak melangkah tergesa, mencoba sampai dirumah sebelum tetes demi tetes hujan menyentuh kulitnya. Ia baru saja kembali dari suatu tempat yang baginya sangat berarti. Setiap hari ia selalu kesana, ke sebuah pohon, dan selalu melakukan hal yang sama. Duduk bermenung.
Sesampainya di persimpangan, ia mengambil arah yang sangat jarang ia lewati. Jalan itu adalah jalan terdekat menuju rumahnya, namun disana ia harus melewati sebuah pemakaman.
Sekilas ia melirik kesebuah pusara yang terlihat baru. Tiba-tiba ia berhenti. Seluruh tubuhnya lemas, hingga ia harus berlutut di pusara itu. Rintik hujan menjelma lebat, turun membasahi dedaunan dan seluruh yang ada di tempat itu, termasuk ia. Namun ia tak peduli, ia tetap berlutut disana, walau ditengah gemuruh petir yang menyambar.
Sosok tubuh itu menangis, memanggil lirih sebuah nama, Vira. Sosok tubuh itu adalah…aku.
Hatiku sedikit lega ketika disana kumasih melihat sebatang pohon . Ia masih berdiri kokoh, menampakkan rindang daunnya dan menawarkan kesejukan alami di tengah teriknya sinar matahari. Kulihat ada sedikit yang berubah dari pohon itu, terutama pada sebuah tulisan yang tergores di batangnya. Kulihat pohon itu semakin subur dan tulisannya semakin indah. Seakan dibuat dengan penuh rasa dan konsentrasi tinggi. Mungkin edaran waktulah yang telah menyebabkan itu semua.
Segera kududukkan tubuhku diatas sebongkah batu yang ada tepat di bawah pohon itu. Sehelai daun kering melayang. Indah, seiring sepoinya angin. Seketika pikiranku terbang jauh ke masa silam. Masa yang sangat indah, yang telah memberikan suatu warna kehidupan tersendiri. Bagiku. Aku merasa teramat rindu dan ingin mengulang kembali hari-hari itu. Namun apalah dayaku. Aku hanya manusia biasa, bagian dari kebanyakan yang tak punya kuasa barang secuilpun.
Hatiku semakin kalut. Gelisah, rindu kala kusadar ku telah melewatkan hari-hariku dengan tawa dan sorakan ceria. Sedangkan disini, di pohon ini, ku yakin ada seseorang yang sangat mengharapkan kehadiran seorang pecundang ini. Sosok indah yang pernah memberikan kebahagiaan bagiku dan memberikan kesejukan saat hatiku dilanda kegersangan.
Sesekali kuarahkan mata ke ujung jalan setapak ini. Berharap ku kan melihatmu, melangkah mendekatiku dengan lambaian rambut indahmu. Aku masih ingat sebersit senyum di bibir indahmu yang sangat mempesona. Aku masih ingat akan rona merah yang menghiasi wajahmu. Dan aku masih ingat semua keindahan yang melekat pada dirimu.
***
“Di…” suara itu terdengar serak memecah kesunyian sore itu. Kulihat kau menunduk. Menahan segala rasa yang aku tak mengerti.
“Kenapa harus selalu ada perpisahan….” Suaramu semakin serak dan terhenti mendadak. Kembali kulihat kau tertunduk. Kali ini kau mengeluarkan sehelai sapu tangan merah jambu dan menghapus air mata yang jatuh menelusuri wajah indahmu. Aku tak bisa mengeluarkan sepatah katapun karena memang aku tak bisa menjelaskannya. Atau mungkin juga aku terlalu terbawa keadaan hingga tak dapat mengingat sepatah katapun.
“Kenapa harus selalu ada perpisahan jika pertemuan itu membahagiakan…”
Kau mengulang pertanyaanmu, lebih lengkap. Kaupun menegakkan kepala, mencoba manahan jatuhan ait mata berikutnya. Kulihat sepasang mata indahmu memerah. Rambut halusmu yang sepunggung tetap melambai seiring hembusan angin sore.
“Entahlah…” hening kembali menyelimuti, menggoreskan sebuah rasa mendesak yang tak mungkin bisa kuungkap walau menggunakan seluruh kosakata yang ada dalam kamus milikku.
“Inilah kodratnya hukum alam. Dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan” Hening.
“Kita tak mungkin bisa mengingkarinya”
Kucoba merangkai kata itu di tengah kekalutan hati. Kau kemudian menatapku, dalam. Seolah ingin menyelami hatiku dan mencari tahu segalanya. Aku tak bisa membalas tatapanmu yang begitu tajam, hingga akhirnya ku dongakkan kepalaku menatap segumpalan awan yang seakan terus menyaksikan dan ikut merasakan segala kegalauanku. Di atas sana matahari mulai condong, namun tetap memancarkan sinar terangnya.
“Vi…” kini giliranku memecah kesunyian nan indah ini.
“Jangan kau tangisi keadaan ini. Bukan kau atau aku yang salah. Mungkin ini adalah jalan terbaik yang telah di gariskan-Nya bagi kita.”
Kau mulai tenang, walau matamu masih terlihat basah. Di genangi oleh tetesan air yang tak kunjung jatuh.
“Di…maukah kau berjanji padaku?” pertanyaan itu terdengar amat lembut di telingaku, namun mengandung suatu makna pengharapan yang cukup besar. Kau kembali menatapku, dalam. Menunggu jawaban untuk menyanggupi pertanyaanmu. Aku mengangguk. Pelan.
“Janjilah kepadaku…tepat setahun lagi kau akan disini, di bawah pohon ini. Untukku…”
“Baiklah…aku janji”
Kau berdiri perlahan, sesaat setelah mendengar perkataanku. Kau mengambil sekerat pecahan batu. Kulihat matamu masih merah. Aku hanya diam menyaksikan apa yang kau lakukan, karena aku begitu hanyut terbawa suasana hati yang tak menentu. Aku memperhatikan setiap gerakanmu yang semuanya terasa sangat mempesona. Perlahan kau melangkah menuju pohon yang aku jadikan sandaran. Kemudian menggoresnya dengan bongkahan batu yang tadi kau ambil. Kau menulis sebuah nama. Namaku.
Matahari makin tergelincir, mencoba menyembunyikan terangnya di balik gunung. Anginpun semakin sepoi, membawa aura dingin yang segar. Kamipun melangkah pergi menjauhi tempat itu, kembali menelusuri jalan setapak yang terasa kian menyempit. Nyanyian burung yang kembali kesarangnya mengiringi langkahku dan langkahmu. Perlahan tirai malampun menampakkan wujudnya.
***
Gemerisik daun yang di belai angin terasa indah di telingaku, memberikan suatu melodi tersendiri yang semakin menghanyutkan pikirankku. Aku masih duduk disini. Mencoba lagi merangkai bayangan indah yang terus mengisi imajiku.
Aku sadar, empat tahun sudah aku bergelut dengan ganasnya gelombang kehidupan, dan sudah empat tahun pula aku tak pernah menatap dan menerima kabar darimu. Aku masih ingat akan janji yang dulu pernah aku ucapkan. Disini. Namun apa daya, aku tak bisa menepatinya. Aku merasa tak punya keberanian untuk menemuimu tiga tahun yang lalu. Aku tak sanggup menemuimu dengan keadaanku yang belum matang dan aku tak siap menghadapi segala perubahan, terutama pada dirimu.
Namun jauh di lubuk hatiku, aku yakin kau pasti menunggu pecundang ini. Firasatku mengatakan kau masih menyempatkan datang ketempat indah ini. Mengenang sebuah nama.
“Sudahlah…jangan kau pikirkan lagi masa yang sudah menghilang di bawa gelombang kehidupan” suara itu membangunkanku dari lamunan panjang. Tanpa kusadari, disampingku telah berdiri sesosok tubuh yang sudah termakan usia. Ia terlihat sangat bijaksana. Aku masih sedikit kaget saat ia mulai mengambil tempat duduk di sampingku.
“Maaf kek…siapakah kakek ini?” aku memberanikan diri untuk bertanya karena akan terasa aneh jika berbicara dengan orang yang tidak kita kenal.
“Apakah kau yang bernama Fardi?” kakek itu balik bertanya tanpa menghiraukan pertanyaanku sebelumnya.
“Ya”
“Hidup ini memiliki banyak rahasia. Mungkin rahasia itu adalah jalan terbaik yang telah diaturNya”
Suaranya semakin berwibawa dan mengandung arti yang sulit kumengerti.
“Begitu juga dengan pohon ini, juga memiliki rahasia. Nak, sebenarnya aku telah tahu siapa kamu dan tahu sedikit kisah hidupmu.”
“Bagaimana kakek bisa tahu?”
“Tiga tahun yang lalu, seorang gadis cantik sering datang kesini dan duduk di bawah pohon ini dalam kesendirian. Aku selalu memperhatikan. Dan suatu hari aku mendekatinya. Mulai saat itu ia menceritakan kisah hidupnya setiap ia duduk disini” Aku mulai tertarik dengan ceritanya yang sangat menyentuh. Aku juga merasa cerita itu ada kaitannya denganku.
“Coba kau perhatikan, apakah pohon ini masih sama dengan pohon yang terakhir kau lihat..?”
Akupun memperhatikan pohon ini dengan seksama. Daunnya masih segar begitu juga dengan sebuah tulisan yang masih ada pada batangnya, namun sedikit berubah. Lebih indah.
“Aku tak yakin….namun pohon ini memang sedikit berubah”
“Enam bulan setelah kalian berpisah, sebuah petir menghantam pohon ini dan menyebabkannya mati. Kemudian gadis itu kembali menanam pohon yang baru, tepat disini. Ia kemudian merawatnya dengan telaten. Ia mengatakan bahwa ada seseorang yang akan sedih jika pohon ini mati” Hatiku bergetar dan mataku terasa berat, seakan ingin mengeluarkan beberapa tetes airnya.
“Kemudian kira-kira tiga tahun yang lalu, ia datang lagi. Menunggumu dengan penuh harapan. Ia mengatakan bahwa hari itu adalah hari yang kau janjikan untuk menemuinya. Ia menunggumu sambil mengukir ulang namamu di pohon baru ini. Kulihat ia begitu kecewa. Akhirnya ia pulang sambil menyapu air matanya”
Tanpa sadar setetes air bening jatuh dari pelupuk mataku. Aku tahu ia pasti merasa terpukul saat itu karena telah dikecewakan oleh seseorang yang sangat di dambanya. Aku.
“Tiga bulan yang lalu ia datang lagi, namun hanya sebentar. Ia menitipkan sebuah surat kepadaku. Ini…” kemudian ia segera melangkah pergi. Meninggalkanku yang masih saja duduk dengan segala rasa yang semakin tak menentu.
Apa yang akan kukatakan nanti jika esok takdir mempertemukanku denganmu. Entahlah. Namun yang pasti ketidakhadiranku saat itu semta-mata karena kelemahan dan ketakutanku.
***
Angin berhembus sedikit kencang melambai pada setiap benda yamg dilaluinya. Diatas awan cukup berat dengan warna yang menghitam. Sesekali terdengar suara petir yang membahana seakan ingin menunjukkan keberadaannya. Sesosok tubuh tampak melangkah tergesa, mencoba sampai dirumah sebelum tetes demi tetes hujan menyentuh kulitnya. Ia baru saja kembali dari suatu tempat yang baginya sangat berarti. Setiap hari ia selalu kesana, ke sebuah pohon, dan selalu melakukan hal yang sama. Duduk bermenung.
Sesampainya di persimpangan, ia mengambil arah yang sangat jarang ia lewati. Jalan itu adalah jalan terdekat menuju rumahnya, namun disana ia harus melewati sebuah pemakaman.
Sekilas ia melirik kesebuah pusara yang terlihat baru. Tiba-tiba ia berhenti. Seluruh tubuhnya lemas, hingga ia harus berlutut di pusara itu. Rintik hujan menjelma lebat, turun membasahi dedaunan dan seluruh yang ada di tempat itu, termasuk ia. Namun ia tak peduli, ia tetap berlutut disana, walau ditengah gemuruh petir yang menyambar.
Sosok tubuh itu menangis, memanggil lirih sebuah nama, Vira. Sosok tubuh itu adalah…aku.
PERTIMBANGAN
Pertanyaan orang tuaku, akhir-akhir ini membuatku bosan dan pusing. Bagaimana tidak, setiap aku pulang kampung hal serupa selalu ditanyakan. Bahkan sering kali dalam sehari pertanyaan itu masuk ke telingaku lebih dari lima kali. Tentu bisa di bayangkan dan dihitung secara matematika; jika aku tinggal di kampung selama minimal tiga hari, pertanyaan itu akan menerpaku paling sedikit lima belas kali. Dan jika aku pulang sekali dalam tiga bulan, tentu hasilnya juga bisa di perkirakan berapa kali aku harus mengkonsumsi pertanyaan itu dalam setahun. Yang lebih menjemukan lagi, ternyata tanpa kusadari, pertanyaan yang satu itu telah di lontarkan orang tuaku lebih dari tiga setengah tahun yang lalu. Tentu saja dapat di taksir betapa bosannya aku.
Bukannya apa-apa, bukan karena jawaban dari pertanyaan itu sulit, bukan juga karena aku tidak menjawab. Namun sebaliknya, aku telah memaparkan dan menerangkan jawaban itu kepada kedua orang tuaku seterangnya terang. Namun mereka tetap saja nyinyir menanyakannya, seakan tidak mendengar jawabanku apalagi memahaminya. Yang dapat kulakukan selama ini hanya bersabar dan mencoba mengerti; mungkin itu sudah menjadi sifat orangtua.
“Mat…kapan lagi? Kamu kan sudah mendapatkan pekerjaan tetap…lalu apa lagi?”
“Sabarlah…pak,bu..”
“Sabar..sabar… Sudah berapa kali kau mengatakan sabar. Kami sudah bosan mendengarnya” kata orang tuaku selalu.
Begitulah, mereka selalu menanyakannya, sampai mereka juga selalu mengatakan bosan setiap aku memberikan jawaban. Seharusnya mereka juga mengerti, bukan hanya mereka yang bosan mendengar jawabku, tapi aku juga bosan mendengar pertanyaan mereka. Kalau sudah begitu, kenapa tidak mereka saja yang berhenti bertanya, dengan demikian mereka tak akan lagi mendengar jawabku. Dalam artian, kami tidak akan sama-sama bosan lagi.
“Kan sudah aku katakan, saat ini aku ingin memberikan… ya, serupa balas jasalah kepada bapak dan ibu” kataku dengan sejelas-jelasnya.
“Kan sudah kami katakan juga, kami itu tidak menuntut apa yang kau namakan balas jasa itu. Yang kami inginkan, kamu itu segera ber-rumah. Kamu tidak malu di katakan tidak laku? Ingat usiamu…”
Untuk setiap perdebatan dengan tema yang sama, dapat dipastikan aku akan selalu terdiam. Bukan mengaku kalah atau mengakui kebenaran orang tuaku, tapi karena itu tadi, bosan.
Alih-alih dari kebosanan, sebenarnya untuk urusan satu itu aku sudah punya rencana dan calon yang aku pikir sangat tepat. Namun sampai saat ini aku masih belum mengataknnya kepada orang tuaku karena pertimbangan tertentu. Antara lain karena aku belum pernah berbicara terlalu jauh dengan orang yang kusebut calon itu. Aku pun berpikir aku dan orang yang kusebut calon itu selama ini baru berteman saja. Oleh karena itu, aku rasa butuh konfirmasi lebih lanjut untuk urusan itu.
Tambahan lagi, jika sekarang aku mengatakan itu kepada kedua orang tuaku, aku pikir, aku sudah tahu jawabannya;
“Kapan acara itu akan dilaksanakan? Jangan menunggu tahun besoklah. Bulan besok? Atau kalau bisa minggu besok” begitulah kira-kira jwaban kedua orang tuaku. Aku yakin.
Lelah dengan perdebatan berulang dan membosankan akhirnya kuputuskan untuk mencoba meluluskan permintaan orang tuaku. Aku berencana untuk mengatakan -semacam konfirmasi- kepada orang yang yang kusebut calon itu tentang maksud dan tujuanku untuk memenangkan hatinya. Tentu saja aku takkan mengatakan bahwa ini adalah kemauan orang tuaku. Dengan sedikit retorika yang lebih dewasa, aku akan menyampaikan niatku itu –bisa dikatakan semacam rayuan-
Untuk hal ini, kemampuanku sebagai PR di perusahaan swasta terkenal pasti akan sangat membantu. Paling tidak, untuk urusan lobbying aku takkan lagi gugup.
Disisi lain, tentu rencanaku ini belum kusampaikan kepada orang tuaku, dengan pertimbangan…ya, itu tadi, aku tak ingin di desak dengan urusan seperti itu. Layaknya sebuah karir, aku yakin hal ini juga membutuhkan proses dan tahapan tertentu. Tidak mungkin kita meraih jabatan yang tinggi secara langsung. Semuanya pasti di mulai dari nol. Dan seiring dengan waktu serta kegigihan, tentunya suatu saat jabatan kita pasti akan meningkat. Begitu juga urusan yang satu ini. Aku tak mungkin langsung ke tujuan. Semuanya tergantung proses dan usaha. Pikirku. Denagn cara yang tepat, aku akan meyakinkan orang yang kusebut calon itu bahwa dia akan kujadikan pendamping hidup.
Pertimbangan lain kenapa rencana ini belum kusampaikan kepada kedua orang tuaku adalah karena aku ingin sedikit memberi kejutan dan membuktikan bahwa selama ini aku tidak mengabaikan urusan yang satu itu. Aku ingin perlihatkan bahwa selain karir aku juga memikirkan hari tuaku.
***
Kemaren sore aku berangkat dari rumah berniat untuk menemui orang yang kusebut calon itu dan menyampaikan maksudku. Waktu keberangkatan kemaren aku di lepas orangtuaku dengan pertanyaan yang sama,bahkan kali ini kurasakan lebih kepada pemaksaan. Apa boleh buat, saat itu pun aku diam. Lagi-lagi bosan melayani merka berdebat untuk tema yang selalu sama.
Senja. Sekarang aku duduk di bawah sebatang pohon yang aku tak tahu namanya. Menunggu orang yang kusebut calon itu disini, taman kota. Tempat dimana dulu aku dan dia biasa bersama, tertawa, bercanda melepaskan semua kepenatan pikiran dari hal-hal yang berbau kuliah. Biasanya kami datang kesini setiap akhir minggu. Duduk di bangku yang telah diatur sedemikian rupa mengelilingi setiap pohon yang ada di taman ini. Mengingat itu semua aku ingin tertawa sendiri karena begitu banyak kelucuan yang aku dan dia ciptakan.
Awalnya kami datang kesini bergerombol. Maksudnya aku, orang yang kusebut calon itu, dan beberapa teman lainnya. Alasan pertama adalah iseng dan mengurangi stress. Katanya. Namun ternyata acara akhir minggu ini berlanjut. Setiap minggu pasti kami datang kemari.
Seiring dengan waktu, pada akhir-akhir kuliah, gerombolan kami terus menyusut karena berbagai alasan. Entah itu capek, ujian, atau masalah klasik, dana. Hingga akhirnya hanya tinggal kami berdua yang mengikuti ritual akhir minggu itu. Aku dan orang yang kusebut calon itu.
Mulanya kami berteman. Tak ada perasaan sama sekali. Namun lambat laun, aku merasa ada perubahan. Waktu itu aku merasa ada yang kurang jika tidak bertemu dengannya (orang yang kusebut calon itu). Walaupun demikian, dari dulu hingga kini, tak pernah secuilpun kata yang keluar dari mulutku untuk mengatakan bahwa aku mempunyai perasaan terhadapnya. Untuk hal ini, tentu aku juga punya pertimbangan tertentu.
Disisi lain, melihat sikapnya terhadapku, aku rasa aku takkan meleset dari perkiraan bahwa orang yang kusebut calon itu juga punya rasa terhadapku. Paling tidak sedikit. Bagaimana tidak, aku menangkap sikap gugupnya setiap kami bertemu. Tambahan lagi, setiap aku mengajaknya ke taman kota ini, dia (orang yang kusebut calon itu) pasti menyanggupi. Meskipun aku tahu ssat itu dia sedang ujian, banyak tugas atau kegiatan lainnya.
Terakhir kali aku dan orang yang kusebut calon itu bertemu muka adalah sekitar empat tahun yang lalu. Saat itu aku telah menyelesaikan seluruh kredit kuliahku. Betapa senangnya aku, namun disisi lain aku juga sedikit berat hati meninggalakan orang yang kusebut calon itu. Dalam hati aku bertekad untuk suatu saat akan memenangkan hatinya. Dan masih dengan pertimbangan tertentu, pastinya saat itupun aku belum mengungkapkan isi hatiku padanya.
Lima belas menit berlalu. Aku masih duduk di bangku taman. Sendiri. Sampai detik ini aku belum juga melihat penampkan orang yang kusebut calon itu. Sebuah budaya keterlambatan yang lumrah untuk negara yang berbudaya, pikirku. Aneh. Yang namanya budaya, tentu semua hal yang menyangkut dengan itu sudah melekat erat dalam otak manusianya, tanpa pengecualian. Begitu juga dengan terlambat, sadar atau tidak, barangkali otak yang menganut budaya terlambat itu telah secara otomatis terisi dengan sistem keterlambatan. Walaupun pada kenyataannya si penganut budaya itu telah berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya. Aku menunggu.
Sembari menunggu, ku cek sakuku. Memastikan bahwa aku tidak melupakan sesuatu. Kotak kecil berwarna merah berisi cincin. Ya, cincin yang telah lama kusimpan. Dengan maksud suatu saat nanti akan ku pertunjukkan pada tempat, waktu dan untuk tujuan special. Kudapatkan cincin itu dua tahun lalu ketika aku dengan iseng berkunjung ke sebuah mall. Lalu tiba-tiba saat itu mataku menangkap penampakan sebuah cincin. Aku tertarik. Dan anehnya lagi, ketika aku menimang cincin itu untuk dibeli, aku langsung teringat pada orang yang kusebut calon itu. Mudah-mudahan ini pertanda baik. Do’a ku.
Tambahan lima belas menit lagi juga telah berlalu. Itu berarti setengah jam sudah –mungkin lebih- aku menunggu orang yang kusebut calon itu disini. Pikiran logisku muncul, barangkali dia tidak ingat, ada sesuatu yang harus dikerjakan, atau ada halangan lain. Kuputuskan, ada baiknya untuk menghubungi orang yang kusebut calon itu.
Kukeluarkan Handphone, mencari nomornya dan dial. Nomor orang yang kusebut calon itu -selain untuk mengajak bertemu hari ini melalui fasilitas SMS- tak pernah kuhubungi. Bukannya apa-apa, bukan lupa padanya, bukan sibuk, bukan juga ingin menjauhinya. Aku hanya tak ingin menghubungi karena ada pertimbangan tertentu. Selain tak ingin menggangu, aku ingin agar dengan jarangnya aku menghubungi orang yang kusebut calon itu dia akan merasa kehilangan. Kuharap begitu. Lagi pula, semenjak aku berpisah dengan orang yang ku sebut calon itu, aku sengaja mengganti nomor ponselku dengan alasan untuk sebuah keprofesionalitasan. Maksudnya, untuk batas waktu yang tidak tertentu, aku tak ingin diganggu oleh rekan-rekan yang dulu sering menelepon tak menentu. Ya, daripada mereka menggangu waktu aku bekerja, lebih baik aku mengganti nomor sekalian. Perlakuan ini kuratakan, termasuk kepada orang yang kusebut calon itu. Harapanku, dengan kulakukan hal seperti diatas, aku bisa lebih konsentrasi untuk menekuni duniaku hingga akhirnya karirku dapat melonjak dengan cepat.
Lima detik, enam detik, tujuh detik, akhirnya teleponku diangkat.
***
Di sebuah rumah yang lumayan mewah, seorang perempuan berparas cantik baru saja berbicara melalui Handphone-nya. Setelah menutup perbincangan itu ia menuju sebuah kamar dan membaringkan diatas ranjang seorang gadis cilik berusia sekitar dua tahun yang sedari tadi tertidur dalam pangkuannya. Setelah membelai sesaat, ia meninggalkan gadis cilik itu sendiri terbuai dalam mimpi.
“Mbok…”
Seorang wanita setengah baya muncul dari dapur.
“Mbok…Nisa tidur. Nanti kalau ayahnya pulang, katakan bahwa saya keluar sebentar menemui kawan lama”
Wanita setengah baya yang di panggil mbok itu mengangguk dan langsung menuju dapur sesaat setelah majikannya berlalu, membuka pintu dan menutupnya kembali. Pergi.
Padang, 200706
Bukannya apa-apa, bukan karena jawaban dari pertanyaan itu sulit, bukan juga karena aku tidak menjawab. Namun sebaliknya, aku telah memaparkan dan menerangkan jawaban itu kepada kedua orang tuaku seterangnya terang. Namun mereka tetap saja nyinyir menanyakannya, seakan tidak mendengar jawabanku apalagi memahaminya. Yang dapat kulakukan selama ini hanya bersabar dan mencoba mengerti; mungkin itu sudah menjadi sifat orangtua.
“Mat…kapan lagi? Kamu kan sudah mendapatkan pekerjaan tetap…lalu apa lagi?”
“Sabarlah…pak,bu..”
“Sabar..sabar… Sudah berapa kali kau mengatakan sabar. Kami sudah bosan mendengarnya” kata orang tuaku selalu.
Begitulah, mereka selalu menanyakannya, sampai mereka juga selalu mengatakan bosan setiap aku memberikan jawaban. Seharusnya mereka juga mengerti, bukan hanya mereka yang bosan mendengar jawabku, tapi aku juga bosan mendengar pertanyaan mereka. Kalau sudah begitu, kenapa tidak mereka saja yang berhenti bertanya, dengan demikian mereka tak akan lagi mendengar jawabku. Dalam artian, kami tidak akan sama-sama bosan lagi.
“Kan sudah aku katakan, saat ini aku ingin memberikan… ya, serupa balas jasalah kepada bapak dan ibu” kataku dengan sejelas-jelasnya.
“Kan sudah kami katakan juga, kami itu tidak menuntut apa yang kau namakan balas jasa itu. Yang kami inginkan, kamu itu segera ber-rumah. Kamu tidak malu di katakan tidak laku? Ingat usiamu…”
Untuk setiap perdebatan dengan tema yang sama, dapat dipastikan aku akan selalu terdiam. Bukan mengaku kalah atau mengakui kebenaran orang tuaku, tapi karena itu tadi, bosan.
Alih-alih dari kebosanan, sebenarnya untuk urusan satu itu aku sudah punya rencana dan calon yang aku pikir sangat tepat. Namun sampai saat ini aku masih belum mengataknnya kepada orang tuaku karena pertimbangan tertentu. Antara lain karena aku belum pernah berbicara terlalu jauh dengan orang yang kusebut calon itu. Aku pun berpikir aku dan orang yang kusebut calon itu selama ini baru berteman saja. Oleh karena itu, aku rasa butuh konfirmasi lebih lanjut untuk urusan itu.
Tambahan lagi, jika sekarang aku mengatakan itu kepada kedua orang tuaku, aku pikir, aku sudah tahu jawabannya;
“Kapan acara itu akan dilaksanakan? Jangan menunggu tahun besoklah. Bulan besok? Atau kalau bisa minggu besok” begitulah kira-kira jwaban kedua orang tuaku. Aku yakin.
Lelah dengan perdebatan berulang dan membosankan akhirnya kuputuskan untuk mencoba meluluskan permintaan orang tuaku. Aku berencana untuk mengatakan -semacam konfirmasi- kepada orang yang yang kusebut calon itu tentang maksud dan tujuanku untuk memenangkan hatinya. Tentu saja aku takkan mengatakan bahwa ini adalah kemauan orang tuaku. Dengan sedikit retorika yang lebih dewasa, aku akan menyampaikan niatku itu –bisa dikatakan semacam rayuan-
Untuk hal ini, kemampuanku sebagai PR di perusahaan swasta terkenal pasti akan sangat membantu. Paling tidak, untuk urusan lobbying aku takkan lagi gugup.
Disisi lain, tentu rencanaku ini belum kusampaikan kepada orang tuaku, dengan pertimbangan…ya, itu tadi, aku tak ingin di desak dengan urusan seperti itu. Layaknya sebuah karir, aku yakin hal ini juga membutuhkan proses dan tahapan tertentu. Tidak mungkin kita meraih jabatan yang tinggi secara langsung. Semuanya pasti di mulai dari nol. Dan seiring dengan waktu serta kegigihan, tentunya suatu saat jabatan kita pasti akan meningkat. Begitu juga urusan yang satu ini. Aku tak mungkin langsung ke tujuan. Semuanya tergantung proses dan usaha. Pikirku. Denagn cara yang tepat, aku akan meyakinkan orang yang kusebut calon itu bahwa dia akan kujadikan pendamping hidup.
Pertimbangan lain kenapa rencana ini belum kusampaikan kepada kedua orang tuaku adalah karena aku ingin sedikit memberi kejutan dan membuktikan bahwa selama ini aku tidak mengabaikan urusan yang satu itu. Aku ingin perlihatkan bahwa selain karir aku juga memikirkan hari tuaku.
***
Kemaren sore aku berangkat dari rumah berniat untuk menemui orang yang kusebut calon itu dan menyampaikan maksudku. Waktu keberangkatan kemaren aku di lepas orangtuaku dengan pertanyaan yang sama,bahkan kali ini kurasakan lebih kepada pemaksaan. Apa boleh buat, saat itu pun aku diam. Lagi-lagi bosan melayani merka berdebat untuk tema yang selalu sama.
Senja. Sekarang aku duduk di bawah sebatang pohon yang aku tak tahu namanya. Menunggu orang yang kusebut calon itu disini, taman kota. Tempat dimana dulu aku dan dia biasa bersama, tertawa, bercanda melepaskan semua kepenatan pikiran dari hal-hal yang berbau kuliah. Biasanya kami datang kesini setiap akhir minggu. Duduk di bangku yang telah diatur sedemikian rupa mengelilingi setiap pohon yang ada di taman ini. Mengingat itu semua aku ingin tertawa sendiri karena begitu banyak kelucuan yang aku dan dia ciptakan.
Awalnya kami datang kesini bergerombol. Maksudnya aku, orang yang kusebut calon itu, dan beberapa teman lainnya. Alasan pertama adalah iseng dan mengurangi stress. Katanya. Namun ternyata acara akhir minggu ini berlanjut. Setiap minggu pasti kami datang kemari.
Seiring dengan waktu, pada akhir-akhir kuliah, gerombolan kami terus menyusut karena berbagai alasan. Entah itu capek, ujian, atau masalah klasik, dana. Hingga akhirnya hanya tinggal kami berdua yang mengikuti ritual akhir minggu itu. Aku dan orang yang kusebut calon itu.
Mulanya kami berteman. Tak ada perasaan sama sekali. Namun lambat laun, aku merasa ada perubahan. Waktu itu aku merasa ada yang kurang jika tidak bertemu dengannya (orang yang kusebut calon itu). Walaupun demikian, dari dulu hingga kini, tak pernah secuilpun kata yang keluar dari mulutku untuk mengatakan bahwa aku mempunyai perasaan terhadapnya. Untuk hal ini, tentu aku juga punya pertimbangan tertentu.
Disisi lain, melihat sikapnya terhadapku, aku rasa aku takkan meleset dari perkiraan bahwa orang yang kusebut calon itu juga punya rasa terhadapku. Paling tidak sedikit. Bagaimana tidak, aku menangkap sikap gugupnya setiap kami bertemu. Tambahan lagi, setiap aku mengajaknya ke taman kota ini, dia (orang yang kusebut calon itu) pasti menyanggupi. Meskipun aku tahu ssat itu dia sedang ujian, banyak tugas atau kegiatan lainnya.
Terakhir kali aku dan orang yang kusebut calon itu bertemu muka adalah sekitar empat tahun yang lalu. Saat itu aku telah menyelesaikan seluruh kredit kuliahku. Betapa senangnya aku, namun disisi lain aku juga sedikit berat hati meninggalakan orang yang kusebut calon itu. Dalam hati aku bertekad untuk suatu saat akan memenangkan hatinya. Dan masih dengan pertimbangan tertentu, pastinya saat itupun aku belum mengungkapkan isi hatiku padanya.
Lima belas menit berlalu. Aku masih duduk di bangku taman. Sendiri. Sampai detik ini aku belum juga melihat penampkan orang yang kusebut calon itu. Sebuah budaya keterlambatan yang lumrah untuk negara yang berbudaya, pikirku. Aneh. Yang namanya budaya, tentu semua hal yang menyangkut dengan itu sudah melekat erat dalam otak manusianya, tanpa pengecualian. Begitu juga dengan terlambat, sadar atau tidak, barangkali otak yang menganut budaya terlambat itu telah secara otomatis terisi dengan sistem keterlambatan. Walaupun pada kenyataannya si penganut budaya itu telah berusaha sekuat tenaga untuk mengatasinya. Aku menunggu.
Sembari menunggu, ku cek sakuku. Memastikan bahwa aku tidak melupakan sesuatu. Kotak kecil berwarna merah berisi cincin. Ya, cincin yang telah lama kusimpan. Dengan maksud suatu saat nanti akan ku pertunjukkan pada tempat, waktu dan untuk tujuan special. Kudapatkan cincin itu dua tahun lalu ketika aku dengan iseng berkunjung ke sebuah mall. Lalu tiba-tiba saat itu mataku menangkap penampakan sebuah cincin. Aku tertarik. Dan anehnya lagi, ketika aku menimang cincin itu untuk dibeli, aku langsung teringat pada orang yang kusebut calon itu. Mudah-mudahan ini pertanda baik. Do’a ku.
Tambahan lima belas menit lagi juga telah berlalu. Itu berarti setengah jam sudah –mungkin lebih- aku menunggu orang yang kusebut calon itu disini. Pikiran logisku muncul, barangkali dia tidak ingat, ada sesuatu yang harus dikerjakan, atau ada halangan lain. Kuputuskan, ada baiknya untuk menghubungi orang yang kusebut calon itu.
Kukeluarkan Handphone, mencari nomornya dan dial. Nomor orang yang kusebut calon itu -selain untuk mengajak bertemu hari ini melalui fasilitas SMS- tak pernah kuhubungi. Bukannya apa-apa, bukan lupa padanya, bukan sibuk, bukan juga ingin menjauhinya. Aku hanya tak ingin menghubungi karena ada pertimbangan tertentu. Selain tak ingin menggangu, aku ingin agar dengan jarangnya aku menghubungi orang yang kusebut calon itu dia akan merasa kehilangan. Kuharap begitu. Lagi pula, semenjak aku berpisah dengan orang yang ku sebut calon itu, aku sengaja mengganti nomor ponselku dengan alasan untuk sebuah keprofesionalitasan. Maksudnya, untuk batas waktu yang tidak tertentu, aku tak ingin diganggu oleh rekan-rekan yang dulu sering menelepon tak menentu. Ya, daripada mereka menggangu waktu aku bekerja, lebih baik aku mengganti nomor sekalian. Perlakuan ini kuratakan, termasuk kepada orang yang kusebut calon itu. Harapanku, dengan kulakukan hal seperti diatas, aku bisa lebih konsentrasi untuk menekuni duniaku hingga akhirnya karirku dapat melonjak dengan cepat.
Lima detik, enam detik, tujuh detik, akhirnya teleponku diangkat.
***
Di sebuah rumah yang lumayan mewah, seorang perempuan berparas cantik baru saja berbicara melalui Handphone-nya. Setelah menutup perbincangan itu ia menuju sebuah kamar dan membaringkan diatas ranjang seorang gadis cilik berusia sekitar dua tahun yang sedari tadi tertidur dalam pangkuannya. Setelah membelai sesaat, ia meninggalkan gadis cilik itu sendiri terbuai dalam mimpi.
“Mbok…”
Seorang wanita setengah baya muncul dari dapur.
“Mbok…Nisa tidur. Nanti kalau ayahnya pulang, katakan bahwa saya keluar sebentar menemui kawan lama”
Wanita setengah baya yang di panggil mbok itu mengangguk dan langsung menuju dapur sesaat setelah majikannya berlalu, membuka pintu dan menutupnya kembali. Pergi.
Padang, 200706
P A W A I
Hujan rintik-rintik. Tetes demi tetesnya menyapa seluruh keberadaan alam semesta –paling tidak, ia menyapa sebuah nagari-. Udarapun semakin dingin teriring oleh lembab angin yang bertiup menyapa dedaun. Bukan hanya itu, keadaan nagari itu kelam tanpa ada sedikitpun sumber cahaya yang berasal dari langit, meski saat itu matahari baru beberapa menit meninggalkan labuhan senja.
Di kamar sebuah rumah yang tergolong mewah di nagari itu, tampak seorang anak muda yang sibuk mengeringkan badan. Maklum, ia baru sampai dirumah. Ia terpaksa sedikit berjalan dibawah rimis untuk dapat mencapai rumahnya tersebut.
Kutak, nama anak muda itu. Wajahnya menyiratkan sedikit lelah karena ia baru saja melakukan perjalanan yang cukup jauh –tiga jam perjalanan bus-. Tanpa ia sadari, telah tiga bulan ia tidak pulang kampung karena selama itu pula ia sibuk menuntut ilmu di nagari urang. Oleh karena itu ia sangat sulit meluangkan waktu untuk sekedar bertemu dengan orang tuanya atau bersilaturrahmi dengan penduduk nagari tempat kelahirannya.
Sengaja hari ini Kutak pulang karena besok, di nagari itu, akan diadakan sebuah acara perhelatan nagari berupa arak-arakan, atau yang lebih familiar dengan sebutan pawai. Biasanya acara ini diadakan untuk merayakan hari-hari besar nasional. Seluruh masyarakat –pun Kutak- selalu menantikan acara ini, yang -paling tidak- selalu diadakan minimal sekali setahun.
Bagi kalangan pemuda-pemudi, pawai ini merupakan suatu bentuk kegiatan yang dapat memfasilitasi mereka dalam berkarya dan menunjukkan kebolehan masing-masing. Berbagai atraksi atau pertunjukkan dipertontonkan kepada masyarakat umum di sepanjang jalan raya yang terbujur membagi dua nagari tersebut.
Tadi, pandangan Kutak sempat menangkap sekelompok pemuda kampungnya berkumpul di congkong*. Kutak menyaksikan mereka sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, meskipun saat itu rimis melanda. Dari itu, Kutak menyimpulkan bahwa mereka pasti mempersiapkan keperluan atau peralatan untuk acara besok. Beberapa bayang pemuda yang sempat dikenal Kutak adalah rekan sepermainannya dulu seperti Kimak, Sined, dan Cuwen –sebenarnya mereka sedikit lebih tua dari Kutak, namun karena namanya juga rekan sepermainan, Kutak memanggil mereka dengan sebutan nama saja-.
Ingin rasanya Kutak bergabung dengan mereka saat ini, namun apa boleh buat, saat ini ia merasa sangat lelah. Lagi pula, tetes air masih setia turun dari langit malam.
Beberapa jenak, Kutak masih melamun di atas pembaringan. Namun karena cuaca tidak baik dan udara semakin dingin, maka rasa kantukpun menyerang Kutak. Ia tertidur. Hujan masih rintik-rintik.
***
Esoknya, pagi cerah. Mungkin karena malam tadi langit telah menurunkan segala bebannya yang berupa air, hingga terbentuklah kata indah untuk awal hari ini. Pun Kutak, ia kelihatan sangat segar.
“Kutak, kapan kau balik ke Padang?” suara Amaknya. Saat itu mata Kutak menerawang jauh menyeruak sinar mentari pagi.
“Ya…mungkin besok Mak” singkat.
“Jadi, kau pulang hanya untuk menyaksikan pawai?”
“Begitulah Mak. Sebenarnya, kalau bisa, ambo ingin ikut berpawai seperti kawan-kawan yang lain, tapi mau bagaimana lagi… Ambo kan baru pulang tadi malam. Jadi sudah pasti mereka tidak mau menerima Ambo lagi, sebab –pasti juga- mereka sudah latihan dan mempersiapkan semuanya dari jauh hari”. Kutak berpaling menghadap orang tua yang dipanggilnya Amak itu.
“Niatmu itu bagus, tapi ya…salahmu sendiri kenapa pulang baru tadi malam? Kau kan bisa saja pulang dari minggu kemaren?”
“Ya, namanya juga Ambo kuliah Mak, tentu tidak bisa pulang seenaknya.”
“Eh, Kutak, sepertinya pawai kali ini tidak akan semeriah tahun yang lalu” suara Amak sedikit dilunakkan dan wajahnya tampak serius.
“Kenapa Mak?”
“Dengar-dengar kabar, katanya sebagian besar pemuda nagari kita ini kurang suka dengan Pak Wali yang baru”
“Pak Wali yang memimpin nagari ini?”. Kutakpun ikut-ikutan serius.
“Iya, siapa lagi? Bahkan ada kelompok pemuda yang katanya tidak mau ikut pawai”
“Sudahlah Mak, biar sajalah. Itu kan urusan mereka, yang penting pawai masih ada. Meskipun –kata amak tadi- ada pemuda yang tidak mau ikut lagi”
Percakapan berlanjut. Kutak dan Amaknya tenggelam dalam dialog pagi itu. Pun topik pembicaraan, sudah melebar kemana-mana, mulai dari keadaan nagari, tentang studinya Kutak, bahkan hingga amaknya bertanya tentang calon menantu.
Tak terasa, matahari semakin naik. Panasnya mulai menyengat kulit. Biasanya, meskipun cuaca panas, acara pawai akan tetap berlanjut. Tidak jarang diantara peserta pawai ada yang pingsan karena kepanasan. Dehidrasi, kata orang-orang sekarang.
Beberapa saat kemudian, tampak seorang anak muda melangkah keluar dari sebuah rumah yang tergolong mewah di nagari itu. Pakaiannya rapi, jalannya tenang. Ia adalah Kutak. Ia menapaki jalan menuju ke Balai Nagari. Ia ingin segera menyaksikan pawai.
Kutak sengaja menunggu di depan Balai Nagari, bergabung dengan temannya atau masyarakat lain yang tidak ikut berpawai. Seperti tahun-tahun kemaren, biasanya, tepat di depan Balai Nagari, setiap kelompok pawai akan berhenti sejenak untuk menampilkan kebolehan atau kreatifitas masing-masing. Biasanya lagi, setiap atraksi tersebut disaksikan langsung oleh Pak Wali yang duduk diatas Balai dan akan dinilai oleh beberapa orang yang dipercaya sebagai juri dan kemudian, dari penilaian itu akan lahir satu kelompok pemenang. Menang, karena uniknya penampilan atau tingginya kreatifitas. Kutak masih ingat, tahun kemaren yang menjadi pemenang adalah kelompok pawai yang menampilkan talempong pacik, ba alua dan sedikit gerakan randai. Mereka menang karena yang menampilkan itu semua adalah anak muda usia belasan tahun. Ya, sudah pasti mereka menang, karena saat ini sangat jarang ditemukan pemuda yang memiliki keterampilan itu, pikir Kutak kala itu.
Ketika sampai di sana, Kutak menyaksikan telah banyak orang yang berkumpul. Mereka menunggu iring-iringan yang biasanya di arak dari ujung nagari. Tampak juga Pak Wali,yang telah duduk diatas Balai, didampingi oleh beberapa orang juri. Kutakpun membaur.
Beberapa saat kemudian, dari kejauhan telah tampak arakan peserta pawai. Kelihatannya masing-masing peserta itu masih bersemangat meskipun disengat oleh garangnya sinar mentari.
Kutak sadar, memang peserta pawai kali ini berkurang dari tahun sebelumnya. Benarkah apa yang dikatakan amaknya?
Selang beberapa saat, iring-iringan pawai tersebut sampai didepan Balai. Lalu tanpa ada komando, masing-masing kelompok segera melakukan atraksi –atau sekedar menunjukkan hasil kerajinan mereka yang telah dipersiapkan jauh hari-. Ada peserta yang memakai pakaian tentara lengkap dengan atributnya, pun tidak lupa wajah mereka di coreng dengan arang, hingga jadilah mereka seperti pasukan siap tempur. Ada yang memakai pakaian adat, yang membawa ayam dan sebagainya. Mereka tampil bergantian dan melakukan atraksi selama waktu yang telah disediakan juri.
Pada kelompok berikutnya, Kutak melihat rekannya Kimak, Sined, Cuwen dan teman-teman yang lain. Benar dugaan Kutak semalam, bahwa mereka akan ikut pawai hari ini. Setelah memperhatikan mereka cukup lama, Kutak heran. Mereka tampil tanpa embel-embel, layaknya masyarakat biasa.
Kimak, tampil dengan pakaian yang sudah usang –terlalu usang malah- disertai sebuah sarung yang terselempang. Sined memakai kaos yang bisa dikatakan bagus, sementara Cuwen memakai pakaian yang tidak kalah bagusnya dari Sined. Di dada masing-masing tergantung kertas karton dengan tulisan yang berbeda. Kertas pada Kimak bertuliskan “rang tak bapunyo”, Sined “rang bapunyo” dan Cuwen “tuak palo”. Sementara yang lain tampak mempersiapkan sebuah karung beras yang bertuliskan “pembagian”. Dari itu, Kutak hanya mengerti satu tulisan, “tuak palo” adalah kata lain yang diberikan pada Pak Wali selaku orang yang mengepalai nagari itu.
Kimak, Sined dan Cuwen berakting. Kimak beraksi seolah-olah meminta beras pembagian pada Tuak Palo alias Cuwen. Lalu tiba-tiba saja muncul Sined. Dengan sedikit bisikan dan beberapa lembaran uang kertas, Sined yang berperan sebagai “rang bapunyo” mendapat karung pembagian. Sementara “rang tak bapunyo” alias Kimak tinggal sendiri. Ia tidak mendapat apa-apa.
Kutak sangat menikmati pertunjukkan rekannya itu. Mereka kelihatan sangat terlatih dengan peran masing-masing. Namun perlahan Kutak mulai menyadari, bahwa sebagian besar wajah penonton menegang. Mereka seakan baru menyaksikan pertunjukan yang sangat menakutkan. Kutak juga sempat melayangkan pandang ke arah Pak Wali. Ia kelihatan gusar. Mukanya merah. Dan duduknya pun tidak tenang.
Setelah penampilan Kimak dan kawan-kawan, masih ada beberapa kelompok lagi yang menyemarakkan pawai itu. Namun dengan sangat jelas, Kutak menyaksikan kegusaran pada setiap orang yang ada di sekitar Balai Nagari itu –terutama Pak Wali-. Kutak mencoba menebak gerangan apa yang terjadi. Untuk sementara Kutak menyimpulkan bahwa pertunjukan Kimak, Sined dan Cuwen tadi seolah menyindir Pak Wali. Lalu kenapa penonton juga gusar? Barang kali takut, pikir Kutak.
Matahari terus beranjak, bahkan kini telah tergelincir kearah barat. Seiring dengan itu, acara pawaipun berakhir. Secara berangsur-angsur masyarakat yang menonton maupun peserta pawai pulang kembali.
Demikian juga halnya dengan Kutak. Ia melangkah tenang. Pawai kali ini memberikan arti lain bagi Kutak, juga menyisakan teka-teki besar dalam kepalanya. Kenapa setelah pertunjukkann ketiga rekannya tadi suasana ia rasa berubah. Entahlah, pikirnya. Namun yang pasti saat ini dia harus segera pulang, mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya besok, kembali melanjutkan studinya.
***
Pagi sekali Kutak bangun. Ia telah mempersiapkan semuanya, pakaian, tas dan peralatan lainnya. Setelah pamit dengan seluruh keluarganya, ia melangkah bermaksud menunggu bus yang lewat dinagarinya itu.
Setelah beberapa puluh meter melangkah, Kutak akhirnya sampai di pinggir jalan raya, disana ia berdiri menunggu bus. Lalu tanpa ia sadari, seseorang yang menaiki sepeda melewatinya.
“Oii…Kimak, dari mana?”
“Dari balai”
“Sepagi ini? Ada apa?”
“Pak Wali marabo…!!!”
Padang, Agust’05
Di kamar sebuah rumah yang tergolong mewah di nagari itu, tampak seorang anak muda yang sibuk mengeringkan badan. Maklum, ia baru sampai dirumah. Ia terpaksa sedikit berjalan dibawah rimis untuk dapat mencapai rumahnya tersebut.
Kutak, nama anak muda itu. Wajahnya menyiratkan sedikit lelah karena ia baru saja melakukan perjalanan yang cukup jauh –tiga jam perjalanan bus-. Tanpa ia sadari, telah tiga bulan ia tidak pulang kampung karena selama itu pula ia sibuk menuntut ilmu di nagari urang. Oleh karena itu ia sangat sulit meluangkan waktu untuk sekedar bertemu dengan orang tuanya atau bersilaturrahmi dengan penduduk nagari tempat kelahirannya.
Sengaja hari ini Kutak pulang karena besok, di nagari itu, akan diadakan sebuah acara perhelatan nagari berupa arak-arakan, atau yang lebih familiar dengan sebutan pawai. Biasanya acara ini diadakan untuk merayakan hari-hari besar nasional. Seluruh masyarakat –pun Kutak- selalu menantikan acara ini, yang -paling tidak- selalu diadakan minimal sekali setahun.
Bagi kalangan pemuda-pemudi, pawai ini merupakan suatu bentuk kegiatan yang dapat memfasilitasi mereka dalam berkarya dan menunjukkan kebolehan masing-masing. Berbagai atraksi atau pertunjukkan dipertontonkan kepada masyarakat umum di sepanjang jalan raya yang terbujur membagi dua nagari tersebut.
Tadi, pandangan Kutak sempat menangkap sekelompok pemuda kampungnya berkumpul di congkong*. Kutak menyaksikan mereka sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, meskipun saat itu rimis melanda. Dari itu, Kutak menyimpulkan bahwa mereka pasti mempersiapkan keperluan atau peralatan untuk acara besok. Beberapa bayang pemuda yang sempat dikenal Kutak adalah rekan sepermainannya dulu seperti Kimak, Sined, dan Cuwen –sebenarnya mereka sedikit lebih tua dari Kutak, namun karena namanya juga rekan sepermainan, Kutak memanggil mereka dengan sebutan nama saja-.
Ingin rasanya Kutak bergabung dengan mereka saat ini, namun apa boleh buat, saat ini ia merasa sangat lelah. Lagi pula, tetes air masih setia turun dari langit malam.
Beberapa jenak, Kutak masih melamun di atas pembaringan. Namun karena cuaca tidak baik dan udara semakin dingin, maka rasa kantukpun menyerang Kutak. Ia tertidur. Hujan masih rintik-rintik.
***
Esoknya, pagi cerah. Mungkin karena malam tadi langit telah menurunkan segala bebannya yang berupa air, hingga terbentuklah kata indah untuk awal hari ini. Pun Kutak, ia kelihatan sangat segar.
“Kutak, kapan kau balik ke Padang?” suara Amaknya. Saat itu mata Kutak menerawang jauh menyeruak sinar mentari pagi.
“Ya…mungkin besok Mak” singkat.
“Jadi, kau pulang hanya untuk menyaksikan pawai?”
“Begitulah Mak. Sebenarnya, kalau bisa, ambo ingin ikut berpawai seperti kawan-kawan yang lain, tapi mau bagaimana lagi… Ambo kan baru pulang tadi malam. Jadi sudah pasti mereka tidak mau menerima Ambo lagi, sebab –pasti juga- mereka sudah latihan dan mempersiapkan semuanya dari jauh hari”. Kutak berpaling menghadap orang tua yang dipanggilnya Amak itu.
“Niatmu itu bagus, tapi ya…salahmu sendiri kenapa pulang baru tadi malam? Kau kan bisa saja pulang dari minggu kemaren?”
“Ya, namanya juga Ambo kuliah Mak, tentu tidak bisa pulang seenaknya.”
“Eh, Kutak, sepertinya pawai kali ini tidak akan semeriah tahun yang lalu” suara Amak sedikit dilunakkan dan wajahnya tampak serius.
“Kenapa Mak?”
“Dengar-dengar kabar, katanya sebagian besar pemuda nagari kita ini kurang suka dengan Pak Wali yang baru”
“Pak Wali yang memimpin nagari ini?”. Kutakpun ikut-ikutan serius.
“Iya, siapa lagi? Bahkan ada kelompok pemuda yang katanya tidak mau ikut pawai”
“Sudahlah Mak, biar sajalah. Itu kan urusan mereka, yang penting pawai masih ada. Meskipun –kata amak tadi- ada pemuda yang tidak mau ikut lagi”
Percakapan berlanjut. Kutak dan Amaknya tenggelam dalam dialog pagi itu. Pun topik pembicaraan, sudah melebar kemana-mana, mulai dari keadaan nagari, tentang studinya Kutak, bahkan hingga amaknya bertanya tentang calon menantu.
Tak terasa, matahari semakin naik. Panasnya mulai menyengat kulit. Biasanya, meskipun cuaca panas, acara pawai akan tetap berlanjut. Tidak jarang diantara peserta pawai ada yang pingsan karena kepanasan. Dehidrasi, kata orang-orang sekarang.
Beberapa saat kemudian, tampak seorang anak muda melangkah keluar dari sebuah rumah yang tergolong mewah di nagari itu. Pakaiannya rapi, jalannya tenang. Ia adalah Kutak. Ia menapaki jalan menuju ke Balai Nagari. Ia ingin segera menyaksikan pawai.
Kutak sengaja menunggu di depan Balai Nagari, bergabung dengan temannya atau masyarakat lain yang tidak ikut berpawai. Seperti tahun-tahun kemaren, biasanya, tepat di depan Balai Nagari, setiap kelompok pawai akan berhenti sejenak untuk menampilkan kebolehan atau kreatifitas masing-masing. Biasanya lagi, setiap atraksi tersebut disaksikan langsung oleh Pak Wali yang duduk diatas Balai dan akan dinilai oleh beberapa orang yang dipercaya sebagai juri dan kemudian, dari penilaian itu akan lahir satu kelompok pemenang. Menang, karena uniknya penampilan atau tingginya kreatifitas. Kutak masih ingat, tahun kemaren yang menjadi pemenang adalah kelompok pawai yang menampilkan talempong pacik, ba alua dan sedikit gerakan randai. Mereka menang karena yang menampilkan itu semua adalah anak muda usia belasan tahun. Ya, sudah pasti mereka menang, karena saat ini sangat jarang ditemukan pemuda yang memiliki keterampilan itu, pikir Kutak kala itu.
Ketika sampai di sana, Kutak menyaksikan telah banyak orang yang berkumpul. Mereka menunggu iring-iringan yang biasanya di arak dari ujung nagari. Tampak juga Pak Wali,yang telah duduk diatas Balai, didampingi oleh beberapa orang juri. Kutakpun membaur.
Beberapa saat kemudian, dari kejauhan telah tampak arakan peserta pawai. Kelihatannya masing-masing peserta itu masih bersemangat meskipun disengat oleh garangnya sinar mentari.
Kutak sadar, memang peserta pawai kali ini berkurang dari tahun sebelumnya. Benarkah apa yang dikatakan amaknya?
Selang beberapa saat, iring-iringan pawai tersebut sampai didepan Balai. Lalu tanpa ada komando, masing-masing kelompok segera melakukan atraksi –atau sekedar menunjukkan hasil kerajinan mereka yang telah dipersiapkan jauh hari-. Ada peserta yang memakai pakaian tentara lengkap dengan atributnya, pun tidak lupa wajah mereka di coreng dengan arang, hingga jadilah mereka seperti pasukan siap tempur. Ada yang memakai pakaian adat, yang membawa ayam dan sebagainya. Mereka tampil bergantian dan melakukan atraksi selama waktu yang telah disediakan juri.
Pada kelompok berikutnya, Kutak melihat rekannya Kimak, Sined, Cuwen dan teman-teman yang lain. Benar dugaan Kutak semalam, bahwa mereka akan ikut pawai hari ini. Setelah memperhatikan mereka cukup lama, Kutak heran. Mereka tampil tanpa embel-embel, layaknya masyarakat biasa.
Kimak, tampil dengan pakaian yang sudah usang –terlalu usang malah- disertai sebuah sarung yang terselempang. Sined memakai kaos yang bisa dikatakan bagus, sementara Cuwen memakai pakaian yang tidak kalah bagusnya dari Sined. Di dada masing-masing tergantung kertas karton dengan tulisan yang berbeda. Kertas pada Kimak bertuliskan “rang tak bapunyo”, Sined “rang bapunyo” dan Cuwen “tuak palo”. Sementara yang lain tampak mempersiapkan sebuah karung beras yang bertuliskan “pembagian”. Dari itu, Kutak hanya mengerti satu tulisan, “tuak palo” adalah kata lain yang diberikan pada Pak Wali selaku orang yang mengepalai nagari itu.
Kimak, Sined dan Cuwen berakting. Kimak beraksi seolah-olah meminta beras pembagian pada Tuak Palo alias Cuwen. Lalu tiba-tiba saja muncul Sined. Dengan sedikit bisikan dan beberapa lembaran uang kertas, Sined yang berperan sebagai “rang bapunyo” mendapat karung pembagian. Sementara “rang tak bapunyo” alias Kimak tinggal sendiri. Ia tidak mendapat apa-apa.
Kutak sangat menikmati pertunjukkan rekannya itu. Mereka kelihatan sangat terlatih dengan peran masing-masing. Namun perlahan Kutak mulai menyadari, bahwa sebagian besar wajah penonton menegang. Mereka seakan baru menyaksikan pertunjukan yang sangat menakutkan. Kutak juga sempat melayangkan pandang ke arah Pak Wali. Ia kelihatan gusar. Mukanya merah. Dan duduknya pun tidak tenang.
Setelah penampilan Kimak dan kawan-kawan, masih ada beberapa kelompok lagi yang menyemarakkan pawai itu. Namun dengan sangat jelas, Kutak menyaksikan kegusaran pada setiap orang yang ada di sekitar Balai Nagari itu –terutama Pak Wali-. Kutak mencoba menebak gerangan apa yang terjadi. Untuk sementara Kutak menyimpulkan bahwa pertunjukan Kimak, Sined dan Cuwen tadi seolah menyindir Pak Wali. Lalu kenapa penonton juga gusar? Barang kali takut, pikir Kutak.
Matahari terus beranjak, bahkan kini telah tergelincir kearah barat. Seiring dengan itu, acara pawaipun berakhir. Secara berangsur-angsur masyarakat yang menonton maupun peserta pawai pulang kembali.
Demikian juga halnya dengan Kutak. Ia melangkah tenang. Pawai kali ini memberikan arti lain bagi Kutak, juga menyisakan teka-teki besar dalam kepalanya. Kenapa setelah pertunjukkann ketiga rekannya tadi suasana ia rasa berubah. Entahlah, pikirnya. Namun yang pasti saat ini dia harus segera pulang, mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya besok, kembali melanjutkan studinya.
***
Pagi sekali Kutak bangun. Ia telah mempersiapkan semuanya, pakaian, tas dan peralatan lainnya. Setelah pamit dengan seluruh keluarganya, ia melangkah bermaksud menunggu bus yang lewat dinagarinya itu.
Setelah beberapa puluh meter melangkah, Kutak akhirnya sampai di pinggir jalan raya, disana ia berdiri menunggu bus. Lalu tanpa ia sadari, seseorang yang menaiki sepeda melewatinya.
“Oii…Kimak, dari mana?”
“Dari balai”
“Sepagi ini? Ada apa?”
“Pak Wali marabo…!!!”
Padang, Agust’05
JASA SALUANG
Taksi itu terus melaju namun tidak semulus sebelumnya, karena kini ia harus melewati jalan desa yang cukup sempit. Hanya pas untuk mobil yang berselisih, itupun harus hati-hati. Tidak jarang salah satu mobil yang sedang berselisih itu harus berhenti untuk menghindari terjadinya kecelakaan kecil. Atau malah mempertahankan keegoan si sopir yang tidak mau ban mobilnya menghalau tanah berdebu.
Didalam taksi itu tampak seorang pemuda. Wajahnya lumayan tampan, ditambah dengan setelan pakaian yang rapi, rambut di sisir klimis dan tidak lupa memkai sepatu kulit yang mengkilat. Walaupun dengan pakaian yang terkesan mewah dan mahal, namun hal itu tidak daoat menyembunyikan perasaan si pemuda. Dari wajahnya ia kelihatan sedikit gelisah dan agak cemas. Matanya yang tajam terus menatap kearah depan takasi. Ia tak sabar lagi ingin segera sampai di tujuan.
“yah…..kiri da.” Kata pemuda itu memecah kesunyian yang sudah berlangsung selama tiga jam, tepatnya selama perjalanan dari bandara ke desa tersebut. Segera ia turun dari taksi dan lang sung mersakan sengatan mentari di senja itu. Hal ini sangat berbeda ketika ia masih di dalam taksi yang di lengkapi dengan AC.
“ini… da. Terima kasih…” ia menyodorkan beberapa lembar uang kertas. Baginya, kini, benda itu bukanlah suatu hal yang keramat lagi. Karena setiap hari ia selalu bergelut dengan angka-angka yang jumlahnya tidak sedikit. Di matanya benda itu han ya sebagai bbarang koleksian, dihamburkan atau diganti dengan keegoannya akan sesuatu. Ah, itu bukan dia, peredaran waktulah yang telah mengajarkannya dan mengganti paradigmanya tentang arti kehidupa.
Taksi itu segera melaju. Kini, beberapa meter dihadapan pemuda, berdirilah sebuah rumah gadang tua. Dinding dan tonggaknya serta anyaman kandangnya masih seperti dulu. Hanya saja ada lobang-lobang kecil yang menghiasi rumah tersebut. Maklum rumah gadang itu sudah sangat tua, sehingga tidak heran apa bila rayap dan kumbang menggerogotinya.
Dengan langkah pasti dan berwibawa, pemuda itu melangkah menuju rumah gadang nya. Bukankah rumah itu masih miliknya? Karena di sanalah ia lahir tumbuh berkembang dan mengenal hidup untuk pertama kali, hingga kini ia menjadi orang sukses di ibu kota. Ada perasaan angkuh tersirat di hatinya.
“bak…abak…!!” panggil si pemuda di depan pintu yang sudah dimakan usia. Perlahan pintu terbuka, di iringi bunyi reotnya yang khas. Ah, sudah berkarat dan tua kenapa tidak di buang dan di ganti saja? Berpa sih harga sehelai daun pintu? Pikir pemuda itu. Daqri balik pintu muncul wajah tua yang kelihatan agak lemas. Namun sinar matanya tetap terang, jernih dan tajam. Segera menusuk relung hati terdalam si pemuda, dan tanpa sadar setetes air bening jatuh dari matanya. Begitupun dengan si tua yang di panggila abak itu. Mereka berpelukan dengan sejuta rasa yang tak terkata.
“ yuang…. Kapan sampainya yuang.” Pertanyaan abaknya terlontar setelah melepas pelukan dari anaknya. Ada sedikit rasa yang telah terobati.
Buyuang,…buyuang,…kembali kata sapaan itu di dengarnya. Kenapa abaknya selalu memanggil butuang ? bukankah di zaman modern ini nama itu sudah terlalu usang ? dan kenapa tidak memanggil Amat, nama yang dulu di berikan abak kepadanya, atau Roni, nama yang kini tertulis di kartu namanya untuk di berikan kepada relasi atau mitra bisnisnya. Rasa congkak kini terbersit di hatinya.
“ baru sampai bak,…..amak mana bak ?”
“ amakmu pergi ke batang aia dibelakang ..” kata abak. Lagi perasaan angkuh timbul di hati Amat. Sudah sejak lama ia menyuruh orang tuanya membuat sumur bahkan rumah baru. Tapi semua sia-sia. Abak dan amaknya malah memilih tinggal di rumah gadang yang reot dan mandi di batang aia yang airnya tidak bersih dan kadang keruh. Dan selama tiga tahun ia di Jakarta ternyata pola pikir kedua orang tuanya tidak berubah.
***
Malam telah menampakkan dirinya, dilangit sana tidak terlihat sebuah bintangpun. Udarapun terasa sangat dingin bagi si Amat yang telah terbiasa dengan cuaca di kota metropolitan. Sementara di rumah gadang itu hanya di lengkapi dengan penerangan yang primitif. Hal ini sangat tidak disenangi Amat yang terbiasa dengan kerlap-kerlip lampu jalanan.
“ bak…saya pulang hari ini karena saya mendapat kabar bahwa bapak dalam keadaan sakit, apa benar bak ?”suara Amat memecah kesunyian malam itu. Kini ia sedang duduk bersila di ruang tengah bersama kedua orang tuanya.
“ Benar….. yuang” jawab abaknya singkat.
“Iya….abakmu sakit setelah bermain saluang di kampung sebelah. Kebetulan mereka mengadakan acara kampung. Lumayan menambah pemasukan…”amak menjelaskannya kepada Amat yang kini kelihatan cukup jengkel.
“Itulah abak…. Sudah berapa kali saya katakan, abak jangan lagi meniup saluang itu karena abak sudah tua. Lagian, penghasilan dari saluang itu hanya sedikit. Lebih baik abak ikut saya ke kota. Disana saya akan menjamin hidup abak dan amak. Daripada disini….abak hanya meniup, meniup dan terus meniup buluah yang tidak berguna itu !!!”
Semua diam. Hanya suara jengkrik dan bisikan angin malam yang terdengar. Siapa yang berkata tadi ?pikir abak sebab Amat yang dulu tidak mungkin berkata demikian. Ia dulu menyukai saluang bahkan dari mulutnya dulu sempat terucap bahwa ia akan meneruskan kepandaian abaknya. Sebagai peniup saluang. Itu dulu… ketika Amat masih bersih, lugu dan belum mengenal dunia luar.
“ Yuang ….kenapa kau berkata demikian !”suara abak sedikit meninggi. Mungkin karena merasa tersinggung atau karena malam yang begitu sepi.
“ Karena saluanglah kita masih bisa berkumpul saat ini. Karena saluanglah abakmu ini bisa menghirup udara hingga detik ini. Ingat ….bukankah buluah yang kau katakan tidak berguna ini yang telah mengantarkanmu hingga menjadi orang besar saat ini.”
“Iya…. Tapi karena saluanglah akhir-akhir ini abak sering sakit. Setiap abak memainkannya, abak selalu sakit. Lagi pula, pada zaman modern ini siapa lagi yang ingin mendengar ratok saluang itu. Itu hanyalah kebudayaan primitif.”
Benar dugaan abak. Anaknya kini bukanlah anaknya yang dulu. Ia telah jauh berubah bahkan kini ia telah berani mencemooh pekerjaan abaknya sendiri.
“Biaralah ndak ada orang yang akan mendengarnya, abak akan terus memainkan saluang. Bukan karena siapa atau berapa orang akan membayar abak, tapi abak ingin anak cucu abak bisa mendengarkan saluang. Kalu bukan abak siapa lagi yang akan sudi mempertahankan kebudayaan kita. Kebudayaan ranah minang.”
Kembali kesunyian menyelimuti rumah gadang itu.ada berjuta perasaan yang kini di rasakan penghuninya. Amak yang sewdari tadi diam hanya bisa menghela nafas.
“Sudahlah bak…. Besok saya akan kembali ke Jakarta, tidak ada lagi yang dapat saya lakukan disini. Abak mau ikut ?”
“ ndak …” jawab abak singkat, datar, menyembunyikan perasaan yang tidak menentu. Berjuta perasaan kini menusuk dadanya.
***
Taksi itu terus melaju, namun kini lebih kencang dari sebelumnya, karena kini taksi itu telah memasuki jalan raya. Bukan lagi jalan desa yang kecil yang hanya pas untuk dua mobil jika berselisih. Di dalam taksi nitu tampak seorang pemuda, Amat, yang sedang menatap jauh ke depan dengan tatapan kosong.
Tiba tangan si sopir taksi menjangkau tape yang ada di sebelah kirinya, maka tak lama kemudian terdengarlah alunan saluang, seakan menggema dalam taksi tersebut.
“Da… tolong matikan tapenya, saya tidak suka…”kata Amat pendek, datar.
Taksi itu terus meluncur hening, sunyi, sepi. Hanya suara mesain yang terdengar. Tak ada lagi saluang, seakan telah dimakan oleh klakson dan mesin-mesin panas, seiring dengan meluncurnya sang waktu dalam kehidupan Amat.
Didalam taksi itu tampak seorang pemuda. Wajahnya lumayan tampan, ditambah dengan setelan pakaian yang rapi, rambut di sisir klimis dan tidak lupa memkai sepatu kulit yang mengkilat. Walaupun dengan pakaian yang terkesan mewah dan mahal, namun hal itu tidak daoat menyembunyikan perasaan si pemuda. Dari wajahnya ia kelihatan sedikit gelisah dan agak cemas. Matanya yang tajam terus menatap kearah depan takasi. Ia tak sabar lagi ingin segera sampai di tujuan.
“yah…..kiri da.” Kata pemuda itu memecah kesunyian yang sudah berlangsung selama tiga jam, tepatnya selama perjalanan dari bandara ke desa tersebut. Segera ia turun dari taksi dan lang sung mersakan sengatan mentari di senja itu. Hal ini sangat berbeda ketika ia masih di dalam taksi yang di lengkapi dengan AC.
“ini… da. Terima kasih…” ia menyodorkan beberapa lembar uang kertas. Baginya, kini, benda itu bukanlah suatu hal yang keramat lagi. Karena setiap hari ia selalu bergelut dengan angka-angka yang jumlahnya tidak sedikit. Di matanya benda itu han ya sebagai bbarang koleksian, dihamburkan atau diganti dengan keegoannya akan sesuatu. Ah, itu bukan dia, peredaran waktulah yang telah mengajarkannya dan mengganti paradigmanya tentang arti kehidupa.
Taksi itu segera melaju. Kini, beberapa meter dihadapan pemuda, berdirilah sebuah rumah gadang tua. Dinding dan tonggaknya serta anyaman kandangnya masih seperti dulu. Hanya saja ada lobang-lobang kecil yang menghiasi rumah tersebut. Maklum rumah gadang itu sudah sangat tua, sehingga tidak heran apa bila rayap dan kumbang menggerogotinya.
Dengan langkah pasti dan berwibawa, pemuda itu melangkah menuju rumah gadang nya. Bukankah rumah itu masih miliknya? Karena di sanalah ia lahir tumbuh berkembang dan mengenal hidup untuk pertama kali, hingga kini ia menjadi orang sukses di ibu kota. Ada perasaan angkuh tersirat di hatinya.
“bak…abak…!!” panggil si pemuda di depan pintu yang sudah dimakan usia. Perlahan pintu terbuka, di iringi bunyi reotnya yang khas. Ah, sudah berkarat dan tua kenapa tidak di buang dan di ganti saja? Berpa sih harga sehelai daun pintu? Pikir pemuda itu. Daqri balik pintu muncul wajah tua yang kelihatan agak lemas. Namun sinar matanya tetap terang, jernih dan tajam. Segera menusuk relung hati terdalam si pemuda, dan tanpa sadar setetes air bening jatuh dari matanya. Begitupun dengan si tua yang di panggila abak itu. Mereka berpelukan dengan sejuta rasa yang tak terkata.
“ yuang…. Kapan sampainya yuang.” Pertanyaan abaknya terlontar setelah melepas pelukan dari anaknya. Ada sedikit rasa yang telah terobati.
Buyuang,…buyuang,…kembali kata sapaan itu di dengarnya. Kenapa abaknya selalu memanggil butuang ? bukankah di zaman modern ini nama itu sudah terlalu usang ? dan kenapa tidak memanggil Amat, nama yang dulu di berikan abak kepadanya, atau Roni, nama yang kini tertulis di kartu namanya untuk di berikan kepada relasi atau mitra bisnisnya. Rasa congkak kini terbersit di hatinya.
“ baru sampai bak,…..amak mana bak ?”
“ amakmu pergi ke batang aia dibelakang ..” kata abak. Lagi perasaan angkuh timbul di hati Amat. Sudah sejak lama ia menyuruh orang tuanya membuat sumur bahkan rumah baru. Tapi semua sia-sia. Abak dan amaknya malah memilih tinggal di rumah gadang yang reot dan mandi di batang aia yang airnya tidak bersih dan kadang keruh. Dan selama tiga tahun ia di Jakarta ternyata pola pikir kedua orang tuanya tidak berubah.
***
Malam telah menampakkan dirinya, dilangit sana tidak terlihat sebuah bintangpun. Udarapun terasa sangat dingin bagi si Amat yang telah terbiasa dengan cuaca di kota metropolitan. Sementara di rumah gadang itu hanya di lengkapi dengan penerangan yang primitif. Hal ini sangat tidak disenangi Amat yang terbiasa dengan kerlap-kerlip lampu jalanan.
“ bak…saya pulang hari ini karena saya mendapat kabar bahwa bapak dalam keadaan sakit, apa benar bak ?”suara Amat memecah kesunyian malam itu. Kini ia sedang duduk bersila di ruang tengah bersama kedua orang tuanya.
“ Benar….. yuang” jawab abaknya singkat.
“Iya….abakmu sakit setelah bermain saluang di kampung sebelah. Kebetulan mereka mengadakan acara kampung. Lumayan menambah pemasukan…”amak menjelaskannya kepada Amat yang kini kelihatan cukup jengkel.
“Itulah abak…. Sudah berapa kali saya katakan, abak jangan lagi meniup saluang itu karena abak sudah tua. Lagian, penghasilan dari saluang itu hanya sedikit. Lebih baik abak ikut saya ke kota. Disana saya akan menjamin hidup abak dan amak. Daripada disini….abak hanya meniup, meniup dan terus meniup buluah yang tidak berguna itu !!!”
Semua diam. Hanya suara jengkrik dan bisikan angin malam yang terdengar. Siapa yang berkata tadi ?pikir abak sebab Amat yang dulu tidak mungkin berkata demikian. Ia dulu menyukai saluang bahkan dari mulutnya dulu sempat terucap bahwa ia akan meneruskan kepandaian abaknya. Sebagai peniup saluang. Itu dulu… ketika Amat masih bersih, lugu dan belum mengenal dunia luar.
“ Yuang ….kenapa kau berkata demikian !”suara abak sedikit meninggi. Mungkin karena merasa tersinggung atau karena malam yang begitu sepi.
“ Karena saluanglah kita masih bisa berkumpul saat ini. Karena saluanglah abakmu ini bisa menghirup udara hingga detik ini. Ingat ….bukankah buluah yang kau katakan tidak berguna ini yang telah mengantarkanmu hingga menjadi orang besar saat ini.”
“Iya…. Tapi karena saluanglah akhir-akhir ini abak sering sakit. Setiap abak memainkannya, abak selalu sakit. Lagi pula, pada zaman modern ini siapa lagi yang ingin mendengar ratok saluang itu. Itu hanyalah kebudayaan primitif.”
Benar dugaan abak. Anaknya kini bukanlah anaknya yang dulu. Ia telah jauh berubah bahkan kini ia telah berani mencemooh pekerjaan abaknya sendiri.
“Biaralah ndak ada orang yang akan mendengarnya, abak akan terus memainkan saluang. Bukan karena siapa atau berapa orang akan membayar abak, tapi abak ingin anak cucu abak bisa mendengarkan saluang. Kalu bukan abak siapa lagi yang akan sudi mempertahankan kebudayaan kita. Kebudayaan ranah minang.”
Kembali kesunyian menyelimuti rumah gadang itu.ada berjuta perasaan yang kini di rasakan penghuninya. Amak yang sewdari tadi diam hanya bisa menghela nafas.
“Sudahlah bak…. Besok saya akan kembali ke Jakarta, tidak ada lagi yang dapat saya lakukan disini. Abak mau ikut ?”
“ ndak …” jawab abak singkat, datar, menyembunyikan perasaan yang tidak menentu. Berjuta perasaan kini menusuk dadanya.
***
Taksi itu terus melaju, namun kini lebih kencang dari sebelumnya, karena kini taksi itu telah memasuki jalan raya. Bukan lagi jalan desa yang kecil yang hanya pas untuk dua mobil jika berselisih. Di dalam taksi nitu tampak seorang pemuda, Amat, yang sedang menatap jauh ke depan dengan tatapan kosong.
Tiba tangan si sopir taksi menjangkau tape yang ada di sebelah kirinya, maka tak lama kemudian terdengarlah alunan saluang, seakan menggema dalam taksi tersebut.
“Da… tolong matikan tapenya, saya tidak suka…”kata Amat pendek, datar.
Taksi itu terus meluncur hening, sunyi, sepi. Hanya suara mesain yang terdengar. Tak ada lagi saluang, seakan telah dimakan oleh klakson dan mesin-mesin panas, seiring dengan meluncurnya sang waktu dalam kehidupan Amat.
HATI PERSEMBAHAN*
Aku tahu hidup ini terlalu pedih bagimu kini. Terlalu menyakitkan jIka di inyafi. Aku bahkan bisa merasakan sakit yang kau sembunyikan dari dunia. Aku tahu itu ketika tatapan kita saling beradu di pasar. Lalu bertepatan dengan itu kau sodorkan sebuah pisau ke perutku.
“Serahkan seluruh uang dan perhiasanmu…” katamu dengan ancaman. Aku tengadahkan kepalaku memandang wajahmu. Mencoba mengenali muka yang aku rasa pernah akrab dengan hari-hariku dulu. Sesaat, setelah aku selami matamu, aku menemukan kesejukan dan tambatan rindu yang telah lama aku pendam. Aku mengenalmu.
Kaupun mungkin begitu, karena saat aku menatapmu kaupun mengernyitkan keningmu. Untuk kemudian aku menangkap kegugupan dibalik wajah dan pakaian premanmu.
“Ma…maaf…” kau lari dalam keramaian pasar. Melewati wajah-wajah lelah.
Pikiranku berkecamuk, heran, marah, kecewa membaur jadi satu. Aku ingin menangis, tapi aku tak bisa karena hatiku terlanjur kuserahkan padamu. Akhirnya aku lanjutkan langkahku lagi dipasar itu, menatap wajah-wajah asing dan meresapi sinar matahari yang selalu saja menyapaku.
Aku sadar kau telah berubah, begitupun aku. Memang, tidak ada yang abadi didunia ini selain perubahan itu sendiri. Sepenuhnya aku juga sadari bahwa perubahan yang terjadi padamu adalah karena tantangan hidup dan juga karena kehendak-Nya.
Mungkin kehendak yang Ia jelmakan terlalu berat bagimu, hingga akhirnya kau memilih jalanmu yang sekarang. Aku tahu bencana itu telah merenggut seluruh keluargamu. Hanya kau yang tersisa. Dan untuk itu kau harus berjuang untuk dirimu sendiri. Selamatkan perutmu dari lapar dan cari atap dikala gerimis melanda.
Tak ada yang dapat kulakukan karena saat itupun aku lunglai, takut, lemah menyaksikan kejadian yang dahsyat itu. Aku mati rasa ketika air itu datang dan hanya dapat berdoa agar kau selamat. Tapi apalah arti doa bagimu dulu –dan kini- karena itu bukanlah wujud suatu pertolongan.
Dan jalan hidup telah mempertemukan kita kembali, dikota ini. Tiada sangkaan kita ‘kan bersua lagi setelah sekian waktu kita terpisah, setelah sekian lama aku tak tahu dimana rimbamu. Aku juga tak tahu sudah berapa jauh kau tempuhi jalan hingga akhirnya kau berada disini. Atau kau mungkin memiliki alasan lain untuk kota ini.
Kau orang yang telah membawa hatiku, barangkali juga separuh nyawaku. Walaupu –sayangnya- kau telah berubah, tapi aku yakin kau masih menyimpan hatiku. Aku yakin hanya penampilan jasad dan gayamu yang berubah. Entah kenapa keyakinanku begitu kuat.
***
Terang bulan tak lagi bersinar, cahaya bintangpun memudar. Entah kenapa mataku tak terpejam. Aku masih ingat pada sebilah pisau yang kau todongkan padaku. Bukan pisau itu yang menakutkan atau menyakitkan, bahkan mungkin aku akan rela jika kau menginginkan nyawaku, asalkan itu berasal dari hati terdalammu. Yang paling menyakitkan adalah perlakuanmu yang berani menodongkan pisau. Tak terbayang bagiku sudah berapa korban yang kau dapatkan.
Siang tadi hampir saja aku tak mengenalmu dari balik pakaian preman dan sedikit tato yang menghiasi lenganmu. Terlalu menyakitkan bagiku untuk membayangkanmu –orang yang dulu kukenal paling baik, paling sopan- berubah menjadi orang yang liar. Seorang -yang hanya- dengan menatap matamu maka orang lain akan merasa takut.
Perlahan kukeluarkan seberkas amplop dari dalam laci mejaku. Dengan perasaan yang tak menentu kubuka amplop yang berwarna merah jambu itu. Aku tak ingat sudah berapa kali aku membaca surat ini, hingga hampir tiap katanya sudah melekat dalam pikiranku.
“kasih…ini bukan sekedar cerita cinta. Ini adalah tentang separuh nafas yang aku gantungkan di senyum manismu. Ini adalah sebagian nyawa yang aku persembahkan dalam mata beningmu. Sekiranya kelak waktu kan memihak…”
Aku tak sanggup melanjutkan. Kata-katanya begitu membuatku melayang. Namun pedih akhirnya, kala ku ingat wajah tadi siang.
Aku begitu terenyuh ketika teringat pertemuan kita terakhir kali. Malam itu kau ada, duduk disampingku, menatap alam yang sekan balas menatap. Entah berapa lama kita duduk disana saat itu.
“Aku butuh pembuktian” katamu singkat. Saat itu aku baru saja akan melangkahkan kaki meninggalkan galau.
“Lalu apa yang dapat aku berikan? Bukankah semua telah kupersaksikan padamu”
“Sesuatu yang dapat kupegang jika kau jauh. Sesuatu yang juga bisa menenangkan karena dari itu aku bisa mengetahui perasaanmu”
“Apa itu ?”
“Hatimu…”
“Lalu…?”
“Begitulah, aku ingin hatimu…” Aku sangat terkejut dengan permintaanmu. Bagaimana mungkin aku memberikan hatiku padamu, walaupun engkau orang yang paling kusayangi.
Lalu perdebatan antara kita sedikit terjadi walaupun akhirnya kau meyakinkan aku untuk menyerahkan hatiku padamu. Aku tak tahu apakah argumenmu yang menarik atau tatapan matamu yang melumpuhkanku, atau karena aku terlalu bodoh…
Akhirnya semua terjadi. Kuserahkan hatiku padamu.
“Aku akan menjaganya layaknya hatiku. Takkan kubiarkan hatimu terluka atau berdarah” Lalu pada ujung pertemuan malam itu, kau genggam tanganku, dan dari itu aku merasa yakin bahwa aku telah memberikan keputusan yang tepat.
“Jagalah hatiku…”
Kemudian disana, dihadapanku, kau satukan hatiku dan hatimu.
Hingga keesokan hari bencana itu datang. Kita terpisah. Kau bawa hatiku entah kemana hingga aku tak bisa menangis untuk semua kejadian itu. Semua terasa hampa, tiada rasa sedih, hiba, takut ataupun perasaan lain. Hanya otakku yang masih berpikir.
“Aku harus menemukanmu…”
***
Siang ini aku datang lagi kepasar. Bukan untuk apa-apa, aku datang untuk mencarimu. Aku berharap kau ada disini, walaupun sekali lagi kau todongkan pisau kepadaku. Bagiku sekedar bertemu denganmu adalah sebuah harapan. Dan, aku akan menanyakan perihal hatiku yang aku persembahkan padamu dulu. Aku yakin kau pasti menepati janjimu untuk menjaganya. Aku akan memintanya kembali, karena hidup selama ini terasa hambar. Aku tak bisa merasakan bahagia lagi, aku juga tak bisa merasakan sedih. Semuanya hampa. Dan jika kemaren aku tersenyum, aku hanya meniru orang lain. Aneh rasanya jika mereka tersenyum sedangkan aku hanya diam. Sama sekali aku tak tahu kenapa harus tersenyum, perasaan apa yang mendorongku untuk melakukannya.
Dan jika nanti kau tidak memberikannya maka aku akan memintamu mengajakku karena aku begitu butuh hati dan terutama, aku merindukanmu.
“Jambreeet…jambreet…”
Kudengar teriakan dari dalam keramaian pasar. Aku sadar zaman ini terlalu keras hingga mendorong seseorang untuk berani berbuat apa saja. Aku tak takut mendengar teriakan itu, aku diam, tak ada rasa was-was.
Lalu seorang pemuda melewati wajahku, ia berlari kencang menghindari kejaran masa. Pemuda itu adalah kau.
Aku masih diam.
Tiba-tiba seorang polisi berpakaian preman yang berdiri tak jauh dariku mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kulitnya. Dan sebuah ledakan…
Kau jatuh, darah tersembul dari sebuah lobang yang terbentuk didadamu. Lobang itu tepat dihatimu, dan juga pasti hatiku. Lalu masa yang mengejar mengerubungimu. Kau dipukul, ditendang, diinjak,…
Akhirnya kau pergi meninggalkanku. Membiarkan aku hidup tanpa hati. Aku ingin menangis. Tak bisa. Tak ada perasaan itu. Perasaanku hilang bersama hancurnya hatiku dan hatimu. Aku sadar aku harus tetap hidup walau hanya dengan mengandalkan otakku. Aku telah membuktikan bisa hidup tanpa perasaan, paling tidak selama kita terpisah. Aku juga yakin masih banyak orang yang –walaupun- memiliki perasaan tetapi tidak menggunakannya. Seperti juga mereka yang tanpa perasaan terus mengeroyok tubuh kakumu…
* juara II Lomba Menulis Cerpen UKJ Yasmin Akbar Se- Sumatera Barat
“Serahkan seluruh uang dan perhiasanmu…” katamu dengan ancaman. Aku tengadahkan kepalaku memandang wajahmu. Mencoba mengenali muka yang aku rasa pernah akrab dengan hari-hariku dulu. Sesaat, setelah aku selami matamu, aku menemukan kesejukan dan tambatan rindu yang telah lama aku pendam. Aku mengenalmu.
Kaupun mungkin begitu, karena saat aku menatapmu kaupun mengernyitkan keningmu. Untuk kemudian aku menangkap kegugupan dibalik wajah dan pakaian premanmu.
“Ma…maaf…” kau lari dalam keramaian pasar. Melewati wajah-wajah lelah.
Pikiranku berkecamuk, heran, marah, kecewa membaur jadi satu. Aku ingin menangis, tapi aku tak bisa karena hatiku terlanjur kuserahkan padamu. Akhirnya aku lanjutkan langkahku lagi dipasar itu, menatap wajah-wajah asing dan meresapi sinar matahari yang selalu saja menyapaku.
Aku sadar kau telah berubah, begitupun aku. Memang, tidak ada yang abadi didunia ini selain perubahan itu sendiri. Sepenuhnya aku juga sadari bahwa perubahan yang terjadi padamu adalah karena tantangan hidup dan juga karena kehendak-Nya.
Mungkin kehendak yang Ia jelmakan terlalu berat bagimu, hingga akhirnya kau memilih jalanmu yang sekarang. Aku tahu bencana itu telah merenggut seluruh keluargamu. Hanya kau yang tersisa. Dan untuk itu kau harus berjuang untuk dirimu sendiri. Selamatkan perutmu dari lapar dan cari atap dikala gerimis melanda.
Tak ada yang dapat kulakukan karena saat itupun aku lunglai, takut, lemah menyaksikan kejadian yang dahsyat itu. Aku mati rasa ketika air itu datang dan hanya dapat berdoa agar kau selamat. Tapi apalah arti doa bagimu dulu –dan kini- karena itu bukanlah wujud suatu pertolongan.
Dan jalan hidup telah mempertemukan kita kembali, dikota ini. Tiada sangkaan kita ‘kan bersua lagi setelah sekian waktu kita terpisah, setelah sekian lama aku tak tahu dimana rimbamu. Aku juga tak tahu sudah berapa jauh kau tempuhi jalan hingga akhirnya kau berada disini. Atau kau mungkin memiliki alasan lain untuk kota ini.
Kau orang yang telah membawa hatiku, barangkali juga separuh nyawaku. Walaupu –sayangnya- kau telah berubah, tapi aku yakin kau masih menyimpan hatiku. Aku yakin hanya penampilan jasad dan gayamu yang berubah. Entah kenapa keyakinanku begitu kuat.
***
Terang bulan tak lagi bersinar, cahaya bintangpun memudar. Entah kenapa mataku tak terpejam. Aku masih ingat pada sebilah pisau yang kau todongkan padaku. Bukan pisau itu yang menakutkan atau menyakitkan, bahkan mungkin aku akan rela jika kau menginginkan nyawaku, asalkan itu berasal dari hati terdalammu. Yang paling menyakitkan adalah perlakuanmu yang berani menodongkan pisau. Tak terbayang bagiku sudah berapa korban yang kau dapatkan.
Siang tadi hampir saja aku tak mengenalmu dari balik pakaian preman dan sedikit tato yang menghiasi lenganmu. Terlalu menyakitkan bagiku untuk membayangkanmu –orang yang dulu kukenal paling baik, paling sopan- berubah menjadi orang yang liar. Seorang -yang hanya- dengan menatap matamu maka orang lain akan merasa takut.
Perlahan kukeluarkan seberkas amplop dari dalam laci mejaku. Dengan perasaan yang tak menentu kubuka amplop yang berwarna merah jambu itu. Aku tak ingat sudah berapa kali aku membaca surat ini, hingga hampir tiap katanya sudah melekat dalam pikiranku.
“kasih…ini bukan sekedar cerita cinta. Ini adalah tentang separuh nafas yang aku gantungkan di senyum manismu. Ini adalah sebagian nyawa yang aku persembahkan dalam mata beningmu. Sekiranya kelak waktu kan memihak…”
Aku tak sanggup melanjutkan. Kata-katanya begitu membuatku melayang. Namun pedih akhirnya, kala ku ingat wajah tadi siang.
Aku begitu terenyuh ketika teringat pertemuan kita terakhir kali. Malam itu kau ada, duduk disampingku, menatap alam yang sekan balas menatap. Entah berapa lama kita duduk disana saat itu.
“Aku butuh pembuktian” katamu singkat. Saat itu aku baru saja akan melangkahkan kaki meninggalkan galau.
“Lalu apa yang dapat aku berikan? Bukankah semua telah kupersaksikan padamu”
“Sesuatu yang dapat kupegang jika kau jauh. Sesuatu yang juga bisa menenangkan karena dari itu aku bisa mengetahui perasaanmu”
“Apa itu ?”
“Hatimu…”
“Lalu…?”
“Begitulah, aku ingin hatimu…” Aku sangat terkejut dengan permintaanmu. Bagaimana mungkin aku memberikan hatiku padamu, walaupun engkau orang yang paling kusayangi.
Lalu perdebatan antara kita sedikit terjadi walaupun akhirnya kau meyakinkan aku untuk menyerahkan hatiku padamu. Aku tak tahu apakah argumenmu yang menarik atau tatapan matamu yang melumpuhkanku, atau karena aku terlalu bodoh…
Akhirnya semua terjadi. Kuserahkan hatiku padamu.
“Aku akan menjaganya layaknya hatiku. Takkan kubiarkan hatimu terluka atau berdarah” Lalu pada ujung pertemuan malam itu, kau genggam tanganku, dan dari itu aku merasa yakin bahwa aku telah memberikan keputusan yang tepat.
“Jagalah hatiku…”
Kemudian disana, dihadapanku, kau satukan hatiku dan hatimu.
Hingga keesokan hari bencana itu datang. Kita terpisah. Kau bawa hatiku entah kemana hingga aku tak bisa menangis untuk semua kejadian itu. Semua terasa hampa, tiada rasa sedih, hiba, takut ataupun perasaan lain. Hanya otakku yang masih berpikir.
“Aku harus menemukanmu…”
***
Siang ini aku datang lagi kepasar. Bukan untuk apa-apa, aku datang untuk mencarimu. Aku berharap kau ada disini, walaupun sekali lagi kau todongkan pisau kepadaku. Bagiku sekedar bertemu denganmu adalah sebuah harapan. Dan, aku akan menanyakan perihal hatiku yang aku persembahkan padamu dulu. Aku yakin kau pasti menepati janjimu untuk menjaganya. Aku akan memintanya kembali, karena hidup selama ini terasa hambar. Aku tak bisa merasakan bahagia lagi, aku juga tak bisa merasakan sedih. Semuanya hampa. Dan jika kemaren aku tersenyum, aku hanya meniru orang lain. Aneh rasanya jika mereka tersenyum sedangkan aku hanya diam. Sama sekali aku tak tahu kenapa harus tersenyum, perasaan apa yang mendorongku untuk melakukannya.
Dan jika nanti kau tidak memberikannya maka aku akan memintamu mengajakku karena aku begitu butuh hati dan terutama, aku merindukanmu.
“Jambreeet…jambreet…”
Kudengar teriakan dari dalam keramaian pasar. Aku sadar zaman ini terlalu keras hingga mendorong seseorang untuk berani berbuat apa saja. Aku tak takut mendengar teriakan itu, aku diam, tak ada rasa was-was.
Lalu seorang pemuda melewati wajahku, ia berlari kencang menghindari kejaran masa. Pemuda itu adalah kau.
Aku masih diam.
Tiba-tiba seorang polisi berpakaian preman yang berdiri tak jauh dariku mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kulitnya. Dan sebuah ledakan…
Kau jatuh, darah tersembul dari sebuah lobang yang terbentuk didadamu. Lobang itu tepat dihatimu, dan juga pasti hatiku. Lalu masa yang mengejar mengerubungimu. Kau dipukul, ditendang, diinjak,…
Akhirnya kau pergi meninggalkanku. Membiarkan aku hidup tanpa hati. Aku ingin menangis. Tak bisa. Tak ada perasaan itu. Perasaanku hilang bersama hancurnya hatiku dan hatimu. Aku sadar aku harus tetap hidup walau hanya dengan mengandalkan otakku. Aku telah membuktikan bisa hidup tanpa perasaan, paling tidak selama kita terpisah. Aku juga yakin masih banyak orang yang –walaupun- memiliki perasaan tetapi tidak menggunakannya. Seperti juga mereka yang tanpa perasaan terus mengeroyok tubuh kakumu…
* juara II Lomba Menulis Cerpen UKJ Yasmin Akbar Se- Sumatera Barat
Subscribe to:
Posts (Atom)