Udara terasa sangat panas meskipun saat ini sang mentari telah sedikit tergelincir. Tapi toh, itu bukan jaminan segarnya senja akan menyapa. Masih aa beberapa jam lagi menjelang sinar mentari akan melembut, dan itu juga berarti –pada saat itu- kata indah untuk sebuah senja akan terlontar dari mulut orang banyak.
Pun pada sebuah kamar, udara seakan memuai oleh sinar mentari. Apalagi jendela-jendela kamar tersebut tepat mengarah ke Barat. Sehingga, sesaat setelah matahari tergelincir, sedikit demi sedikit sinar terang si raja siang akan menerobos masuk. Awalnya Cuma sejengkal, namun semakin sore semakin banyak terobosan sinar panas itu. Bahkan bisa dikatakan hampir sebagian kamar akan terang. Itu kalau cuaca cerah.
Di kamar itu tampak seorang anak muda yang wajahnya menyiratkan keletihan. Sangat. Pono, namanya. Saat itu Toga, atribut kewisudaan, masih melekat di badannya. Hanya topi saja yang sudah terlepas. Tadi, baru saja ia masuk kamar, ia segera membuka topi dan melemparkannya ke dipan. Untuk sesaat topi itu melayang, berputar diudara dan akhirnya jungkir balik diatas kasur.
Pono teramat lelah karena sedari pagi ia telah memulai aktifitas rutinnya –mandi, makan, berangkat-. Pagi sekali. Ditambah lagi hari ini adalah hari wisuda. Saat yang telah ia nanti-nantikan sejak empat tahun lalu. Prosesi wisudapun ia ikuti sepenuhnya, yang berlangsung sekitar dua atau tiga jam. Setelah itu, niatnya langsung pulang, namun ia di tahan temannnya. Ia –setengah- dipaksa untuk membayarkan seluruh makanan yang mereka peasan, atau yang lebih sering disebut traktir.
“Hitung-hitung sambil syukuran. Lagipula, kapan lagi kau mentraktir kami? Besok-besok pasti kau sudah akan sibuk menghadapi dunia pengangguran” kata temannya saat itu, yang diiringi oleh tawa jenaka.
Ada-ada saja yang dikatakan temannya tadi. Sebagian besar, setelah kalimat demi kalimat terlontar, akan diiringi oleh tawa. Lepas. Saat seperti itulah yang disukai Pono, berkumpul dan ber-suka ria. Ia tak tahu bagaimana jadinya jika ia harus jauh dari mereka. Mungkin ia kan merasa sepi, tanpa ada lagi kata ceria. Ya, Pono akan merasa kesepian dan akan selalu merindukan mereka.
Dalam kepala Pono saat ini telah tersusun rencana. Ia akan berusaha mencari kerja disini, di kota ini, agar setiap hari ia bisa berkumpul dengan teman-temannya tadi.
Pono masih duduk di bibir dipan. Panasnya matahari –yang mulai menerebos- membuatnya kehilangan banyak keringat dan menjadikan mukanya merah. Ia lalu ingat sesuatu, dua hari yang lalu ia menerima surat dari kampung, amaknya. Isi surat itu mengabarkan bahwa, secepatnya, setelah wisuda ia harus pulang. Juga dikatakan bahwa saat wisuda nanti –hari ini- amaknya tidak bisa hadir karena harus mengurus sawah mereka yang tinggal satu petak. Kecil.
Pono paham sangat atas isi surat amaknya. Dari itu, ia juga telah berencana. Besok –pagi-pagi sekali- ia akan pulang kampung, paling tidak menemui amaknya. Dan setelah itu beberapa hari –barangkali juga sehari- dikampung, ia akan kembali lagi. Rencana.
Matahari makin tergelincir. Kaki Pono yang terjuntai telah –sedikit- disapa sinar matahari. Panas. Tapi Pono sudah terbiasa.
***
Pono baru saja menjejalkan kakinya dijalan yang beraspal kecil. Ia telah sampai di kampung. Perjalanan yang –lumayan- jauh telah ia tempuhi, sekitar empat jam perjalanan dengan menggunakan angkutan umum. Untuk sampai ke rumah, ia masih harus berjalan melewati jalan berbatu. Maklum, rumahnya berjarak sekitar seratus meter dari jalan –yang katanya- raya.
Ia merasa sangat bangga selama menapaki jalan tersebut. Bagaimana tidak, saat ini, pemuda kampung yang dulu sering diperolok, pulang dengan gelar sarjana dipundaknya. Pun orang-orang yang ditemuinya sepanjang jalan, menyapa dengan garis bibir melebar dan melengkung keatas disertai dengan pandangan mata yang bersinar. Ah, pasti amaknya telah bercerita kepada mereka bahwa anaknya, Pono, telah menjadi seorang sarjana.
Pono akhirnya sampai dirumah. Pintu tertutup. Keadan rumahnya masih sama seperti tiga bulan lalu, saat ia pulang terakhir kali.
Pono mengetuk. Lalu seakan telah direncanakan, pintu terbuka. Lebar. Dibalik pintu Amak sudah berdiri tegak, telah siap menunggu kedatangannya. Lalu tanpa ada kata-kata, Pono dan Amaknya berangkulan dengan erat. Lama.
Tak terasa setetes air bening jatuh dari kelopak –tua- mata Amak. Menuruni kerutan wajahnya dan akhirnya jatuh menyapa bahu Pono.
“Sudahlah, kau capekkan? Istirahatlah dulu.” Amak menghapus air matanya. Sisa isak masih ada.
Pono segera beranjak dari pintu, tanpa harus menunggu Amaknya berkata untuk kedua kali. Ia masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang tak menentu. Ia bahagia sekaligus sedih karena untuk detik-detik seperti ini abaknya tidak ada. Beliau telah terlebih dahulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, menghadapNya.
Namanya perjalanan jauh, saat ini, Pono merasa seluruh badannya pegal. Persendiannya kaku. Mungkin karena selama perjalanan ia hanya bisa duduk dengan sedikit pergerakan karena bangku bus agak kecil. Sehingga bahu para penumpang saling bersenggolan, termasuk ia.
Tak ada yang dilakukan Pono. Ia hanya duduk diatas dipan yang –sejak ia kecil- menjadi wadah pembuangan lelah. Pono disini –dirumahnya- tetapi sebenarnya pikiran melayang. Ia ingat pada kebersamaan dengan temannya, tertawa dan berbagi duka bersama. Tapi harus bagaimana lagi, edaran waktu membawanya ke saat ini, waktu dimana ia menyudahi pendidikan dan menghadapi dunia pengangguran, kata temannya.
Pono perlahan membaringkan tubuh. Matanya masih menatap hampa, kali ini mengarah ke loteng. Pikirannya membawa ia terbang ke ruang imaji. Menatap masa depan. Beberapa jenak, Pono diam dengan mata ditutup rapat. Ia –kemudian- tertidur. Matahari tergelincir, senjapun menjelang.
***
Malam semakin dingin. Lengkap sudah suramnya tanpa cahaya bulan, sebab saat ini adalah pergantian bulan Hijriah. Pantas saja disana, dilangit malam, tidak ada sedikitpun sinaran.
“Pono, apa rencana kamu selanjutnya?” Amak bertanya dengan tatapan serius. Suaranya rendah, membelai lembut langsung ke sisi hati Pono yang paling dalam.
“Yang pasti mencari kerja Mak…”
Kalimat itu keluar setelah Pono menarik nafas panjang.
“Saya akan mencari kerja di kota tempat saya belajar. Disana, disamping lowongan banyak, teman saya juga banyak. Siapa tahu mereka bisa membantu. Ya, daripada dikampung, paling juga hanya bertani, tiap hari berhadapan langsung dengan lumpur”
Ada sesuatu yang berubah dari Pono.
“Kapan kau berangkat?”
“Mungkin besok, Mak. Karena lebih cepat lebih baik”
Suasana hening kemudian menyelimuti mereka. Percakapan tadi tampaknya memberi arti yang tersembunyi. Wajah Amak tampak berubah tanpa sepengetahuan Pono. Seakan ada beban besar.
“Pono, begini…” kesunyian pecah.
“Seminggu lalu Ni Suli, kakak almarhum Abakmu, datang kesini. Ia bermaksud memintamu menjadi menantu. Ia ingin kau menikah dengan anaknya Puti Nilam…” Suara Amaknya berat. Tampak sekali sebuah beban menghinggapi Amak saat merangkai kata menjadi kalimat.
“Puti Nilam? Bukankah ia kemenakan abak?”
“Iya, makanya itu, dia kan bakomu, apa salahnya. Justru orang-orang tua dahulu sangat menganjurkan hal yang seperti itu”. Amak mencoba memperjelas.
“Kamu –baiknya- menerima. Amak sebenarnya bukan ingin mengungkit, tapi Amak harus mengatakannya bahwa…biaya belajarmu selama ini, sebagian besar adalah dari keluarga mereka. Kamu pasti tahu, tak mungkin amak membiayaimu sendiri hanya dengan sepetak sawah…”
Entah apa yang dirasakan Pono. Baginya mendengar penuturan amaknya tadi bukanlah wujud kebahagiaan. Ia tidak menyangka itu semua. Walaupun dalam hatinya ia tahu bahwa Puti Nilam adalah gadis yang lumayan cantik, sekaligus terpandang di negerinya.
“Saya rasa, saya tak bisa. Perasaan tidak bisa dibarter dengan materi. Kalau memang orang-orang tua dulu menganjurkan, suruh saja mereka melakukannya. Lagi pula mereka tidak lagi hidup, kalaupun mereka masih bernyawa saat ini, pasti mereka sudah setengah gila, pikun” Sangat terasa keberubahan Pono. Angkuh.
Sepi kembali menyelimuti Pono dan amaknya. –juga seluruh rumah itu-. Dimata Pono, jelas sekali tersirat gundah yang luar biasa. Tak menyangka ia akan bernasib seperti ini.
“Sudahlah mak…saya letih. Saya belum bisa, bahkan mungkin tidak bisa memutuskannya”. Pono berjalan menuju kamar, meninggalkan Amaknya yang masih terpaku di tengah ruangan. Pono kusut.
Amak diam beribu bahasa, sembari memikirkan apa yang akan terjadi. Tapi biarlah, semua itu pasti sudah diatur Yang Diatas, pikirnya.
Udara semakin dingin, menandakan malam terus beranjak. Beberapa jenak setelah Pono masuk kamar, Amak masih disitu. Lalu Amak mendengar suara tak karuan dari kamar Pono. Samar.
“Yosa….Yosa…”
Pono mengigau. Amak mendengarnya. Malam semakin larut.
Padang, Sept ‘05
No comments:
Post a Comment