Monday, 4 December 2006

Harga Penantian

:Medi Adioska

“Anakku sudah kaya…”
Matahari telah naik sepenggalan. Bahkan lebih. Sedikit lagi bayangnya akan hilang, lenyap oleh benda atau makhluk yang ia panaskan. Itu berarti sesaat lagi hawanya akan memuncak dan ubun-ubunpun akan menjerit. Itu juga berarti akan terjadi pengulangan waktu namun dengan nama hari yang berbeda.
Pada saat itu –seperti hari-hari sebelumnya- akan ada seorang wanita tua yang menatap ketajaman sinar mentari di sebuah sudut kota. Wanita tua itu berdiri mematung di persimpangan jalan, anatara teras-teras toko dan dalam selimut keramaian. Dia bukanlah apa atau siapa. Hanya seorang manusia yang selalu saja berdiri di simpang jalan itu. Tetap di sana, seakan ia telah mengenal titik berdirinya. Wajah tuanya tampak sama dari hari kehari. Kelam tak bersinar dan hambar tanpa aura. Sementara, rambutnya semrawut diselingi uban yang belum merata. Sebagian rambutnya jatuh ke mata, hidung, bahkan dagu. Sehingga wajahnya semakin kelam. Tanpa cahaya, walau disinari lentera siang.
Tetap setia di tangan kirinya, sebuah tongkat kayu tua. Kering. Sebagai penahan lemahnya, penahan tubuhnya, dan penguat asanya. Pakaian lusuh kumuhnya pasti selalu mengiringi. Sebagai saksi bisu perjalanan waktu. Pakaian itu menyaksikan pergulatan mesin di simpang itu, juga menyaksikan kesombongan di persembahkan ketika manusia lain menyenggolnya, dan sejenak mengibaskan bagian tubuh yang terkena pakaian itu. Mereka takut harus tertular debu, kusam dan lusuh yang melekat di setiap pori-porinya.
Matahari tepat di ubun-ubun. Kemudian dalam keramaian yang masih tak peduli, si wanita tua perlahan menengadahkan kepalanya. Hingga tepat menatap mentari. Sejenak ia menatap, seakan ingin menyelami setiap sinar dari si raja siang. Kemudian seulas senyum terukir di bibir hitamnya.
“ Anakku mengirim surat…”
“ Dia anakku….telah kaya” kalimatnya masih yang kemaren dan yang kemarennya lagi.
“ Dia akan pulang….memelukku” suaranya tidak begitu keras namun cukup jelas untuk di mengerti.
Perlahan kepalanya kembali menunduk seperti semula –dan hari kemaren-. Dia tak peduli lagi pada apa yang terjadi di sekelilingnya. Dia akan menunduk dalam, dalam sekali. Hingga hari menjelang malam.
Saat ini matanya kelam,silau oleh sinar matahari yang telah ia selami. Namun bibir hitam tuanya masih menyisakan senyum. Dalam kesilauan itu ia lihat anaknya, dalam keramaian itu ia dengar suara anaknya. Untuk beberapa saat ingatannya melayang pada hari yang telah ia lewati. Kemudian sekeping kenangan kembali bermain dalam benaknya.
“ Aku harus merantau mak…” suara anaknya saat itu tegas dan jelas, walau dengan nada rendah
“ Aku harus tunjukkan bahwa kita juga manusia. Bukan ternak gembala yang bisa mereka arahkan kesana kemari. Mereka keterlaluan jika melihat manusia hanya dari harta kekayaan, yang jelas tidak semua orang memilikinya…”
“ Sudahlah… jangan kau sesali lagi keadaan. Terima saja apa adanya. Toh, sampai saat ini kita masih bisa bernafas, makan dan tidur” Kata-kata wanita itu menghentikan ucapan anaknya. Terlihat jelas ada ketabahan yang terlatih terbentuk dalam dadanya.
“ Tapi mak..” hanya itu yang terucap dari anaknya. Kemudian semua diam,hanyut dalam keheningan yang penuh dilema. Untuk sejenak udara menepi, memberikan jalan pikiran bagi kedua manusia itu.
“ Lusa aku akan berangkat……….”
“ Lusa..? tapi…” perkataan wanita itu tidak kesampaian. Suaranya tercekat di kerongkongan. Kemudian setetes air bak mutiara membesut dari matanya.
Dia, kemudian, menghirup nafas panjang, menenangkan pikiran dan mencoba mencegah air matanya keluar. Terlihat lagi simbol ketabahan dan kebijaksanaan di wajahnya –paling tidak sebagai seorang wanita tua-
“ Lusa kau akan berangkat…” ia mengulang kata itu, kemudian hening.
“ Pergilah jika kau yakin itu jalanmu..” tak tertahan, beberapa tetes air mata saling mendahului keluar dari kelopak matanya.
“ Tapi kau harus ingat, kau adalah satu-satunya orang yang menjadi alasan mak untuk hidup. Kau jangan pergi selamanya, dan jangan berpulang nama. Ingatlah selalu si tua ini,amakmu sendiri…..”
Kenangan itu sirna dari benaknya. Hanya itu yang dapat ia abadikan dalam ingatannya.
Namun yang pasti hari telah berganti hari, bulan beranjak ketahun. Tak ada kabar. Sudah hitungan tahun wanita tua itu tak melihat dan mendengar suara anaknya. Rindu kini menyiksanya dalam penantian yang mungkin tak berujung.
Hingga suatu hari, tepat ketika matahari membakar ubun-ubun, seorang lelaki yang sebaya dengan anaknya datang dan memberikan secarik amplop.
“ Dari anak amak..” katanya singkat. Kemudian dengan acuh ia meninggalkan wanita tua itu dalam kebahagiaan yang tak menentu. Ia terus melangkah di bawah teriknya mentari untuk kemudian hilang dari pandangan.
“ Anakku mengirim surat…” suaranya cukup jelas. Namun untung tak di badan. Surat tinggallah surat karena wanita tua itu tak bisa membaca.
Dari hari itu ia mencari orang lain untuk membacakan surat. Untuknya. Namun tiada yang bersedia bahkan ada yang memandang hina. Ia tak tahu kenapa, mungkin benar kata anaknya bahwa mereka tak di hiraukan. Kembali wajah itu menampakkan ketabahan yang entah sampai kapan kan bertahan dalam dadanya.
“ Biarlah ‘kan kusimpan suratmu…aku yakin kau disana sudah kaya dan suatu saat nanti kau akan kembali untuk memelukku…amakmu.”
Setiap hari hingga kini hanya kenangan itu yang ada di kepalanya. Dan waktupun terus berlalu hingga sisa ketabahan membawanya disini, di persimpangan ini, antara teras-teras toko dan dalam selimut keramaian. Menunggu dan terus menunggu.

Matahari telah turun. Perlahan. Hingga menyisakan kelam malam. Sedikit, wanita tua itu menengadahkan kepalanya. Kakinya mulai melangkah dalam gelap malam. Entah kemana, untuk besok ‘kan kembali dari dalamnya kabut pagi, dan entah dari mana.
Tanpa ia sadari, selembar amplop jatuh dari saku kusamnya. Melayang ke bumi dengan gemulai.
Kepada yth; Mak Inah
Di…….

No comments: