Hujan rintik-rintik. Tetes demi tetesnya menyapa seluruh keberadaan alam semesta –paling tidak, ia menyapa sebuah nagari-. Udarapun semakin dingin teriring oleh lembab angin yang bertiup menyapa dedaun. Bukan hanya itu, keadaan nagari itu kelam tanpa ada sedikitpun sumber cahaya yang berasal dari langit, meski saat itu matahari baru beberapa menit meninggalkan labuhan senja.
Di kamar sebuah rumah yang tergolong mewah di nagari itu, tampak seorang anak muda yang sibuk mengeringkan badan. Maklum, ia baru sampai dirumah. Ia terpaksa sedikit berjalan dibawah rimis untuk dapat mencapai rumahnya tersebut.
Kutak, nama anak muda itu. Wajahnya menyiratkan sedikit lelah karena ia baru saja melakukan perjalanan yang cukup jauh –tiga jam perjalanan bus-. Tanpa ia sadari, telah tiga bulan ia tidak pulang kampung karena selama itu pula ia sibuk menuntut ilmu di nagari urang. Oleh karena itu ia sangat sulit meluangkan waktu untuk sekedar bertemu dengan orang tuanya atau bersilaturrahmi dengan penduduk nagari tempat kelahirannya.
Sengaja hari ini Kutak pulang karena besok, di nagari itu, akan diadakan sebuah acara perhelatan nagari berupa arak-arakan, atau yang lebih familiar dengan sebutan pawai. Biasanya acara ini diadakan untuk merayakan hari-hari besar nasional. Seluruh masyarakat –pun Kutak- selalu menantikan acara ini, yang -paling tidak- selalu diadakan minimal sekali setahun.
Bagi kalangan pemuda-pemudi, pawai ini merupakan suatu bentuk kegiatan yang dapat memfasilitasi mereka dalam berkarya dan menunjukkan kebolehan masing-masing. Berbagai atraksi atau pertunjukkan dipertontonkan kepada masyarakat umum di sepanjang jalan raya yang terbujur membagi dua nagari tersebut.
Tadi, pandangan Kutak sempat menangkap sekelompok pemuda kampungnya berkumpul di congkong*. Kutak menyaksikan mereka sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing, meskipun saat itu rimis melanda. Dari itu, Kutak menyimpulkan bahwa mereka pasti mempersiapkan keperluan atau peralatan untuk acara besok. Beberapa bayang pemuda yang sempat dikenal Kutak adalah rekan sepermainannya dulu seperti Kimak, Sined, dan Cuwen –sebenarnya mereka sedikit lebih tua dari Kutak, namun karena namanya juga rekan sepermainan, Kutak memanggil mereka dengan sebutan nama saja-.
Ingin rasanya Kutak bergabung dengan mereka saat ini, namun apa boleh buat, saat ini ia merasa sangat lelah. Lagi pula, tetes air masih setia turun dari langit malam.
Beberapa jenak, Kutak masih melamun di atas pembaringan. Namun karena cuaca tidak baik dan udara semakin dingin, maka rasa kantukpun menyerang Kutak. Ia tertidur. Hujan masih rintik-rintik.
***
Esoknya, pagi cerah. Mungkin karena malam tadi langit telah menurunkan segala bebannya yang berupa air, hingga terbentuklah kata indah untuk awal hari ini. Pun Kutak, ia kelihatan sangat segar.
“Kutak, kapan kau balik ke Padang?” suara Amaknya. Saat itu mata Kutak menerawang jauh menyeruak sinar mentari pagi.
“Ya…mungkin besok Mak” singkat.
“Jadi, kau pulang hanya untuk menyaksikan pawai?”
“Begitulah Mak. Sebenarnya, kalau bisa, ambo ingin ikut berpawai seperti kawan-kawan yang lain, tapi mau bagaimana lagi… Ambo kan baru pulang tadi malam. Jadi sudah pasti mereka tidak mau menerima Ambo lagi, sebab –pasti juga- mereka sudah latihan dan mempersiapkan semuanya dari jauh hari”. Kutak berpaling menghadap orang tua yang dipanggilnya Amak itu.
“Niatmu itu bagus, tapi ya…salahmu sendiri kenapa pulang baru tadi malam? Kau kan bisa saja pulang dari minggu kemaren?”
“Ya, namanya juga Ambo kuliah Mak, tentu tidak bisa pulang seenaknya.”
“Eh, Kutak, sepertinya pawai kali ini tidak akan semeriah tahun yang lalu” suara Amak sedikit dilunakkan dan wajahnya tampak serius.
“Kenapa Mak?”
“Dengar-dengar kabar, katanya sebagian besar pemuda nagari kita ini kurang suka dengan Pak Wali yang baru”
“Pak Wali yang memimpin nagari ini?”. Kutakpun ikut-ikutan serius.
“Iya, siapa lagi? Bahkan ada kelompok pemuda yang katanya tidak mau ikut pawai”
“Sudahlah Mak, biar sajalah. Itu kan urusan mereka, yang penting pawai masih ada. Meskipun –kata amak tadi- ada pemuda yang tidak mau ikut lagi”
Percakapan berlanjut. Kutak dan Amaknya tenggelam dalam dialog pagi itu. Pun topik pembicaraan, sudah melebar kemana-mana, mulai dari keadaan nagari, tentang studinya Kutak, bahkan hingga amaknya bertanya tentang calon menantu.
Tak terasa, matahari semakin naik. Panasnya mulai menyengat kulit. Biasanya, meskipun cuaca panas, acara pawai akan tetap berlanjut. Tidak jarang diantara peserta pawai ada yang pingsan karena kepanasan. Dehidrasi, kata orang-orang sekarang.
Beberapa saat kemudian, tampak seorang anak muda melangkah keluar dari sebuah rumah yang tergolong mewah di nagari itu. Pakaiannya rapi, jalannya tenang. Ia adalah Kutak. Ia menapaki jalan menuju ke Balai Nagari. Ia ingin segera menyaksikan pawai.
Kutak sengaja menunggu di depan Balai Nagari, bergabung dengan temannya atau masyarakat lain yang tidak ikut berpawai. Seperti tahun-tahun kemaren, biasanya, tepat di depan Balai Nagari, setiap kelompok pawai akan berhenti sejenak untuk menampilkan kebolehan atau kreatifitas masing-masing. Biasanya lagi, setiap atraksi tersebut disaksikan langsung oleh Pak Wali yang duduk diatas Balai dan akan dinilai oleh beberapa orang yang dipercaya sebagai juri dan kemudian, dari penilaian itu akan lahir satu kelompok pemenang. Menang, karena uniknya penampilan atau tingginya kreatifitas. Kutak masih ingat, tahun kemaren yang menjadi pemenang adalah kelompok pawai yang menampilkan talempong pacik, ba alua dan sedikit gerakan randai. Mereka menang karena yang menampilkan itu semua adalah anak muda usia belasan tahun. Ya, sudah pasti mereka menang, karena saat ini sangat jarang ditemukan pemuda yang memiliki keterampilan itu, pikir Kutak kala itu.
Ketika sampai di sana, Kutak menyaksikan telah banyak orang yang berkumpul. Mereka menunggu iring-iringan yang biasanya di arak dari ujung nagari. Tampak juga Pak Wali,yang telah duduk diatas Balai, didampingi oleh beberapa orang juri. Kutakpun membaur.
Beberapa saat kemudian, dari kejauhan telah tampak arakan peserta pawai. Kelihatannya masing-masing peserta itu masih bersemangat meskipun disengat oleh garangnya sinar mentari.
Kutak sadar, memang peserta pawai kali ini berkurang dari tahun sebelumnya. Benarkah apa yang dikatakan amaknya?
Selang beberapa saat, iring-iringan pawai tersebut sampai didepan Balai. Lalu tanpa ada komando, masing-masing kelompok segera melakukan atraksi –atau sekedar menunjukkan hasil kerajinan mereka yang telah dipersiapkan jauh hari-. Ada peserta yang memakai pakaian tentara lengkap dengan atributnya, pun tidak lupa wajah mereka di coreng dengan arang, hingga jadilah mereka seperti pasukan siap tempur. Ada yang memakai pakaian adat, yang membawa ayam dan sebagainya. Mereka tampil bergantian dan melakukan atraksi selama waktu yang telah disediakan juri.
Pada kelompok berikutnya, Kutak melihat rekannya Kimak, Sined, Cuwen dan teman-teman yang lain. Benar dugaan Kutak semalam, bahwa mereka akan ikut pawai hari ini. Setelah memperhatikan mereka cukup lama, Kutak heran. Mereka tampil tanpa embel-embel, layaknya masyarakat biasa.
Kimak, tampil dengan pakaian yang sudah usang –terlalu usang malah- disertai sebuah sarung yang terselempang. Sined memakai kaos yang bisa dikatakan bagus, sementara Cuwen memakai pakaian yang tidak kalah bagusnya dari Sined. Di dada masing-masing tergantung kertas karton dengan tulisan yang berbeda. Kertas pada Kimak bertuliskan “rang tak bapunyo”, Sined “rang bapunyo” dan Cuwen “tuak palo”. Sementara yang lain tampak mempersiapkan sebuah karung beras yang bertuliskan “pembagian”. Dari itu, Kutak hanya mengerti satu tulisan, “tuak palo” adalah kata lain yang diberikan pada Pak Wali selaku orang yang mengepalai nagari itu.
Kimak, Sined dan Cuwen berakting. Kimak beraksi seolah-olah meminta beras pembagian pada Tuak Palo alias Cuwen. Lalu tiba-tiba saja muncul Sined. Dengan sedikit bisikan dan beberapa lembaran uang kertas, Sined yang berperan sebagai “rang bapunyo” mendapat karung pembagian. Sementara “rang tak bapunyo” alias Kimak tinggal sendiri. Ia tidak mendapat apa-apa.
Kutak sangat menikmati pertunjukkan rekannya itu. Mereka kelihatan sangat terlatih dengan peran masing-masing. Namun perlahan Kutak mulai menyadari, bahwa sebagian besar wajah penonton menegang. Mereka seakan baru menyaksikan pertunjukan yang sangat menakutkan. Kutak juga sempat melayangkan pandang ke arah Pak Wali. Ia kelihatan gusar. Mukanya merah. Dan duduknya pun tidak tenang.
Setelah penampilan Kimak dan kawan-kawan, masih ada beberapa kelompok lagi yang menyemarakkan pawai itu. Namun dengan sangat jelas, Kutak menyaksikan kegusaran pada setiap orang yang ada di sekitar Balai Nagari itu –terutama Pak Wali-. Kutak mencoba menebak gerangan apa yang terjadi. Untuk sementara Kutak menyimpulkan bahwa pertunjukan Kimak, Sined dan Cuwen tadi seolah menyindir Pak Wali. Lalu kenapa penonton juga gusar? Barang kali takut, pikir Kutak.
Matahari terus beranjak, bahkan kini telah tergelincir kearah barat. Seiring dengan itu, acara pawaipun berakhir. Secara berangsur-angsur masyarakat yang menonton maupun peserta pawai pulang kembali.
Demikian juga halnya dengan Kutak. Ia melangkah tenang. Pawai kali ini memberikan arti lain bagi Kutak, juga menyisakan teka-teki besar dalam kepalanya. Kenapa setelah pertunjukkann ketiga rekannya tadi suasana ia rasa berubah. Entahlah, pikirnya. Namun yang pasti saat ini dia harus segera pulang, mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya besok, kembali melanjutkan studinya.
***
Pagi sekali Kutak bangun. Ia telah mempersiapkan semuanya, pakaian, tas dan peralatan lainnya. Setelah pamit dengan seluruh keluarganya, ia melangkah bermaksud menunggu bus yang lewat dinagarinya itu.
Setelah beberapa puluh meter melangkah, Kutak akhirnya sampai di pinggir jalan raya, disana ia berdiri menunggu bus. Lalu tanpa ia sadari, seseorang yang menaiki sepeda melewatinya.
“Oii…Kimak, dari mana?”
“Dari balai”
“Sepagi ini? Ada apa?”
“Pak Wali marabo…!!!”
Padang, Agust’05
No comments:
Post a Comment