MARAWA
Malam bainai
Rabab menyamun sepi, mengiris malam. Ada gores yang tersembunyi. Diam dan tinggal dalam hening serupa cerita-cerita lama saat kita berlari di pematang. Atau, seperti janji kanak-kanak yang kita ikatkan sembari saling mengaitkan jari kelingking. Saat itu kau tersenyum, entah merupakan pertanda bahwa kau akan berteguh hati mempertahankan janji itu, atau entah pertanda bahwa saat itupun kau telah melihat kekalahanku.
Kamar. Kau tak boleh diganggu. Kau terlalu lelah. Seharian tadi kau bergelut dengan galau yang tak berkesudahan. Membayangkan esok, saat ia datang ke rumahmu. Ah, sekedar duduk berdampingan seharian penuh disebelahmu untuk dipersaksikan orang banyak. Kau tak terlalu tidur rupanya. Ada dua gadis cilik yang berkutat dengan ujung-ujung jarimu. Membalutkan sebentuk paduan sederhana, hingga esok kau pasti mendapati kukumu menjadi indah karena merah, bukan darah.
Tentang merah, adakah kau ingat di tebing di ujung desa, kita menyebutnya tanjung;
“aku ingin capung merah”
“kenapa merah?”
“suka”
“merah lebih liar. Lebih sulit ditangkap”
“kalau begitu, tak jadi”
Tetapi aku tetap saja bergerak. Memasang mata. Menghilangkan suara. Kalau perlu menahan nafas, hanya untuk makhluk berkepala besar yang kalau ia mau, ia bisa mengecoh hanya dengan satu kepakan sayap transparan. Aku jatuh, kau tertawa. Aku tak marah, malah bahagia.
Pada batas itu, lamunanku buyar. Dingin makin bertamu. Sementara rabab kian mengiris dalam lamat. Menyebabkan malam tak mampu bersuara sekedar melampiaskan perih.
Kau rupanya belum juga tidur. Kukumu belum terlalu kering. Meski setiap persendian tubuhmu terasa ngilu, kau pasti belum juga bisa memicingkan mata dengan sempurna.
Sempatkah terbersit dalam pikiranmu sebuah cerita usang lagi? Waktu itu kakimu terinjak beling di semak samping rumahku. Berdarah. Tidak terlalu dalam. Tapi entah karena kanak-kanakmu atau memang sudah bawaan, kau bersikap manja. Kukeringkan lukamu. Ku remas daun pucuak ubi, lalu kutempelken dilukamu. Darah berhenti.
“masih sakit. Perih”
“sebentar lagi sakitnya akan hilang”
“tapi aku tak biasa sakit”
“aku pun tak ingin kau sakit”
“bagaimana aku pulang?”
“aku antar”
“aku tak mau jalan”
“lalu?”
“kau bopong aku, atau kalau mau, gendong aku”
“boleh, tapi bapakmu?”
“bapak pasti mengerti”
Aku mengantarmu pulang. Dirumah, bapakmu memandang cemas pada gadis ciliknya; kau. Padaku, menolehpun tidak. Kau pernah cerita, bapakmu tak suka kau bermain denganku. Tak kau ceritakan pun, aku sudah tahu. Kau melangkah masuk. Tak ada terimakasih. Kuanggap kau lupa. Lagipula bapakmu ada disampingmu.
Dilain waktu, aku juga ingat saat kita beristirahat dari bermain, masih disamping rumahku. Kau duduk menyandar pada akar sebuah pohon. Melihatmu lelah, membuatku ingin memanjakanmu. Aku membuatkanmu sebuah mahkota dari daun pakis. Langsung ku pasangkan. Kau tersenyum. Dan meskipun usia kita masih kanak-kanak, indah wajahmu telah mengundang kedamaian seorang laki-laki yang hanya dapat diberikan oleh wanita. Sorenya, kau pulang dengan ceria. Aku bahagia.
Untuk kali sekian, lamunanku luluh. Memudar. Dan aku tahu pasti, kau belum lelap.
Kuedarkan pandangan. Aku ingat, sore tadi aku melihat bendera tiga warna melambai didepan rumahmu. Salah satu warnanya pasti telah menyatu dengan malam. Kelam. Hitam.
***
Basuluah jo matohari. Bagalanggang jo mato rang banyak
Engkau sepi, aku sunyi. Di pematang yang telah sekian lama kita huni sebagai tempat bermain, semua bisu. Tak pernah sehening ini. Kau memandang jauh. Menghalau jarak dengan matamu. Ditengah petak-petak sawah ada sekelompok bangau putih. Berdiri mematung. Barangkali menikmati senja. Namun tak lama, mereka terbang ke petak sawah yang lain.
Ini hari ketiga kita tenggelam bisu. Hari pertama kau pinta aku menemuimu hanya untuk menyaksikan kau mengunci mulut. Barangkali dengan cara itu kau ingin mengatakan bahwa kita bukan anak-anak lagi.
Aku tak bersuara. Sengaja membiarkan udara senja memainkan peran diantara kita. Kau tetap tak bergeming. Hingga hampir malam menyelimuti kita, kau tak kunjung bicara. Hanya saja, sesaat setelah azan, kau melangkah. Gontai. Menyusuri pematang yang berakhir dijalan setapak. Hai, kau tak mengajakku. Menolehpun kau tidak. Kau terlalu khusyuk dengan diammu. Kepalamu terlalu menunduk.
“aku juga ingin pulang” lirihku. Saat itu, kau telah hilang diujung jalan.
Esoknya, aku datang lagi. Tempat yang sama. Kau telah terlebih dahulu tiba. Kau menoleh. Sedikit. Dan seperti sebelumnya, kita tenggelam sunyi. Sementara, bangau masih bermenung ditengah sawah. Barangkali mereka berpikir bahwa ini senja tercipta sama dengan kemarin, dengan dua orang saling membisu. Hingga hampir menjelang malam, kau baru angkat suara.
“ia datang tadi malam”
“siapa?”
“kau tahu”
“maksudku, namanya?”
“tak penting bagimu”
“kau?”
“bapak setuju. Kukira ia pun baik”
“kita?”
”ada apa dengan kita?” Sepintas, kulihat air matamu hampir jatuh.
Aku diam. Malam kurasa bertamu begitu cepat. Kau melangkah. Aku tak ingin tinggal. Aku berjalan disampingmu. Kau masih menunduk. Sebuah kaleng racun tikus membelintang di jalan. Kutendang. Masuk ke semak. Tetap tak membuyarkan diammu. Di ujung jalan kita berpisah.
Dan, hari ini, pasti kukumu telah memerah. Semalam kau pasti tertidur jua akhirnya. Aku yakin kau pasti terlelap dengan senyum. Yah, paling tidak kau telah mempersiapkan diri. Hari ini kau akan diterangi matahari dan dipersaksikan oleh mata orang banyak.
Didepan rumahmu masih kusaksikan sebuah bendera tiga warna melambai. Gemulai ditiup angin. Salah satu warnanya, sesuai dengan warna payungmu. Kuning.
***
Karatau madang dihulu. Babuah babungo balun.
Semoga saja bekas luka beling di telapakmu tak ada. Namun walaupun ada, aku yakin tak akan mengurangi indahmu. Sejak aku mengantarmu pulang, kau tak pernah lagi membahas perih ditelapakmu itu. Kau lebih sering bercerita tentang kerasnya bapakmu yang menyebabkan pertemuan kita hampir tidak memungkinkan. Namun, adakah kau ingat ketika aku membuatkanmu mahkota dari daun pakis? Dan saat itu kukatakan bahwa mahkota itu hanya untukmu. Tidakkah kau pikir itu adalah kata hatiku yang sebenarnya? Bagiku, itu bukanlah sekedar cerita kanak-kanak.
Permainan-permainan yang kita lakukan ku pelihara dalam benakku. Mengenang cerita itu merangsang senyum di bibirku. Aku tak akan berpikir klise untuk mengulang waktu itu, karena bagaimanapun waktu adalah sesuatu yang tak bisa ditaklukkan. Ia berjalan semaunya. Meninggalkan bekas. Jika luka yang ia tinggalkan, maka sembuh adalah pengharapan kesudahan. Jika bahagia yang ia sisakan, maka luka untuk mengenang akan tercipta. Apalagi itu adalah tentangmu.
Dan seiring waktu jua, ketika kita beranjak untuk meniti detik, ketika remaja adalah masa terindah, maka saat itu aku telah memelihara degup tentangmu.
Ah, adakah kau dengar bahwa degup itu terlalu indah? Ia, dari dalam dadaku, mengeluarkan nada sejuk. Memenuhi kamarku. Dan ketika ada jumpa, apalagi kau tersenyum, semuanya menjelma kata indah. Meski aku tak pernah yakin, apakah kau memelihara degup yang sama.
Hingga pada pertemuan itu, ketika kita dikaram bisu, aku yakin bahwa kita telah sama-sama meninggalkan masa anak-anak. Dan, kelu mu yang sederhana meyakinkan aku bahwa ada degup yang sama di dadamu. Meski akhirnya semua itu dikemas bapakmu dan dilemparkannya untuk orang lain.
“semua cerita tak akan sama lagi” kataku.
“benar”
“kisah kanak-kanak itulah benihnya”
“terimakasih untuk daun pucuak ubimu”
“masihsakit?”
”terasanya dihati”
“ya, pasti”
“tidakkah ada degup lain untuk wanita lain?”
“jika ada degup lain, maka kuharap wanita itu benar-benar mengerti dan menerima bahwa hatiku tinggal separoh” -Percakapan hari ketiga , sehari sebelum kukumu di warnai-
Setelah hari itu, kita benar-benar terpisah. Ada sekat nyata. Dan ada degup yang ingin ku bunuh. Hingga akhirnya, kuputuskan untuk melangkah. Menjauh menuruti kehendak hati. Bukan meninggalkan, tetapi mencoba melupakanmu, agar sekembalinya nanti, aku tak lagi mendapati degup itu. Dan, disenja aku berangkat. Mencoba menjamah negeri lain. Belajar hidup, meski dengan hati separoh. Aku melangkah di bawah langit merah, semerah bendera tiga warnamu. Marawa.
Padang, 0408
Friday, 16 May 2008
Monday, 3 March 2008
IKLAN; SARANA PEMBANGUN MITOS
Oleh: M. Adioska
Setiap tipe tuturan, entah berupa sesuatu yang tertulis atau sekedar representasi, verbal atau visual, secara potensial dapat menjadi mitos - Roland Barthes.
Pernyataan diatas dikeluarkan oleh seorang ahli semiotic berkebangsaan Perancis, Roland Barthes. Ungkapan tersebut bisa jadi merupakan dasar pemikiran tentang teorinya yang mengenai mitos. Dalam hidupnya, Barthes telah membahas berbagai mitos kontemporer. Maksudnya, mitos yang berhubungan dengan budaya populer. Baginya, seperti ungkapan diatas, setiap aspek kehidupan bisa diinterperetasikan sebagai sebuah sarana untuk membangun kepercayaan. Kepercayaan yang terbangun untuk kemudian akan menjelma sebagai sebuah pola pikir yang dengan sengaja di bentuk oleh pihak-pihak tertentu.
Dalam pembahasannya, Barthes menjelaskan bahwa mitos yang dimaksud tidaklah berkorelasi dengan cerita, legenda atau dongeng masa silam. Barthes menegaskan bahwa myth yang ia definiskan adalah kepercayaan-kepercayaan yang tertanam dalam pikiran masyarakat yang mempunyai sifat ketidakbenaran yang signifikan. Mitos pada umumnya memberikan gambaran yang salah atas sebuah fenomena.
Titik berangkat dari teori ini adalah sebuah kajian ilmu yang disebut semiotik. Semiotik merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang tanda. Dan tanda yang dimaksud bukan sekedar tanda yang telah di konvensikan, tapi lebih dari itu tanda dalam kasus ini mengacu kepada segala hal yang dapat dibaca dan mempunyai arti. Seorang semiolog lain, Peirce menyatakan “Nothing is a sign unless it is interpreted as a sign”. Dalam artian, apapun dalam kehidupan ini merupakan sebuah tanda selama semua itu di baca sebagai tanda. Maka, jika dibahas dengan teori yang dikeluarkan Barthes, tanda-tanda tersebut dapat dijadikan sebagai media pembangun mitos.
Teori tentang mitos yang diusung barthes lebih tepat diaplikasikan untuk membaca budaya populer. Karena bagaimanapun, jika ditelaah secara mendalam setiap budaya populer telah dengan sengaja menitipkan pemahaman pemahaman tertentu yang semuanya tanpa disadari oleh masyarakat. Contoh konkrit dari masalah ini adalah iklan.
Secara garis besar, iklan merupakan sebuah sarana untuk mempromosikan barang atau jasa yang ingin ditawarkan, terutama kepada masyarakat. Untuk menggaet hati konsumen para pengiklan dituntut untuk kreatif sehingga diharapkan mampu menjadi daya tarik sendiri.
Lebih dari itu, sebuah iklan diharapkan mampu menjadi jembatan untuk menananamkan sebuah kepercayaan kepada masyarakat umumnya dan konsumen produk tersebut khususnya. Jika hal ini tercapai maka sebuah iklan dapat dikatakan berhasil. Dengan artian, timbulnya sebuah kepercayaan terhadap suatu produk akan mendorong para konsumen untuk mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan. Dari kepercayaan yang timbul itu menjelmalah sebuah kata mitos.
Contoh nyata mitos yang dibangun melalui iklan adalah iklan-iklan tentang produk kecantikan, khususnya tentang produk pemutih. Dalam iklan tersebut, baik cetak maupun elektronik, di tampilkan model-model yang cantik. Tinggi semampai, langsing dan yang paling umum, berkulit putih. Model-model tersebut adalah contoh manusia hasil dari penggunaan produk yang ditawarkan, katanya. Tak bisa di pungkiri, kalau ternyata model yang dilibatkan dalam iklan-iklan tersebut sudah mendapat anugerah tersebut sejak lahir, jadi dengan memakai produk itu ataupun tidak, ia masih akan tampak cantik. Namun, hal lain yang ingin disampaikan oleh pengiklan adalah bahwa konsep cantik yang sebenarnya adalah seperti model tersebut yang notabenenya memakai produk “kami”. Jadi, tak ada cara lain yang dapat dilakukan oleh konsumen untuk mendapatkan konsep cantik yang sebenarnya selain mengkonsumsi produk tersebut. Lebih lanjut, tanpa disadari konsumen, mereka telah disajikan sebuah konsep cantik yang dibentuk dan diatur sendiri oleh pengiklan. Cantik menurut mereka adalah yang langsing dan terutama berkulit putih. Mereka yang tidak memiliki ciri tersebut belum bisa dikatakan cantik. Konsep ini kemudian menjadi mitos. Para konsumen akhirnya percaya bahwa cantik identik dengan langsing dan putih, Entah itu karena menyaksikan model iklan ataupun terpengaruh karena repetisi iklan yang begitu sering.
Dampak dari mitos ini adalah mereka yang merasa tidak memiliki ciri cantik, kemudian berbondong-bondong mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Yang gemuk ingin menjadi langsing, yang hitam ingin menjadi putih. Lebih parah lagi, mereka seakan rela mengubah apapun yang melekat pada dirinya hanya untuk memenuhi kepercayaan akan mitos kecantikan.
Tak sekedar iklan kecantikan, pariwara lain yang juga berhubungan erat dengan pembangun mitos adalah iklan rokok. Rokok, sebagaimana yang telah diketahui bersama, merupakan produk yang secara kesehatan sangat merugikan. Namun, didalam iklan, rokok digambarkan sebagai alat yang mampu memompa kepercayaan diri, keberanian dan ketangguhan. Para model iklan rokok tersebut digambarkan sebagai seorang pria gagah yang mampu menaklukkan berbagai rintangan. Tak jarang mereka mampu mendaki puncak gunung yang tinggi dengan enteng.
Secara logika dan menurut penelitian, kebiasaan merokok memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan. Namun anehnya, dalam iklan mereka yang merokok digambarkan lebih tangguh daripada mereka yang tidak merokok. Jika dihubungkan antara gunung dan rokok, semakin jelas ketimpangan yang di presentasikan oleh pengiklan. Semakin tinggi sebuah gunung semakin rendah kadar oksigen, semakin kurang tekanan udara, semakin sulit untuk bernafas. Maka dimana logikanya seseorang yang merokok diatas puncak gunung untuk sekedar merayakan keberhasilan menaklukkan alam.
Gencarnya iklan yang disajikan, secara tidak langsung telah menanamkan sebuah kepercayaan kepada konsumen. Masyarakat percaya bahwa rokok dapat memberikan nilai lebih kepada penghisapnya. Banyak mereka yang beranggapan bahwa jika tidak merokok belum bisa dikatakan jantan. Maka, ramai-ramailah mereka mengkonsumsi rokok.
Masih banyak mitos-mitos yang dapat diungkap, baik dari iklan maupun dari gejala budaya populer lainnya. Satu hal yang dapat digaris bawahi dari fenomena ini adalah bahwa yang paling diuntungkan dari keberadaan mitos adalah produsen. Sementara itu, yang terkeruk dan tereksploitasi adalah masyrakat bawah. Masyarakat lemah yang tanpa sadar telah di sajikan sebuah pembodohan.
Maka, tidak salah kiranya jika dalam salah satu tulisannya dalam Mythologies, Roland Barthes mengatakan bahwa kaum borjuis mendapatkan keuntungan yang terbesar dari keberadaan mitos.
Di sisi lain, mitos yang berkembang melalui media, terutama iklan, ditanam dengan cara yang halus, sehingga dengan sendirinya, sadar atau tidak, masyarakat telah terbawa dengan pemikiran yang ditawarkan iklan. Dan bagaimanapun, iklan bukanlah satu-satunya sarana pembangun karena setiap tipe tuturan, entah berupa sesuatu yang tertulis atau sekedar representasi, verbal atau visual, secara potensial dapat menjadi mitos.
*dimuat di Harian Singgalang, Minggu 30 Desember 2007.
Setiap tipe tuturan, entah berupa sesuatu yang tertulis atau sekedar representasi, verbal atau visual, secara potensial dapat menjadi mitos - Roland Barthes.
Pernyataan diatas dikeluarkan oleh seorang ahli semiotic berkebangsaan Perancis, Roland Barthes. Ungkapan tersebut bisa jadi merupakan dasar pemikiran tentang teorinya yang mengenai mitos. Dalam hidupnya, Barthes telah membahas berbagai mitos kontemporer. Maksudnya, mitos yang berhubungan dengan budaya populer. Baginya, seperti ungkapan diatas, setiap aspek kehidupan bisa diinterperetasikan sebagai sebuah sarana untuk membangun kepercayaan. Kepercayaan yang terbangun untuk kemudian akan menjelma sebagai sebuah pola pikir yang dengan sengaja di bentuk oleh pihak-pihak tertentu.
Dalam pembahasannya, Barthes menjelaskan bahwa mitos yang dimaksud tidaklah berkorelasi dengan cerita, legenda atau dongeng masa silam. Barthes menegaskan bahwa myth yang ia definiskan adalah kepercayaan-kepercayaan yang tertanam dalam pikiran masyarakat yang mempunyai sifat ketidakbenaran yang signifikan. Mitos pada umumnya memberikan gambaran yang salah atas sebuah fenomena.
Titik berangkat dari teori ini adalah sebuah kajian ilmu yang disebut semiotik. Semiotik merupakan cabang ilmu yang mempelajari tentang tanda. Dan tanda yang dimaksud bukan sekedar tanda yang telah di konvensikan, tapi lebih dari itu tanda dalam kasus ini mengacu kepada segala hal yang dapat dibaca dan mempunyai arti. Seorang semiolog lain, Peirce menyatakan “Nothing is a sign unless it is interpreted as a sign”. Dalam artian, apapun dalam kehidupan ini merupakan sebuah tanda selama semua itu di baca sebagai tanda. Maka, jika dibahas dengan teori yang dikeluarkan Barthes, tanda-tanda tersebut dapat dijadikan sebagai media pembangun mitos.
Teori tentang mitos yang diusung barthes lebih tepat diaplikasikan untuk membaca budaya populer. Karena bagaimanapun, jika ditelaah secara mendalam setiap budaya populer telah dengan sengaja menitipkan pemahaman pemahaman tertentu yang semuanya tanpa disadari oleh masyarakat. Contoh konkrit dari masalah ini adalah iklan.
Secara garis besar, iklan merupakan sebuah sarana untuk mempromosikan barang atau jasa yang ingin ditawarkan, terutama kepada masyarakat. Untuk menggaet hati konsumen para pengiklan dituntut untuk kreatif sehingga diharapkan mampu menjadi daya tarik sendiri.
Lebih dari itu, sebuah iklan diharapkan mampu menjadi jembatan untuk menananamkan sebuah kepercayaan kepada masyarakat umumnya dan konsumen produk tersebut khususnya. Jika hal ini tercapai maka sebuah iklan dapat dikatakan berhasil. Dengan artian, timbulnya sebuah kepercayaan terhadap suatu produk akan mendorong para konsumen untuk mengkonsumsi produk atau jasa yang ditawarkan. Dari kepercayaan yang timbul itu menjelmalah sebuah kata mitos.
Contoh nyata mitos yang dibangun melalui iklan adalah iklan-iklan tentang produk kecantikan, khususnya tentang produk pemutih. Dalam iklan tersebut, baik cetak maupun elektronik, di tampilkan model-model yang cantik. Tinggi semampai, langsing dan yang paling umum, berkulit putih. Model-model tersebut adalah contoh manusia hasil dari penggunaan produk yang ditawarkan, katanya. Tak bisa di pungkiri, kalau ternyata model yang dilibatkan dalam iklan-iklan tersebut sudah mendapat anugerah tersebut sejak lahir, jadi dengan memakai produk itu ataupun tidak, ia masih akan tampak cantik. Namun, hal lain yang ingin disampaikan oleh pengiklan adalah bahwa konsep cantik yang sebenarnya adalah seperti model tersebut yang notabenenya memakai produk “kami”. Jadi, tak ada cara lain yang dapat dilakukan oleh konsumen untuk mendapatkan konsep cantik yang sebenarnya selain mengkonsumsi produk tersebut. Lebih lanjut, tanpa disadari konsumen, mereka telah disajikan sebuah konsep cantik yang dibentuk dan diatur sendiri oleh pengiklan. Cantik menurut mereka adalah yang langsing dan terutama berkulit putih. Mereka yang tidak memiliki ciri tersebut belum bisa dikatakan cantik. Konsep ini kemudian menjadi mitos. Para konsumen akhirnya percaya bahwa cantik identik dengan langsing dan putih, Entah itu karena menyaksikan model iklan ataupun terpengaruh karena repetisi iklan yang begitu sering.
Dampak dari mitos ini adalah mereka yang merasa tidak memiliki ciri cantik, kemudian berbondong-bondong mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Yang gemuk ingin menjadi langsing, yang hitam ingin menjadi putih. Lebih parah lagi, mereka seakan rela mengubah apapun yang melekat pada dirinya hanya untuk memenuhi kepercayaan akan mitos kecantikan.
Tak sekedar iklan kecantikan, pariwara lain yang juga berhubungan erat dengan pembangun mitos adalah iklan rokok. Rokok, sebagaimana yang telah diketahui bersama, merupakan produk yang secara kesehatan sangat merugikan. Namun, didalam iklan, rokok digambarkan sebagai alat yang mampu memompa kepercayaan diri, keberanian dan ketangguhan. Para model iklan rokok tersebut digambarkan sebagai seorang pria gagah yang mampu menaklukkan berbagai rintangan. Tak jarang mereka mampu mendaki puncak gunung yang tinggi dengan enteng.
Secara logika dan menurut penelitian, kebiasaan merokok memberikan dampak yang buruk bagi kesehatan. Namun anehnya, dalam iklan mereka yang merokok digambarkan lebih tangguh daripada mereka yang tidak merokok. Jika dihubungkan antara gunung dan rokok, semakin jelas ketimpangan yang di presentasikan oleh pengiklan. Semakin tinggi sebuah gunung semakin rendah kadar oksigen, semakin kurang tekanan udara, semakin sulit untuk bernafas. Maka dimana logikanya seseorang yang merokok diatas puncak gunung untuk sekedar merayakan keberhasilan menaklukkan alam.
Gencarnya iklan yang disajikan, secara tidak langsung telah menanamkan sebuah kepercayaan kepada konsumen. Masyarakat percaya bahwa rokok dapat memberikan nilai lebih kepada penghisapnya. Banyak mereka yang beranggapan bahwa jika tidak merokok belum bisa dikatakan jantan. Maka, ramai-ramailah mereka mengkonsumsi rokok.
Masih banyak mitos-mitos yang dapat diungkap, baik dari iklan maupun dari gejala budaya populer lainnya. Satu hal yang dapat digaris bawahi dari fenomena ini adalah bahwa yang paling diuntungkan dari keberadaan mitos adalah produsen. Sementara itu, yang terkeruk dan tereksploitasi adalah masyrakat bawah. Masyarakat lemah yang tanpa sadar telah di sajikan sebuah pembodohan.
Maka, tidak salah kiranya jika dalam salah satu tulisannya dalam Mythologies, Roland Barthes mengatakan bahwa kaum borjuis mendapatkan keuntungan yang terbesar dari keberadaan mitos.
Di sisi lain, mitos yang berkembang melalui media, terutama iklan, ditanam dengan cara yang halus, sehingga dengan sendirinya, sadar atau tidak, masyarakat telah terbawa dengan pemikiran yang ditawarkan iklan. Dan bagaimanapun, iklan bukanlah satu-satunya sarana pembangun karena setiap tipe tuturan, entah berupa sesuatu yang tertulis atau sekedar representasi, verbal atau visual, secara potensial dapat menjadi mitos.
*dimuat di Harian Singgalang, Minggu 30 Desember 2007.
BUDAYA POPULER DAN REFLEKSI REMAJA*
oleh: Emdheka S**
"Ow ow kamu ketahuan
Pacaran lagi, dengan dirinya..."
Penggalan lirik di atas merupakan bagian lagu yang saat ini sedang ngetrend, terutama di kalangan remaja. Lagu tersebut digemari dan menjadi populer, entah karena lirik atau apapun yang melekat pada lagu tersebut. Tak hanya lagu di atas, masih banyak lirik-lirik lagu saat ini yang bertemakan hal yang sejenis. Dan tanpa disadari, keberadaan lagu dengan lirik-lirik seperti itu memberikan gambaran tentang sebuah budaya populer.
Pop culture alias budaya populer memang selalu menarik untuk dikaji. Bagaimana tidak, jika ditelaah dengan pengamatan yang mendalam, keberadaan budaya populer bisa jadi merupakan refleksi dari keberadaan peradaban manusia itu sendiri, pada waktu itu. Dalam artian, jika ingin melihat fenomena yang sedang terjadi cukup amati melalui budaya yang tengah berkembang.
Namun di lain pihak, keberadaan budaya populer sering dianggap sebagai sebuah kewajaran. Maksudnya, apapun fenomena yang tengah berlaku dalam masyarakat cenderung dianggap hanya sebagai dampak dari perkembangan masa. Maka dari itu, nilai lebih dari sebuah budaya populer sering terabaikan.
Jika diamati lebih dalam, segala bentuk perkembangan dapat saja dikategorikan sebagai budaya populer. Perkembangan musik, misalnya, merupakan salah satu contoh yang paling dekat. Yang menarik dari kasus ini adalah bahwa ternyata musik dinilai sebagai hal yang dianggap dekat dengan remaja, dan disisi lain, remaja merupakan suatu bahasan yang selalu mengundang ransangan untuk selalu ditelaah.
Perkembangan musik terutama pada lirik akhir-akhir ini, jika diamati lebih detil, memberikan satu benang merah yang bisa dicatat dan dianalisa. Pada lirik lagu saat ini ditemukan sebuah kelugasan. Semua hal yang ingin disampaikan lagu tersebut dirancang sedemikian rupa agar mudah di pahami hanya dengan sekali dengar. Dan fenomenanya, justru pada saat ini, lagu dengan lirik terbuka seperti itulah yang diterima oleh kalangan remaja.
Temanya pun tak terlalu jauh dari lagu-lagu lainnya yaitu cinta. Namun cinta yang diangkat dalam lirik lagu remaja saat ini adalah cinta yang dikhianati atau merupakan wujud dari cinta segitiga. Sebut saja Ketahuan, Lelaki Cadangan, Dirimu Dirinya, Lelaki Buaya Darat dan lagu lain dengan tema yang sejenis. Semua makna yang ingin disampaikan diatur selugas mungkin.
Jika dilogikakan, tak ada yang salah dengan lagu dan lirik-lirik tersebut. Hanya saja seharusnya fenomena tersebut dapat ditanggapi sebagai refleksi dan dijadikan sebagai sarana acuan untuk menilai masyarakat terutama remaja.
Lirik yang lugas dan digemari remaja bisa jadi merupakan refleksi dari remaja itu sendiri. Maksudnya, lirik yang lugas merupakan perlambang dari sesuatu yang instan, tak perlu cernaan dan dapat di “makan” semaunya. Fenomena ini tampaknya memperjelas kecenderungan remaja saat ini yang lebih memilih gaya hidup konsumtif. Remaja tanpa berpikir panjang akan berlaku sekehendaknya sehingga jika dibawakan ke ekonomi mereka adalah makanan empuk para produsen.
Tak hanya mengacu dari lirik, kehidupan konsumtif remaja dengan sangat jelas dapat dilihat dalam kehidupan nyata. Mereka cenderung mengkonsumsi sesuatu yang bersifat instan. Jangankan untuk membelanjakan sesuatu, bahkan untuk mendapatkan sesuatu dari -sebut saja- orang tua, mereka lebih memilih instan. Ini harus ada, itu harus punya, bagaimanpun caranya. Makanya tidak salah, jika para pembuat lagu membaca fenomena ini dan menyajikannya dalam bentuk lirik yang juga instan, mudah dicerna, mudah diterima dan, yang penting, sangat me-remaja.
Di sisi lain, lirik instan dan remaja bisa juga dilihat dari perspektif lain. Lirik yang berkembang saat ini (yang bertemakan cinta segitiga, selingkuh dan semacamnya) jika benar merupakan refleksi remaja, maka akan menimbulkan pertanyaan besar jika dikaitkan dengan budaya yang selama ini dianut: budaya Minangkabau, misalnya.
Dalam budaya Minang ditemukan bahwa, secara tidak langsung, dianggap hubungan yang terjadi antara dua anak manusia yang berlainan jenis kelamin merupakan suatu hal yang dianggap kurang enak dipandang mata, bahkan bisa jadi dianggap tabu. Jika terdapat hubungan seperti di atas, maka pastilah mereka yang menjalaninya akan sembunyi-sembunyi, jangan sampai ketahuan oleh orang banyak apalagi oleh mamak. Layaknya seperti itu.
Namun jika ditilik dari lirik lagu yang sedang berkembang, maka rasa malu untuk berhubungan dengan lawan jenis sudah pudar. Jangankan untuk menjalani hubungan biasa, bahkan untuk berselingkuh pun diekspos dengan semaunya. Dan anehnya, lirik seperti itulah yang tengah laku di pasaran.
Pertanyaan yang muncul adalah, jika benar budaya populer merupakan refleksi dari kehidupan nyata yang sedang berlangsung, apakah ini merupakan gambaran dari kemerosotan remaja? Apakah fenomena ini menyimbolkan dekadensi moral?
*dimuat di Harian Singgalang, Minggu 9 Desember 2007.
** nama pena dari M. Adioska
"Ow ow kamu ketahuan
Pacaran lagi, dengan dirinya..."
Penggalan lirik di atas merupakan bagian lagu yang saat ini sedang ngetrend, terutama di kalangan remaja. Lagu tersebut digemari dan menjadi populer, entah karena lirik atau apapun yang melekat pada lagu tersebut. Tak hanya lagu di atas, masih banyak lirik-lirik lagu saat ini yang bertemakan hal yang sejenis. Dan tanpa disadari, keberadaan lagu dengan lirik-lirik seperti itu memberikan gambaran tentang sebuah budaya populer.
Pop culture alias budaya populer memang selalu menarik untuk dikaji. Bagaimana tidak, jika ditelaah dengan pengamatan yang mendalam, keberadaan budaya populer bisa jadi merupakan refleksi dari keberadaan peradaban manusia itu sendiri, pada waktu itu. Dalam artian, jika ingin melihat fenomena yang sedang terjadi cukup amati melalui budaya yang tengah berkembang.
Namun di lain pihak, keberadaan budaya populer sering dianggap sebagai sebuah kewajaran. Maksudnya, apapun fenomena yang tengah berlaku dalam masyarakat cenderung dianggap hanya sebagai dampak dari perkembangan masa. Maka dari itu, nilai lebih dari sebuah budaya populer sering terabaikan.
Jika diamati lebih dalam, segala bentuk perkembangan dapat saja dikategorikan sebagai budaya populer. Perkembangan musik, misalnya, merupakan salah satu contoh yang paling dekat. Yang menarik dari kasus ini adalah bahwa ternyata musik dinilai sebagai hal yang dianggap dekat dengan remaja, dan disisi lain, remaja merupakan suatu bahasan yang selalu mengundang ransangan untuk selalu ditelaah.
Perkembangan musik terutama pada lirik akhir-akhir ini, jika diamati lebih detil, memberikan satu benang merah yang bisa dicatat dan dianalisa. Pada lirik lagu saat ini ditemukan sebuah kelugasan. Semua hal yang ingin disampaikan lagu tersebut dirancang sedemikian rupa agar mudah di pahami hanya dengan sekali dengar. Dan fenomenanya, justru pada saat ini, lagu dengan lirik terbuka seperti itulah yang diterima oleh kalangan remaja.
Temanya pun tak terlalu jauh dari lagu-lagu lainnya yaitu cinta. Namun cinta yang diangkat dalam lirik lagu remaja saat ini adalah cinta yang dikhianati atau merupakan wujud dari cinta segitiga. Sebut saja Ketahuan, Lelaki Cadangan, Dirimu Dirinya, Lelaki Buaya Darat dan lagu lain dengan tema yang sejenis. Semua makna yang ingin disampaikan diatur selugas mungkin.
Jika dilogikakan, tak ada yang salah dengan lagu dan lirik-lirik tersebut. Hanya saja seharusnya fenomena tersebut dapat ditanggapi sebagai refleksi dan dijadikan sebagai sarana acuan untuk menilai masyarakat terutama remaja.
Lirik yang lugas dan digemari remaja bisa jadi merupakan refleksi dari remaja itu sendiri. Maksudnya, lirik yang lugas merupakan perlambang dari sesuatu yang instan, tak perlu cernaan dan dapat di “makan” semaunya. Fenomena ini tampaknya memperjelas kecenderungan remaja saat ini yang lebih memilih gaya hidup konsumtif. Remaja tanpa berpikir panjang akan berlaku sekehendaknya sehingga jika dibawakan ke ekonomi mereka adalah makanan empuk para produsen.
Tak hanya mengacu dari lirik, kehidupan konsumtif remaja dengan sangat jelas dapat dilihat dalam kehidupan nyata. Mereka cenderung mengkonsumsi sesuatu yang bersifat instan. Jangankan untuk membelanjakan sesuatu, bahkan untuk mendapatkan sesuatu dari -sebut saja- orang tua, mereka lebih memilih instan. Ini harus ada, itu harus punya, bagaimanpun caranya. Makanya tidak salah, jika para pembuat lagu membaca fenomena ini dan menyajikannya dalam bentuk lirik yang juga instan, mudah dicerna, mudah diterima dan, yang penting, sangat me-remaja.
Di sisi lain, lirik instan dan remaja bisa juga dilihat dari perspektif lain. Lirik yang berkembang saat ini (yang bertemakan cinta segitiga, selingkuh dan semacamnya) jika benar merupakan refleksi remaja, maka akan menimbulkan pertanyaan besar jika dikaitkan dengan budaya yang selama ini dianut: budaya Minangkabau, misalnya.
Dalam budaya Minang ditemukan bahwa, secara tidak langsung, dianggap hubungan yang terjadi antara dua anak manusia yang berlainan jenis kelamin merupakan suatu hal yang dianggap kurang enak dipandang mata, bahkan bisa jadi dianggap tabu. Jika terdapat hubungan seperti di atas, maka pastilah mereka yang menjalaninya akan sembunyi-sembunyi, jangan sampai ketahuan oleh orang banyak apalagi oleh mamak. Layaknya seperti itu.
Namun jika ditilik dari lirik lagu yang sedang berkembang, maka rasa malu untuk berhubungan dengan lawan jenis sudah pudar. Jangankan untuk menjalani hubungan biasa, bahkan untuk berselingkuh pun diekspos dengan semaunya. Dan anehnya, lirik seperti itulah yang tengah laku di pasaran.
Pertanyaan yang muncul adalah, jika benar budaya populer merupakan refleksi dari kehidupan nyata yang sedang berlangsung, apakah ini merupakan gambaran dari kemerosotan remaja? Apakah fenomena ini menyimbolkan dekadensi moral?
*dimuat di Harian Singgalang, Minggu 9 Desember 2007.
** nama pena dari M. Adioska
MADILOG BERBICARA CINTA
(catatan sederhana)
Beberapa hari belakangan ini, untuk mengisi waktu senggang, saya sengaja membaca sebuah buku dengan judul MADILOG karangan Tan Malaka. Buku tersebut sudah cukup uzur, diterbitkan tahun 1951. Sesuai masanya, buku tersebuT memakai ejaan lama, yaitu untuk pembacaan huruf "C" di tulis dengan "tj", dan "j" dengan "dj". Namun untuk huruf "u" telah memakai "u", tak lagi "oe". Tebalnya kira-kira 410 halaman, sayangnya, saya baru membaca beberapa BAB. MADILOG sendiri merupakan singkatan dari Materialisme, Dialektika dan Logika.
Sementara itu, Tan Malaka, sang pengarang, adalah sosok orang yang pada masanya dikenal dengan haluan kiri yang memakai idealisme komunis(atau mungkin karena idealismenya itu ia di anggap kiri? entah...). Saya mengerti, dan semakin mengerti ketika membaca beberapa bab buku tersebut, bahwa komunisme tidak hanya berhubungan dengan ketidak-bertuhanan (Atheis). Jika ditelusuri lebih jauh, komunisme adalah sebuah sistem yang mengatur tentang semua hal, politik, ekonomi, sosial dan segala hal yang menyangkut kepada khalayak ramai. "Sama rata, sama rasa" memberikan guide bagaimana mengambil sikap terhadap sesama manusia. Disana saya juga mendapat inti sari bahwa seorang Tan Malaka dengan idealismenya, menentang keberadaan klas dalam masyarakat. Tak ada kaum borjuis, intelek, ataupun proletar. Yang ada hanya bahwa untuk mencapai kemerdekaan pada waktu itu, yang mesti ditonjolkan adalah kaum buruh, kaum masyarakat bawah,katanya. Dan untuk membangkitkan masyarakat bawah tersebut, tak ada cara lain, selain menerapkan prinsip "sama rata sama rasa". Sehingga dengan prinsip ini jela sekali, bahwa semua orang sama. Sayangnya, idealisme ini terlalu menjunjung dasar kemanusiaan, terlalu meninggikan muamalah, sementara hubungan antara manusia dengan yang Di ATAS tak pernah dikaji. Barangkali, mungkin karena paham ini berdasarkan pada ke-kemateri-anlah yang menyebabkan kata Tuhan di pandang sebelah mata, karena Tuhan tak berwujud.
Dalam Bab-bab awal, Tan Malaka jelas sekali menjunjung pandangan atau teori yang berdasarkan kebendaan. Ia pun memasukkan teori-teori para pemikir lampau. Termaktub dalam Bab LOGIKA MYSTIKA, ia menjelaskan asal mula kehidupan berdasarkan agama dan sangat mempertanyakannya. Bagaimana mungkin sebuh kehidupan yang komplek terjadi hanya dengan satu kata dari Tuhan?barangkali itulah pertanyaannya jika disederhanakan.Ia mempertanyakan kehidupan yang berasal hanya dari sebentuk ruh (Tan Malaka membahasakan dengan Kodrat). Tuhan diyakini sebagai Kodrat. Sementara, menurut teori evolusi, makhluk terjadi berdasarkan pada perkembangan fisik. Dari hewan air,berubah menjadi amfibi,lalu mamalia, kera dan akhirnya manusia. Semua itu benda, dan dapat diamati. Lebih jauh, Tan Malaka mempertanyakan bagaimana Kodrat tanpa Materi?Ruh tak lengkap tanpa jasad, makanya ia lebih mengakui keberadaan materi.
Mengenai persepsi tentang Kodrat dan Materi yang di usung Tan Malaka, entah kenapa pikiran liar saya membawa kepada sebuah ide yang pernah saya tuliskan dalam Buletin di Forum ini. Kalo tidak salah berjudul CINTA= HATI+JANTUNG. Dalam tulisan itu saya ungkapkan bahwa cinta yang hanya mengandalkan hati akan menyakitkan. Sementara jika melibatkan jantung akan menyeimbangkan. Maksudnya, hati, sebagaimana yang kita ketahui bersama, berhubungan dengan perasaan. Jika perasaan telah mati, apakah kita masih hidup. Jika berdasarkan hanya kepada hati, tentu dapat dipastikan MATI. Namun ternyata, jaka hati telah hancur, maka masih ada sebuah Jantung yang berfungsi sebagai penggerak hidup sebenarnya. Barangkali dapat disederhanakan, betapapun hancurnya hati, jantung masih berdenyut. Betapapun menyakitkan perasaan, life must go on!
Jika di lihat dari sudut pandang uraian Tan Malaka dalam MADILOG, maka saya asumsikan bahwa untuk cinta, hati adalah kodrat, sementara jantung adalah materi.Hati dapat memerintahkan apa saja, dapat merasakan segala;senang, susah, suka, duka.Sementara Jantunglah yang menggerakkan, jantunglah yang menjadikannya nyata. Tanpa jantung, cinta hanya akan tersimpan tanpa perwujudan. Tentu, tanpa jantung manusia tak akan mampu mengungkapkan, karena tanpa jantung berarti MATI.
Jadi, benarlah kiranya kalau Kodrat tanpa Materi memang bisa dipertanyakan keabsahannya...(kecuali kepada mereka yang sangat fanatik, bahkan untuk mempertanyakan tentang sifat Sang Kodrat saja di anggap salah) Sebaliknya, materi tanpa Kodrat bukanlah apa-apa. Sayangnya, dalam MADILOG, diungkapkan secara samar bahwa Materi adalah komponen yang terpenting.
Dan, untuk Cinta, Hati dan Jantung haruslah sejalan, sebagai representasi dari Kodrat dan Materi. Karena dengan hati saja, cinta memang sering menyakitkan. Sebaliknya, dengan jantung saja, cinta adalah sesuatu yang hambar.
Beberapa hari belakangan ini, untuk mengisi waktu senggang, saya sengaja membaca sebuah buku dengan judul MADILOG karangan Tan Malaka. Buku tersebut sudah cukup uzur, diterbitkan tahun 1951. Sesuai masanya, buku tersebuT memakai ejaan lama, yaitu untuk pembacaan huruf "C" di tulis dengan "tj", dan "j" dengan "dj". Namun untuk huruf "u" telah memakai "u", tak lagi "oe". Tebalnya kira-kira 410 halaman, sayangnya, saya baru membaca beberapa BAB. MADILOG sendiri merupakan singkatan dari Materialisme, Dialektika dan Logika.
Sementara itu, Tan Malaka, sang pengarang, adalah sosok orang yang pada masanya dikenal dengan haluan kiri yang memakai idealisme komunis(atau mungkin karena idealismenya itu ia di anggap kiri? entah...). Saya mengerti, dan semakin mengerti ketika membaca beberapa bab buku tersebut, bahwa komunisme tidak hanya berhubungan dengan ketidak-bertuhanan (Atheis). Jika ditelusuri lebih jauh, komunisme adalah sebuah sistem yang mengatur tentang semua hal, politik, ekonomi, sosial dan segala hal yang menyangkut kepada khalayak ramai. "Sama rata, sama rasa" memberikan guide bagaimana mengambil sikap terhadap sesama manusia. Disana saya juga mendapat inti sari bahwa seorang Tan Malaka dengan idealismenya, menentang keberadaan klas dalam masyarakat. Tak ada kaum borjuis, intelek, ataupun proletar. Yang ada hanya bahwa untuk mencapai kemerdekaan pada waktu itu, yang mesti ditonjolkan adalah kaum buruh, kaum masyarakat bawah,katanya. Dan untuk membangkitkan masyarakat bawah tersebut, tak ada cara lain, selain menerapkan prinsip "sama rata sama rasa". Sehingga dengan prinsip ini jela sekali, bahwa semua orang sama. Sayangnya, idealisme ini terlalu menjunjung dasar kemanusiaan, terlalu meninggikan muamalah, sementara hubungan antara manusia dengan yang Di ATAS tak pernah dikaji. Barangkali, mungkin karena paham ini berdasarkan pada ke-kemateri-anlah yang menyebabkan kata Tuhan di pandang sebelah mata, karena Tuhan tak berwujud.
Dalam Bab-bab awal, Tan Malaka jelas sekali menjunjung pandangan atau teori yang berdasarkan kebendaan. Ia pun memasukkan teori-teori para pemikir lampau. Termaktub dalam Bab LOGIKA MYSTIKA, ia menjelaskan asal mula kehidupan berdasarkan agama dan sangat mempertanyakannya. Bagaimana mungkin sebuh kehidupan yang komplek terjadi hanya dengan satu kata dari Tuhan?barangkali itulah pertanyaannya jika disederhanakan.Ia mempertanyakan kehidupan yang berasal hanya dari sebentuk ruh (Tan Malaka membahasakan dengan Kodrat). Tuhan diyakini sebagai Kodrat. Sementara, menurut teori evolusi, makhluk terjadi berdasarkan pada perkembangan fisik. Dari hewan air,berubah menjadi amfibi,lalu mamalia, kera dan akhirnya manusia. Semua itu benda, dan dapat diamati. Lebih jauh, Tan Malaka mempertanyakan bagaimana Kodrat tanpa Materi?Ruh tak lengkap tanpa jasad, makanya ia lebih mengakui keberadaan materi.
Mengenai persepsi tentang Kodrat dan Materi yang di usung Tan Malaka, entah kenapa pikiran liar saya membawa kepada sebuah ide yang pernah saya tuliskan dalam Buletin di Forum ini. Kalo tidak salah berjudul CINTA= HATI+JANTUNG. Dalam tulisan itu saya ungkapkan bahwa cinta yang hanya mengandalkan hati akan menyakitkan. Sementara jika melibatkan jantung akan menyeimbangkan. Maksudnya, hati, sebagaimana yang kita ketahui bersama, berhubungan dengan perasaan. Jika perasaan telah mati, apakah kita masih hidup. Jika berdasarkan hanya kepada hati, tentu dapat dipastikan MATI. Namun ternyata, jaka hati telah hancur, maka masih ada sebuah Jantung yang berfungsi sebagai penggerak hidup sebenarnya. Barangkali dapat disederhanakan, betapapun hancurnya hati, jantung masih berdenyut. Betapapun menyakitkan perasaan, life must go on!
Jika di lihat dari sudut pandang uraian Tan Malaka dalam MADILOG, maka saya asumsikan bahwa untuk cinta, hati adalah kodrat, sementara jantung adalah materi.Hati dapat memerintahkan apa saja, dapat merasakan segala;senang, susah, suka, duka.Sementara Jantunglah yang menggerakkan, jantunglah yang menjadikannya nyata. Tanpa jantung, cinta hanya akan tersimpan tanpa perwujudan. Tentu, tanpa jantung manusia tak akan mampu mengungkapkan, karena tanpa jantung berarti MATI.
Jadi, benarlah kiranya kalau Kodrat tanpa Materi memang bisa dipertanyakan keabsahannya...(kecuali kepada mereka yang sangat fanatik, bahkan untuk mempertanyakan tentang sifat Sang Kodrat saja di anggap salah) Sebaliknya, materi tanpa Kodrat bukanlah apa-apa. Sayangnya, dalam MADILOG, diungkapkan secara samar bahwa Materi adalah komponen yang terpenting.
Dan, untuk Cinta, Hati dan Jantung haruslah sejalan, sebagai representasi dari Kodrat dan Materi. Karena dengan hati saja, cinta memang sering menyakitkan. Sebaliknya, dengan jantung saja, cinta adalah sesuatu yang hambar.
Tuesday, 26 February 2008
mata
Ujung senja berangin.
Kukira perjalananku telah usai sesaat setelah aku pulang dari rantau. Menyelesaikan pelajaran hidup dan mengumpulkan berbagai pengalaman. Tak pernah kupilah, baik dan buruk kukantongi. Kujadikan bukti bahwa aku benar-benar telah merasakan hidup dengan segala parasaiannya. Kata Bapak, itulah syarat untuk menjadi lelaki sejati. Kalau perlu, tambahnya, aku harus mengarungi samudera, membelah gurun dan menaklukkan kehidupan liar. Tapi tak usah, bantahnya pula, toh di negeri ini tak terlalu banyak ditemukan ombak tinggi, tak ada padang pasir serupa negeri lain dan alamnya pun hanya pantas untuk sekedar dinikmati. Lagi pula, ini zaman bukan nomaden.
Kubawa bekalku dalam sebuah buntalan kecil, tersandang di pundakku. Sementara pengalaman kukemas apik dalam hati, sebagian kusimpan di otak sebagai bahan pemikiran. Aneh, justru beban yang kubawa kurasa tak seberapa. Hati dan otakku lebih berat. Kalaulah ada perkakas untuk mengukur, kuperkirakan berat keduanya sama atau lebih dari berat badanku secara keseluruhan. Memang berat.
Dalam perjalanan tak pernah jiwaku benar-benar istirahat. Mataku boleh terlihat terpejam. Mereka pasti menyangka aku sedang lelap. Bermain dengan mimpi. Bahkan jika mereka sekali-kali melihat senyumku dalam lelap itu, mereka pasti ingin bergabung. Tapi tidak, senyumku waktu itu adalah wujud kebodohan diri. Dalam tidur yang tak benar-benar lelap, aku menertawakan diriku sendiri. Menertawakan keluguan, kepicikan dan kepatuhan pada apa yang tertulis dan dituliskan untukku.
Sesampai dirumah, dihadapan Bapak, kukeluarkan seluruh bekal yang selama dalam perjalanan setia di pundakku. Tak satupun tersisa. Disana tampak pakaian usang. Mereka telah terlalu lama menemaniku dengan ukuran setia yang tak terbaca. Putih telah mengusam, tak jarang orang lain menyangka warna aslinya coklat muda. Bapak diam. Ah, pastilah dia sudah tahu cerita dibalik bekal yang kini ada di hadapannya. Tentang bekalku, Bapak tak banyak suara. Tak kata. Tak tanya.
Beberapa jenak, Bapak bersuara. Menanyakan tentang langkahku selanjutnya. Aku diam. Bukankah kepergianku selama ini adalah kehendak Bapak? Dalam pikiranku, ia pastilah telah mempunyai jalan yang ia rintis untukku. Lalu, untuk apa ia bertanya tentang langkahku? Toh selama ini, bukankah ia juga yang dengan sadar atau tidak menata langkahku?
Tak menemukan jawaban, Bapak mulai bertanya tentang apa yang aku simpan dalam hati dan sebagian lagi di otak. Kukeluarkan juga semuanya. Kuceritakan segalanya. Dari alur yang paling kotor hingga pada idealisme yang aku peroleh. Bapak hanya mendengar. Diam, kadang mengangguk. Setelah itu, Bapak beranjak. Aku sendiri.
Dan taukah kau, ada satu cerita yang kuputuskan takkan pernah kuceritakan pada Bapak atau orang lain; cerita tentang dirimu, Nda. Sebab bagiku, cerita dirimu adalah kisah suci. Alur yang kubangun sendiri atas dasar kemauan sendiri pula. Pilihanku telah jatuh atas dirimu, dan akulah yang akan bertanggung atas pilihan tersebut. Makanya setiap ada kata rindu, biarlah aku sendiri yang tahu seberapa dalam rindu itu. Padamu biarlah senyap. Barangkali angin yang berbaik hati akan menyampaikannya padamu.
***
Kuputuskan untuk melangkah. Pergi meninggalkan kampung ini. Aku bermaksud mencari sendiri setiap arti hidup yang kata Bapak terbentang luas dipermukaan bumi. Bedanya, jika dahulu aku pergi karena sedikit keterpaksaan, sekarang aku berjalan dengan kemauan sendiri. Keterpaksaan manut yang aku jalani selama ini ternyata telah membentukku. Aku yang dulu patuh disuruh untuk merantau, kini selalu saja melangkah menjauhi kampung. Hidup di negeri orang bukan lagi sebuah penerapan kehendak orang lain terhadapku, tetapi telah merupakan suatu kebutuhan –mungkin.
Mata. Penyebab lain kepergianku kali ini. Ya, mata para penghuni kampung ini, yang dalam artian sederhana ranahku juga, menusuk terlalu dalam. Mereka seakan mempunyai daya magis yang disalurkan melalui indera penglihatan. Sorot mereka setajam samurai. Mata mereka tak hanya melirik tapi juga meluka. Barangkali jika aku tak salah mengartikan, mereka berkata;
“ah, ini dia si anak bejat, yang karena dia, Bapaknya rela mencuri kotak infaq di masjid”
Cerita yang sampai padaku mengisahkan bahwa Bapak dituduh mencuri kotak infaq dengan alasan untuk kepentinganku di rantau. Itu menurut mereka.
Sementara, Bapak kepadaku tak pernah bercerita. Ia hanya berkata sederhana, katanya penduduk kampung mengucilkannya. Pengucilan, sebuah hukum-moral purba yang masih efektif jika diterapkan sepenuh hati. Aku tak ingin mengungkit, lagi pula, entah dari bisikan mana, aku merasa Bapak tidak bersalah.
Semakin hari, mata itu semakin garang. Apalagi mendapati kepulanganku dari rantau tak berbekas apa-apa. Aku tak membawa karya. Yang ada hanya, sesampai dikampung aku menemani Bapak duduk didepan rumah menikmati kucilan penduduk sembari menyeruput teh yang dibeli dari hasil ladang musim kemarin –semuanya dikerjakan sendiri oleh Bapak.
Kepergianku diselimuti subuh, diiringi rintik sisa hujan semalam. Bapak masih lelap. Tapi aku yakin ia tahu aku akan pergi. Ah, egoku bermain. Bukankah pada saat seperti ini seharusnya aku menguatkan Bapak? Menemaninya dari keterasingan kucil. Namun, batinku berkata lain, ia ingin bebas. Aku tak lagi ingin dipetakan. Jika dulu aku disuruh merantau karena kemauan Bapak, maka sekarang aku ingin pergi atas kemauanku. Aku dan bebas. Tak ada mata. Ya, tanpa mata itu, yang telah dengan kejam menebas rasaku atas sebuah kampung milikku sendiri. Aku ingin hidup tenang.
***
Berbagai negeri telah kusaksikan kini. Telah kusinggahi dan kugagahi sebagai seorang muda yang mencari hidup. Anehnya, tak pernah aku merasa tentram. Setelah beberapa hari –barangkali juga bulan- hidup di satu negeri, batinku memberontak. Jiwaku menuntut beranjak. Satu negeri tidak baik dan tidak cukup. Dalam hatiku, aku masih merasa mata itu selalu mengikuti. Mata setajam samurai mengikutiku dengan dua kata menyakitkan; anak pencuri.
Rindu ternyata masih terisisa di hatiku. Betapapun aku menyibukkan diri dengan berpindah atau sekedar mempertahankan hidup, rasa itu selalu datang. Jauh di dalam hatiku, terbersit sebuah keinginan untuk menikmati hijau kampungku, menyaksikan bangau-bangau terbang seperti kapas dengan latar langit biru. Menghirup bau tanah, menikmati aroma malam dengan segala kesederhanaan kampung. Namun akhirnya, keinginan itu buyar sesaat setelah aku ingat sorot tajam dari mata yang suka menghakimi. Menatap menelanjangi.
Tapi tahukah kau? Jauh disana, disudut yang tak pernah terkena cahaya di hatiku, rinduku telah berkarat atas namamu. Perjalananku yang mungkin takkan berakhir tak mampu menghapus namamu. Kerinduanku padamu melebihi perasaanku ingin kembali ke kampung atau pun bertemu Bapak. Rindu dan namamu berkarat sejadi-jadinya.
Epilog
Bukankah sudah pernah kukatakan bahwa aku menyayangimu? Dan saat itu, kau hanya tertunduk dengan senyum yang sangat sederhana. Bukankah sudah kukatakan juga bahwa aku tak bisa membaca tanda? Makanya, sampai saat ini aku tak pernah bisa mengartikan diammu.
Kepulanganku dari rantau hanya menyisakan satu pelajaran yang paling berharga tentang hati. Aku belajar cara menyayangi seorang makhluk indah dengan nama perempuan. Kerinduanku pada perempuan terobati sesaat setelah mengenalmu.
Padamu kutemukan kesejukan. Padamu kudapatkan ketenangan. Bagiku segala tingkahmu telah menghidupkan sebuah paradigma tentang seorang ibu. Ah, pernahkah kuceritakan padamu bahwa ibuku rela menukar nafasnya untuk hidupku? Aku merenggut nyawanya ketika ia memberikan aku hidup. Pertemuan itu antara ada dan tiada.
Kepergianku untuk merantau lagi bukan untuk menemuimu karena bagaimanapun aku masih tak bisa mengartikan diammu nan sederhana itu. Mata yang selalu menatapku, benar, memang menyakitkan. Mengulitiku hidup-hidup. Seandainya aku tak pernah mengenal mata seindah dan sesejuk matamu, barangkali aku akan tahan jika disorot sedemikian. Namun, aku tahu, ada mata paling indah yang pernah menatapku, oleh karenanya aku tak tahan dengan sedikitpun sorotan aneh.
Matamu memberi kedamaian. Matamu menawarkan kenyamanan. Matamu menyajikan kesejukan. Alasanku pergi meninggalkan Bapak karena mata orang kampung hanya sebuah kamuflase. Aku pergi untuk menemukan mata yang paling indah milikmu, namun sayangnya aku masih tak bisa menangkap arti disebaliknya. Ah, biarlah, cukup saja kerinduanku pada matamu hanya sebatas di lamunan. Yang pasti, aku pergi untukmu saja, Nda.
YasminAkbar||Padang, 190208
Kukira perjalananku telah usai sesaat setelah aku pulang dari rantau. Menyelesaikan pelajaran hidup dan mengumpulkan berbagai pengalaman. Tak pernah kupilah, baik dan buruk kukantongi. Kujadikan bukti bahwa aku benar-benar telah merasakan hidup dengan segala parasaiannya. Kata Bapak, itulah syarat untuk menjadi lelaki sejati. Kalau perlu, tambahnya, aku harus mengarungi samudera, membelah gurun dan menaklukkan kehidupan liar. Tapi tak usah, bantahnya pula, toh di negeri ini tak terlalu banyak ditemukan ombak tinggi, tak ada padang pasir serupa negeri lain dan alamnya pun hanya pantas untuk sekedar dinikmati. Lagi pula, ini zaman bukan nomaden.
Kubawa bekalku dalam sebuah buntalan kecil, tersandang di pundakku. Sementara pengalaman kukemas apik dalam hati, sebagian kusimpan di otak sebagai bahan pemikiran. Aneh, justru beban yang kubawa kurasa tak seberapa. Hati dan otakku lebih berat. Kalaulah ada perkakas untuk mengukur, kuperkirakan berat keduanya sama atau lebih dari berat badanku secara keseluruhan. Memang berat.
Dalam perjalanan tak pernah jiwaku benar-benar istirahat. Mataku boleh terlihat terpejam. Mereka pasti menyangka aku sedang lelap. Bermain dengan mimpi. Bahkan jika mereka sekali-kali melihat senyumku dalam lelap itu, mereka pasti ingin bergabung. Tapi tidak, senyumku waktu itu adalah wujud kebodohan diri. Dalam tidur yang tak benar-benar lelap, aku menertawakan diriku sendiri. Menertawakan keluguan, kepicikan dan kepatuhan pada apa yang tertulis dan dituliskan untukku.
Sesampai dirumah, dihadapan Bapak, kukeluarkan seluruh bekal yang selama dalam perjalanan setia di pundakku. Tak satupun tersisa. Disana tampak pakaian usang. Mereka telah terlalu lama menemaniku dengan ukuran setia yang tak terbaca. Putih telah mengusam, tak jarang orang lain menyangka warna aslinya coklat muda. Bapak diam. Ah, pastilah dia sudah tahu cerita dibalik bekal yang kini ada di hadapannya. Tentang bekalku, Bapak tak banyak suara. Tak kata. Tak tanya.
Beberapa jenak, Bapak bersuara. Menanyakan tentang langkahku selanjutnya. Aku diam. Bukankah kepergianku selama ini adalah kehendak Bapak? Dalam pikiranku, ia pastilah telah mempunyai jalan yang ia rintis untukku. Lalu, untuk apa ia bertanya tentang langkahku? Toh selama ini, bukankah ia juga yang dengan sadar atau tidak menata langkahku?
Tak menemukan jawaban, Bapak mulai bertanya tentang apa yang aku simpan dalam hati dan sebagian lagi di otak. Kukeluarkan juga semuanya. Kuceritakan segalanya. Dari alur yang paling kotor hingga pada idealisme yang aku peroleh. Bapak hanya mendengar. Diam, kadang mengangguk. Setelah itu, Bapak beranjak. Aku sendiri.
Dan taukah kau, ada satu cerita yang kuputuskan takkan pernah kuceritakan pada Bapak atau orang lain; cerita tentang dirimu, Nda. Sebab bagiku, cerita dirimu adalah kisah suci. Alur yang kubangun sendiri atas dasar kemauan sendiri pula. Pilihanku telah jatuh atas dirimu, dan akulah yang akan bertanggung atas pilihan tersebut. Makanya setiap ada kata rindu, biarlah aku sendiri yang tahu seberapa dalam rindu itu. Padamu biarlah senyap. Barangkali angin yang berbaik hati akan menyampaikannya padamu.
***
Kuputuskan untuk melangkah. Pergi meninggalkan kampung ini. Aku bermaksud mencari sendiri setiap arti hidup yang kata Bapak terbentang luas dipermukaan bumi. Bedanya, jika dahulu aku pergi karena sedikit keterpaksaan, sekarang aku berjalan dengan kemauan sendiri. Keterpaksaan manut yang aku jalani selama ini ternyata telah membentukku. Aku yang dulu patuh disuruh untuk merantau, kini selalu saja melangkah menjauhi kampung. Hidup di negeri orang bukan lagi sebuah penerapan kehendak orang lain terhadapku, tetapi telah merupakan suatu kebutuhan –mungkin.
Mata. Penyebab lain kepergianku kali ini. Ya, mata para penghuni kampung ini, yang dalam artian sederhana ranahku juga, menusuk terlalu dalam. Mereka seakan mempunyai daya magis yang disalurkan melalui indera penglihatan. Sorot mereka setajam samurai. Mata mereka tak hanya melirik tapi juga meluka. Barangkali jika aku tak salah mengartikan, mereka berkata;
“ah, ini dia si anak bejat, yang karena dia, Bapaknya rela mencuri kotak infaq di masjid”
Cerita yang sampai padaku mengisahkan bahwa Bapak dituduh mencuri kotak infaq dengan alasan untuk kepentinganku di rantau. Itu menurut mereka.
Sementara, Bapak kepadaku tak pernah bercerita. Ia hanya berkata sederhana, katanya penduduk kampung mengucilkannya. Pengucilan, sebuah hukum-moral purba yang masih efektif jika diterapkan sepenuh hati. Aku tak ingin mengungkit, lagi pula, entah dari bisikan mana, aku merasa Bapak tidak bersalah.
Semakin hari, mata itu semakin garang. Apalagi mendapati kepulanganku dari rantau tak berbekas apa-apa. Aku tak membawa karya. Yang ada hanya, sesampai dikampung aku menemani Bapak duduk didepan rumah menikmati kucilan penduduk sembari menyeruput teh yang dibeli dari hasil ladang musim kemarin –semuanya dikerjakan sendiri oleh Bapak.
Kepergianku diselimuti subuh, diiringi rintik sisa hujan semalam. Bapak masih lelap. Tapi aku yakin ia tahu aku akan pergi. Ah, egoku bermain. Bukankah pada saat seperti ini seharusnya aku menguatkan Bapak? Menemaninya dari keterasingan kucil. Namun, batinku berkata lain, ia ingin bebas. Aku tak lagi ingin dipetakan. Jika dulu aku disuruh merantau karena kemauan Bapak, maka sekarang aku ingin pergi atas kemauanku. Aku dan bebas. Tak ada mata. Ya, tanpa mata itu, yang telah dengan kejam menebas rasaku atas sebuah kampung milikku sendiri. Aku ingin hidup tenang.
***
Berbagai negeri telah kusaksikan kini. Telah kusinggahi dan kugagahi sebagai seorang muda yang mencari hidup. Anehnya, tak pernah aku merasa tentram. Setelah beberapa hari –barangkali juga bulan- hidup di satu negeri, batinku memberontak. Jiwaku menuntut beranjak. Satu negeri tidak baik dan tidak cukup. Dalam hatiku, aku masih merasa mata itu selalu mengikuti. Mata setajam samurai mengikutiku dengan dua kata menyakitkan; anak pencuri.
Rindu ternyata masih terisisa di hatiku. Betapapun aku menyibukkan diri dengan berpindah atau sekedar mempertahankan hidup, rasa itu selalu datang. Jauh di dalam hatiku, terbersit sebuah keinginan untuk menikmati hijau kampungku, menyaksikan bangau-bangau terbang seperti kapas dengan latar langit biru. Menghirup bau tanah, menikmati aroma malam dengan segala kesederhanaan kampung. Namun akhirnya, keinginan itu buyar sesaat setelah aku ingat sorot tajam dari mata yang suka menghakimi. Menatap menelanjangi.
Tapi tahukah kau? Jauh disana, disudut yang tak pernah terkena cahaya di hatiku, rinduku telah berkarat atas namamu. Perjalananku yang mungkin takkan berakhir tak mampu menghapus namamu. Kerinduanku padamu melebihi perasaanku ingin kembali ke kampung atau pun bertemu Bapak. Rindu dan namamu berkarat sejadi-jadinya.
Epilog
Bukankah sudah pernah kukatakan bahwa aku menyayangimu? Dan saat itu, kau hanya tertunduk dengan senyum yang sangat sederhana. Bukankah sudah kukatakan juga bahwa aku tak bisa membaca tanda? Makanya, sampai saat ini aku tak pernah bisa mengartikan diammu.
Kepulanganku dari rantau hanya menyisakan satu pelajaran yang paling berharga tentang hati. Aku belajar cara menyayangi seorang makhluk indah dengan nama perempuan. Kerinduanku pada perempuan terobati sesaat setelah mengenalmu.
Padamu kutemukan kesejukan. Padamu kudapatkan ketenangan. Bagiku segala tingkahmu telah menghidupkan sebuah paradigma tentang seorang ibu. Ah, pernahkah kuceritakan padamu bahwa ibuku rela menukar nafasnya untuk hidupku? Aku merenggut nyawanya ketika ia memberikan aku hidup. Pertemuan itu antara ada dan tiada.
Kepergianku untuk merantau lagi bukan untuk menemuimu karena bagaimanapun aku masih tak bisa mengartikan diammu nan sederhana itu. Mata yang selalu menatapku, benar, memang menyakitkan. Mengulitiku hidup-hidup. Seandainya aku tak pernah mengenal mata seindah dan sesejuk matamu, barangkali aku akan tahan jika disorot sedemikian. Namun, aku tahu, ada mata paling indah yang pernah menatapku, oleh karenanya aku tak tahan dengan sedikitpun sorotan aneh.
Matamu memberi kedamaian. Matamu menawarkan kenyamanan. Matamu menyajikan kesejukan. Alasanku pergi meninggalkan Bapak karena mata orang kampung hanya sebuah kamuflase. Aku pergi untuk menemukan mata yang paling indah milikmu, namun sayangnya aku masih tak bisa menangkap arti disebaliknya. Ah, biarlah, cukup saja kerinduanku pada matamu hanya sebatas di lamunan. Yang pasti, aku pergi untukmu saja, Nda.
YasminAkbar||Padang, 190208
Monday, 25 February 2008
pesan rindu
Semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bersahutan dalam temaram kamarku. Berbincang tentang sesuatu yang resah. Sesuatu yang menggelisah teramat dalam. Ada sebersit kuasa yang hilang; kekuatan untuk bermimpi dan berharap. Ia memudar, dariku hingga kamar ini. Makanya lelap tak ada. Jaga senyum sumringah.
Aku tahu, di sudut sana, seorang gadis sedang lelap dengan damai. Dengan senyum yang ia simpan entah dimana, barangkali dibalik bantal. Ia tentunya sedang bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Rambutnya menawanku. Dalam sebuah sketsa, kusaksikan beberapa lembaran hitam itu jatuh ringan. Membelintang dari kiri atas dahi hingga pipi kanannnya. Putih wajahnya jelas tergambar.
Geraknya tak pernah patah. Gemulai. Layak rambutnya yang selalu menari riang jika disapa angin. Ah, itu saja sudah cukup untuk memenuhi kamarku.
Sapa pertama kulakukan empat tahun yang lalu. Saat itu ia tersenyum. Sebuah hadiah terindah yang pernah kuterima dari seorang perempuan. Langsung melesak dalam. Kusimpan di dada. Sesampai di rumah, kupajang di dinding bagian barat, agar setiap pagi ia cerah memantulkan fajar yang tanpa pernah enggan menyelinap melalui celah jendela.
Setahun berikutnya, kudapati ia menyapa, lagi. Duduk disampingku. Bertanya ini-itu. Selalu saja dengan iringan senyum dan tunduk malu. Ia memintal cerita, aku menggulungnya. Saat itu, ia memanggilku sahabat. Dan, cerita indah purnama, gemintang, serta taman berbunga belum termaktub. Seperti biasa, semuanya kupajang dibagian lain dinding kamar. Kamarku makin hidup.
Tahun ketiga, ia cerita. Katanya ada lain hati yang datang seperti pangeran berkuda putih. Meminang dan mengajaknya ke negeri mimpi. Ia silau, aku galau. Nyatanya ia turutkan kehendak. Ia bermain dengan taman seribu bunga bersama pangeran yang datang entah dari mana, katanya dari negeri mimpi. Adakah negeri itu di zaman ini?
Kamarku tak lagi kemilau. Dinding ketiga dari kamar persegiku membawa buram. Sejak saat itu, aku tidur dalam temaram.
Empat tahun kebersamaan. Ia kini datang. Setiap hari mengajakku berbagi cerita. Ia tawarkan suka, ia paparkan duka. Tertawa ia tunjukkan, menangispun ia tak segan. Katanya, pangerannya tak sempurna. Sang pangeran hanya ingin hatinya untuk dia. Sementara ia; ingin mengarungi samudera, membelah gurun, menjelajahi semesta. Ia ingin bebas. Dan, semuanya ia curahkan, hanya padaku. Kepingan-kepingan ceritanya ku pajang di setiap petak jendela kacaku. Hingga tiap pagi, cerita-cerita itu bersinar oleh mentari, kemudian dipantulkan oleh dinding dimana senyum saat sapa pertamaku empat tahun lalu masih terpajang indah. Namun, setiap malam aku selalu lelap dengan temaram.
Sampai detik ini, semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bergemuruh melantunkan lirik ingin bertemu dengan ia yang mewarnai kamarku.tak ada yang tahu. Semua diam. Semua tak peduli.
Hingga kuputuskan untuk menjangkau sebuah benda kemasa-kinian milikku. Sebuah ponsel, sekedar menyampaikan pesan rindu atau isyaratkan cinta. Kurangkai kata. Kutulis. Sebuah kata terbaca; resah.
II
Wahai lelaki. Semalaman kau bersama temaram. Lagumu tak lain dari irama jam dan jantung. Memikirkan ia yang tak pasti memikirkanmu juga. Bisa jadi tidak. Hidupmu tak hanya di kamar. Duniamu tak hanya ia. Maka ia macam apakah yang merisaukanmu?
Cerita yang kau rangkai bersamanya selama empat tahun kebersamaan tak ada yang tahu. Kau hanya menyimpan sendiri berupa hadiah yang terpajang disetiap sisi kamarmu. Lalu, kapankah cerita itu akan sampai padanya?
Jangan harap ia datang kepadamu terlalu dekat, memasuki kamarmu dan menyaksikan koleksi pajanganmu. Kalaupun benar terjadi, bahagiakah ia kau kira? Ia bisa saja menamparmu karena tanpa izin kau masukkan ia dalam daerah pribadimu semaunya. Atau bisa juga ia berlari dan menangis karena ia menganggapmu gila.
Aku bisa saja mengerti tentang semua rasa yang kau alamatkan padanya. Risaumu akan namanya. Gelisahmu akan wujudnya. Galaumu akan ceritanya. Usah kau simpan, sebab segalanya berkarat termasuk rasa.
Tak ada yang akan pernah mengerti seutuhnya akan dirimu, wahai lelaki. Kau pernah ungkapkan bahwa maumu hanya ingin melihatnya bahagia. Kau pun pernah menjanjikan akan selalu ada untuknya dalam wujud apapun. Tapi, pernahkah kau sadar, itu hanya ungkapan penarik hati. Sekedar merayu. Sekedar pencari simpati. Tanpa kau ceritakan pun aku tahu bahwa kau terluka terlalu parah, tergores terlalu dalam saat seorang pangeran mendekatinya.
Lain waktu kau pun berkilah, wahai lelaki. Kau ingin ia bebas. Kau ingin ia lepas, karena itu membuatnya bahagia, ujarmu. Benarkah itu kenyataannya? Tanpa kau ungkapkan pun aku sudah paham, kau berujar itu untuk mengurangi luka. Kau obati hati dengan caramu sendiri.
Ia datang lagi setelah empat tahun kebersamaan. Ia membagimu segalanya. Apakah kau kira ia membutuhkanmu? Baiknya tak usah berbahagia dulu. Ia bisa saja memang memerlukan. Bisa juga menganggapmu tong sampah, tempat pembuangan segala yang buruk. Untuk kemudian ia melangkah dengan segala yang bersih.
Dan, aku mengerti, hingga detik ini kau tetap mendengarkan detak jam dan jantung. Melayangkan pikiranmu pada ia yang mungkin terlelap dengan damai. Dengan senyum yang ia simpan entah dimana, barangkali dibalik bantal. Mungkin juga ia sedang bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Jika kini kau putuskan untuk menyampaikan pesan rindu atau isyaratkan cinta, barangkali memang sudah waktunya. Sebelum masa berlalu terlalu jauh dan sebelum semuanya pudar. Kuatkan maumu. Salurkan getarmu. Meski hanya lewat sebuah pesan pendek. Usah kau tuliskan kata lain. Jangan cuma kau tuliskan resah. Kirimkan saja rindu.
III
Aku tahu, di sudut sana, seorang laki-laki sedang memikirkanku. Barangkali semalaman ia seperti itu. Mungkin setiap malam ia selalu mendengarkan detak jam dan jantung yang selalu bergemuruh. Mungkin juga ia mengartikan itu sebagai lantunan lirik tentang keinginan bertemu aku.
Aku tahu itu setelah empat tahun menjalin kebersamaan dengannya. Ia selalu ada untukku. Dan aku yakin, setiap bersamaku ia selalu menyimpan cerita entah dimana. Barangkali di bawah bantal atau ia pajang di setiap sisi dinding kamarnya.
Keberadaanya tak pernah dapat kuartikan dengan pasti. Ia ada, tapi aku takut mencinta. Ia datang tapi aku bimbang untuk menyayang. Ia pergi, terkadang aku sepi. Makanya kuperlakukan ia tak lebih dari sekedar tempat berbagi, paling tidak hingga kini.
Barangkali ia mengira setiap malam aku terlelap dalam damai. Mungkin juga ia menyangka aku selalu bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Anggapannya benar. Tapi mungkin saja ia tak pernah memikirkan aku sebelum lelap. Langit-langit kamarku sering menjadi layar pikiran. Melihatnya yang selalu berusaha membuatku bahagia. Aku pun menyaksikan lukanya saat melihat aku melangkah bersama si pangeran tahun ketiga kebersamaan kami. Dan ketika aku datang, ia menyambutku dengan sebungkus kacang sebagai teman dalam percakapan. Saat itu, kuuraikan semuanya.
Kebersamaanku dengannya adalah sebuah kenyamanan. Aku tentram berurai kata. Meski aku sadar barangkali sebagian ceritaku melukainya terlalu parah, menggoresnya terlalu dalam. Dan aku tahu semuanya, sesaat setelah ia mengisahkan bekas torehan lukanya. Darah masih mengalir, sedikit.
Dan hingga detik ini, sebelum tidur pikiranku selalu tersesat padanya. Barangkali jika ia mengirimkan sebuah pesan, mimpiku akan semakin indah. Pesan tak bergambar, karena aku tak bisa membaca tanda. Aku berharap akan membaca kata indah di ponselku. Bukan resah, barangkali rindu. Mudah-mudahan tertulis; cinta.
IV
Semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bersahutan dalam temaram kamarku. Aku semakin hilang dalam rasa yang tak menentu. Jika boleh berkehendak, maka aku ingin seluruh hari adalah siang, agar kesendirian malam tak lagi memapahku padanya. Ia bagiku berarti keindahan sekaligus penyiksaan. Darinya aku sejuk. Dan darinya aku tahu, aku lapuk. Tak kuasa. Tak suara.
Telah ratusan malam aku berlaku seperti ini. Klimaksnya telah kucapai. Hingga tanpa sadar, satu persatu rasa itu telah memudar, barangkali mulai mengkarat. Terbersit dalam pikiranku untuk melangkah. Menjauh. Meski kusadari pergi adalah bunuh diri. Makanya, malam ini, kutuntaskan pesanku. Kurangkai huruf per huruf hingga terbaca; sayang.
V
Wahai lelaki, kepergian adalah wujud lain kelemahan. Pergimu adalah nodamu. Kau melangkah, kau terbaca. Pikiran picikmu langsung tertulis. Bukankah dulu kau pernah berkata bahwa ia hanya seorang perempuan? Dan justru karena ke-perempuan-an itulah kau lemah, aku mengerti. Aku tak lagi mengenalmu, wahai lelaki.
Adakah jaminan kau tak akan seperti ini di belahan bumi lain seandainya kau pergi? Jika kau yakin, aku salutkan kepergianmu. Namun, apakah arti rindumu selama ini?
VI
“ha..ha..ha..”
Padang, Feb ‘08
Aku tahu, di sudut sana, seorang gadis sedang lelap dengan damai. Dengan senyum yang ia simpan entah dimana, barangkali dibalik bantal. Ia tentunya sedang bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Rambutnya menawanku. Dalam sebuah sketsa, kusaksikan beberapa lembaran hitam itu jatuh ringan. Membelintang dari kiri atas dahi hingga pipi kanannnya. Putih wajahnya jelas tergambar.
Geraknya tak pernah patah. Gemulai. Layak rambutnya yang selalu menari riang jika disapa angin. Ah, itu saja sudah cukup untuk memenuhi kamarku.
Sapa pertama kulakukan empat tahun yang lalu. Saat itu ia tersenyum. Sebuah hadiah terindah yang pernah kuterima dari seorang perempuan. Langsung melesak dalam. Kusimpan di dada. Sesampai di rumah, kupajang di dinding bagian barat, agar setiap pagi ia cerah memantulkan fajar yang tanpa pernah enggan menyelinap melalui celah jendela.
Setahun berikutnya, kudapati ia menyapa, lagi. Duduk disampingku. Bertanya ini-itu. Selalu saja dengan iringan senyum dan tunduk malu. Ia memintal cerita, aku menggulungnya. Saat itu, ia memanggilku sahabat. Dan, cerita indah purnama, gemintang, serta taman berbunga belum termaktub. Seperti biasa, semuanya kupajang dibagian lain dinding kamar. Kamarku makin hidup.
Tahun ketiga, ia cerita. Katanya ada lain hati yang datang seperti pangeran berkuda putih. Meminang dan mengajaknya ke negeri mimpi. Ia silau, aku galau. Nyatanya ia turutkan kehendak. Ia bermain dengan taman seribu bunga bersama pangeran yang datang entah dari mana, katanya dari negeri mimpi. Adakah negeri itu di zaman ini?
Kamarku tak lagi kemilau. Dinding ketiga dari kamar persegiku membawa buram. Sejak saat itu, aku tidur dalam temaram.
Empat tahun kebersamaan. Ia kini datang. Setiap hari mengajakku berbagi cerita. Ia tawarkan suka, ia paparkan duka. Tertawa ia tunjukkan, menangispun ia tak segan. Katanya, pangerannya tak sempurna. Sang pangeran hanya ingin hatinya untuk dia. Sementara ia; ingin mengarungi samudera, membelah gurun, menjelajahi semesta. Ia ingin bebas. Dan, semuanya ia curahkan, hanya padaku. Kepingan-kepingan ceritanya ku pajang di setiap petak jendela kacaku. Hingga tiap pagi, cerita-cerita itu bersinar oleh mentari, kemudian dipantulkan oleh dinding dimana senyum saat sapa pertamaku empat tahun lalu masih terpajang indah. Namun, setiap malam aku selalu lelap dengan temaram.
Sampai detik ini, semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bergemuruh melantunkan lirik ingin bertemu dengan ia yang mewarnai kamarku.tak ada yang tahu. Semua diam. Semua tak peduli.
Hingga kuputuskan untuk menjangkau sebuah benda kemasa-kinian milikku. Sebuah ponsel, sekedar menyampaikan pesan rindu atau isyaratkan cinta. Kurangkai kata. Kutulis. Sebuah kata terbaca; resah.
II
Wahai lelaki. Semalaman kau bersama temaram. Lagumu tak lain dari irama jam dan jantung. Memikirkan ia yang tak pasti memikirkanmu juga. Bisa jadi tidak. Hidupmu tak hanya di kamar. Duniamu tak hanya ia. Maka ia macam apakah yang merisaukanmu?
Cerita yang kau rangkai bersamanya selama empat tahun kebersamaan tak ada yang tahu. Kau hanya menyimpan sendiri berupa hadiah yang terpajang disetiap sisi kamarmu. Lalu, kapankah cerita itu akan sampai padanya?
Jangan harap ia datang kepadamu terlalu dekat, memasuki kamarmu dan menyaksikan koleksi pajanganmu. Kalaupun benar terjadi, bahagiakah ia kau kira? Ia bisa saja menamparmu karena tanpa izin kau masukkan ia dalam daerah pribadimu semaunya. Atau bisa juga ia berlari dan menangis karena ia menganggapmu gila.
Aku bisa saja mengerti tentang semua rasa yang kau alamatkan padanya. Risaumu akan namanya. Gelisahmu akan wujudnya. Galaumu akan ceritanya. Usah kau simpan, sebab segalanya berkarat termasuk rasa.
Tak ada yang akan pernah mengerti seutuhnya akan dirimu, wahai lelaki. Kau pernah ungkapkan bahwa maumu hanya ingin melihatnya bahagia. Kau pun pernah menjanjikan akan selalu ada untuknya dalam wujud apapun. Tapi, pernahkah kau sadar, itu hanya ungkapan penarik hati. Sekedar merayu. Sekedar pencari simpati. Tanpa kau ceritakan pun aku tahu bahwa kau terluka terlalu parah, tergores terlalu dalam saat seorang pangeran mendekatinya.
Lain waktu kau pun berkilah, wahai lelaki. Kau ingin ia bebas. Kau ingin ia lepas, karena itu membuatnya bahagia, ujarmu. Benarkah itu kenyataannya? Tanpa kau ungkapkan pun aku sudah paham, kau berujar itu untuk mengurangi luka. Kau obati hati dengan caramu sendiri.
Ia datang lagi setelah empat tahun kebersamaan. Ia membagimu segalanya. Apakah kau kira ia membutuhkanmu? Baiknya tak usah berbahagia dulu. Ia bisa saja memang memerlukan. Bisa juga menganggapmu tong sampah, tempat pembuangan segala yang buruk. Untuk kemudian ia melangkah dengan segala yang bersih.
Dan, aku mengerti, hingga detik ini kau tetap mendengarkan detak jam dan jantung. Melayangkan pikiranmu pada ia yang mungkin terlelap dengan damai. Dengan senyum yang ia simpan entah dimana, barangkali dibalik bantal. Mungkin juga ia sedang bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Jika kini kau putuskan untuk menyampaikan pesan rindu atau isyaratkan cinta, barangkali memang sudah waktunya. Sebelum masa berlalu terlalu jauh dan sebelum semuanya pudar. Kuatkan maumu. Salurkan getarmu. Meski hanya lewat sebuah pesan pendek. Usah kau tuliskan kata lain. Jangan cuma kau tuliskan resah. Kirimkan saja rindu.
III
Aku tahu, di sudut sana, seorang laki-laki sedang memikirkanku. Barangkali semalaman ia seperti itu. Mungkin setiap malam ia selalu mendengarkan detak jam dan jantung yang selalu bergemuruh. Mungkin juga ia mengartikan itu sebagai lantunan lirik tentang keinginan bertemu aku.
Aku tahu itu setelah empat tahun menjalin kebersamaan dengannya. Ia selalu ada untukku. Dan aku yakin, setiap bersamaku ia selalu menyimpan cerita entah dimana. Barangkali di bawah bantal atau ia pajang di setiap sisi dinding kamarnya.
Keberadaanya tak pernah dapat kuartikan dengan pasti. Ia ada, tapi aku takut mencinta. Ia datang tapi aku bimbang untuk menyayang. Ia pergi, terkadang aku sepi. Makanya kuperlakukan ia tak lebih dari sekedar tempat berbagi, paling tidak hingga kini.
Barangkali ia mengira setiap malam aku terlelap dalam damai. Mungkin juga ia menyangka aku selalu bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Anggapannya benar. Tapi mungkin saja ia tak pernah memikirkan aku sebelum lelap. Langit-langit kamarku sering menjadi layar pikiran. Melihatnya yang selalu berusaha membuatku bahagia. Aku pun menyaksikan lukanya saat melihat aku melangkah bersama si pangeran tahun ketiga kebersamaan kami. Dan ketika aku datang, ia menyambutku dengan sebungkus kacang sebagai teman dalam percakapan. Saat itu, kuuraikan semuanya.
Kebersamaanku dengannya adalah sebuah kenyamanan. Aku tentram berurai kata. Meski aku sadar barangkali sebagian ceritaku melukainya terlalu parah, menggoresnya terlalu dalam. Dan aku tahu semuanya, sesaat setelah ia mengisahkan bekas torehan lukanya. Darah masih mengalir, sedikit.
Dan hingga detik ini, sebelum tidur pikiranku selalu tersesat padanya. Barangkali jika ia mengirimkan sebuah pesan, mimpiku akan semakin indah. Pesan tak bergambar, karena aku tak bisa membaca tanda. Aku berharap akan membaca kata indah di ponselku. Bukan resah, barangkali rindu. Mudah-mudahan tertulis; cinta.
IV
Semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bersahutan dalam temaram kamarku. Aku semakin hilang dalam rasa yang tak menentu. Jika boleh berkehendak, maka aku ingin seluruh hari adalah siang, agar kesendirian malam tak lagi memapahku padanya. Ia bagiku berarti keindahan sekaligus penyiksaan. Darinya aku sejuk. Dan darinya aku tahu, aku lapuk. Tak kuasa. Tak suara.
Telah ratusan malam aku berlaku seperti ini. Klimaksnya telah kucapai. Hingga tanpa sadar, satu persatu rasa itu telah memudar, barangkali mulai mengkarat. Terbersit dalam pikiranku untuk melangkah. Menjauh. Meski kusadari pergi adalah bunuh diri. Makanya, malam ini, kutuntaskan pesanku. Kurangkai huruf per huruf hingga terbaca; sayang.
V
Wahai lelaki, kepergian adalah wujud lain kelemahan. Pergimu adalah nodamu. Kau melangkah, kau terbaca. Pikiran picikmu langsung tertulis. Bukankah dulu kau pernah berkata bahwa ia hanya seorang perempuan? Dan justru karena ke-perempuan-an itulah kau lemah, aku mengerti. Aku tak lagi mengenalmu, wahai lelaki.
Adakah jaminan kau tak akan seperti ini di belahan bumi lain seandainya kau pergi? Jika kau yakin, aku salutkan kepergianmu. Namun, apakah arti rindumu selama ini?
VI
“ha..ha..ha..”
Padang, Feb ‘08
Subscribe to:
Posts (Atom)