Monday, 4 December 2006

D O N G E N G E S O K

Namanya Indonesia. Sebuah negeri yang katanya terletak di tanah syurga. Semuanya indah dan memukau dengan hamparan permadani khattulistiwa yang membentang dalam sekeping bagian bumi. Paling tidak itulah cerita tempo dulu yang dilisankan oleh para leluhur bangsa tersebut.
Dinegeri itu juga banyak ditemui legenda tentang muasal suatu daerah atau sebuah keturunan dari berbagai jenis suku bangsa. Namun kini semua itu telah basi yang tidak cukup menarik untuk didengar apalagi untuk dimengerti.
Jika anda hidup sepuluh tahun, lima belas tahun atau dua puluh tahun mendatang, barangkali akan anda temui sebuah legenda yang paling menarik selama nafas melewati hidung anda. Mungkin saja ceritanya begini :
Dimasa yang akan datang akan ada seorang Tukang Kaba* yang akan mengkomersilkan lisannya sejauh yang ia mengerti dan pahami. Ia –barangkali- akan duduk diperempatan jalan, emperan toko atau keramaian-keramaian lain yang kumuh. Maka pada saat itu dimulailah cerita tentang seorang anak manusia yang tidak berperuntungan. Pastinya cerita itu dimulai ketika orang-orang aneh mengerubuni si Tukang Kaba.
“Terimakasih atas sampah hari ini” lirih Julai diujung gang. Ia kini sedang beranjak mengurai langkah meninggalkan perumahan penduduk kalangan menengah kebawah. Pakaian Julai yang lusuh menandakan bahwa ia telah beberapa hari tidak mencucinya. Jangankan untuk mencuci, mandipun ia jarang.
Julai, seorang laki-laki yang umurnya belum terlalu tua namun telah melewati masa muda. Ia adalah sampah dan sampah adalah ia. Setiap hari, setiap detik -menjelang matahari terbenam- ia selalu bergelut dengan sisa pemakaian manusia yang busuk dan menjijikkan itu.
Julai hidup dalam sampah. Ia mengumpulkan sampah sepanjang siang membentang, mengikuti gang-gang perumahan kumuh, juga terkadang ia berharap akan menemukan beberapa butir sampah di sudut komplek perumahan mewah. Tampaknya seluruh masyarakat dimana Julai biasa mengumpulkan sampah sudah sangat paham dengan apa yang dicari Julai. Biasanya, pagi-pagi sekali sekantung plastik besar yang berisi sampah sudah ada di ujung-ujung gang pemukiman penduduk. Lalu dengan mudah Julai mengambilnya dan memasukkannya ke dalam gerobak sampah yang ia buat sendiri.
Telah puluhan tahun ia bergelut dengan sampah. Hari-hari ia habiskan untuk mengangkut sampah ke tempat pembuangan akhir.
“Bugh….” Begitulah bunyi sekarung sampah yang baru saja dikeluarkan Julai dan kemudian melemparkannya keonggokan sampah yang lain.
Begitulah, Julai-sampah tidak terpisahkan. Namun yang namanya manusia, Julai pasti berpikir. Setiap malam datang, dalam kesunyian kelam, ia selalu merenungi hidup dan nasib. Ia tidak mengerti dengan jalan hidupnya sendiri. Ya, ia memang teramat tidak mengerti.
Pikiran-pikiran yang datang kepadanya berbagai macam dan bergantian. Mengisi malamnya dengan harapan baru bahkan ratapan baru. Layaknya malam itu, ia berpikir tentang keluarga –lebih tepatnya pendamping hidup-. Hingga detik ini ia belum juga mendapatkan seorang wanitapun yang menemani hidupnya. Bukannya Julai tidak bisa, tapi ia lebih cenderung kepada ketidak-tegaan. Ia membayangkan seandainya ia berkeluarga tentu ia akan menanggung beban yang cukup berat untuk memenuhi kebutuhan keluarganya kelak. Sedangkan ia sendiri adalah sampah dan sampah adalah dia. Dilain pihak ia juga tahu bahwa harga-harga terus naik tak karuan seiring dengan kenaikan harga minyak yang juga tidak beraturan. Lalu apakah nanti ia bisa menjamin hidup keluarganya dengan segerobak sampah?
Pikiran yang lebih burukpun datang. Seandainya ia nekad berkeluarga, ia takut –dan tidak tega- jika suatu saat nanti istrinya menjual diri di kolong jembatan demi mencukupi hidup keluarganya. Dari itu ia putuskan untuk tetap membujang. Malampun larut.
Si tukang kabakemudian memperbaiki duduknya dan mereguk air putih yang ia sediakan sendiri. Penonton bertampang anehpun semakin banyak.
Julai terus berjalan menyusuri gang kumuh. Matanya liar mencari sampah. Tak sekeratpun sampah yang ia biarkan lolos.
“Untung masih banyak sampah dikota ini” gumam Julai. Hari ini ia berharap mendapatkan banyak sampah sehingga semakin banyak pula pemasukannya. Apalagi ia mendengar tadi malam harga kembali naik.
“Bugh….” Begitulah bunyi sekarung sampah yang Julai lempar.
Malam datang. Julai kembali bermenung dalam kelam. Tangan kumuhnya menopang dagu, seperti yang biasa ia lakukan. Oleh karena itu garis bibirnya melebar dan sedikit agak meruncing kedepan. Hari ini ia tidak bisa membeli beras karena pendapatannya kurang. Yang bisa ia peroleh hanyalah lima buah pisang. Mau tidak mau ia harus memakannya daripada membiarkan perutnya kosong melompong. Sambil bermenung ia mulai membuka pisang tersebut dan memakannya dengan lahap. Ia lalu tertidur.
Keesokan harinya Julai kembali mengumpulkan sampah. Namun hari ini ia menemui keanehan. Sebagian besar sampah yang ia kumpulkan adalah kulit pisang. Sangat jarang ia temui bungkus-bungkus nasi atau gelas-gelas plastik yang biasanya paling mudah ia dapatkan. Julai tidak terlalu memikirkan hal itu.
Sehari, dua hari dan hari-hari berikutnya keanehan tersebut semakin menjadi-jadi. Semua sampah yang didapatkan Julai adalah kulit pisang. Aneh.
Seiring dengan itu, kesehatan masyarakatpun tampak menurun. Mereka kelihatan menggaruk seluruh bagian tubuh mereka tanpa karuan, lalu bulu-bulu wajah merekapun mulai memanjang. Karena pisangkah?
Julai akhirnya mencoba mencari tahu gerangan apa yang terjadi. Dari percakapan yang ia dengar dan ia lakukan dengan masyarakat, Julai mendapat informasi bahwa seluruh masyarakat tidak lagi mengkonsumsi beras melainkan pisang. Masyarakat merasa berat dengan harga-harga yang semakin naik. Oleh karena itu mereka memilih pisang sebagai pengganti yang paling murah.
Julai sadar, ternyata pisang bukan hanya digemari oleh dirinya sendiri tetapi juga oleh masyarakat lain. Terpaksa. Dan tidak diragukan lagi seluruh sampah adalah kulit pisang.
Begitulah, semuanya telah memakan pisang. Hari selanjutnya Julai tetap melakukan pekerjaannya, mengumpulkan sampah. Namun tanpa ia sadari ternyata penyakit masyarakat yang suka menggaruk itu tidak kunjung sembuh bahkan bulu-bulu muka mereka makin memanjang diikuti oleh garis bibir yang melebar dan bentuknya meruncing kedepan.
Julai akhirnya menyadari bahwa keanehan itu juga menimpa dirinya. Ia mengaruk-garuk tak menentu. Dan lebih anehnya ia semakin suka pisang, bukannya menjadi bosan karena telah banyak memakan buah tersebut.
Saat matahari memuncak, Julai mencoba berjalan menuju komplek perumahan mewah dengan harapan akan menemukan sampah selain kulit pisang. Namun kenyataannya berbeda. Disana ia menemukan segerombolan orang berwajah aneh sedang berkumpul. Wajah mereka mirip dengan Julai. Mereka kelihatan sedang melakukan sesuatu yang tidak menentu. Ada yang berteriak, cengengesan sendiri, berlari dan kegiatan aneh lainnya. Sebuah garukan tetap mengiringi. Semuanya terjadi dalam komplek perumahan yang mewah.
“Hey, apa yang terjadi?” Julai bertanya kepada salah seorang dari mereka yang melakukan kegiatan aneh tersebut. Kemudian sebuah garukan kembali terjadi sebelum orang tersebut menjawab.
“Malam tadi…kalangan kita menyerbu tempat ini”
“Kalangan kita? Siapa kita?”
“Mereka menyebut kita manusia monyet….”
“Manusia monyet? Lalu kenapa harus tempat ini?” Julai semakin penasaran.
“Kami, mungkin juga kau, sudah sangat rindu dengan nasi. Sudah berhari-hari, bermingu-minggu, bahkan berbulan-bulan kami tidak makan nasi. Makanya kami memutuskan menyerbu tempat ini karena kami pikir disini terdapat banyak nasi” garukan kembali terjadi.
“Lalu…?”
“Lalu nyatanya kami kecewa, mereka memakan semuanya dengan rakus dan sisanya mereka bawa lari….”
“Kemana…?”
“Entahlah, keluar negeri mungkin…!”
Julai dan orang tersebut terdiam. Entah apa yang ada dipikiran masing-masing. Namun sesaat kemudian senyum tiba-tiba terukir di bibir keduanya, selanjutnya tawa. Mereka merasa lucu dengan tampang masing-masing, berbulu. Memang mereka -sekarang- manusia monyet yang berangsur meninggalkan kemanusiaannya hingga mungkin suatu saat nanti mereka benar-benar jadi monyet.
Selanjutnya disitu, ditempat mewah itu, terjadi pesta besar manusia monyet.
Tukang Kaba berhenti bercerita. Tampaknya itu adalah akhir kisah si Julai yang telah melebur dalam komunitasnya. Sebelum si Tukang Kaba benar-benar menutup ceritanya sebuah garukan kembali terjadi. Sementara kerubunan orang-orang mulai bubar, meninggalkan si Tukang Kaba. Tak ada yang dapat mereka ambil dari kisah yang baru saja mereka dengar, mereka pulang dengan tangan hampa. Namun walaupun demikian, paling tidak dari kisah tadi mereka tahu asal-usul mereka. Mereka kembali menggaruk.


Padang, Okt ’05.

No comments: