Nyata:
Syafitri, bayi kembar siam Varian (Dichepalus Parapagus Twins) lahir pada tanggal 7 Agustus 2006 sekitar pukul 23.00. Meninggal pada Selasa (22/11/06) sekitar pukul 13.00 di ruang ICU RS Pelni Petamburan, Jakarta. Tidak mungkin dipisahkan karena kelainan.
Cerita ini hanya bersifat fiktif.
Kenalkan, nama saya Syafitri. Seorang anak manusia yang lahir dalam keadaan kekuranagan atau malah keistimewaan. Bukannya tidak memprotes, tapi begitulah, semua telah dituliskan oleh Yang Di Atas terhadap saya. Kalaupun memprotes apa gunanya? toh saya sudah lahir, sudah mengenal dunia bahkan tanpa diduga sayapun sudah cukup terkenal. Dan dibalik itu semua saya yakin segalanya pasti sudah sangat diperhitungkan.
Sebenarnya tidak banyak yang bisa saya ceritakan karena memang tidak ada yang harus dikisahkan. Pada dasarnya –dan memang- saya hanyalah manusia biasa, bagian dari kebanyakan. Seperti anak-anak lain, saya berharap agar –kalau- besar nanti saya bisa menjadi anak yang baik, berbakti kepada orang tua dan berguna bagi nusa, bangsa dan agama. Ah, harapan yang terlau naif. Tapi tak apalah, daripada seperti sebagian anak lain yang bahkan untuk berharappun mereka tak bisa. Dibandingkan dengan mereka tentu saya lebih beruntung.
Kembali mengenai cerita, sekali lagi saya katakan, tidak ada yang perlu dikisahkan karena itu tadi, saya hanya manusia biasa. Tambahan lagi, cerita tentang saya sudah sangat berkembang dengan berbagai versi. Ada yang melihat dari sudut religi, dari sudut medis, kemanusiaan dan sudut-sudut lain. Saya mengerti, karena yang namanya manusia pasti mempunyai akal untuk menginterpretasikan sesuatu, dan itu bersifat bebas.
Yang menjadi beban bagi saya adalah kisah sejati tentang diri saya sendiri. Sesungguhnya, dibalik kisah picisan yang dikabarkan orang-orang tentang saya, ada sebuah cerita besar yang hanya saya dan saudara saya yang tahu. Sebuah cerita yang –mungkin- akan mengguncang dada setiap manusia. Sebuah cerita yang akan memberikan kesadaran global tentang siapa manusia itu sendiri. Tapi bagaimana mungkin saya menceritakannya karena organ-organ saya belum sempurna. Kalaupun sempurna, saya juga masih bimbang untuk bercerita karena untuk anak seumuran saya, berbicara adalah sebuah mukjizat. Bayangkan, umur saya baru beberapa hari dan jika saya bicara, saya takut semua orang yang kurang pertimbangan akan berkiblat kepada saya. Sungguh saya tak ingin itu.
Dibalik semua cerita yang telah tersiar luas, sebenarnya jauh di sudut hati saya yang terdalam, saya merasa sangatb sangat sedih. Saya sangat terpukul menyaksikan orang tua, yang semenjak kelahiran saya selalu terlihat murung bahkan tidak jarang menangis. Bukan maksud hati saya membuat mereka seperti sperti itu, tapi apa boleh buat, semuanya kehendak Yang Di Atas.
Saya mngerti benar apa yang membuat mereka terluka. Saya.
Disaat kondisi perekonomian yang lemah, mereka diuji lagi dengan kehadiran saya. Anak yang diharapkan lahir sebagai pelengkap kebahagiaan, kenyataannya malah mendatangkan kekhawatiran baru.
Sekali lagi, andainya saya bisa bicara, tentu saya akan menjelaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ini merupakan kehendak yang Di Atas dan dibalik itu semua ada perjanjian besar antara saya dengan-Nya. Perjanjian dimana Dia menciptakan saya seperti ini untuk menunjukkan kebesaran kepada makhlukNya dan imbalannya adalah surga. Saya menerima bukan karena imbalan tapi saya menganggap ini adalah tugas mulia dan merupakan suatu kebanggan karena saya dipilih langsung oleh-Nya. Maka, janganlah kau menangis lagi wahai ayah, bunda…relakan saya seperti ini.
***
Kenalkan, namaku Syafitri. Seorang anak manusia yang lahir dengan keistimewaan yang sangat menawan. Memukau akal pikiran dan menarik perhatian seluruh lapisan masyrakat, mulai dari kalangan atas hingga kaum akar rumput. Apakah itu namanya kalau bukan keistimewaan?
Banyak yang mesti kuceritakan tentang diriku yang masih berselimut misteri. Cerita mengenai perjuangan keberadaan dan cerita tentang usha menggapai dunia dan bahkan cerita tentang kekuatan untuk menyongsong esok.
Bagiku, cerita tersebut, jika dikisahkan dengan alur yang baik, akan menyentuh kalbu. Dan aku yakin rasa salut akan tumpah padaku. Aku suka itu.
Sesungguhnya, ceritaku bermula dari alam yang begitu sederhana. Tentang dua buah sel yang saling menggoda, merayu dan merajuk hingga keduanya benar-benar rindu untuk menyatu. Setelah perjuanagn begitu berat dan menempu perjalanan panjang, akhirnya 2 sel yang ditakdirkan untuk bertemupun menyatu. Maka setelah itu aku tercipta dengan sebuah keistimewaan.
Keterciptaan itu ternyata bukanlah sesederhana perkiraanku, karena setelah semua proses yang ku lalui aku harus menyetujui sebuah perjanjian aneh. Ya, sebuah perjanjian yang memaksaku untuk kembali pulang setelah hanya beberapa hari di dunia. Saat itu aku langsung mengiyakan karena aku sudah tak sabar menyaksikan gemerlapnya dunia. Mengenai perjanjian bisa ku pikir kemudian. Bukankah sebuah janji dapat dilanggar? Dan mengenai kepulanganku, adalah hakku untuk menentukan. Takdirku ada di tanganku!.
Saat ini aku telah didunia. Baru beberapa hari. Dan benar kiranya bahwa dunia ini memukau. Walaupun hanya dari balik dinding sebuah kamar rumah sakit, aku dapat merasakan aura gemerlap dan menyenangkan. Suatu saat aku pasti menikmatinya, bagaimanapun caranya.
Seperti kuceritakan sebelumnya, aku terlahir dengan sebuah keistimewaan memukau yang membuatku sangat terkenal. Ya, aku terlahir dengan memiliki dua kepala. Disamping kepala yang sedang kujadikan berpikir sekarang, masih aad satu kepala lagi yang tergeletak tepat disebelahku. Apakah ia juga berpikir atau tidak, aku tidak tahu. Duan kepala satu badan, menakjubkan.
Aku yakin sepeuhnya bahwa keberadaanku telah menarik perhatian masyarakat banyak. Dan aku tak akan menyia-nyiakan itu. Aku terkenal.
Walaupun memiliki keistimewaan, aku bari saja tersadar bahwa sekiranya aku akan menikmati dunia, tidak mungkin aku melakukannya dengan kondisi seperti ini. Berkeliling dan tertawa ria dengan dua kepala. Tidak mungkin. Sangat merepotkan. Lalu bagaimana? Aku simpulkan, aku akan melakukan segala cara agar dapat hidup di dunia. Akan kulakukan segala cara termasuk, jika terpaksa, menyingkirkan kepala yang satu lagi, yang notabenenya termasuk bagian tubuhku. Benarkah???
***
Saya tilik sejenak keluar jendela kecil kamar rumah sakit ini. Disana saya melihat dua,tiga bintang bersinar redup ditengah kegelapan. Mereka tampak enggan berbagi sinar. Sesaat sebuah daun kering melintas jatuh didepan jendela tersapa cahaya lampu. Duniaselebar daun jendela yang saya lihat benar-benar indah. Pantaslah jika banyak yang terlena akannya.
Disisi lain, ruangan yang saya tempati ini terasa sangat sepi. Tak ada orang lain dimalam sesunyi ini. Ruangan yang sekarang saya tempati adalah ruang perawatan khusus. Berbagai peralatan modern terpasang hampir diseluruh ruangan. Saya mengerti, kondisi saya dengan dua kepala satu badan, memaksa saya dan saudara saya harus ditempatkan diruangan intensif ini. Namun itu bukanlah keinginan saya. Saya sepenuhnya mengerti bahwa bukan untuk dirawat dengan perawatan ekstra intensif kami diutus ke dunia, tetapi untuk melaksanakan sebuah tugas mulia, yakni menyampaikan kebesaran Yang Di Atas.
Disamping kiri, saya melihat saudara saya yang sedang tertidur pulas terbuai mimpi. Wajahnya begktu damai. Sampai detik ini tak sepatah katapun yang terucap antara saya dan dirinya. Hanya tangis yang biasanya kami jadikan untuk menandakan bahwa saya dan dirinya masih sama-sama hidup.
Malam semakin larut. Saya merasa saat-saat terakhir kami sudah semakin dekat. Itu artinya tugas kami akan selesai. Sesaat sebelum memejamkan mata, saya sempatkan untuk sekali lagi menyaksikan bintang diambang jendela. Cahayanya begitu indah.
Beberapa jam berlalu, saya terbangun dari tidur. Saat itu saya merasa hawa sedikit panas. Ketika memandang keluar saya melihat sinar matahari memancar dengan terang. Pantaslah jika saya merasa sedikit gerah. Disampng kiri, saya masih melihat saudara saya tertidur pulas.
Tak begitu lama kemudian, dari jauh saya mendengar sebuah suara sayup-sayup sampai. Suara Azan. Indah nian terdengar. Saya kira itu adalh adzan Zuhur. Seiring dengan itu, entah mengapa saya begitu yakin waktu kami semakin dekat.
***
Sekali lagi, akan kulakukan segala cara agar dapat menikmati gemerlapnya dunia. Walaupun harus menyingkirkan kembaran kepalaku yang satun lagi. Ya, aku kira itulah cara terbaik. Dengan menyingkirkannya, sudah pasti akulah yang akan hidup dan para dokter akan mengangkat kepala tersebut dari tubuhku. Hingga akhirnya aku bebas denagn kepala dan tubuhku sendiri.
Siang ini kukira adalah waktu yang paling tepat untuk menyingkirkan kembaran kepalaku. Kepala yang ada disebelahkananku itu kini sedang tidur setelah tadi kurasakan ia bangun sebentar, lalu setelah mendengar lantunan suara dari jauh ia kembali tertidur sembari tersenyum. Aku tak tahu apa arti senyum itu.
Aku sengaja memilih waktu menyingkirkan kembaran kepalaku siang hari agar kematiannya benar-benar terkesan sangat alami. Jika aku melakukannya malam hari, aku merasa pasti aku yang akan dicurigai mebunuhnya karena dimana ada dia pasti ada aku. Dan jika ia mati, siapa lagi pelakunya kalu bukan aku.
Beberapa jenak, kulakukan niatku. Kugerakkan tanganku sealami mungkin. Kujatuhkan tepat dimana telapak tanganku menutup mulut dan hidungnya. Kutekan sedikit hingga kupastikan ia sulit bernafas. Ku tahan tanganku disana beberapa detik atau mungkin menit. Dan akhirnya kurasakan tak ada lagi nafas. Aku yakin. Namun aneh, mukanya tidak mencerminkan ketersiksaan. Kepergiannya begitu damai. Syukurlah, pikirku.kulepaskan tanganku dari mulut dan hidungnya. Ia benar-benar telah meninggal. Sekarang aku tinggal menunggu para dokter mengangkat kepala mati itu dari tubuhku. Aku tersenyum. Namun beberapa detik kemudian aku merasakan sesak di dadaku. Aku sulit bernafas. Aneh. Semakin lama semakin susah aku menghirup dan mengeluarkan udara untuk bernafas. Apa yang terjadi denganku? Tiba-tiba aku terpikir, adakah organ tubuhnya satu dengan organ tubuhku? Tidak. Jika organ kami satu, berarti kematiannya adalah kematian ku juga!.
Aku semakin sulit bernafas. Semakin semakin susah. Hingga khirnya kurasakan seluruh ruangan menjadi gelap. Gelap sekali. Dan…
***
Di sebuah warung sederhana, seorang laki-laki setengah baya duduk sendiri sembari membaca sebuah surat kabar. Headline surat kabar tersebut sangat menarik perhatiannya. “Syafitri Akhirnya Meninggal”
Sesaat, diam meraja.
“dia telah melaksanakan tugasnya…” ucap laki-laki itu lirih. Suaranya hampir tak terdengar.namun masih sempat dicuri angin, membawa berita itu terbang dan mengabarkannya pada semesta.
Padang, 201106
No comments:
Post a Comment