Hujan rintik-rintik. Tiga orang lelaki baru saja menuruni tangga sebuah rumah panggung yang reot. Pada setiap injakan, tangga itu selalu menjerit atau lebih tepat dikatakan rintihan, karena telah termakan usia. Dua diantara laki-laki itu memakai dasi, jas hitam elegan, sepatu kulit mengkilat buatan Itali dan pernak-pernik kemegahan abad dua puluh satu lainnya. Seorang lagi berbadan kekar, rambut panjang berombak, otot tersembul dari kaosnya yang sedikit ketat. Tampangnya sangar, di tambah sedikit hiasan kumis dibibirnya.
Ketiga orang itu kemudian berlari kecil menuju sebuah sedan mengkilat. -Kembali, kemewahan peradaban modern di persembahkan di hadapan rumah panggung yang reot-. Mereka berusaha menghindari tetes demi tetes rintik hujan yang belum juga reda. Pintu sedan terbuka, mereka masuk, kemudian suara halus mesin berteknologi tinggi lamat terdengar dalam rintik. Mobil itu bergerak maju, menyusuri jalan beraspal yang kecil. Kemudian detik berikutnya ia hilang dalam keremangan kabut yang diciptakan rintik.
Sementara, didalam rumah panggung yang baru saja ditinggalkan ketiga orang itu, duduklah seorang wanita tua renta. Ia menyandarkan tubuhnya diatas sebuah kursi rotan yang sama reotnya dengan keseluruhan rumah. Matanya menerawang jauh menembus tirai jendela tua, melampaui kabut rintik bahkan menembus deretan awan yang setia menurunkan hujan. Ia kemudian bangkit dan berjalan menuju jendela dengan perlahan. Dari tempat itu, ia bisa mendengar sedikit deburan ombak yang menyatu dengan tetes air yang turun dari lapisan atap ijuk rumah tersebut.
Tanpa ia sadari, setetes air hangat keluar dari bola matanya yang cekung, menuruni kerutan wajah, lalu terjatuh kelantai setelah sempat bergelayut diujung dagu tuanya. Hatinya terluka dalam kesendirian.
Ia semakin sedih tatkala ingat anak cucunya yang telah pergi, meninggalkan ia berteman duka, berlindungkan rumah tua. Anak cucunya telah terpengaruh oleh gemerlap duniawi dengan alasan takut dikutuk oleh ranah bencana. Mereka kemudian pindah memperturutkan kecemasan yang tidak beralasan dan menyingkirkan rasa iba bahkan terhadap seorang wanita tua.
Ia kembali teringat hari dimana seluruh koper telah terisi dan dijinjing, siap meninggalkan rumah usang.
“Mak, ranah ini telah dikutuk, sebentar lagi jeritan akan menggema dan mayat-mayat akan terlantar. Kami tidak ingin tubuh kami ditemukan ditengah gelimpangan mayat itu nantinya. Sudahlah, amak jangan pertahankan lagi prinsi-prinsip kuno itu, atau paham atau apalah namanya. Jika amak berubah pikiran sekarang, masih ada satu bangku yang kosong. Kita akan pindah ketempat yang aman dan akan saya sediakan sebuah rumah khusus buat amak, yang pasti bukan rumah seperti ini”.
Hati wanita tua itu hancur seiring meluncurnya dua buah mobil dari halaman rumah usang yang sekarang ia diami. Sendiri. Hingga saat ini.
***
Dini hari yang dingin, ketika suara ombak masih menggema dari kejauhan. Orang-orang terpekik, lari, memenuhi jalan raya yang terasa semakin sempit. Wajah-wajah tegang dan takut menyatu dalam kepanikan. Semua histeris dalam goncangan dunia. Tangis-tangis bayi yang terkejut ikut mewarnai kesemrawutan.
Begitu juga di sebuah rumah panggung, seorang wanita tua lari dengan tergesa menuju dapur. Mengambil sebuah piring dan sendok. Lalu pikiran paniknya memandu ia keluar rumah, menuruni tangga tua secepat mungkin.
Bumi masih bergoyang ketika ia sampai di halaman. Pohon, tiang-tiang listrik, pagar-pagar besi ikut meliuk. Tanpa pikir panjang ia memukulkan sendok kepiring yang ia ambil tadi. Lama.
Bunyi-bunyian itu masih terdengar, mengeluarkan irama tak menentu. Yang pasti suaranya keras, bercampur dalam teriakan ketakutan. Terus. Ia terus memukul. Hingga akhirnya goncangan berhenti. Ia masih berdiri mematung, memperlambat pukulan dan memandang berkeliling, akhirnya berhenti. Tak ada lagi bunyi-bunyian, tak ada lagi goncangan. Hanya jerit tangis dan wajah kepanikan. Wanita itu perlahan sujud, mencium tanah, menghamba pada Yang Patut Disembah. Air matanya keluar pertanda syukur.
Menjelang subuh, goncangan, jeritan tangis, terulang. Wanita tua, piring, sendok,bunyi-bunyian, kembali. Tapi laut masih biru, berombak seperti biasa. Melebur dalam seluruh kepanikan.
Sebelum matahari sampai di puncak langit, goncangan masih terasa beberapa kali. Setiap itu pula bunyi-bunyian si wanita tua mengiringi. Sementara dua orang anaknya tidak peduli. Mereka dengan tergesa-gesa mengepak barang-barang, mengumpulkan alat-alat dan tidak lupa, uang.
Esoknya seorang bocah cilik mengahampiri wanita tua itu.
“Nek, kenapa waktu gempa kemaren nenek memukul piring ?”
Wanita tua itu menjangkau si bocah dengan lembut dan memandang penuh kasih sayang. Seutas senyum sederhana terukir di bibir tuanya sebelum ia menjawab pertanyaan yang dilontarkan si bocah.
“Kata orang-orang tua dahulu, gempa disebabkan oleh seekor kerbau besar. Kerbau itu tinggal jauh di dalam tanah. Sekali-kali ia akan menggerakkan seluruh badannya untuk menggoncang dunia. Katanya, ia ingin memastikan kalau diatas dunia ini masih ada manusia atau tidak. Makanya nenek membunyikan itu supaya kerbau itu tahu bahwa kita masih ada. Katanya juga, jika tidak ada bunyi-bunyian lagi kerbau itu akan menghancurkan dunia. Buktinya setelah mendengar bunyi-bunyian itu sekarang tidak ada lagi gempakan ?” Wanita tua itu menjelaskan dengan gamblang, karena memang semenjak kecil ia sudah mendengar cerita itu. Dan sampai sekarang ia sangat meyakininya.
“Ah…nenek bohong, nenek kuno”
Bocah itu kemudian mencibir dan berlari, kembali bermain dengan boneka yang bisa menangis, alat-alat dokter dan komputer mainan.
Hati wanita tua itu perih. Tak ada seorangpun yang mempercayai ceritanya, bahkan bocah ingusan pun tidak. Tapi ia sangat yakin ; kerbau besar, dunia,goncangan dan bunyi-bunyian.
Selang dua puluh empat jam berlalu, ketika senja mulai membuka tabir keindahannya, sebuah sedan mewah berhenti tepat di halaman rumah panggung. Pintu terbuka, empat laki-laki turun dan salah seorang dari mereka adalah si Buyung, anak sulung dari wanita tua itu. Tampak ia mempersilahkan ketiga temannya –atasannya, relasinya atau apalah namanya- dengan sangat hormat.
Mereka berjalan dengan wibawa yang sangat tinggi. Langkah demi langkah, hingga akhirnya menaiki tangga reot.
“Dia ibuku…” si Buyung bersuara sembari menunjuk wanita tua yang duduk di kursi rotan. Langsung, tanpa basa-basi, ketiga laki-laki itu mendekati wanita yang di panggil Buyung dengan ibu. Lalu salah seorang dari mereka mengeluarkan kertas putih dari jas hitamnya, dan dengan sedikit hempasan meletakkannya diatas meja, yang juga sudah tua.
“Bu, ini surat jual beli. Kedua anak ibu telah sepakat akan menjual tanah dan seluruh yang berdiri dan yang tumbuh diatasnya, termasuk rumah tua ini. Silahkan ditanda tangani”
“Aa..jual ? anakku ? si…siapa kalian ?”
“Kami orang yang akan membeli tanah dan juga rumah yang akan di monumenkan ini untuk dikembangkan menjadi pusat wisata, belanja dan pusat segala-galanya”
Wanita tua itu gusar, kedua bibir pucatnya bergetar. Ia memalingkan wajah pada si Buyung yang berdiri kaku dengan tatapan ketidakmengertian. Buyung diam. Dingin. Tanpa dosa. Lalu tetes air hangat keluar dari mata si wanita tua, segera membentuk anak sungai di kedalaman kerutan wajahnya.
“Aku tidak bisa membaca, aku tidak punya tanda tangan. Aku adalah tanah ini, rumah ini adalah ruhku. Aku dibentuk oleh persakitan dan kesenangan di setiap helai papan rumah ini.”
“Cepat tandatangani, kami tidak punya banyak waktu” si badan kekar angkat suara. “atau…”
“Sabar,…Jika anda belum bisa memutuskan sekarang, besok kami masih punya waktu. Dan saya sarankan malam ini anda belajar membuat tanda tangan” salah seorang laki-laki itu mencoba mendinginkan suasana tapi diiringi oleh sedikit ancaman. Kemudian ia sedikit mengangguk, mengambil langkah, lalu diiringi oleh dua orang lainnya.
Suasana hening, mendung tiba-tiba menghitam di mata wanita tua. Angin membeku. Dalam ruangan itu hanya ada dia dan anak sulungnya, Buyung. Kebisuan meraja. Wanita tua menatap kosong, menembus atmosfer senja. Sebentar lagi malam.
Sementara Buyung menatap wanita yang ia panggil ibu itu dengan tajam. Marah. Kecewa. Heran. Menyatu sejadi-jadinya.
“Memalukan…seharusnya amak menandatangani surat itu, atau paling tidak amak menyetujuinya. Tak ada lagi yang dapat kita harapkan dari tanah ini, karena ia telah dikutuk. Memang, ombak itu masih seperti biasa, tapi esok, malam nanti atau bahkan semenit lagi ia akan mewujudkan keangkaraan, menagih janji kutukan dan melumat seluruh keberadaan. Lalu apa lagi yang amak harapkan….?”
“Itu takdir, sudah ketentuan langit. Tak ada yang bisa lari dari itu semua. Walau engkau sembunyi kepuncak gunung sekalipun, kalau sudah takdir yang bicara, kau tidak akan bisa mengelak, anakku” Suara wanita tua itu bergetar, tubuhnya bergoncang menahan isak. Air matanya kian deras.
“Menjual tanah ini…? Tidak pernah amak pikirkan, bahkan membayangkannya pun amak tak sanngup. Ini tanah warisan turun temurun dari nenek moyang. Sebagai seorang bundo kanduang amak wajib menjaga keberadaan tanah ini. Amak tidak akan menjualnya, terutama pada orang-orang seperti mereka. Amak takut anak cucu amak nantinya di pertontonkan dengan hal yang buruk. Amak bisa membayangkan jika tanah ini dijual. Disini akan di pamerkan tubuh-tubuh setengah telanjang, makanan haram dan hilangnya akal sehat”
“Tapi mak, saya tidak mau mati sia-sia. Saya tidak mau hanyut oleh gelombang dan saya tidak mau tubuh saya tidak dikenali.”
“Siapa yang mengatakan itu padamu ? Tanah ini bukan kutukan. Sejak kecil amak sudah disini, tidak ada yang namanya mayat yang berserakan. Kalau hanya goncangan seperti kemaren-kemaren, itu biasa. Itu hanya ulah seekor kerbau yang ingin memastikan keberadaan manusia”
“Ah…cerita kuno itu lagi. Bosan. Baiklah, jika amak tidak mau menjual tanah usang ini, terpaksa saya harus pergi dan meninggalkan amak sendirian di rumah yang hampir roboh ini. Andai saja amak berpikiran lain, tentu tumpukan uang sudah ada di meja ini sekarang”
Si Buyung segera membalikkan badan. Mukanya merah. Tangan terkepal. Matanya bersinar garang. Kecewa. Marah. Ia melangkah menuju halaman dan kemudian hilang dalam hitungan detik.
Esoknya, lusanya dan hari-hari berikutnya, tiga orang laki-laki itu selalu datang dengan bujukan, bentakan dan ancaman. Sementara si Buyung dan saudaranya telah pergi, hilang tanpa kabar, membawa koper. Padat. Mereka pindah membawa seluruh barang-barang berharga dengan dua buah mobil yang mereka dapatkan entah darimana.
“Tidak”
Tegas. Keluar dari mulut seorang wanita tua yang kolot, yang mempertahankan tanah pusaka, yang di tinggal dan disakiti.
***
Hujan rintik-rintik. Tiga orang laki-laki baru saja menuruni tangga rumah gadang yang reot. Dua diantara laki-laki itu memakai dasi, jas hitam dan sepatu buatan Itali. Seorang lagi berbadan kekar. Mereka berlari kecil menuju sedan mengkilat. Pintu terbuka, mereka masuk dan mobil berteknologi tinggi itu melaju menyusuri jalan beraspal yang kecil.
Di dalam rumah gadang, duduk seorang wanita tua renta. Matanya menerawang, menembus tirai jendela tua, melampaui kabut rintik bahkan menembus awan. Ia berharap ketiga laki-laki itu tidak kembali lagi dan menunggu anak-anaknya pulang. Selamanya.
*Juara Harapan II Lomba Menulis Cerpen Telkomsel
Online se_Sumatera.
No comments:
Post a Comment