Friday, 16 May 2008

marawa

MARAWA


Malam bainai
Rabab menyamun sepi, mengiris malam. Ada gores yang tersembunyi. Diam dan tinggal dalam hening serupa cerita-cerita lama saat kita berlari di pematang. Atau, seperti janji kanak-kanak yang kita ikatkan sembari saling mengaitkan jari kelingking. Saat itu kau tersenyum, entah merupakan pertanda bahwa kau akan berteguh hati mempertahankan janji itu, atau entah pertanda bahwa saat itupun kau telah melihat kekalahanku.
Kamar. Kau tak boleh diganggu. Kau terlalu lelah. Seharian tadi kau bergelut dengan galau yang tak berkesudahan. Membayangkan esok, saat ia datang ke rumahmu. Ah, sekedar duduk berdampingan seharian penuh disebelahmu untuk dipersaksikan orang banyak. Kau tak terlalu tidur rupanya. Ada dua gadis cilik yang berkutat dengan ujung-ujung jarimu. Membalutkan sebentuk paduan sederhana, hingga esok kau pasti mendapati kukumu menjadi indah karena merah, bukan darah.
Tentang merah, adakah kau ingat di tebing di ujung desa, kita menyebutnya tanjung;
“aku ingin capung merah”
“kenapa merah?”
“suka”
“merah lebih liar. Lebih sulit ditangkap”
“kalau begitu, tak jadi”
Tetapi aku tetap saja bergerak. Memasang mata. Menghilangkan suara. Kalau perlu menahan nafas, hanya untuk makhluk berkepala besar yang kalau ia mau, ia bisa mengecoh hanya dengan satu kepakan sayap transparan. Aku jatuh, kau tertawa. Aku tak marah, malah bahagia.
Pada batas itu, lamunanku buyar. Dingin makin bertamu. Sementara rabab kian mengiris dalam lamat. Menyebabkan malam tak mampu bersuara sekedar melampiaskan perih.
Kau rupanya belum juga tidur. Kukumu belum terlalu kering. Meski setiap persendian tubuhmu terasa ngilu, kau pasti belum juga bisa memicingkan mata dengan sempurna.
Sempatkah terbersit dalam pikiranmu sebuah cerita usang lagi? Waktu itu kakimu terinjak beling di semak samping rumahku. Berdarah. Tidak terlalu dalam. Tapi entah karena kanak-kanakmu atau memang sudah bawaan, kau bersikap manja. Kukeringkan lukamu. Ku remas daun pucuak ubi, lalu kutempelken dilukamu. Darah berhenti.
“masih sakit. Perih”
“sebentar lagi sakitnya akan hilang”
“tapi aku tak biasa sakit”
“aku pun tak ingin kau sakit”
“bagaimana aku pulang?”
“aku antar”
“aku tak mau jalan”
“lalu?”
“kau bopong aku, atau kalau mau, gendong aku”
“boleh, tapi bapakmu?”
“bapak pasti mengerti”
Aku mengantarmu pulang. Dirumah, bapakmu memandang cemas pada gadis ciliknya; kau. Padaku, menolehpun tidak. Kau pernah cerita, bapakmu tak suka kau bermain denganku. Tak kau ceritakan pun, aku sudah tahu. Kau melangkah masuk. Tak ada terimakasih. Kuanggap kau lupa. Lagipula bapakmu ada disampingmu.
Dilain waktu, aku juga ingat saat kita beristirahat dari bermain, masih disamping rumahku. Kau duduk menyandar pada akar sebuah pohon. Melihatmu lelah, membuatku ingin memanjakanmu. Aku membuatkanmu sebuah mahkota dari daun pakis. Langsung ku pasangkan. Kau tersenyum. Dan meskipun usia kita masih kanak-kanak, indah wajahmu telah mengundang kedamaian seorang laki-laki yang hanya dapat diberikan oleh wanita. Sorenya, kau pulang dengan ceria. Aku bahagia.
Untuk kali sekian, lamunanku luluh. Memudar. Dan aku tahu pasti, kau belum lelap.
Kuedarkan pandangan. Aku ingat, sore tadi aku melihat bendera tiga warna melambai didepan rumahmu. Salah satu warnanya pasti telah menyatu dengan malam. Kelam. Hitam.

***

Basuluah jo matohari. Bagalanggang jo mato rang banyak
Engkau sepi, aku sunyi. Di pematang yang telah sekian lama kita huni sebagai tempat bermain, semua bisu. Tak pernah sehening ini. Kau memandang jauh. Menghalau jarak dengan matamu. Ditengah petak-petak sawah ada sekelompok bangau putih. Berdiri mematung. Barangkali menikmati senja. Namun tak lama, mereka terbang ke petak sawah yang lain.
Ini hari ketiga kita tenggelam bisu. Hari pertama kau pinta aku menemuimu hanya untuk menyaksikan kau mengunci mulut. Barangkali dengan cara itu kau ingin mengatakan bahwa kita bukan anak-anak lagi.
Aku tak bersuara. Sengaja membiarkan udara senja memainkan peran diantara kita. Kau tetap tak bergeming. Hingga hampir malam menyelimuti kita, kau tak kunjung bicara. Hanya saja, sesaat setelah azan, kau melangkah. Gontai. Menyusuri pematang yang berakhir dijalan setapak. Hai, kau tak mengajakku. Menolehpun kau tidak. Kau terlalu khusyuk dengan diammu. Kepalamu terlalu menunduk.
“aku juga ingin pulang” lirihku. Saat itu, kau telah hilang diujung jalan.
Esoknya, aku datang lagi. Tempat yang sama. Kau telah terlebih dahulu tiba. Kau menoleh. Sedikit. Dan seperti sebelumnya, kita tenggelam sunyi. Sementara, bangau masih bermenung ditengah sawah. Barangkali mereka berpikir bahwa ini senja tercipta sama dengan kemarin, dengan dua orang saling membisu. Hingga hampir menjelang malam, kau baru angkat suara.
“ia datang tadi malam”
“siapa?”
“kau tahu”
“maksudku, namanya?”
“tak penting bagimu”
“kau?”
“bapak setuju. Kukira ia pun baik”
“kita?”
”ada apa dengan kita?” Sepintas, kulihat air matamu hampir jatuh.
Aku diam. Malam kurasa bertamu begitu cepat. Kau melangkah. Aku tak ingin tinggal. Aku berjalan disampingmu. Kau masih menunduk. Sebuah kaleng racun tikus membelintang di jalan. Kutendang. Masuk ke semak. Tetap tak membuyarkan diammu. Di ujung jalan kita berpisah.
Dan, hari ini, pasti kukumu telah memerah. Semalam kau pasti tertidur jua akhirnya. Aku yakin kau pasti terlelap dengan senyum. Yah, paling tidak kau telah mempersiapkan diri. Hari ini kau akan diterangi matahari dan dipersaksikan oleh mata orang banyak.
Didepan rumahmu masih kusaksikan sebuah bendera tiga warna melambai. Gemulai ditiup angin. Salah satu warnanya, sesuai dengan warna payungmu. Kuning.

***

Karatau madang dihulu. Babuah babungo balun.
Semoga saja bekas luka beling di telapakmu tak ada. Namun walaupun ada, aku yakin tak akan mengurangi indahmu. Sejak aku mengantarmu pulang, kau tak pernah lagi membahas perih ditelapakmu itu. Kau lebih sering bercerita tentang kerasnya bapakmu yang menyebabkan pertemuan kita hampir tidak memungkinkan. Namun, adakah kau ingat ketika aku membuatkanmu mahkota dari daun pakis? Dan saat itu kukatakan bahwa mahkota itu hanya untukmu. Tidakkah kau pikir itu adalah kata hatiku yang sebenarnya? Bagiku, itu bukanlah sekedar cerita kanak-kanak.
Permainan-permainan yang kita lakukan ku pelihara dalam benakku. Mengenang cerita itu merangsang senyum di bibirku. Aku tak akan berpikir klise untuk mengulang waktu itu, karena bagaimanapun waktu adalah sesuatu yang tak bisa ditaklukkan. Ia berjalan semaunya. Meninggalkan bekas. Jika luka yang ia tinggalkan, maka sembuh adalah pengharapan kesudahan. Jika bahagia yang ia sisakan, maka luka untuk mengenang akan tercipta. Apalagi itu adalah tentangmu.
Dan seiring waktu jua, ketika kita beranjak untuk meniti detik, ketika remaja adalah masa terindah, maka saat itu aku telah memelihara degup tentangmu.
Ah, adakah kau dengar bahwa degup itu terlalu indah? Ia, dari dalam dadaku, mengeluarkan nada sejuk. Memenuhi kamarku. Dan ketika ada jumpa, apalagi kau tersenyum, semuanya menjelma kata indah. Meski aku tak pernah yakin, apakah kau memelihara degup yang sama.
Hingga pada pertemuan itu, ketika kita dikaram bisu, aku yakin bahwa kita telah sama-sama meninggalkan masa anak-anak. Dan, kelu mu yang sederhana meyakinkan aku bahwa ada degup yang sama di dadamu. Meski akhirnya semua itu dikemas bapakmu dan dilemparkannya untuk orang lain.
“semua cerita tak akan sama lagi” kataku.
“benar”
“kisah kanak-kanak itulah benihnya”
“terimakasih untuk daun pucuak ubimu”
“masihsakit?”
”terasanya dihati”
“ya, pasti”
“tidakkah ada degup lain untuk wanita lain?”
“jika ada degup lain, maka kuharap wanita itu benar-benar mengerti dan menerima bahwa hatiku tinggal separoh” -Percakapan hari ketiga , sehari sebelum kukumu di warnai-
Setelah hari itu, kita benar-benar terpisah. Ada sekat nyata. Dan ada degup yang ingin ku bunuh. Hingga akhirnya, kuputuskan untuk melangkah. Menjauh menuruti kehendak hati. Bukan meninggalkan, tetapi mencoba melupakanmu, agar sekembalinya nanti, aku tak lagi mendapati degup itu. Dan, disenja aku berangkat. Mencoba menjamah negeri lain. Belajar hidup, meski dengan hati separoh. Aku melangkah di bawah langit merah, semerah bendera tiga warnamu. Marawa.



Padang, 0408