Semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bersahutan dalam temaram kamarku. Berbincang tentang sesuatu yang resah. Sesuatu yang menggelisah teramat dalam. Ada sebersit kuasa yang hilang; kekuatan untuk bermimpi dan berharap. Ia memudar, dariku hingga kamar ini. Makanya lelap tak ada. Jaga senyum sumringah.
Aku tahu, di sudut sana, seorang gadis sedang lelap dengan damai. Dengan senyum yang ia simpan entah dimana, barangkali dibalik bantal. Ia tentunya sedang bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Rambutnya menawanku. Dalam sebuah sketsa, kusaksikan beberapa lembaran hitam itu jatuh ringan. Membelintang dari kiri atas dahi hingga pipi kanannnya. Putih wajahnya jelas tergambar.
Geraknya tak pernah patah. Gemulai. Layak rambutnya yang selalu menari riang jika disapa angin. Ah, itu saja sudah cukup untuk memenuhi kamarku.
Sapa pertama kulakukan empat tahun yang lalu. Saat itu ia tersenyum. Sebuah hadiah terindah yang pernah kuterima dari seorang perempuan. Langsung melesak dalam. Kusimpan di dada. Sesampai di rumah, kupajang di dinding bagian barat, agar setiap pagi ia cerah memantulkan fajar yang tanpa pernah enggan menyelinap melalui celah jendela.
Setahun berikutnya, kudapati ia menyapa, lagi. Duduk disampingku. Bertanya ini-itu. Selalu saja dengan iringan senyum dan tunduk malu. Ia memintal cerita, aku menggulungnya. Saat itu, ia memanggilku sahabat. Dan, cerita indah purnama, gemintang, serta taman berbunga belum termaktub. Seperti biasa, semuanya kupajang dibagian lain dinding kamar. Kamarku makin hidup.
Tahun ketiga, ia cerita. Katanya ada lain hati yang datang seperti pangeran berkuda putih. Meminang dan mengajaknya ke negeri mimpi. Ia silau, aku galau. Nyatanya ia turutkan kehendak. Ia bermain dengan taman seribu bunga bersama pangeran yang datang entah dari mana, katanya dari negeri mimpi. Adakah negeri itu di zaman ini?
Kamarku tak lagi kemilau. Dinding ketiga dari kamar persegiku membawa buram. Sejak saat itu, aku tidur dalam temaram.
Empat tahun kebersamaan. Ia kini datang. Setiap hari mengajakku berbagi cerita. Ia tawarkan suka, ia paparkan duka. Tertawa ia tunjukkan, menangispun ia tak segan. Katanya, pangerannya tak sempurna. Sang pangeran hanya ingin hatinya untuk dia. Sementara ia; ingin mengarungi samudera, membelah gurun, menjelajahi semesta. Ia ingin bebas. Dan, semuanya ia curahkan, hanya padaku. Kepingan-kepingan ceritanya ku pajang di setiap petak jendela kacaku. Hingga tiap pagi, cerita-cerita itu bersinar oleh mentari, kemudian dipantulkan oleh dinding dimana senyum saat sapa pertamaku empat tahun lalu masih terpajang indah. Namun, setiap malam aku selalu lelap dengan temaram.
Sampai detik ini, semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bergemuruh melantunkan lirik ingin bertemu dengan ia yang mewarnai kamarku.tak ada yang tahu. Semua diam. Semua tak peduli.
Hingga kuputuskan untuk menjangkau sebuah benda kemasa-kinian milikku. Sebuah ponsel, sekedar menyampaikan pesan rindu atau isyaratkan cinta. Kurangkai kata. Kutulis. Sebuah kata terbaca; resah.
II
Wahai lelaki. Semalaman kau bersama temaram. Lagumu tak lain dari irama jam dan jantung. Memikirkan ia yang tak pasti memikirkanmu juga. Bisa jadi tidak. Hidupmu tak hanya di kamar. Duniamu tak hanya ia. Maka ia macam apakah yang merisaukanmu?
Cerita yang kau rangkai bersamanya selama empat tahun kebersamaan tak ada yang tahu. Kau hanya menyimpan sendiri berupa hadiah yang terpajang disetiap sisi kamarmu. Lalu, kapankah cerita itu akan sampai padanya?
Jangan harap ia datang kepadamu terlalu dekat, memasuki kamarmu dan menyaksikan koleksi pajanganmu. Kalaupun benar terjadi, bahagiakah ia kau kira? Ia bisa saja menamparmu karena tanpa izin kau masukkan ia dalam daerah pribadimu semaunya. Atau bisa juga ia berlari dan menangis karena ia menganggapmu gila.
Aku bisa saja mengerti tentang semua rasa yang kau alamatkan padanya. Risaumu akan namanya. Gelisahmu akan wujudnya. Galaumu akan ceritanya. Usah kau simpan, sebab segalanya berkarat termasuk rasa.
Tak ada yang akan pernah mengerti seutuhnya akan dirimu, wahai lelaki. Kau pernah ungkapkan bahwa maumu hanya ingin melihatnya bahagia. Kau pun pernah menjanjikan akan selalu ada untuknya dalam wujud apapun. Tapi, pernahkah kau sadar, itu hanya ungkapan penarik hati. Sekedar merayu. Sekedar pencari simpati. Tanpa kau ceritakan pun aku tahu bahwa kau terluka terlalu parah, tergores terlalu dalam saat seorang pangeran mendekatinya.
Lain waktu kau pun berkilah, wahai lelaki. Kau ingin ia bebas. Kau ingin ia lepas, karena itu membuatnya bahagia, ujarmu. Benarkah itu kenyataannya? Tanpa kau ungkapkan pun aku sudah paham, kau berujar itu untuk mengurangi luka. Kau obati hati dengan caramu sendiri.
Ia datang lagi setelah empat tahun kebersamaan. Ia membagimu segalanya. Apakah kau kira ia membutuhkanmu? Baiknya tak usah berbahagia dulu. Ia bisa saja memang memerlukan. Bisa juga menganggapmu tong sampah, tempat pembuangan segala yang buruk. Untuk kemudian ia melangkah dengan segala yang bersih.
Dan, aku mengerti, hingga detik ini kau tetap mendengarkan detak jam dan jantung. Melayangkan pikiranmu pada ia yang mungkin terlelap dengan damai. Dengan senyum yang ia simpan entah dimana, barangkali dibalik bantal. Mungkin juga ia sedang bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Jika kini kau putuskan untuk menyampaikan pesan rindu atau isyaratkan cinta, barangkali memang sudah waktunya. Sebelum masa berlalu terlalu jauh dan sebelum semuanya pudar. Kuatkan maumu. Salurkan getarmu. Meski hanya lewat sebuah pesan pendek. Usah kau tuliskan kata lain. Jangan cuma kau tuliskan resah. Kirimkan saja rindu.
III
Aku tahu, di sudut sana, seorang laki-laki sedang memikirkanku. Barangkali semalaman ia seperti itu. Mungkin setiap malam ia selalu mendengarkan detak jam dan jantung yang selalu bergemuruh. Mungkin juga ia mengartikan itu sebagai lantunan lirik tentang keinginan bertemu aku.
Aku tahu itu setelah empat tahun menjalin kebersamaan dengannya. Ia selalu ada untukku. Dan aku yakin, setiap bersamaku ia selalu menyimpan cerita entah dimana. Barangkali di bawah bantal atau ia pajang di setiap sisi dinding kamarnya.
Keberadaanya tak pernah dapat kuartikan dengan pasti. Ia ada, tapi aku takut mencinta. Ia datang tapi aku bimbang untuk menyayang. Ia pergi, terkadang aku sepi. Makanya kuperlakukan ia tak lebih dari sekedar tempat berbagi, paling tidak hingga kini.
Barangkali ia mengira setiap malam aku terlelap dalam damai. Mungkin juga ia menyangka aku selalu bermimpi, bisa jadi sedang terbang di awan. Meloncat melewati gumpalan selembut kapas. Putih. Bersih. Suci.
Anggapannya benar. Tapi mungkin saja ia tak pernah memikirkan aku sebelum lelap. Langit-langit kamarku sering menjadi layar pikiran. Melihatnya yang selalu berusaha membuatku bahagia. Aku pun menyaksikan lukanya saat melihat aku melangkah bersama si pangeran tahun ketiga kebersamaan kami. Dan ketika aku datang, ia menyambutku dengan sebungkus kacang sebagai teman dalam percakapan. Saat itu, kuuraikan semuanya.
Kebersamaanku dengannya adalah sebuah kenyamanan. Aku tentram berurai kata. Meski aku sadar barangkali sebagian ceritaku melukainya terlalu parah, menggoresnya terlalu dalam. Dan aku tahu semuanya, sesaat setelah ia mengisahkan bekas torehan lukanya. Darah masih mengalir, sedikit.
Dan hingga detik ini, sebelum tidur pikiranku selalu tersesat padanya. Barangkali jika ia mengirimkan sebuah pesan, mimpiku akan semakin indah. Pesan tak bergambar, karena aku tak bisa membaca tanda. Aku berharap akan membaca kata indah di ponselku. Bukan resah, barangkali rindu. Mudah-mudahan tertulis; cinta.
IV
Semalaman kudengarkan detak jam dan jantung. Bersahutan dalam temaram kamarku. Aku semakin hilang dalam rasa yang tak menentu. Jika boleh berkehendak, maka aku ingin seluruh hari adalah siang, agar kesendirian malam tak lagi memapahku padanya. Ia bagiku berarti keindahan sekaligus penyiksaan. Darinya aku sejuk. Dan darinya aku tahu, aku lapuk. Tak kuasa. Tak suara.
Telah ratusan malam aku berlaku seperti ini. Klimaksnya telah kucapai. Hingga tanpa sadar, satu persatu rasa itu telah memudar, barangkali mulai mengkarat. Terbersit dalam pikiranku untuk melangkah. Menjauh. Meski kusadari pergi adalah bunuh diri. Makanya, malam ini, kutuntaskan pesanku. Kurangkai huruf per huruf hingga terbaca; sayang.
V
Wahai lelaki, kepergian adalah wujud lain kelemahan. Pergimu adalah nodamu. Kau melangkah, kau terbaca. Pikiran picikmu langsung tertulis. Bukankah dulu kau pernah berkata bahwa ia hanya seorang perempuan? Dan justru karena ke-perempuan-an itulah kau lemah, aku mengerti. Aku tak lagi mengenalmu, wahai lelaki.
Adakah jaminan kau tak akan seperti ini di belahan bumi lain seandainya kau pergi? Jika kau yakin, aku salutkan kepergianmu. Namun, apakah arti rindumu selama ini?
VI
“ha..ha..ha..”
Padang, Feb ‘08
No comments:
Post a Comment