(catatan sederhana)
Beberapa hari belakangan ini, untuk mengisi waktu senggang, saya sengaja membaca sebuah buku dengan judul MADILOG karangan Tan Malaka. Buku tersebut sudah cukup uzur, diterbitkan tahun 1951. Sesuai masanya, buku tersebuT memakai ejaan lama, yaitu untuk pembacaan huruf "C" di tulis dengan "tj", dan "j" dengan "dj". Namun untuk huruf "u" telah memakai "u", tak lagi "oe". Tebalnya kira-kira 410 halaman, sayangnya, saya baru membaca beberapa BAB. MADILOG sendiri merupakan singkatan dari Materialisme, Dialektika dan Logika.
Sementara itu, Tan Malaka, sang pengarang, adalah sosok orang yang pada masanya dikenal dengan haluan kiri yang memakai idealisme komunis(atau mungkin karena idealismenya itu ia di anggap kiri? entah...). Saya mengerti, dan semakin mengerti ketika membaca beberapa bab buku tersebut, bahwa komunisme tidak hanya berhubungan dengan ketidak-bertuhanan (Atheis). Jika ditelusuri lebih jauh, komunisme adalah sebuah sistem yang mengatur tentang semua hal, politik, ekonomi, sosial dan segala hal yang menyangkut kepada khalayak ramai. "Sama rata, sama rasa" memberikan guide bagaimana mengambil sikap terhadap sesama manusia. Disana saya juga mendapat inti sari bahwa seorang Tan Malaka dengan idealismenya, menentang keberadaan klas dalam masyarakat. Tak ada kaum borjuis, intelek, ataupun proletar. Yang ada hanya bahwa untuk mencapai kemerdekaan pada waktu itu, yang mesti ditonjolkan adalah kaum buruh, kaum masyarakat bawah,katanya. Dan untuk membangkitkan masyarakat bawah tersebut, tak ada cara lain, selain menerapkan prinsip "sama rata sama rasa". Sehingga dengan prinsip ini jela sekali, bahwa semua orang sama. Sayangnya, idealisme ini terlalu menjunjung dasar kemanusiaan, terlalu meninggikan muamalah, sementara hubungan antara manusia dengan yang Di ATAS tak pernah dikaji. Barangkali, mungkin karena paham ini berdasarkan pada ke-kemateri-anlah yang menyebabkan kata Tuhan di pandang sebelah mata, karena Tuhan tak berwujud.
Dalam Bab-bab awal, Tan Malaka jelas sekali menjunjung pandangan atau teori yang berdasarkan kebendaan. Ia pun memasukkan teori-teori para pemikir lampau. Termaktub dalam Bab LOGIKA MYSTIKA, ia menjelaskan asal mula kehidupan berdasarkan agama dan sangat mempertanyakannya. Bagaimana mungkin sebuh kehidupan yang komplek terjadi hanya dengan satu kata dari Tuhan?barangkali itulah pertanyaannya jika disederhanakan.Ia mempertanyakan kehidupan yang berasal hanya dari sebentuk ruh (Tan Malaka membahasakan dengan Kodrat). Tuhan diyakini sebagai Kodrat. Sementara, menurut teori evolusi, makhluk terjadi berdasarkan pada perkembangan fisik. Dari hewan air,berubah menjadi amfibi,lalu mamalia, kera dan akhirnya manusia. Semua itu benda, dan dapat diamati. Lebih jauh, Tan Malaka mempertanyakan bagaimana Kodrat tanpa Materi?Ruh tak lengkap tanpa jasad, makanya ia lebih mengakui keberadaan materi.
Mengenai persepsi tentang Kodrat dan Materi yang di usung Tan Malaka, entah kenapa pikiran liar saya membawa kepada sebuah ide yang pernah saya tuliskan dalam Buletin di Forum ini. Kalo tidak salah berjudul CINTA= HATI+JANTUNG. Dalam tulisan itu saya ungkapkan bahwa cinta yang hanya mengandalkan hati akan menyakitkan. Sementara jika melibatkan jantung akan menyeimbangkan. Maksudnya, hati, sebagaimana yang kita ketahui bersama, berhubungan dengan perasaan. Jika perasaan telah mati, apakah kita masih hidup. Jika berdasarkan hanya kepada hati, tentu dapat dipastikan MATI. Namun ternyata, jaka hati telah hancur, maka masih ada sebuah Jantung yang berfungsi sebagai penggerak hidup sebenarnya. Barangkali dapat disederhanakan, betapapun hancurnya hati, jantung masih berdenyut. Betapapun menyakitkan perasaan, life must go on!
Jika di lihat dari sudut pandang uraian Tan Malaka dalam MADILOG, maka saya asumsikan bahwa untuk cinta, hati adalah kodrat, sementara jantung adalah materi.Hati dapat memerintahkan apa saja, dapat merasakan segala;senang, susah, suka, duka.Sementara Jantunglah yang menggerakkan, jantunglah yang menjadikannya nyata. Tanpa jantung, cinta hanya akan tersimpan tanpa perwujudan. Tentu, tanpa jantung manusia tak akan mampu mengungkapkan, karena tanpa jantung berarti MATI.
Jadi, benarlah kiranya kalau Kodrat tanpa Materi memang bisa dipertanyakan keabsahannya...(kecuali kepada mereka yang sangat fanatik, bahkan untuk mempertanyakan tentang sifat Sang Kodrat saja di anggap salah) Sebaliknya, materi tanpa Kodrat bukanlah apa-apa. Sayangnya, dalam MADILOG, diungkapkan secara samar bahwa Materi adalah komponen yang terpenting.
Dan, untuk Cinta, Hati dan Jantung haruslah sejalan, sebagai representasi dari Kodrat dan Materi. Karena dengan hati saja, cinta memang sering menyakitkan. Sebaliknya, dengan jantung saja, cinta adalah sesuatu yang hambar.
No comments:
Post a Comment