Ujung senja berangin.
Kukira perjalananku telah usai sesaat setelah aku pulang dari rantau. Menyelesaikan pelajaran hidup dan mengumpulkan berbagai pengalaman. Tak pernah kupilah, baik dan buruk kukantongi. Kujadikan bukti bahwa aku benar-benar telah merasakan hidup dengan segala parasaiannya. Kata Bapak, itulah syarat untuk menjadi lelaki sejati. Kalau perlu, tambahnya, aku harus mengarungi samudera, membelah gurun dan menaklukkan kehidupan liar. Tapi tak usah, bantahnya pula, toh di negeri ini tak terlalu banyak ditemukan ombak tinggi, tak ada padang pasir serupa negeri lain dan alamnya pun hanya pantas untuk sekedar dinikmati. Lagi pula, ini zaman bukan nomaden.
Kubawa bekalku dalam sebuah buntalan kecil, tersandang di pundakku. Sementara pengalaman kukemas apik dalam hati, sebagian kusimpan di otak sebagai bahan pemikiran. Aneh, justru beban yang kubawa kurasa tak seberapa. Hati dan otakku lebih berat. Kalaulah ada perkakas untuk mengukur, kuperkirakan berat keduanya sama atau lebih dari berat badanku secara keseluruhan. Memang berat.
Dalam perjalanan tak pernah jiwaku benar-benar istirahat. Mataku boleh terlihat terpejam. Mereka pasti menyangka aku sedang lelap. Bermain dengan mimpi. Bahkan jika mereka sekali-kali melihat senyumku dalam lelap itu, mereka pasti ingin bergabung. Tapi tidak, senyumku waktu itu adalah wujud kebodohan diri. Dalam tidur yang tak benar-benar lelap, aku menertawakan diriku sendiri. Menertawakan keluguan, kepicikan dan kepatuhan pada apa yang tertulis dan dituliskan untukku.
Sesampai dirumah, dihadapan Bapak, kukeluarkan seluruh bekal yang selama dalam perjalanan setia di pundakku. Tak satupun tersisa. Disana tampak pakaian usang. Mereka telah terlalu lama menemaniku dengan ukuran setia yang tak terbaca. Putih telah mengusam, tak jarang orang lain menyangka warna aslinya coklat muda. Bapak diam. Ah, pastilah dia sudah tahu cerita dibalik bekal yang kini ada di hadapannya. Tentang bekalku, Bapak tak banyak suara. Tak kata. Tak tanya.
Beberapa jenak, Bapak bersuara. Menanyakan tentang langkahku selanjutnya. Aku diam. Bukankah kepergianku selama ini adalah kehendak Bapak? Dalam pikiranku, ia pastilah telah mempunyai jalan yang ia rintis untukku. Lalu, untuk apa ia bertanya tentang langkahku? Toh selama ini, bukankah ia juga yang dengan sadar atau tidak menata langkahku?
Tak menemukan jawaban, Bapak mulai bertanya tentang apa yang aku simpan dalam hati dan sebagian lagi di otak. Kukeluarkan juga semuanya. Kuceritakan segalanya. Dari alur yang paling kotor hingga pada idealisme yang aku peroleh. Bapak hanya mendengar. Diam, kadang mengangguk. Setelah itu, Bapak beranjak. Aku sendiri.
Dan taukah kau, ada satu cerita yang kuputuskan takkan pernah kuceritakan pada Bapak atau orang lain; cerita tentang dirimu, Nda. Sebab bagiku, cerita dirimu adalah kisah suci. Alur yang kubangun sendiri atas dasar kemauan sendiri pula. Pilihanku telah jatuh atas dirimu, dan akulah yang akan bertanggung atas pilihan tersebut. Makanya setiap ada kata rindu, biarlah aku sendiri yang tahu seberapa dalam rindu itu. Padamu biarlah senyap. Barangkali angin yang berbaik hati akan menyampaikannya padamu.
***
Kuputuskan untuk melangkah. Pergi meninggalkan kampung ini. Aku bermaksud mencari sendiri setiap arti hidup yang kata Bapak terbentang luas dipermukaan bumi. Bedanya, jika dahulu aku pergi karena sedikit keterpaksaan, sekarang aku berjalan dengan kemauan sendiri. Keterpaksaan manut yang aku jalani selama ini ternyata telah membentukku. Aku yang dulu patuh disuruh untuk merantau, kini selalu saja melangkah menjauhi kampung. Hidup di negeri orang bukan lagi sebuah penerapan kehendak orang lain terhadapku, tetapi telah merupakan suatu kebutuhan –mungkin.
Mata. Penyebab lain kepergianku kali ini. Ya, mata para penghuni kampung ini, yang dalam artian sederhana ranahku juga, menusuk terlalu dalam. Mereka seakan mempunyai daya magis yang disalurkan melalui indera penglihatan. Sorot mereka setajam samurai. Mata mereka tak hanya melirik tapi juga meluka. Barangkali jika aku tak salah mengartikan, mereka berkata;
“ah, ini dia si anak bejat, yang karena dia, Bapaknya rela mencuri kotak infaq di masjid”
Cerita yang sampai padaku mengisahkan bahwa Bapak dituduh mencuri kotak infaq dengan alasan untuk kepentinganku di rantau. Itu menurut mereka.
Sementara, Bapak kepadaku tak pernah bercerita. Ia hanya berkata sederhana, katanya penduduk kampung mengucilkannya. Pengucilan, sebuah hukum-moral purba yang masih efektif jika diterapkan sepenuh hati. Aku tak ingin mengungkit, lagi pula, entah dari bisikan mana, aku merasa Bapak tidak bersalah.
Semakin hari, mata itu semakin garang. Apalagi mendapati kepulanganku dari rantau tak berbekas apa-apa. Aku tak membawa karya. Yang ada hanya, sesampai dikampung aku menemani Bapak duduk didepan rumah menikmati kucilan penduduk sembari menyeruput teh yang dibeli dari hasil ladang musim kemarin –semuanya dikerjakan sendiri oleh Bapak.
Kepergianku diselimuti subuh, diiringi rintik sisa hujan semalam. Bapak masih lelap. Tapi aku yakin ia tahu aku akan pergi. Ah, egoku bermain. Bukankah pada saat seperti ini seharusnya aku menguatkan Bapak? Menemaninya dari keterasingan kucil. Namun, batinku berkata lain, ia ingin bebas. Aku tak lagi ingin dipetakan. Jika dulu aku disuruh merantau karena kemauan Bapak, maka sekarang aku ingin pergi atas kemauanku. Aku dan bebas. Tak ada mata. Ya, tanpa mata itu, yang telah dengan kejam menebas rasaku atas sebuah kampung milikku sendiri. Aku ingin hidup tenang.
***
Berbagai negeri telah kusaksikan kini. Telah kusinggahi dan kugagahi sebagai seorang muda yang mencari hidup. Anehnya, tak pernah aku merasa tentram. Setelah beberapa hari –barangkali juga bulan- hidup di satu negeri, batinku memberontak. Jiwaku menuntut beranjak. Satu negeri tidak baik dan tidak cukup. Dalam hatiku, aku masih merasa mata itu selalu mengikuti. Mata setajam samurai mengikutiku dengan dua kata menyakitkan; anak pencuri.
Rindu ternyata masih terisisa di hatiku. Betapapun aku menyibukkan diri dengan berpindah atau sekedar mempertahankan hidup, rasa itu selalu datang. Jauh di dalam hatiku, terbersit sebuah keinginan untuk menikmati hijau kampungku, menyaksikan bangau-bangau terbang seperti kapas dengan latar langit biru. Menghirup bau tanah, menikmati aroma malam dengan segala kesederhanaan kampung. Namun akhirnya, keinginan itu buyar sesaat setelah aku ingat sorot tajam dari mata yang suka menghakimi. Menatap menelanjangi.
Tapi tahukah kau? Jauh disana, disudut yang tak pernah terkena cahaya di hatiku, rinduku telah berkarat atas namamu. Perjalananku yang mungkin takkan berakhir tak mampu menghapus namamu. Kerinduanku padamu melebihi perasaanku ingin kembali ke kampung atau pun bertemu Bapak. Rindu dan namamu berkarat sejadi-jadinya.
Epilog
Bukankah sudah pernah kukatakan bahwa aku menyayangimu? Dan saat itu, kau hanya tertunduk dengan senyum yang sangat sederhana. Bukankah sudah kukatakan juga bahwa aku tak bisa membaca tanda? Makanya, sampai saat ini aku tak pernah bisa mengartikan diammu.
Kepulanganku dari rantau hanya menyisakan satu pelajaran yang paling berharga tentang hati. Aku belajar cara menyayangi seorang makhluk indah dengan nama perempuan. Kerinduanku pada perempuan terobati sesaat setelah mengenalmu.
Padamu kutemukan kesejukan. Padamu kudapatkan ketenangan. Bagiku segala tingkahmu telah menghidupkan sebuah paradigma tentang seorang ibu. Ah, pernahkah kuceritakan padamu bahwa ibuku rela menukar nafasnya untuk hidupku? Aku merenggut nyawanya ketika ia memberikan aku hidup. Pertemuan itu antara ada dan tiada.
Kepergianku untuk merantau lagi bukan untuk menemuimu karena bagaimanapun aku masih tak bisa mengartikan diammu nan sederhana itu. Mata yang selalu menatapku, benar, memang menyakitkan. Mengulitiku hidup-hidup. Seandainya aku tak pernah mengenal mata seindah dan sesejuk matamu, barangkali aku akan tahan jika disorot sedemikian. Namun, aku tahu, ada mata paling indah yang pernah menatapku, oleh karenanya aku tak tahan dengan sedikitpun sorotan aneh.
Matamu memberi kedamaian. Matamu menawarkan kenyamanan. Matamu menyajikan kesejukan. Alasanku pergi meninggalkan Bapak karena mata orang kampung hanya sebuah kamuflase. Aku pergi untuk menemukan mata yang paling indah milikmu, namun sayangnya aku masih tak bisa menangkap arti disebaliknya. Ah, biarlah, cukup saja kerinduanku pada matamu hanya sebatas di lamunan. Yang pasti, aku pergi untukmu saja, Nda.
YasminAkbar||Padang, 190208
No comments:
Post a Comment