oleh: Emdheka S**
"Ow ow kamu ketahuan
Pacaran lagi, dengan dirinya..."
Penggalan lirik di atas merupakan bagian lagu yang saat ini sedang ngetrend, terutama di kalangan remaja. Lagu tersebut digemari dan menjadi populer, entah karena lirik atau apapun yang melekat pada lagu tersebut. Tak hanya lagu di atas, masih banyak lirik-lirik lagu saat ini yang bertemakan hal yang sejenis. Dan tanpa disadari, keberadaan lagu dengan lirik-lirik seperti itu memberikan gambaran tentang sebuah budaya populer.
Pop culture alias budaya populer memang selalu menarik untuk dikaji. Bagaimana tidak, jika ditelaah dengan pengamatan yang mendalam, keberadaan budaya populer bisa jadi merupakan refleksi dari keberadaan peradaban manusia itu sendiri, pada waktu itu. Dalam artian, jika ingin melihat fenomena yang sedang terjadi cukup amati melalui budaya yang tengah berkembang.
Namun di lain pihak, keberadaan budaya populer sering dianggap sebagai sebuah kewajaran. Maksudnya, apapun fenomena yang tengah berlaku dalam masyarakat cenderung dianggap hanya sebagai dampak dari perkembangan masa. Maka dari itu, nilai lebih dari sebuah budaya populer sering terabaikan.
Jika diamati lebih dalam, segala bentuk perkembangan dapat saja dikategorikan sebagai budaya populer. Perkembangan musik, misalnya, merupakan salah satu contoh yang paling dekat. Yang menarik dari kasus ini adalah bahwa ternyata musik dinilai sebagai hal yang dianggap dekat dengan remaja, dan disisi lain, remaja merupakan suatu bahasan yang selalu mengundang ransangan untuk selalu ditelaah.
Perkembangan musik terutama pada lirik akhir-akhir ini, jika diamati lebih detil, memberikan satu benang merah yang bisa dicatat dan dianalisa. Pada lirik lagu saat ini ditemukan sebuah kelugasan. Semua hal yang ingin disampaikan lagu tersebut dirancang sedemikian rupa agar mudah di pahami hanya dengan sekali dengar. Dan fenomenanya, justru pada saat ini, lagu dengan lirik terbuka seperti itulah yang diterima oleh kalangan remaja.
Temanya pun tak terlalu jauh dari lagu-lagu lainnya yaitu cinta. Namun cinta yang diangkat dalam lirik lagu remaja saat ini adalah cinta yang dikhianati atau merupakan wujud dari cinta segitiga. Sebut saja Ketahuan, Lelaki Cadangan, Dirimu Dirinya, Lelaki Buaya Darat dan lagu lain dengan tema yang sejenis. Semua makna yang ingin disampaikan diatur selugas mungkin.
Jika dilogikakan, tak ada yang salah dengan lagu dan lirik-lirik tersebut. Hanya saja seharusnya fenomena tersebut dapat ditanggapi sebagai refleksi dan dijadikan sebagai sarana acuan untuk menilai masyarakat terutama remaja.
Lirik yang lugas dan digemari remaja bisa jadi merupakan refleksi dari remaja itu sendiri. Maksudnya, lirik yang lugas merupakan perlambang dari sesuatu yang instan, tak perlu cernaan dan dapat di “makan” semaunya. Fenomena ini tampaknya memperjelas kecenderungan remaja saat ini yang lebih memilih gaya hidup konsumtif. Remaja tanpa berpikir panjang akan berlaku sekehendaknya sehingga jika dibawakan ke ekonomi mereka adalah makanan empuk para produsen.
Tak hanya mengacu dari lirik, kehidupan konsumtif remaja dengan sangat jelas dapat dilihat dalam kehidupan nyata. Mereka cenderung mengkonsumsi sesuatu yang bersifat instan. Jangankan untuk membelanjakan sesuatu, bahkan untuk mendapatkan sesuatu dari -sebut saja- orang tua, mereka lebih memilih instan. Ini harus ada, itu harus punya, bagaimanpun caranya. Makanya tidak salah, jika para pembuat lagu membaca fenomena ini dan menyajikannya dalam bentuk lirik yang juga instan, mudah dicerna, mudah diterima dan, yang penting, sangat me-remaja.
Di sisi lain, lirik instan dan remaja bisa juga dilihat dari perspektif lain. Lirik yang berkembang saat ini (yang bertemakan cinta segitiga, selingkuh dan semacamnya) jika benar merupakan refleksi remaja, maka akan menimbulkan pertanyaan besar jika dikaitkan dengan budaya yang selama ini dianut: budaya Minangkabau, misalnya.
Dalam budaya Minang ditemukan bahwa, secara tidak langsung, dianggap hubungan yang terjadi antara dua anak manusia yang berlainan jenis kelamin merupakan suatu hal yang dianggap kurang enak dipandang mata, bahkan bisa jadi dianggap tabu. Jika terdapat hubungan seperti di atas, maka pastilah mereka yang menjalaninya akan sembunyi-sembunyi, jangan sampai ketahuan oleh orang banyak apalagi oleh mamak. Layaknya seperti itu.
Namun jika ditilik dari lirik lagu yang sedang berkembang, maka rasa malu untuk berhubungan dengan lawan jenis sudah pudar. Jangankan untuk menjalani hubungan biasa, bahkan untuk berselingkuh pun diekspos dengan semaunya. Dan anehnya, lirik seperti itulah yang tengah laku di pasaran.
Pertanyaan yang muncul adalah, jika benar budaya populer merupakan refleksi dari kehidupan nyata yang sedang berlangsung, apakah ini merupakan gambaran dari kemerosotan remaja? Apakah fenomena ini menyimbolkan dekadensi moral?
*dimuat di Harian Singgalang, Minggu 9 Desember 2007.
** nama pena dari M. Adioska
No comments:
Post a Comment